• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.1 Bio-Ekologi Buaya Muara 1 Klasifikasi dan morfolog

Menurut Goin et al. (1978) buaya muara secara sistematik diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Sub kelas : Archosauria Ordo : Crocodylia Famili : Crocodylidae Sub famili : Crocodylinae Genus : Crocodylus

Spesies : Crocodylus porosus (Schneider, 1801)

Buaya muara (Crocodylus porosus) memiliki nama umum antara lain

saltwater crocodile, salty crocodile, estuarine crocodile, indo-pacific crocodile, baya, buaja, buaya muara (Indonesia), kone huala (Papua New Guinea), gatta kimbula, gorekeya, pita gatteya, pukpuk (Aborigin) dan jara kaenumkem (Thailand). Secara etimologi crocodylus berasal dari bahasa Yunani krokodeilos

yang berarti “kerikil cacing” (kroko=kerikil; deilos=cacing, atau laki-laki)

merujuk pada penampilan buaya. Porosusberasal dari bahasa Yunani “porosis”

dan “osus” yang berarti “permukaan kulit tebal, besar dan bergelombang”,

mengacu pada kulit yang berkerut dan bergelombang di bagian moncong dan permukaan atas buaya dewasa. Buaya muara memiliki sub spesies yaitu C. p. minikanna yang merupakan hasil kawin silang dengan Crocodylus siamensis di penangkaran buaya, namun jenis ini tidak diakui secara resmi (Britton 2011).

Buaya muara memiliki ekor yang panjang dan kuat yang digunakan untuk berenang, selain itu digunakan sebagai alat persenjataan diri dalam menyerang dan bertahan (Goin et al. 1978). Perbedaan jenis kelamin buaya jantan dan betina

menurut Dirjen PHPA (1985) dapat dilihat dari perbedaan bentuk ekor. Umumnya buaya jantan berekor tegak, sementara buaya betina berekor rebah.

Buaya muara memiliki warna kulit coklat kotor sampai hitam dengan bentuk kepala yang lonjong dan bentuk moncong yang bervariasi menurut umur dan ukuran tubuh (Masyud et al. 1993). Nuitja (1979) menjelaskan bahwa bagian atas tubuh buaya muara dewasa berwarna gelap kuning kehijauan dan bagian bawah tubuh berwarna kekuningan.

Nuitja (1979) menyatakan bahwa ukuran buaya muara terpanjang yang pernah ditemui adalah 20 feet (6,1 meter) dengan rata-rata panjang berkisar antara 12-14 feet (3,65-4,27 meter). Sementara itu, Masyud et al. (1993) mengemukakan bahwa panjang badan jantan dewasa bisa mencapai 6-10 meter dan panjang betina dewasa dapat mencapai 4 meter. Bobot buaya muara dewasa bervariasi, tetapi umumnya diketahui bahwa untuk bobot yang melebihi 1000 kg menunjukkan pendugaan ukuran panjang mencapai 6 meter. Gambar buaya muara dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Sumber: a) Britton A, 2011; b) Dokumentasi pribadi.

Gambar 1 Buaya muara (Crocodylus porosus). Ket: a) Kepala; b) Seluruh tubuh. 2.1.2 Populasi dan Penyebaran

Menurut Dirjen PHPA (1985), penyebaran buaya muara (Crocodylus porosus) sangat luas yaitu meliputi daerah delta Sungai Gangga, Pantai Bengal di India bagian Tenggara hingga Ceylon, Birma, Malaysia, Thailand, Indocina, Filipina, Australia, Papua New Guinea, Pulau Solomon, Vanuatu, Fiji dan daerah barat daya daratan China. Di Indonesia, daerah penyebarannya meliputi hampir

seluruh wilayah daerah-daerah sungai di Indonesia, diantaranya adalah di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya (Gambar 2).

(Sumber: Britton A, www.crocodilian.com/cnhc/cst_cpor_dh_map.htm)

Gambar 2 Daerah penyebaran buaya muara.

