BAB II. KEHIDUPAN, SIFAT DAN
A. Biografi Ustman ibn Affan (576-656 M.)
Nama lengkap Usman bin Affan adalah Usman bin Affan bin Abi „Ash bin Umayyah bin Abdu Syamsi bin Abdu Manaf bin Qashy al-Qurasy. Ia dilahirkan di Mekkah pada tahun 576 M. tahun keenam tahun Gajah. Ia enam tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw. Silsilah keluarga Usman dan keluarga Muhammad saw bertemu pada Abdu Manaf. (Al-Najjar, 1987: 243).
Dimasa kanak-kanak dan remaja ia hidup berkecukupan sebagaimana orang-orang Quraisy pada umumnya, khususnya
Bani Umayyah. Sebelum masuk Islam Usman merupakan seorang yang kaya, pedagang besar dan terpandang. Sesudah Muhammad diproklamirkan sebagai nabi dan rasul oleh Allah swt., ia termasuk orang yang mula-mula memperyacai risalah Muhammad dan masuk Islam. Ia memeluk Islam atas ajakan Abu Bakar as-Shiddiq. (Ensiklopedi Islam, 2001: 141).
Ada beberapa sumber yang menerangkan tentang sebab-sebab keislaman Ustman. Diantaranya Ibnu Hasyim menyebutkan bahwa sesudah Abu Bakar masuk Islam, maka orang-orang yang dekat dengannya diajak beriman kepada Allah swt., dan masuk Islam. Diantara sahabat yang diajak adalah Usman bin Affan, Zubair bin Awwam dan Talhah bin „Ubaidillah. Mereka yang sudah memenuhi ajakannya tersebut diajak untuk menemui Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. (Haekal, 2007: 35).
Sumber lain Ibn Sa‟d menerangkan bahwa Ustman bin Affan dan Talhah bin Ubaidillah pergi mengikuti Zubair bin Awwam menemui Rasulullah saw. Ia menawarkan Islam kepada keduanya dan membacakan beberapa ayat Alquran serta memberitahukan kepada mereka tentang ketentuan-ketentuan Islam dan menjanjikan kemuliaan Allah bagi mereka. Ustman dan Talhah kemudian beriman dan masuk Islam.
Ustman tergolong orang yang terpandang karena ia termasuk golongan pedagang yang kaya serta dermawan. Pada perang Tabuk melawan kerajaan Bizantium, Ustman pernah memberikan sepertiga dari kekayannya untuk kepentingan kaum muslimin. (F. Hasan, 2004: 83). Ketika beliau dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Umar bin Khattab, pada saat itu umur Usman telah mencapai 70 tahun. Menurut beberapa catatan Ustman berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berwajah tampan, berkulit cerah dengan warna sawo matang. (Suyuti, t.th:119). Janggutnya lebat dengan tulang-tulang persendian yang besar. Ia senantiasa mengenakan pakaian yang indah, bagus dan bermutu tinggi karena ia memang salah seorang Arab Kuraisy yang kaya pada waktu itu. (Haekal, 2007:33).
Sifat yang paling menonjol dari seorang Usman adalah dia sangat pemalu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
Dalam riwayat di atas disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw., telah bersabda yang artinya: “diantara ummatku yang
paling pemalu adalah Ustman bin Affan”.(al-Fahami, 2002: 92).
Rasa malu yang Ustman miliki semakin bertambah pada waktu ia dilihat oleh orang lain. Sehingga terkadang sifat pemalunya itu membuat orang lain juga malu kepadanya. Bersumber dari Aisyah Ummul mukminin disebutkan: bahwa ketika Rasulullah sedang duduk-duduk dan pahanya terbuka, Abu Bakar meminta izin akan masuk diizinkan tanpa mengubah posisi duduknya, ketika Umar datang meminta izin Nabi pun mengizinkan tanpa merubah posisi duduknya. Tetapi ketika Ustman meminta izin, maka Nabi segera merubah posisi duduk beliau dan memperbaiki pakaiannya. Sesudah ketiganya pergi Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, Anda mengizinkan Abu Bakar dan Umar masuk dengan keadaan anda tetap begitu, tetapi ketika Ustman yang meminta izin Anda menurunkan pakaian anda”. Rasulullah menjawab kepada Aisyah, Ya Aisyah:
Artinya:
“Tidakah aku malu kepada seseorang yang malaikat pun malu terhadapnya.”(Khalid, 1997: 234).
