HASIL PENELITIAN
5.3 Uji Bivariat
5.3.1 Tingkat retensi urin pada kelompok perlakuan pada pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Pada hasil uji statistik Mc Nemar, apabila p value < 0,05 maka H0 ditolak. Dan sebaliknya apabila nilai p value > 0,05 maka H0 diterima. Hasil temuan uji statistik pada penelitian ini didapatkan nilai p value < 0,05 (0,016 < 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa
bladder training dapat berpengaruh atau memiliki efektivitas
terhadap retensi urin pada pasien post operasi BPH di ruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dadi Santosa, (2015) juga menjelaskan bahwa tindakan Bladder Training dan muscle pelvic exercise terbukti efektif memperbaiki fungsi eliminasi berkemih pada pasien BPH pasca operasi TVP.
Tindakan bladder training ini dilakukan oleh peneliti yaitu dihari ketiga pasca operasi TURP, dimana pada hari ketiga tersebut biasanya tindakan irigasi bladder sudah dihentikan. Sebelum tindakan bladder training dilakukan, penderita dilakukan pemeriksaan kondisinya apakah ada keluhan atau tanda tanda yang mengarah ke kondisi retensi urin. Kemudian setelah itu penderita dilakukan dan diajarkan bagaimana tindakan bladder training tersebut dilakukan. Responden diajarkan untuk mengeklem selang kateter urin mereka dengan karet gelang selama 2-3 jam, dan sebelumnya responden diminta minum air putih 100-250 cc setiap kali akan diklem. Bila sudah terasa penuh dikandung kemih dan ingin BAK maka klem selang kateter dapat dibuka dan dibiarkan selama 5 menit. Setelah itu selang diklem kembali seperti itu selama 12 jam dimulai dari pagi hari sampai malam hari. Pada malam hari, responden diminta istirahat dan pagi harinya baru dicek kembali oleh peneliti. Setelah 1 x 24 jam dilakukan, kemudian penderita dilakukan pemeriksaan kembali. Pada pemeriksaan dihari kedua setelah responden diajarkan dan diberikan bladder training, sebagian besar responden mengatakan kondisi mereka lebih nyaman dan membaik. Responden mengatakan rasa nyeri di saluran kemih berkurang, kandung kemih yang penuh menjadi normal dan produksi urin mereka pun berangsung lancar. Dan sesuai data yang ditampilkan diatas, hasilnya adalah ternyata tindakan bladder tersebut sangat
memberi perubahan yang nyata pada keluhan penderita post TURP yang diperiksa.
Hasil temuan ini sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa tindakan bladder training ini adalah merupakan salah satu terapi yang efektif diantara terapi non farmakologi yang ada untuk mencegah atau menurunkan resiko retensi urin. Dimana tindakan ini adalah untuk mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau fungsi neurogenik (Potter & Perry, 2005).
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anita Widyastuti, (2012) menjelaskan bahwa ada pengaruh yang signifikan dengan adanya tindakan bladder training yang dilakukan setiap hari terhadap kejadian inkontinensia bila dibandingkan dengan bladder
training yang hanya dilakukan pada satu hari sebelum kateter
dilepas. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value < α (0,000 < 0,05) maka H0 ditolak. Selain itu penelitian lain yaitu oleh Sri Wulandari, (2012) juga menjelaskan bahwa ada pengaruh yang jelas terlihat dari tindakan bladder training yang dilakukan terhadap penurunan inkontinensia pada lansia dimana sebelum dilakukan tindakan, antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan penurunan inkontinensia secara signifikan. Namun setelah dilakukan tindakan bladder training, antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol penelitian menunjukan
perbedaan yang cukup signifikan, dimana terjadi penurunan kejadian inkontinensia pada kelompok perlakuan sedangkan kelompok kontrol tetap. Hasil uji statistik menunjukkan hasil pada pre test ditemukan nilai t hitung sebesar 0,343 dengan nilai p value 0,735 maka H0 diterima, yang artinya tidak ada pengaruh. Sedangkan pada
post test ditemukan nilai t hitung sebesar 7,348 dengan nilai p value
0,000 maka H0 ditolak sehingga ada pengaruh tindakan Bladder
training terhadap penurunan inkontinensia pada lansia.