Estimasi populasi buaya muara mencapai 200.000 sampai 300.000 individu yang terdapat di Australia, Indonesia dan Papua New Guinea tetapi langka dan habis di tempat lain pada habitatnya di seluruh dunia. Australia merupakan pusat dari sebagian besar penelitian yang ekstensif dilakukan pada spesies ini, dan beberapa model penangkaran juga program konservasi telah ada disana. Diperkirakan bahwa setidaknya terdapat 100.000 sampai 150.000 individu buaya muara di tiga negara bagian Australia yaitu Australia Barat, Queensland, dan Australia Utara dimana populasi dari buaya muara terbesar berada (Britton 2011). 2.1.3 Habitat dan Pakan

Habitat adalah kawasan yang terdiri dari beberapa kawasan, baik fisik maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiaknya satwaliar (Alikodra 2002). Sandjojo (1982) mengatakan bahwa buaya adalah jenis satwa yang sangat tergantung pada adanya air, dimana air berperan sebagai media hidup bagi buaya tersebut. Buaya pada siang hari biasa berjemur di tepi sungai terbuka.

Buaya muara (Crocodylus porosus) memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas, dapat ditemukan di perairan payau sekitar wilayah pesisir dan sungai. Buaya muara juga terdapat di sungai air tawar, rawa dan danau. Perpindahan

buaya diantara beberapa habitat terjadi saat musim kering dan basah, merupakan hasil dari adanya status sosial. Remaja dibesarkan di daerah perairan tawar, tetapi menjelang dewasa buaya biasanya keluar dari daerah ini ke daerah yang lebih terpisah dan bersalinitas tinggi untuk melakukan perkawinan sebagai daerah teritori dan berkembangbiak (Britton 2011).

Nuitja (1979) mengemukakan bahwa habitat peneluran buaya muara umumnya ditumbuhi oleh formasi paku-pakuan (Acrostichum aureum), bluntas (Pluchea indica), gelam (Melaleuca sp.), pulai (Alstonia angustiloba), terenteng (Cempnosperma bancanus), geranggang (Cratoxylon arborescens), meranti batu (Shorea teysmaniana), merbau (Intsia bijuga), dan raja bunga (Adenanthera temarindifilia). Selain itu diketahui pula jenis nipah (Nypa fruticans) dan pidada (Sonneratia sp.) umumnya mudah ditemui di sekitar daerah habitat buaya muara.

Buaya bermoncong panjang dan langsing seperti Gavialis gangeticus,

Tomistoma sp., dan beberapa dari jenis Crocodylus adalah pemangsa ikan sejati, meskipun buaya tersebut juga memakan berbagai jenis hewan air lainnya serta mamalia dalam ukuran kecil. Sementara itu buaya bermoncong lebih berat, lebar, dan kuat seperti jenis C. porosus dan C. palustris memakan mangsa yang berukuran lebih besar. Jenis buaya tersebut juga ditemukan menyerang dan memakan manusia (Ross 1989). Sandjojo (1982) mengemukakan bahwa buaya juga memakan bangkai dan terkadang mengubur mangsanya terlebih dahulu untuk dimasakkan. Fungsi dimasakkan ini diduga adalah sebagai cara untuk membuat makanan tersebut mengalami pembusukan.

Ross (1989) menyebutkan bahwa pada dasarnya jenis Crocodilian di berbagai habitat akan memakan jenis mangsa apapun yang tersedia. Idealnya, dengan bertambahnya ukuran tubuh maka buaya tersebut akan memakan jenis mangsa berukuran besar. Namun buaya tersebut tidak kehilangan kemampuannya dalam menangkap mangsa berukuran kecil.

Dirjen PHPA (1985) mengemukakan bahwa variasi jenis pakan buaya tergantung pada usianya. Setelah ukuran buaya mencapai panjang 2 meter lebih, maka buaya tersebut dapat mulai memangsa jenis mamalia dan bahkan bangkai dari makhluk hidup lainnya. Dari hasil analisa makanan terhadap isi perut 4 ekor buaya muara berukuran 1,5-1,67 meter di Sungai Paloh (Kalimantan Barat),

diketahui bahwa porsi terbesar makanan buaya tersebut adalah ikan belanak (Mugil sp.) disusul oleh berbagai jenis crustacean dan ikan bulan-bulan (Megalop sp.). Sedangkan buaya muara di daerah Australia, menunjukkan bahwa buaya dewasa memakan jenis ikan, kepiting, reptil, burung, dan mamalia. Sedangkan buaya muda memakan jenis ikan-ikan kecil, burung, insekta, dan crustacean,

