BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5 Efektivitas Pelayanan TKBM di Pelabuhan Teluk Nibung
4.5.1 Efektivitas Pelayanan TKBM di Pelabuhan Teluk Nibung Penelitian
4.5.1.1 Birokrasi
Upaya peningkatan kualitas pelayanan akan ditentukan oleh sejauhmana institusi pelayanan yang bersangkutan mampu memberikan pelayananyang sebaik-baiknya. Merealisasikan pemberian pelayanan sebaik-baiknya dengan kualitas yang diharapkan oleh masyarakat tidak mudah, tetapi perlu adanya dilakukan langkah-langkah strategis. Max Weber mengatakan bahwa konsep birokrasiyang rasional sangat mengandalkan pada peraturan-peraturan dan prosedur-proseduryang semuanya dimaksudkan untuk membantu tercapainya tujuandan terlaksananya nilai-nilai atau norma-norma yang diinginkan. Oleh karena itu, suatu organisasi yang baik memiliki kejelasan hierarkhi antara jabatan-jabatan atau antara satuan organisasi yang ada didalamnya. Diketahui dengan jelas siapaatasan dan siapa bawahan dalam organisasi yang bersangkutan, sehingga tau apa dan bagaimana cara kerja yang ada. Organisasi juga harus berandalkan pada
peraturan-peraturan, seperti Standar operasioal Prosedur (SOP), Standar Pelayanan Minimal (SPM). Namun, pada wawancara yang dikemukakan oleh informan menyatakan bahwa:
“Sekarang di TKBM Pelabuhan Teluk Nibung hanya membongkar saja, kerna memuat tidak ada lagi semenjak pemerintahan Pak Joko Widodo. Dan kalau SOP nya sekarang tidak ada lagi kerna pada saat yang dulu harus ada pemilik batang melapor ke mandor... saya pun kurang tau kerna orang yang dilapangan seperti mandor yang mengetahui ini kalau saya cuma bagian administrasinya...”(Wawancara dengan Pak Iswanto, 31 Juli 2019, Transkip Wawancara hal 20 )
Namun pada KSOP bentuk SOP menyatakan hal sebagai berikut:
“ada, SOP nya dari perusahaan melapor Pelayaran, pelayaran menunjuk ke PBM (Pelabuhan Bongkar Muat) yang bekerja sama dengan TKBM, PBM meminta tenaga TKBM. Dari TKBM baru membentuk gang-gang yang mengusulkan ke KSOP meminta persetujuan...” (Wawancara dengan Pak A Mukti, 31 Juli 2019, Transkip Wawancara hal 17 )
Pihak KSOP hanya sebagai pembina atau sekedar mengetahui saja yang dilakukan TKBM di Pelabuhan Teluk Nibung, TKBM dibawah naungan KSOP.
Teknis TKBM hanya KSOP. Dan pihak Pelindo tidak mengetahui tentang TKBM karena Pelindo 1 menolak keras bahwa TKBM tidak ada sangkut-pautnya terhadap Pelindo 1 .
“tidak ada hubungan antara Pelindo dan TKBM, sehingga tidak ada SOP nya” (Wawancara dengan Pak Mitsu, 6 Agustus 2019, Transkip Wawancara hal 14 )
Selanjutnya informan lain menyatakan:
“Seharusnya bentuk SOP yang dilakukan dari Malaysia ke Bea Cukai...”(Wawancara dengan Pak Mitsu, 6 Agustus 2019, Transkip Wawancara hal 14 )
Pelayanan pelaksanaan bongkar barang di Pelabuhan seperti :
Persyaratan Pelayanan :
1)Surat Penunjukan Perusahaan B/M 2)Surat Rencana Kerja B/M
3)Manifest
4)Surat Perintah Kerja TKBM 5)Surat Penyerahan TKBM.
Waktu TKBM membongkar muat hanya beberapa jam ke kapal. Adapun laporan yang dilakukan untuk merencanakan bongkar muat untuk kargo seperti :
Gambar 4.1 Laporan Rencana Bongkar Muat (Untuk Kargo)
Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2019
Seperti yang dikemukakan pada gambar di atas, untuk membongkar muat pada kargo harus ada laporan untuk KSOP. Setelah adanya laporan tersebut, KSOP memberitahu ke TKBM untuk adanya bongkar muat kargo. Sebelum atau tanpa adanya surat masuk ke KSOP, TKBM tidak boleh membongkar muat.
