• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Bioekologi kerang mutiara

Siklus hidup kerang mutiara sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH suatu perairan, hal ini dibuktikan dengan daur kerang mutiara yang akan mulai memijah saat suhu perairan mulai meningkat sampai 25 oC dengan pH 7,8. Pada awal bulan Juli sampai Agustus, di daerah subtropis, kerang mutiara memijah dua kali setahun, musim memijah lainnya adalah antara akhir Desember sampai awal Februari (Tun dan Winanto, 1988). Lain halnya di daerah tropis, kerang mutiara memijah sepanjang tahun (Atmosudarmo in Rusly, 1994).

Kerang mutiara (Pinctada maxima) biasanya memiliki kelamin yang terpisah (Mulyanto, 1987) kecuali dalam beberapa kasus ada yang hermaprodit (CMFRI- Tuticorin, 1991). Pendapat lain mengatakan bahwa kerang mutiara dapat berubah kelamin (Winanto, 1992 in Setyobudiandi, 1989). Pinctada Maxima yang bersifat

protandrous hermaphrodite umumnya di awal kehidupannya tumbuh sebagai

individu jantan dan selanjutnya kelamin betina mulai keluar seiring pertumbuhannya (Rose dan Baker, 1994).

Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan kelamin tersebut adalah jumlah makanan yang tersedia dalam tubuhnya, apabila persediaan makanan cukup tinggi maka individu akan menjadi betina dan sebaliknya (Mudasir, 1981 in Sintawati, 1989). Oleh karena itu jenis kelamin jantan atau betina tidak dapat dibedakan dari luar, melainkan harus dilakukan pembedahan (Asikin, 1962 in Sintawati, 1989).

Beberapa proses perkembangbiakkan pada kerang mutiara (Pinctada maxima) adalah sebagai berikut :

a. Matang telur

Kematangan gonad kerang mutiara dapat terjadi setiap bulan sepanjang tahun (Setyobudiandi, 1989). Menurut Crossland (1957) in Mulyanto (1987) Pinctada

margaritifera mencapai matang telur pertama pada musim panas tahun kedua dan

terjadi perkawinan. Pada kerang yang telah matang kelamin maka digestive

diverticula sepenuhnya tertutupi oleh gonad (Mulyanto, 1987). Perubahan suhu

dan perairan akan merangsang proses kematangan gonad maupun pemijahannya, peningkatan suhu akan merangsang kematangan gonad sedangkan penurunan suhu akan mendorong kerang untuk memijah (Setyobudiandi, 1989).

b. Pemijahan

Di laut, kerang mutiara hidup secara berkesinambungan. Kerang memijah lebih dari satu kali selama musim pemijahan pertama (CMFRI-Tuticorin, 1991). Aktivitas pemijahan ini dapat terjadi terus menerus seiring dengan selang pelepasan telur 5-10 menit sekali. Sebelum dilakukan proses pemijahan perlu dilakukan persiapan yang matang mulai dari persiapan induk, persiapan kultur pakan alami serta penyediaan air bersih. Induk yang siap dipijahkan ditampung dalam bak fiber 1 ton dan jika tidak ada fiber bisa digunakan styrofoam.

Ketersediaan pakan alami secara kontinyu dan dalam jumlah yang cukup menentukan keberhasilan pembenihan kerang mutiara.

Penyediaan air bersih baik air tawar maupun air laut juga menentukan keberhasilan pemijahan kerang mutiara. Air laut, selain digunakan untuk pemeliharaan telur dan larva kerang juga digunakan untuk kultur pakan alami. Sebelum digunakan untuk kultur, air laut disterilisasi dengan pemanas (heater) pada bak fiber ukuran 1 ton dan dilakukan selama 2 jam. Setelah itu air laut disaring lagi dengan menggunakan plankton-net dan kertas saring.

c. Pembuahan

Pembuahan pada kerang mutiara terjadi secara eksternal. Telur yang dikeluarkan oleh individu betina dibuahi oleh gamet jantan di dalam air (Mulyanto, 1987). Telur-telur ini dikeluarkan dari ovarium melalui saluran mantel karena adanya gerakan ritmis dari otot aduktor. Sperma individu jantan dikeluarkan ke laut melalui exhalent siphon (Asikin, 1962 in Sintawati, 1989). Telur-telur ini akan menempel pada lipatan mantel induknya dan kemudian dibuahi oleh sperma yang berada didekatnya (Setyobudiandi, 1989).

d. Stadium larva dan telur

Telur yang telah dibuahi kemudian akan menetas menjadi larva trocophore yang berenang bebas. Sejak pembuahan hingga stadia spat, kerang mutiara hidup sebagai plankton yang gerakannya dipengaruhi oleh air laut. Alat gerak berupa silia mulai berkembang pada stadia veliger yaitu sekitar 20 jam setelah

pembuahan. Larva yang berumur 18-24 jam akan membentuk D-shape larva dan stadia umbo akan terjadi setelah 8-9 hari setelah dibuahi (Rose dan Baker, 1994). Fase berikutnya larva akan menempel pada substrat hingga berukuran ± 2 cm dengan menggunakan byssus (stadia spat). Kerang muda akan turun ke dasar perairan dan berkembang hingga dewasa seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan larva kerang mutiara (Pinctada maxima) berdasarkan waktu setelah proses pembuahan (Cahn, 1949).