Buaya termasuk karnivora sehingga memakan berbagai jenis daging diantaranya berupa serangga, udang, ikan, tikus, burung air dan ular. Jenis yang dapat diberikan kepada anak-anak buaya yaitu serangga, udang kecil, dan ikan kecil (Taylor 1979). Anak buaya yang masih kecil biasanya masih perlu dibantu untuk makanannya dengan cara disuapi. Jenis pakan yang dapat diberikan adalah ikan dan daging binatang yang masih segar dan bila sudah busuk harus dibuang agar tidak terjangkit penyakit. (Kantor Wilayah Departemen Kehutanan 1986).

Selanjutnya Taylor (1979) menyatakan pada 289 ekor buaya muara di alam Australia Utara yang berukuran tidak lebih dari 180 cm menunjukkan bahwa porsi terbesar makanan buaya tersebut adalah kepiting mangrove dari sub famili Sesarminae dan udang dari genus Macrobrachium. Selain itu diketahui pula jenis ikan yang paling banyak dimakan adalah jenis Pseudogobius sp. yang merupakan jenis ikan perenang lambat di permukaan air. Garmett dan Murray (1986) pada buaya muara di penangkaran telah berhasil menyimpulkan bahwa buaya muara akan mendapatkan hasil pertumbuhan yang lebih baik dengan pemberian makanan jenis daging babi dan daging sapi dibandingkan dengan jenis ikan.

Kebutuhan pakan buaya berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor seperti, spesies, jenis kelamin, umur, keaktifan, dan keadaan lingkungan (Masyud

et al. 1993). Buaya liar di alam umumnya mencari makanan pada malam hari saat suhu lingkungan menurun (Lang 1987 diacu dalam Harto 2001). Selain temperatur, salinitas perairan dan tipe habitat yang berbeda juga turut mempunyai peran dalam frekuensi pakan yang dimakan oleh buaya muara liar (Taylor 1979). Garret dan Murray (1986) menjelaskan bahwa kepadatan populasi buaya muara di kandang pada sistem penangkaran yang terlalu tinggi akan menimbulkan interaksi signifikan pada tingkat stres buaya. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat konsumsi buaya tersebut pada makanannya. Permatasari (2002) menjelaskan bahwa tingkat kelaparan buaya dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, penyakit, maupun stres.

Ross (1989) menyatakan buaya dapat bertahan hidup tanpa makanan selama beberapa bulan karena buaya dapat menyimpan dan mengkonversi energi hasil yang dimakan dalam bentuk lemak. Jika terlalu lama berpuasa, dapat mengakibatkan pertumbuhan buaya terhambat dan kondisis buaya menjadi lemah.

Pakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan organisme pada buaya. Pemberian pakan ditujukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga untuk mencapai tingkat produksi yang setinggi- tingginya. Bahkan karena biaya pakan dalam usaha penangkaran merupakan biaya tidak tetap terbesar, tingkat produksi tersebut harus diusahakan dapat dicapai dengan biaya yang semurah-murahnya (Butardi diacu dalam Izzudin 1989). 2.1.4 Reproduksi

Menurut Thohari (1987), dalam usaha penangkaran dikatakan berhasil apabila teknologi reproduksi jenis satwa tersebut telah dikuasai. Pengembangbiakkan dapat melalui perkawinan antara satwa jantan dengan betina secara alami, inseminasi buatan, pemindahan embrio (embrio trasfer) ataupun dengan pembuahan secara invitro.

Buaya muara (Crocodylus porosus) diketahui mencapai kedewasaan pada ukuran panjang 3-3,6 meter. Panjang minimum buaya muara pada saat memijah adalah 2,2 meter untuk buaya betina dan 3 meter untuk buaya jantan atau umur minimum 10 tahun untuk buaya betina dan umur 15 tahun untuk buaya jantan (Dirjen PHPA 1985). Sex rasio buaya jantan dan betina di penangkaran adalah 1 : 3 (Dirjen PHPA 1987).

Grzimek (1975) mengemukakan bahwa buaya muara jantan dewasa mencapai dewasa kelamin pada ukuran panjang tubuh 2,9-3,3 m dengan berat badan 80-160 kg, sedangkan betina mencapai dewasa pada ukuran panjang minimum 2,4-2,8 m, mencapai dewasa diperkirakan 8-12 tahun.

