HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Bobot Kering
Hasil analisis sidik ragam pengaruh komposisi media tanam terhadap bobot kering tanaman (lampiran 7), menunjukkan bahwa perlakuan media tanam juga berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering tanaman. Sama halnya dengan
Perlakuan Rataan M0 60,33 M1 61,49 M2 60,53
hasil pengamatan bobot basah tanaman. Rataan pengaruh media tanam terhadap bobot kering tanaman dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Rataan pengaruh media tanam terhadap bobot kering tanaman Perlakuan Rataan
M0 26,14 M1 27,23 M2 26,82
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa bobot kering tertinggi terdapat pada perlakuan M1 (27,23 g) sedangkan bobot kering terendah terdapat pada perlakuan M0 (26,14 g). M1 merupakan komposisi media tanaman yang memiliki nilai rataan yang tertinggi, namun secara statistik hasilnya berpengaruh tidak nyata terhadap perlakuan yang lain.
Pembahasan
Dari hasil analisis data secara statistik perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada pengamatan 5, 6, 7, 15 dan 16 MST. Berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang, jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman.
Perlakuan jenis media tanam nyata meningkatkan tinggi semai pada perlakuan pupuk kandang (M2) memberikan hasil terbaik yaitu 11,28 cm. Peningkatan tinggi semai disebabkan peranan pupuk kandang yang merupakan pupuk organik padat dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rosmarkam (2001) yang menyatakan bahwa Pupuk kandang yang dicampur dengan tanah semakin lama diinkubasikan akan mengalami dekomposisi dan mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman. Selain itu pupuk organik juga dapat memperbaiki sifat fisika tanah. Penambahan bahan organik akan memperbaiki sifat kimia tanah antara lain KTK, kandungan bahan organik,
serta kandungan unsur hara N, P dan S. Lebih lanjut Suseno (1974) juga menyatakan bahwa N terikat dalam senyawa-senyawa organik pada tumbuhan dan hewan, jika hewan dan tumbuhan mati senyawa organik itu mengalami perombakan yang kemudian terjadi mineralisasi dan terbentuklah NH4+ kemudian NH3- diubah menjadi NO2- oleh Nitrosomonas lalau NO2- diubah menjadi NO3- oleh Nitrobakter. NO3- kembali ke tanah sehingga Nitrogen dapat diserap tanaman dalam bentuk NO3-. Jamilah (2003) menyatakan bahwa hasil perombakan bahan organik dapat menyebabkan partikel-partikel tanah menyatu dan membentuk agregat sehingga hasilnya gerakan air ke dalam tanah diperbaiki dan air lebih mudah tersedia bagi tanaman. Lebih lanjut Buckman and Brady (1974) menyatakan kadar rata – rata dari pupuk kandang siap pakai yaitu 0,5 % N, 0,25 % P2O5 dan 0,5 % K2O. Disamping N,P,K pupuk kandang mengandung Ca, Mg, S dan mungkin seluruh unsur mikro. Nilai pupuk kandang tidak saja ditentukan oleh bahan organik yang dikandungnya tetapi oleh jumlah N yang dapat disuplainya. Nitrogen bila dibebaskan oleh jasad renik digunakan oleh tanaman. Selanjutnya pupuk kandang memungkinkan mempertahankan kadar bahan organik tanah pada tingkat lebih tinggi. Jadi selain pupuk kandang mempunyai pengaruh nyata terhadap sifat fisik dan biologis tanah juga dianggap sebagai sumber N dan hingga tingkat tertentu sebagai sumber K.
Hasil analisis sidik ragam (lampiran 2), menunjukkan pengaruh yang nyata pada perlakuan M0. Tetapi tidak berbeda nyata pada perlakuan M1. Hal ini menunjukkan bahwa peranan pupuk kandang sapi dapat mendukung pertumbuhan semai R. stylosa dengan baik dibandingkan dengan pupuk kompos. Akan tetapi bukan berarti pupuk kompos tidak baik untuk pertumbuhan tinggi semai R. stylosa
melainkan hal ini diduga karena proses waktu penyerapan hara tanaman pada pupuk kandang lebih cepat dibandingkan dengan penyerapan kompos.