Waktu Setelah Pembuahan Perkembangan Larva Kerang Mutiara

15 menit Penonjolan polar body I

25 menit Penonjolan polar body II

40 menit Pembentukan polar lobe I

45 menit Stage dua sel

1 jam Stage empat sel

1,5 – 3 jam Stage delapan sel

2,5 – 3,5 jam Stage morula

3,5 – 4 jam Stage blastula

5,5 jam Permulaan gastrulasi

7,5 jam Perkembangan flagela apikal

18,5 – 19 jam Kulit kerang hampir menutupi tubuh

28 jam Engsel rudimenter mulai tumbuh

30 – 32 jam Flagela apikal mulai kurang nyata

7 hari Umbo mulai tumbuh

9 hari Umbo menonjol sedikit melebihi panjang garis

engsel

2 – 3 minggu Spat ukuran 0,5 mm siap untuk melekat

Sejak pembuahan sampai stadia spat, kerang mutiara akan hidup sebagai planktonik, pergerakannya banyak dipengaruhi oleh arus air laut. Alat gerak

berupa silia, mulai berkembang pada stadia veliger, yaitu pada saat berumur 18,5– 19 jam setelah pembuahan. Larva ini akan menempel sampai ukuran 2 cm dengan bantuan alat penempel, yaitu byssus. Setelah melebihi ukuran tersebut, spat (kerang muda) akan jatuh ke dasar perairan laut dan menempel pada substrat, seperti batu atau karang, sampai kerang tersebut dewasa.

2.4.2. Makanan dan cara makan

Kerang mutiara merupakan jenis filter feeder. Makanan kerang mutiara saat masih menjadi larva berbeda dengan kerang mutiara dewasa, pada fase larva makanannya berukuran renik dan makanan kerang mutiara dewasa berupa partikel-partikel berukuran lebih besar (Yonge, 1960 in Setyobudiandi, 1989).

Makanan utama kerang mutiara adalah diatom, algae, larva Bivalvia dan plankton lain (Allan, 1962 in Usfar, 1996). Makanan kerang mutiara dapat berupa detritus (sisa bahan organik), flagellata, larva Invertebrata, organisme bersel tunggal seperti Infusoria, Foraminifera, Radiolaria, larva dari Lamellibranchia,

Gastropoda, Heteropoda, Crustacea, Chlorella, pasir dan lumpur.

Menurut (Tun dan Winanto, 1988 in Usfar, 1996), jenis plankton yang menjadi makanan kerang mutiara antara lain Chlorella, Skeletonema costatum,

Euglena, Coscinodiscus exenbricus, Coscinodiscus radiatus, Nitzschia longissima, Nitzschia sp, Ceratium fusus, Melosira jurgensi, Rhizosolenia hebitata, Hylodiscus stelliger, Asterionella japonica dan Thalassionema nitzschioides.

Cara makan dari kerang mutiara adalah dengan menyaring air laut, melalui getaran pada bagian insang sehingga air masuk ke dalam rongga mantel. Gerakan di bagian bulu insang, menyebabkan masuknya plankton yang berkumpul di

sekeliling insang dan plankton akan masuk ke mulut karena adanya gerakan labial

palp (Sutaman, 1993).

2.4.3. Pertumbuhan kerang mutiara

Pertumbuhan dapat pula didefinisikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu kurun waktu tertentu (Effendie, 1997). Menurut Cahn (1949) pertumbuhan kerang mutiara umumnya dapat dijelaskan dengan hubungan pertambahan ukuran cangkang yang dapat diukur dari berat, lebar, panjang, tebal dan panjang garis engsel (hinge ligamen).

Pertumbuhan kerang mutiara di daerah subtropis tidak terjadi sepanjang tahun, ada masa di mana kerang tumbuh sangat lamban bahkan bisa kita jumpai juga tidak adanya pertumbuhan sama sekali. Kelambanan pertumbuhan tersebut diduga karena pada kurun waktu tertentu, kerang mutiara memasuki masa

hibernasi (puasa). Masa hibernasi ini berkaitan erat dengan suhu suatu perairan. Kerang mutiara akan mengalami masa hibernasi saat suhu perairan ± 13 oC, karena pada saat suhu perairan rendah maka pertumbuhan kerang mutiara akan menjadi sangat lamban. Di daerah tropis yang memiliki suhu yang stabil antara 26-30 oC, kerang mutiara dapat tumbuh sepanjang tahun tanpa harus melalui masa hibernasi (puasa) (Cahn, 1949).

Pertumbuhan kerang mutiara tiap jenisnya akan berbeda setiap jenis

spesiesnya, tapi satu hal yang memiliki kesamaan adalah pertumbuhan tersebut biasanya sangat bergantung pada suhu perairan, salinitas, jumlah makanan dan persentase unsur kimia dalam air laut. Kerang mutiara akan tumbuh secara normal dan mencapai pertumbuhan yang maksimal saat suhu air naik pada musim panas.

Menurut Tun dan Winanto (1988), pertumbuhan ini akan stabil saat salinitas dan suhu perairan yang stabil pula sepanjang tahun dan pertumbuhan maksimum bisa mencapai 1 cm per bulan seperti yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan pertumbuhan jenis kerang mutiara berdasarkan umur dan ukurannya (Tun dan Winanto, 1988).

Pertumbuhan Jenis Kerang Mutiara

Pinctada maxima Pinctada martensii

Umur Ukuran (mm) Umur Ukuran (mm)

1,5 bulan 16 1 bulan 6 2 bulan 22 2 bulan 9 2,5 bulan 26 3 bulan 17 3 bulan 29 6 bulan 31 3,5 bulan 36 1 tahun 45 4 bulan 41 2 tahun 59 4,5 bulan 45 3 tahun 70 5 bulan 51 4 tahun 78 7,5 bulan 74 5 tahun 81 8 bulan 79 6 tahun 82 7 tahun 82,5 8 tahun 83

Beberapa ukuran kerang mutiara lainnya antara lain adalah ukuran kerang mutiara jenis Pinctada fucata akan berukuran tinggi 35-45 mm pada akhir tahun pertama, 50-60 mm pada akhir tahun keempat (Cahn, 1949).

Dokumen terkait