Masyud et al. (1993) menjelaskan bahwa di alam, buaya muara mulai berkembangbiak apabila telah mencapai umur 10 tahun pada betina dan mencapai umur 15 tahun pada buaya jantan. Masa hidup buaya muara dapat mencapai 60-80 tahun dengan masa potensial reproduksi dari umur 25-30 tahun. Buaya muara bereproduksi pada musim hujan, yang berlangsung antara bulan November hingga bulan Maret. Umumnya buaya muara ditemukan memijah di perairan air tawar,

dimana jantan akan menetapkan serta mempertahankan wilayahnya apabila ada jantan lain yang berusaha masuk ke daerah tersebut.

Buaya muara berkembangbiak dengan cara bertelur dan jumlah telur yang dihasilkan setiap musim sebanyak 10-75 butir dengan rata-rata telur yang dihasilkan sebanyak 44 butir. Lama pengeraman telur berkisar antara 78-114 hari dengan rata-rata pengeraman selama 98 hari. Berat telur buaya muara yang dihasilkan berkisar antara 69-118 gram dengan rata-rata berat telur sebesar 93 gram. Sedangkan panjang anakan buaya muara setelah menetas berkisar antara 20-30 cm (Masyud et al. 1993). Menurut Iskandar (2000) buaya muara betina bertelur pada awal musim hujan. Sekali bertelur dihasilkan rata-rata 22 butir telur dengan berat rata-rata 104 gram, anakan yang menetas berukuran 310-370 mm, memiliki warna abu-abu kecoklatan.

Buaya memperbanyak keturunannya dengan cara bertelur. Kopulasi dilakukan di dalam air yang didahului perkelahian antara buaya jantan dengan buaya betina dan hanya berlangsung beberapa menit pada siang hari (Dinas Kehutanan 1986 diacu dalam Ratnani 2007). Tanda-tanda masa birahi dan terjadinya perkawinan buaya jantan selalu membenturkan kepala ke tubuh buaya betina. Buaya betina tidak melakukan reaksi melawan terhadap benturan buaya jantan. Perkawinan terjadi di dalam kolam dan sulit dideteksi, pada umumnya terjadi antara bulan Februari – Oktober (Tim PT Yasanda 1992 diacu dalam Ratnani 2007).

Buaya muara di penangkaran sering kali membuat sarang untuk menempatkan sejumlah telur. Sarang-sarang dibuat pada tanah yang agak tinggi dan kering. Di sekeliling sarang tersebut terdapat pelepah pisang, glagah dan ranting-ranting, semak-semak dan dedaunan kering. Semua material yang sudah kering dibuat sarang yang berbentuk gundukan menyerupai kurungan ayam. Di sekeliling sarang biasanya terdapat tanah kering yang agak bersih dengan sebuah lingkaran berjari-jari berkisar 2-3 m (Ratnani 2007).

Dirjen PHPA (1985) menjelaskan bahwa tipe sarang telur buaya muara adalah tipe mound, dengan diameter, tinggi, dan suhu sarang berukuran masing- masing 1,2-2,3 m, 0,4-0,76 m, dan 300C-37,20C. Buaya muara memiliki musim bertelur yang berbeda tergantung dari daerah penyebarannya. Di Australia Utara

musim bertelur buaya muara berlangsung antara Bulan Oktober – Juni, di Srilanka pada Bulan Juni – September, dan di daerah Papua musim bertelur berlangsung pada Bulan Oktober – April.

Buaya memiliki suatu hierarki dominansi baik itu populasi yang terdapat di alam liar maupun populasi yang terdapat di dalam penangkaran. Suatu individu yang dominan ditentukan dari ukuran dari buaya tersebut. Apabila buaya tersebut memiliki ukuran yang paling besar, individu buaya tersebut merupakan individu buaya yang paling dominan (Morpurgo et al. 1993). Individu jantan yang dominan memiliki kekuasaan dalam mengontrol kesempatan kawin, perolehan makanan dan ruang gerak, sedangkan individu betina cenderung memperlihatkan dominansinya saat melakukan pemilihan letak sarang (Ross 1989).