• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 3 Bingkai Persyaratan Baru dalam Globalisas

Dalam dokumen BUku Bacaan Sosial Ekonomi 2 (Halaman 54-58)

“Dunia ini datar” adalah judul sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2006. Apa yang dimaksud dengan metafora ini? Penulisnya, Thomas Fried- man, mengajukan asumsi bahwa akibat globalisasi, ekonomi dunia memasuki sebuah era baru di mana persaingan global telah semakin pesat meningkat. Ekonomi makro hanya mampu sedikit menutup diri. Ruang gerak persaingan global telah diratakan. Friedman menyebut sejumlah penggerak globalisasi: • Sejak tahun 1950-an, hambatan perdagangan melalui perjanjian interna-

sional secara bertahap dikurangi. Lewat kesepakatan Organisasi Perda- gangan Dunia WTO (begitu pula, pendahulunya, GATT) tarif masuk ditu- runkan, sementara pembatasan impor dicabut. Sejak 1970-an, nilai tukar antara mata uang nasional sebagian besar luktuatif. Dalam zona perda- gangan bebas regional di Uni Eropa dan NAFTA (Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko), praktis semua pembatasan perdagangan telah dicabut. Mercosur di Amerika Latin dan ASEAN di Asia Tenggara, juga seperti itu. • Sebelumnya, Eropa, AS dan Jepang adalah kekuatan dominan di pasar

dunia, namun kini, semakin banyak negara yang masuk ke dalam persain- gan global. Secara bertahap sejak tahun 1970-an, China membuka diri dari perekonomian tertutup ke pasar dunia dan ekonomi pasar, dan sejak itu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan menjadi eksportir ter- besar di dunia setelah Jerman. Setelah tahun 1989, republik-republik pecah- an Soviet dan Eropa Timur beralih ke ekonomi pasar dan bersaing dalam perdagangan dunia. Tak lama setelah itu, India mulai meliberalisasi eko- nominya yang proteksionis dan dipenuhi regulasi, dan sekarang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi mendampingi Cina. Dengan demikian, lebih dari dua milyar manusia masuk ke dalam kompetisi global.

• Inovasi teknologi mempercepat dua proses yang didorong secara politis. Biaya untuk menelpon internasional, berkat teknologi serat digital berhasil ditekan, sehinga pusat telpon di India bisa menerima telpon dari AS lewat Internet, pesanan dari Hamburg, dalam beberapa detik bisa disampai- kan ke Shanghai. Perangkat lunak untuk sebuah perusahaan di Paris, bisa dikembangkan di Bangalore, India. Administrasi kantor, bisa dipindahkan

3. Inovasi teknologi 2. Munculnya ekonomi baru Globalisasi - “dunia datar” Mengendalikan globalisasi 1. Membongkar hambatan perdagangan

dari London ke Praha. Logistik modern memungkinkan terjadinya rantai produksi yang kompleks, sehingga suku cadang dan bagian tertentu dari sebuah produk bisa diproduksi di tempat-tempat berbeda, begitu pula dipasang dan diperjualbelikan di seluruh dunia. Biaya transpor kapal laut semakin murah dan perjalanan dengan pesawat bukan lagi sesuatu yang mewah.

Siapa pemenang Globalisasi? Proit terbesar adalah ekonomi-pengetahuan. Negara dengan perekonomian yang memiliki penelitian intensif memperoleh pangsa pasar besar dalam perekonomian global. Mengapa? Bila iPod, seka- lipun dikembangkan dengan biaya mahal, namun kemudian bisa diproduksi secara massal dengan harga relatif murah dan dalam jumlah besar dijual di pasar global. Karena, bila dibatasi hanya untuk pasar lokal, kemungkinan tidaklah menguntungkan karena besarnya biaya pengembangan. Sebuah program lunak, sebuah lagu atau ile yang sekali diproduksi akan semakin menguntungkan apabila memiliki pangsa pasar yang besar.

Hal yang sama berlaku pula bagi produk industri teknologi tinggi. Sebuah disain mobil dikembangkan dalam kurun waktu 5-10 tahun dengan biaya tinggi. Teknologi tinggi seperti mesin hibrida hanya akan menguntungkan bila mobil yang diproduksi memiliki pangsa pasar besar. Industri otomotif di Jepang dan Jerman yang banyak berinvestasi dalam pengembangan, sangat memperoleh keuntungan dari globalisasi. Secara umum, negara yang memi- liki standar pendidikan tinggi, yang menarik bagi peneliti dan pekerja kreatif, adalah pemenang globalisasi.

Terkait produk massal, situasinya berbeda. Sebuah pabrik, misalnya, memproduksi kemeja, kenaikan biayanya bersamaan dengan naiknya jumlah produksi. Keun- tungan dalam persaingan berkat tingkat pendidikan dan infrastruktur yang lebih baik pada produk yang tidak terlalu membutuhkan penelitian dan pengembang- an, tidak begitu banyak. Karena itu, produksi barang-barang sederhana mas- sal, semakin menghilang dari negara-negara bergaji tinggi. Lokasi produksinya pindah ke negara-negara yang biaya produksinya rendah. Industri tekstil pernah menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar di Eropa. Saat ini, tinggal bebe- rapa celah yang masih tersisa, misalnya terkait disain. Sementara produksi mas- sal telah berpindah ke India, Banglades atau China.