Media tanam dengan perlakuan pupuk kandang sangat sesuai dengan kondisi untuk pertumbuhan R. stylosa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pratiwi (2009) bahwa nilai pH yang normal bagi perairan payau adalah antara 7,00-9,00. Untuk perairan estuari yang lebih ke arah darat pH-nya berkisar antara 7,50-7,90 dan pernyataan Irwanto (2006) bahwa habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar. Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove dan pada saat pasang, pohon mangrove dikelilingi oleh air garam atau air payau. Hutan mangrove ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan. Hidup pada temperatur dari 19° sampai 40° C. dengan toleransi fluktuasi tidak lebih dari 10° C. Kondisi tanah daerah pasang surut bersifat basa sehingga dengan penambahan pupuk kandang dapat menurunkan pH tanah. Hal ini didukung oleh pendapat Foth (1978) yang menyatakan kompos dan pupuk kandang sapi mampu menurunkan pH tanah dibanding pH tanah asli dan pH pupuk organik, hal ini disebabkan oleh adanya penambahan asam-asam organik sebagai hasil dekomposisi pupuk organik yang ditambahkan, seperti asam organik sederhana serta asam humat dan asam fulvat yang mampu menyumbangkan ion hidrogen sebagai sumber kemasaman tanah. Lama inkubasi mampu menurunkan pH tanah karena selama masa inkubasi yang dilakukan terjadi mineralisasi dari pupuk organik yang mana selain menghasilkan senyawa anorganik juga menghasilkan asam organik sederhana, dan juga proses humifikasi yang menghasilkan asam humat dan fulfat dengan gugus
fungsionalnya yang beragam mampu menyumbangkan sumber kemasan tanah. Di samping itu, terjadinya peningkatan kegiatan mikroorganisme perombak, yang mana selain mampu merombak pupuk organik yang ditambahkan, juga mampu menghasilkan senyawa-senyawa organik yang merupakan sumber kemasaman tanah yang berpotensi menurunkan pH tanah. Aktivitas respirasi mikroorganisme dan proses perombakan bahan organik menghasilkan asam-asam organik dan H2CO3 yang menyebabkan pH tanah menurun. Sehingga dengan kondisi yang sesuai tersebut perakaran semai R. stylosa dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang menghasilkan peningkatan tinggi semai terbaik. Sistem perakaran semai R. stylosa adalah perakaran tunggang yang dapat menjangkau kedalaman tanah untuk mencari dan menyerap air dan bahan makanan (nutrient). Lebih lanjut Bengen (2001) menjelaskan perakaran mangrove memiliki kekhususan daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan adaptasi tersebut dalam bentuk :
1. Adaptasi terhadap kadar kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).
2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi : memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam, berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam, daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.
3. Adaptasi terhadap tanah yang kurang strabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.
Perlakuan media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang. Hal ini menunjukkan pada umur semai R. stylosa masih belum terlihat secara nyata pengaruh media tanam terhadap peningkatan diameter batang. Namun dari data rataan dapat dilihat perlakuan kompos (M1) menunjukkan hasil terbaik. Kompos merupakan pupuk organik padat yang dapat memperbaiki struktur tanah. Kompos berasal dari bahan-bahan organik yang telah membusuk yang lazim disebut pengomposan. Kompos dapat berperan mendukung pertumbuhan semai R. stylosa sehingga jaringan tanaman berkembang dengan baik yang ditunjukkan dengan peningkatan diameter batang. R. stylosa merupakan tanaman dikotil mempunyai kambium yang turut berperan memperbesar pertumbuhan lilit batang atau diameter. Isroi (2008) menyatakan dalam susunan taksonomi R. stylosa merupakan kelas dikotilodenae yaitu tumbuhan berkeping dua yang memiliki kambium pada batang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suryadiputra, dkk (2006) menyatakan R. stylosa Griff merupakan pohon dengan satu atau banyak batang, tinggi hingga 10 m. Kulit kayu halus, bercelah, berwarna abu-abu hingga hitam.
Perlakuan media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun. Pada penelitian ini jumlah daun semai R. stylosa masih dalam kondisi yang normal dimana pada perlakuan M0 (6,66) M1 (6,33) dan M2 (6,00). Penelitian yang dilaksanakan di daerah pasang surut ini sangat dipengaruhi lingkungan seperti angin dan cuaca sehingga memperbesar timbulnya kondisi daun kering dan gugur. Jumlah daun yang berbeda disebabkan adanya daun yang gugur akibat pengaruh lingkungan. Pertumbuhan daun juga dipengaruhi oleh instensitas cahaya matahari dimana R. stylosa termasuk fototropisme yaitu pertumbuhan mengarah datangnya cahaya matahari. Pada penelitian ini bentuk daun R. stylosa sama
seperti apa yang dikemukakan Noor, dkk (1999) yaitu daun tunggal, terletak berhadapan, terkumpul di ujung ranting, dengan kuncup tertutup daun penumpu yang menggulung runcing. Helai daun eliptis, tebal licin serupa kulit, hijau atau hijau muda kekuningan, berujung runcing, bertangkai, 3,5-13 × 7-23 cm. Daun penumpu cepat rontok, meninggalkan bekas serupa cincin pada buku-buku yang menggembung. Noor, dkk (2006) juga menyatakan R. stylosa memiliki daun berkulit, berbintik teratur dilapisan bawah. Gagang daun berwarna hijau, panjang gagang 1-3,5 cm, dengan panjang 4-6 cm. Unit dan letak sederhana dan berlawanan. Bentuk daun elips melebar dan ujung daun yang meruncing.