Karena sifat pemalu itulah Ustman takut berbicara. Dikisahkan bahwa diantra sekian sahabat Rasulullah tak ada seorang pun yang cara bicaranya lebih baik dan lebih sempurna daripada Ustman. Hanya saja ia takut (baca: berhati-hati) untuk berbicara. Karena takutnya berbicara ini ia segan berdialog dan berdebat berpanjang-panjang. Kalau ia sudah mengambil sebuah keputusan ia gigih mempertahankan dan tidak mudah menyerah.
Ustman adalah orang yang sangat jujur, dermawan dan murah hati. Dia berasal dari keluarga Banu Umayyah, kalangan suku Quraisy yang terbanyak jumlah dan yang terkuat.Tetapi keengganannya berbicara yang terbawa oleh perasaan malu membuatnya menjadi sangat lemah lembut. Kedermawanan dan kelembutannya membuat ia disenangi banyak orang. Di samping itu karena percaya diri dan rasa bangga kepada kerabat, ia sangat dihormati dan dihargai. Usman memiliki tulisan tangan yang indah. Oleh karenanya Rasulullah menunjuk ia menjadi salah seorang penulis wahyu. (Khalid, 2005: 29).
Kehidupan Ustman ibn Affan merupakan suatu kehidupan yang unik dan penuh warna, dilahirkan di perkampungan quraiys yang terhormat, setelah dewasa beliau menikahi puteri Rasulullah saw., Ruqayyah, dan ketika Ruqayyah meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya, Rasulullah saw., menikahkan Ustman kepada puterinya yang lain, Ummu Kultsum. Usia pernikahan Ustman dengan Ummu Kultsum pun tidak berlangsung lama, seakan-akan Ustman ibn Affan disiapkan untuk terus-terusan mengalami kesedihan (Murad, 2009: 47).
Pada tahun kesembilan hijriyah, Allah memanggil Ummu Kultsum ke haribaan-Nya. Selama hidupnya, Ustman pernah menikah dengan delapan wanita. Dari pernikahan tersebut Ustman dikarunia sembilan orang putera dan enam orang puteri. Berikutnya nama-nama isteri Ustman ibn Affan:
1. Ruqayyah binti Rasulullah, yang dikarunia anak bernama Abdullah, tetapi meninggal dunia pada usianya enam tahun.
2. Ummu Kultsum, yang tidak mendapat keturunan.
3. Fakhithah bin Gahzwan, yang memiliki putera bernama Abdullah dan meninggal saat ia masih kecil.
4. Ummu Amr bin Jundub, yang memberinya beberapa anak; Amr, Khalid, Abban, Umar dan Maryam.
5. Fathimah bin al-Walid al-Makhzumiyah, yang memberinya tiga orang anak; Said, al-Walid, dan Ummu Said.
6. Ummu al-Banin binti Uyainah ibn Hishn al-Fazariyah, yang memberinya Abdul Malik, namun ia meninggal di usia balita.
7. Ramlah binti Syaibah ibn Rabi‟ah, yang memberinya Aisyah, Ummu Ibban, dan Ummu Amr.
8. Nailah binti al-Farafashah, yang kemudian melahirkan Maryam. (Murad, 2009: 47).
Ketika wafat, Ustman ibn Affan meninggalkan tiga orang isteri, Ummu al-Banin, Fakhithah dan Nailah. Ketiga anaknya yang meninggal saat masih kanak-kanak adalah Abdullah, Abdullah Tsani dan Abdul Malik. (Murad, 2009: 48).
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, anak-anak Ustman jarang disebut-sebut sebagai orang yang berpengaruh atau memiliki peran sebagaimana orang tua mereka.