Pemenang globalisasi: ekonomi pengetahuan Dampak bagi barang industri kualitas tinggi Dampak terhadap produk massal

Artinya, dalam globalisasi keuntungan banyak diraih selain oleh sektor eko- nomi pengetahuan dengan produk yang membutuhkan biaya tinggi dan masukan inovatif, juga bagi negara yang menawarkan biaya produksi rendah. Hal berikut ini, juga terjadi: Jerman sebagai juara dunia eksportir menjual mobil dan mesin berkualitas ke seluruh dunia. Para perancang mode dari Ita- lia dan Perancis, mendisain pakaian mewah bagi seluruh dunia. Perusahaan perangkat lunak AS, Google dan Microsoft, sama terkenalnya di China dan Rusia seperti halnya di dalam negeri AS sendiri. Di sisi lain, perekonomian pe- ngetahuan memperoleh keuntungan dari mengimpor produk massal murah: pemanggang roti, stoking, Mebel IKEA, semuanya, yang diprouksi di China, Eropa Timur dan negara bergaji rendah lainnya yang sejak dua dekade tera- khir dibandingkan daya beli negara bergaji tinggi menjadi lebih murah. Perkembangan terkait globalisasi, ternyata juga memiliki sisi gelap:

1. Tidak semua orang dalam masyarakat memperoleh keuntungan yang sama dari globalisasi, banyak yang tidak, sebagian bahkan dirugikan. Bagi seorang pekerja pabrik tekstil di Eropa, bukanlah hal yang membesarkan hati bahwa tetangganya, perusuhaan IT memperoleh banyak pesanan, kalau perusah- annya sendiri tutup karena dipindahkan ke negara bergaji rendah. Secara keseluruhan, kesejahteraan di negara-negara kaya maupun negara berkem- bang meningkat. Dua dekade sejak 1990, mencatat pertumbuhan tertinggi secara global.Di China sendiri, sejak tahun 1970an, 400 juta penduduknya telah melampaui apa yang didefenisikan oleh PBB sebagai batas kemiski- nan – meski, kenyataannya, harus bekerja dalam kondisi yang sangat buruk. Tetapi, pada saat yang sama, terjadi kesenjangan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terutama di negara-negara berkembang, tetapi juga di negara industri, kesenjangan menjadi semakin lebar.

2. Liberalisasi perdagangan dunia adalah proses yang alot selama beberapa dekade. Meskipun demikian, apa yang disebut globalisasi “negatif” dimana banyak aturan dicampakkan, secara mendasar masih berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan proses globalisasi “positif” berupa pengem- bangan standar baru yang diperlukan yang berjalan sangat lambat. Seba- gai contoh, Protokol-Kyoto untuk perlindungan iklim, setelah 15 tahun dise- pakati masih saja belum diratiikasi oleh semua negara, Lebih dari itu, juga tidak dijalankanolehsebagian negara-negara yang telah meratiikasi. Stan- dar sosial yang berlaku global, seperti norma-norma untuk perlindungan

Keuntungan globalisasi

Sisi gelap globalisasi

Kesenjangan penghasilan

Tiadanya standar sosial internasional

pekerja dari ILO (International Labour Organization), memiliki sifat tidak mengikat. Pakta-PBB tentang hak-hak dasar sosial-ekonomi, meski secara hukum internasional mengikat, namun tidak memiliki konsekuensi apapun. Sampai hal tersebut bisa dilaksanakan, masih menjadi perjalanan panjang. Kecemasan yang seringkali diungkapkan terkait globalisasi adalah „race to the

bottom“, yaitu balapan menuju standar sosial dan lingkungan terendah. Ber-

lawanan dengan asumsi ini adalah kenyataan bahwa negara-negara dengan standar sosial-lingkungan tertinggi adalah juga negara yang memiliki pereko- nomian yang paling mampu bersaing. Sebagai contoh, terutama negara-ne- gara Skandinavia dengan norma-norma lingkungan terpuji dan secara global memiliki sistem kesejahteraan terkomplit, yang didanai lewat tingginya pajak. Artinya, tingginya biaya, tidak harus menjadi kelemahan persaingan bila, seperti di Finland, Swedia, Norwegia dan Denmark, membuat sistem pen- didikan dan prestasi penelitian yang sangat bagus, infrastruktur yang baik, birokrasi yang eisien dan bebas korupsi serta perdamaian sosial. Sebuah neg- ara kesejahteraan tingkat tinggi, juga bisa memiliki kemampuan bersaing dan kemakmuran dalam sebuah kondisi dan tuntutan keterbukaan pasar. Meski, tentu saja, memerlukan persyaratan berikut. Bila negara-negara dalam kadar yang sama secara kualitatif tidak bisa menawarkan hal selain menurunkan biaya, maka mereka akan menjadi pecundang globalisasi. Dan, terakhir, dari kenyataan tersebut bisa disimpulkan bahwa negara-negara dengan stan- dar tertinggi, memperoleh keuntungan dari globalisasi,dan ini bukan berarti standar-standar tinggi tersebut secara otomatis menyebar akibat globalisasi.

Apa artinya semua itu bagi Sodem?

• Kapitalisme dan demokrasi, kelahirannya sangat erat terkait satu dengan lain- nya.

• Kapitalisme bisa membawa ketidakadilan, sesuatu yang “mengubur” demokrasi. Untuk mencegahnya, Sosdem perlu menemukan jawabannya.

• Dari sudut pandang Sosdem, kapitalismeterkoordinasi adalah model paling menguntungkan. Ia menjamin tatanan ekonomi yang stabil dengan keseimban- gan sosial yang tinggi dan lapangan kerja jangka panjang dibandingkan kapital- isme tak terkoordinasi.

• Globalisasi menyebabkan kemajuan ekonomi global dan semakin tingginya din- amika perekonomian. Namun, ia juga menimbulkan permasalahan-permasala- han sosial baru.

Tekanan persaingan membutuhkan penurunan standardsosial dan lingkungan? Contoh sebaliknya dari Skandinavia

4. ORIENTASI EKONOMI-POLITIK

Dalam dokumen BUku Bacaan Sosial Ekonomi 2 (Halaman 54-58)