5.3.2 Tingkat Retensi urin pada kelompok kontrol pada pasien post operasi BPH RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Sebagaimana dijelaskan diawal mengenai uji statistik Mc
Nemar, bahwa apabila nilai p value > 0,05, maka H0 diterima. Hasil
temuan uji statistik yang didapat adalah nilai p value > 0,05 (1,00 > 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan / efektivitas bladder training terhadap retensi urin pada kelompok pre dan post kontrol pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Pada kelompok kontrol dalam penelitian ini, dihari ketiga pasca TURP atau setelah irigasi bladder dihentikan, responden dilakukan pemeriksaan tentang keluhan keluhan yang dirasakan. Kebanyakan dari responden mengeluh sakit di regio supra pubik dan adanya distensi kandung kemih. Ini adalah pemeriksaan yang dilakukan pertama kali. Kemudian setelah 24 jam berikutnya tanpa
responden diberikan intervensi ataupun tindakan apapun, responden dari kelompok kontrol tersebut juga dilakukan pemeriksaan yang kedua. Sebagian besar dari responden menunjukkan hasil yang hampir sama dengan pemeriksaan sebelumnya, yaitu masih mengeluhkan sakit di regio supra pubik dan adanya distensi kandung kemih.
Dari temuan ini, peneliti dapat menganalisa bahwa keluhan retensi urin pada kelompok pre dan post kontrol apabila tidak diberikan intervensi ataupun tidakan pencegahan akan menunjukkan kondisi yang sama. Kondisi ini jelas dapat terlihat bahwa diantara kelompok pre dan post kontrol masih memiliki keluhan yang sama yaitu retensi urin setelah post TURP. Beberapa penyebab yang mungkin mendasari keadaan terjadinya retensi urin ini adalah adanya obstruksi, infeksi, faktor farmakologi, faktor neurologi ataupun juga trauma (Selius & Subedi, 2008).
Kondisi retensi urin ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu retensi urin akut dan retensi urin kronis. Pada retensi urin akut ditandai dengan ketidakmampuan untuk berkemih sama sekali. Hal ini merupakan suatu kedaruratan medis yang memerlukan perawatan yang secepatnya. Sedangkan pada retensi urin kronis, individu masih dapat berkemih tetapi memiliki kesulitan untuk memulai atau mengosongkan kandung kemih secara keseluruhan (Wartonah,
2006). Namun pada penelitian ini tidak diklasifikasikan secara jelas tipe retensi urin apa yang terjadi pada responden.
5.3.3 Efektivitas bladder training terhadap retensi urin pada pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Pada uji statistik Fisher’s Exact dijelaskan bahwa apabila nilai p value < α, maka H0 ditolak. Dan sebaliknya apabila nilai p value > α maka H0 diterima, dimana nilai α sebesar 0,05. Dari hasil uji hitung statistik pada penelitian ini, didapatkan nilai p value < α, yaitu 0,020 < 0,05. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat efektivitas bladder training terhadap retensi urin pada pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Pada penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Friska Hinora (2014) tentang pengaruh Bladder
training terhadap kemampuan berkemih pada pasien pria dengan
retensi urin di RSUD Bitung. Pada hasil uji statistik didapatkan nilai
p value < α, yaitu 0,001 < 0,05 sehingga Ha dterima / H0 ditolak.
Jadi ada pengaruh bladder training terhadap kemampuan berkemih pada pasien pria dengan retensi urin di RSUD Bitung. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tindakan bladder training ini sangat efektif terhadap kejadian retensi urin.
Pada hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh peneliti terhadap
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sangatlah terlihat perbedaanya. Dimana setelah dilakukan tindakan bladder training
pada kelompok pre dan post perlakuan menunjukan perbaikan kondisi dari sebelum dilakukan tindakan. Sedangkan pada kelompok
pre dan post kontrol, peneliti menemukan kondisi dan keluhan
responden yang rata rata hampir sama, yaitu keluhan terjadinya retensi urin. Dari perbedaan kedua kelompok penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kondisi atau keluhan yang mengarah pada retensi urin bila tidak diberikan intervensi hasilnya akan tetap sama, namun apabila kondisi ini segera dilakukan pencegahan maka kemungkinan besar akan terjadi perbaikan dari pada keluhan sebelumnya.