Berdasarkan Pasal 6 UU RI Nomor 17 Tahun 2008, jenis angkutan di perairan terdiri atas:
a. angkutan laut,
b. angkutan sungai dan danau, c. angkutan penyeberangan.
Sesuai dengan Pasal 219 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008, untuk melakukan kegiatan pelayaran setiap angkutan laut (kapal) memerlukan Surat Persetujuan Berlayar/Berlabuh (SPB) yang di keluarkan oleh syahbandar agar dapat berlayar ataupun berlabuh. Agar dapat memperoleh SPB, maka kapal yang akan berlayar harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti syarat kelaiklautan kapal. Setiap Surat Persetujuan Berlayar dapat di berikan oleh seorang syahbandar kepada pengguna atau pemilik kapal apabila kapal tersebut telah memenuhi beberapa syarat penting seperti yang tercantum dalam Pasal 117 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2008 di atas dan ketentuan ketentuan lainnya.
Setiap kapal yang hendak berlayar harus memiliki Surat Persetujuan Berlayar yang diterbitkan oleh Syahbandar atau Syahbandar di pelabuhan perikanan kecuali kapal perang dan/atau kapal negara/kapal pemerintah sepanjang tidak dipergunakan untuk kegiatan niaga. Surat Persetujuan Berlayar yang diterbitkan syahbandar hanya berlaku selama 1x24 jam dan untuk sekali pelayaran. Permohonan Surat Persetujuan Berlayar diajukan oleh pemilik atau operator kapal secara tertulis kepada syahbandar. Permohonan tersebut dilengkapi dengan surat pernyataan Nahkoda (Master Sailing Declaration) dan bukti-bukti pemenuhan kewajiban kapal lainnya sesuai dengan tujuan kapal tersebut berlayar.
Bukti pemenuhan kewajiban lainnya di antaranya, Bukti Pembayaran Jasa Kepelabuhanan, Bukti Pembayaran Jasa Kenavigasian, Bukti Pembayaran Penerimaan Uang Perkapalan, Persetujuan (Clearance) Bea dan Cukai,
Persetujuan (Clearance) Imigrasi, Persetujuan (Clearance) Karantina Kesehatan dan / atau Persetujuan (Clearance) Karantina hewan dan tumbuhan. Kapal perikanan wajib dilengkapi dengan surat laik operasi dari pengawas perikanan.
Syahbandar memerlukan data yang diperoleh dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang merupakan badan khusus untuk melakukan pengawasan terhadap angkutan laut (kapal) dalam kontruksi dan kelengkapan kapal agar syahbandar dapat mengeluarkan surat-surat atau dokumen dokumen yang akan digunakan angkutan laut untuk melakukan pelayaran. Berkas permohonan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance) diserahkan kepada Syahbandar setelah semua kegiatan di atas kapal selesai dan kapal siap untuk berlayar yang dinyatakan dalam surat pernyataan kesiapan kapal berangkat dari Nakhoda ( Master Sailing Declaration). Setelah permohonan diajukan Syahbandar melakukan pemeriksaan kelengkapan dan validitas dari surat dan dokumen kapal. Apabila ada laporan mengenai kapal yang tidak memenuhi persyaratan kelaiklautan dan keamanan kapal Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kapal. Jika terdapat hal-hal yang bersifat pelanggaran atau adanya kekurangan pada kapal, surat ijin berlayar tidak dapat diberikan, dan kepada Nahkoda atau perusahaan pelayaran diperintahkan untuk melengkapi kekurangan, menurunkan muatan atau penumpang apabila jumlah penumpang kapal berlebih, atau menyelesaikan dokumen apabila sudah tidak berlaku lagi.
Gambar 4.2 Laporan Kedatangan Dan Keberangkatan Kapal
Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2019
Pada gambar di atas laporan kedatangan dan keberangkatan kapal yang yang diketahui KSOP. Pada Standar Pelayanan Minimal yang dilakukan pada KSOP untuk Koperasi TKBM berdasarkan pada keputusan bersama. Keputusan bersama tentang pembinaan dan pengembangan koperasi kerja bongkar muat (TKBM) di Pelabuhan (terlampir).