• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

11. Efisiensi Thermal

2.3 Biodiesel dengan Lemak Ayam

2.3.1. Ayam Broiler (Gallus Gallus Domesticus)

Ayam broiler (pedaging) adalah jenis ras unggulan hasil persilangan dari ras ayam yang memiliki produktivitas tinggi, terutama dalam produksi daging ayam. Ayam broiler dapat diklasifikasikan sebagai berikut

Kerajaan : Animalia Filum : Chordota Kelas : Aves Ordo : Galliformis Famili : Phasianidae Genus : Gallus

Spesies : Gallus Domesticus Sumber : Wikipedia.co.id

Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka

terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987: 5). Ciri-ciri ayam broiler antara lain: ukuran badan relatif besar, padat, kompak, berdaging penuh, produksi telur rendah, bergerak lamban, dan tenang serta lambat dewasa kelamin. Ayam ras pedaging disebut juga broiler, merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya. Produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Ayam broiler baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan penggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, menyebabkan banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan di berbagai wilayah Indonesia (Prihatman, 2000).

2.3.2. Produksi Ayam Broiler Dalam Negeri

Ayam Broiler dapat dalam dipanen dalam waktu singkat (35-45 hari). Ayam broiler memiliki berat sekitar 1,5 kg per ekor . Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia. Sumber : Wikipedia.co.id

Tabel 2.2 menunjukkan produksi unggas di Indonesia dari tahun 2012 - 2016 Tabel 2.2 Produksi Unggas 2012 – 2016 di Indonesia (dalam ton)

No Jenis Tahun

2012 2013 2014 2015 2016

1 Ayam Buras 197.084 194.620 184.637 190.739 196.136

2 Ayam Ras Petelur 1.139.946 1.224.400 1.224.3120 1.372.829 1.428.195

3 Ayam Ras Pedaging 1.400.470 1.497.873 1.544.379 1.628.307 1.689.584

2.3.3. Kandungan Kimia Ayam Broiler

Daging ayam mengandung gizi yang tinggi, protein pada ayam yaitu 18,2 g / 100 g daging ayam broiler, sedangkan lemaknya berkisar 25,0 g. (Depkes, 1996). Untuk memperjelas zat yang dikandung daging ayam broiler, maka dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2.3. Komposisi Kimia Daging Ayam dalam 100 g bahan

Komponen Jumlah Kalori (g) 30,20 Protein (g) 18,20 Lemak (g) 25,00 Karbohidrat (g) 0,00 Kalsium (mg) 14,00 Fosfor (mg) 200,00 Besi (mg) 1,50 Vitamin A (SI) 810,10 Vitamin B1 (mg) 0,08 Vitamin C (mg) 0,00 Air (g) 55,90 Bdd (%) 58,00

Sumber : Departemen Kesehatan RI., (1996)

Menurut Soeparno (1994), Daging broiler mengandung protein 21%, lemak 19%, dan zat mineral 3,2%.

Kandungan lemak ayam dari daging ayam relatif tinggi yaitu sebesar 19% basis massa . Pada lemak ayam segar, kadar FFA umumnya sebesar 0,4 % Lemak ayam pedaging merupakan lemak buangan yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan biodiesel dari lemak hewani. Komposisi lemak ayam dengan analisis GCMS (Felicia,2014) dapat dilihat pada tabel 2.4

Table 2.4 Komposisi asam lemak ayam hasil analisis GCMS Jenis asam lemak Jumlah relatif asam lemak (%)

Asam Kaproat (C6:0) Tak terdeteksi

Asam Kaprrilat (C8:0) Tak terdeteksi

Asam Kaprat (C10:0) Tak terdeteksi

Asam Miristat (C14:0 0,74 Asam Palmitoleat (C16:1) 7,01 Asam Palmitat (C16:0) 27,74 Asam Linolenat (C18:3) 1,2 Asam Linoleat (C18:2) 16,36 Asam Oleat (C18:1) 38,35 Asam Stearat (C18:0) 5,56 Asam Arakidonat (C20:4) 0,87 Asam Arakidat (C20:1) 0,41

Jumlah asam lemak jenuh (SPA) 33,54

2.3.4. Gambaran Umum Rumah Potong Ayam

Rumah potong ayam adalah kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higiene tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong ayam bagi konsumsi masyarakat umum. Untuk membangun RPA,diperlukan persyaratan lokasi dan tersedianya sarana yang cukup memadai, hal ini tercantum dalam SNI 01-6160-1999.

Rumah Pemotongan Ayam merupakan salah satu industri peternakan dimana dilakukan pemotongan ayam hidup dan mengolah menjadi karkas ayam siap konsumsi. Limbah padat Rumah Pemotongan Ayam relatif lebih mudah ditangani dibanding dengan limbah cair. Limbah padat yang berupa bulu ayam yang dapat diolah kembali, misalnya untuk dijadikan kemoceng. Sesuai dengan SNI rumah pemotongan ayam tradisional maupun modern harus jauh dari permukiman penduduk, jauh dari polusi dan tidak mencemari lingkungan.