Penemuan ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Wulandari, (2012) yang menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang cukup jelas dari tindakan bladder training terhadap penurunan inkontinensia pada lanjut usia di Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta. Dimana sebelum diberikan tindakan
bladder training, antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol
sama sama tidak ada perbedaan dalam frekuensi inkontinensia pada responden. Namun setelah diberikan tindakan, hasilnya jelas sekali terjadi perbedaan atau penurunan frekuensi inkontinensia pada kelompok perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol tetap seperti sebelum diberi tindakan.
Dari temuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bladder
mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih (Potter & Perry, 2005). Latihan ini dilakukan pada pasien post operasi yang terpasang kateter (Suharyanto, 2009). Secara umum bladder training dilakukan sejak sebelum kateter dilepas hingga setelah kateter dilepas. Pada pasien dengan kateter menetap dapat dilakukan secara rutin dan setiap hari. Hal ini dapat memberikan hasil yang sangat membantu dalam mempertahankan kondisi normal maupun mengembalikan ke kondisi semula pada pasien gangguan pola berkemih akibat kateterisasi (Widiastuti, 2012).
75
BAB VI PENUTUP
6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
6.1.1 Karakteristik responden berdasarkan:
a. Umur responden pada kelompok perlakuan ditemukan data bahwa sebagian besar responden adalah berusia 60-74 tahun yaitu sebanyak 4 responden (40%) dan pada usia 75-90 tahun yaitu sebanyak 4 responden (40%). Sedangkan pada kelompok kontrol ditemukan mayoritas responden berusia 60-74 tahun yaitu sebanyak 6 responden (60%).
b. Tingkat retensi urin pada kelompok perlakuan pre bladder training ditemukan data bahwa sebagian besar responden mengalami retensi urin yaitu sebanyak 8 responden (80%), sedangkan pada
post bladder training sebagian besar dari responden tidak
mengalami retensi urin yaitu sebesar 9 responden (90%).
c. Tingkat retensi urin pada kelompok pre kontrol ditemukan hasil bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 8 orang responden (80%) mengalami retensi urin, sedangkan pada post kontrol ditemukan sekitar 7 responden (70%) masih mengalami retensi urin.
6.1.2 Tingkat retensi urin pada kelompok perlakuan pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dengan uji statitik Mc Nemar didapatkan hasil nilai p value < α, yaitu 0,016 < 0,05 maka H0 ditolak. Sehingga ada perbedaan antara pre dan post
bladder training pada kelompok perlakuan.
6.1.3 Tingkat retensi urin pada kelompok kontrol pasien post operasi BPH diruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dengan uji statistik Mc Nemar didapatkan hasil nilai p value > α, yaitu 1,000 > 0,05 maka H0 diterima. Yang artinya tidak ada perbedaan kejadian retensi urin antara pre dan post kontrol.
6.1.4 Dari hasil uji hitung statistik Fisher’s Exact Test pada penelitian ini, didapatkan nilai p value < α, yaitu 0,020 < 0,05. Maka H0 ditolak yang berarti latihan bladder training terbukti efektif dalam mengurangi resiko terjadinya retensi urin pada pasien post operasi BPH di ruang Mawar RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
6.2 Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka ada beberapa saran yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
6.2.1 Bagi pasien / masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengurangi resiko terjadinya retensi urin dan meningkatkan kenyamanan serta kepuasan pada pasien yang dirawat diruang Mawar khususnya di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dengan post operasi BPH.
6.2.2 Bagi perawat atau rumah sakit RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam bekerja terutama perawat diruang Mawar dalam melakukan tindakan
bladder training dan sebagai acuan dalam membuat SOP khususnya
dalam teknik bladder training yang tepat bagi pasien post operasi BPH.
6.2.3 Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber literatur untuk menyusun materi pembelajaran dan juga menambah pengetahuan tentang pengaruh bladder training terhadap retensi urin pada pasien post operasi BPH.
6.2.4 Bagi penelitian lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data untuk memotivasi pelaksanaan penelitian yang lebih baik diwaktu yang akan datang dan juga diharapkan lebih dijelaskan lagi klasifikasi retensi urin yang diteliti, apakah retensi urin akut atau retensi urin kronis.
6.2.5 Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan dalam hal efektivitas bladder training terhadap retensi urin pada pasien post operasi BPH.