Adapun Persyaratan Lokasi RPA (SNI 01-6160-1999) adalah sebagai berikut: 1. Tidak bertentangan dangan rancangan umum tata ruang (RUTR),rencana

detail tata ruang (RDTR) setempat dan atau rencana bagian wilayahkota (RBWK).

2. Tidak berada di bagian kota yang padat penduduknya, tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran lingkungan.

3. Tidak berada dekat industri logam atau kimia, tidak berada di daerah banjir, bebas dari asap, bau, debu dan kontaminan lainnya.

4. Memiliki lahan yang cukup luas untuk pengembangan.

Dalam proses produksi Rumah Pemotongan Ayam dihasilkan limbah cair yang berasal dari darah ayam, proses pencelupan, pencucian ayam dan peralatan produksi. Limbah cair mengandung (Biological Oxygen Demand) BOD, (Chemical Oxyge Demand) COD, (Total Suspended Solid) TSS, minyak dan lemak yang tinggi, dengan komposisi berupa zat organik. Pembuangan air limbah (Efluen) yang mengandung nutrien yang tinggi ke perairan akan menimbulkan eutrofikasi dan mengancam ekosistem aquatik. Untuk mencegah hal itu maka diperlukan cara agar komposisi padatan organik tersuspensi dapat dikurangi (Moses Laksono, 2010).

2.3.5. Transesterifikasi Limbah Lemak Ayam.

Pada dasarnya biodiesel adalah Fatty Acid Methyl Ester dari asam lemak melalui transesterifikasi dari minyak nabati atau lemak hewan, dengan mereaksikan metanol dan asam lemak tersebut dengan katalis basa KOH. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui, penggunaan biodiesel pada kendaraan dapat dipastikan aman karena biosolar menggunakan FAME (Fatty Acid Metil Ester), yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), dan ASTM (America Standard Technical Manufacturing). Biodiesel lebih ramah lingkungan (Prihandana, 2006) Biodiesel juga bersifat biodegradable dan tidak beracun, disamping itu juga biodiesel memiliki flash poin (temperatur terendah yang dapat menyebabkan uap biodiesel dapat menyala) yang tinggi dari pada diesel normal, sehingga tidak menyebabkan mudah terbakar. Biodiesel juga

menambah pelumas mesin, menambah ketahanan mesin dan mengurangi frekuensi pergantian mesin. Keuntungan lain dari biodiesel yang cukup signifikan adalah emisi yang rendah dan mengandung oksigen sekitar 10-11% (Lotero, 2004). Biodiesel dapat dibuat dengan proses esterifikasi dari minyak nabati yang mengandung asam lemak bebas tinggi. Namun, permasalahan yang sering dihadapi adalah mahalnya harga minyak nabati yang digunakan dalam pembuatan biodiesel. Oleh karena itu, lemak ayam boiler dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku pembuatan biodiesel karena mempunyai kandungan asam lemak bebas yang relatif rendah dan harganya murah. Pada penelitian ini, biodiesel dibuat dari lemak ayam boiler yang diperoleh melalui proses transesterifikasi dengan metanol. Kandungan asam lemak bebas yang relatif rendah dalam lemak ayam broiler padat diubah menjadi metil ester (biodiesel) dengan metanol dan katalis Kalium Hidoksida (KOH) melalui proses transesterifikasi.

Menurut Tjukup Marnoto, Abdulah Efendi, 2011, pembuatan biodiesel dari minyak hewani dan spirtus dengan katalisator kapur tohor CaO dilakukan dengan reaktor batch reaksi transesterifikasi lemak hewani dan spirtus dengan rasio minyak: spirtus 1:6 pada suhu 70oC, berat katalis 5-6% dari berat minyak dan waktu reaksi 90 menit. Metil ester yang dihasilkan berdasarkan sifat fisik adalah viskositas kinetik pada 40oC ,1.42 mm/cst, dan densitas 0.853.

Hendar Harahap, 2008, transesterifikasi Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) menggunakan metanol dengan katalis Litium hidroksida dilakukan menggunakan reaktor batch, dengan variasi katalis 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1.8% kinetika reaksi dilakukan pada kondisi maksimum dan diperoleh hasil optimum katalis 0.5%, rasio molar RBDPO terhadap metanol 1:14, suhu 65oC dan waktu reaksi 30 menit dengan konversi metil ester sebesar 99.9165% dan sifat fisik metil ester viskositas kinetik 40oC adalah 4.472 dan densitas 0.8180.

Menurut Felicia, 2014, transesterifikasi lemak ayam broiler dengan menggunakan metoanol dan Katalis NaOH. Metil Ester yang Dihasilkan berdasarkan sifat fisik yaitu densitas 877 Kg/m3, viskositas 3,46 mm2/s, titik nyala 1540C dan telah sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI)

Dokumen terkait