Perlakuan media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap bobot basah dan bobot kering tanaman. Hal tersebut disebabkan waktu yang belum cukup bagi R. stylosa untuk menyerap hara dari dalam tanah dan proses humifikasi kompos dan pupuk kandang yang masih singkat belum berpengaruh terhadap bobot basah dan bobot kering tanaman. Namun hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan kompos (M1) yaitu bobot basah sebesar 61,49 g dan bobot kering sebesar 27,23 g dikarenakan pembusukan bahan organik pada kompos yang digunakan lebih sempurna dibandingkan pupuk kandang seperti apa yang dinyatakan oleh Isroi (2008) bahwa kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut : berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah, tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi, nisbah C/N sebesar 10-20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya, berefek baik jika diaplikasikan pada tanah, suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan tidak berbau. Hal ini menunjukkan media tanam meningkatkan proses fisiologi tanaman yang hasil akhirnya peningkatan bobot kering tanaman. Pupuk
organik yang diberikan ke dalam tanah menghasilkan senyawa-senyawa organik yang meningkatkan ketersediaan hara dan lengas tanah sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan fisiologi tanaman. Asam organik pengkelat yang dihasilkan (asam humat dan asam fulvat) membantu pergerakan hara menuju ke akar tanaman terutama unsur hara mikro. Dengan tersedianya unsur hara mikro tersebut memacu proses metabolisme enzimatis dalam jaringan tanaman, seperti perpanjangan akar dan pembentukan jaringan vegetatif lainnya. Kompos memberikan pengaruh positif pada perbaikan sifat fisik tanah dan membantu ketersediaan unsur hara dari dalam tanah yang diperlukan tanaman sehingga tanaman dapat memenuhi kebutuhan hara dari dalam tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nyakpa, dkk (1988) bahwa penambahan bahan organik juga dapat meningkatkan kapasitas jerapan karena berbagai gugus fungsional yang dimilikinya. Penelitian memperlihatkan bahwa pada pH yang sama, kelarutan Cu lebih rendah di tanah dengan kandungan bahan organik tinggi daripada di tanah dengan kandungan bahan organik rendah. Ini menunjukkan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dapat menurunkan ketersediaan unsur hara mikro. Setiap kation dari unsur hara mikro dapat berkombinasi dengan senyawa organik. Senyawa organik yang bereaksi dengan kation-kation tersebut terdiri dari protein, asam amino, penyusun humus dan asam - asam seperti sitrat dan tartrat. Reaksi kombinasi antara kation-kation ini dengan senyawa organik disebut kelasi, sedangkan senyawa komplek hasil bentukannya disebut kelat. Senyawa kelat disamping sebagai pemasok unsur hara mikro, juga melindungi dari pengendapan unsur tersebut misalnya oleh ion hidroksil (OH). Proses fisiologi pada tanaman
akan berjalan sempurna jika tanaman dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutriennya sehingga bobot basah dan bobot kering tanaman turut meningkat.
Bobot basah berkaitan dengan transportasi fotosintat ke daerah pemanfaatan seperti daun dan batang. Jumlah daun mempengaruhi jumlah fotosintat yang dihasilkan. Salisbury dan Ross (1995) mengemukakan bahwa kebanyakan tumbuhan mencurah sebagian besar biomassa pada tajuk oleh karena itu pennyerapan garam dan mineral sebagian besar oleh tajuk, sedangkan daun berpengaruh sebagai tempat fotosintesis. Bahan yang tertinggal dalam tanaman yang telah dipanaskan, sehingga hampir seluruhnya air menguap disebut bahan kering. Komponen utama bahan kering adalah polisakarida ditambah komponen seperti protein, lipid, asam amino serta unsur tertentu seperti kalium berbentuk ion, yang menjadi bagian tidak penting dari senyawa organik. Bobot kering biasanya dijadikan indikator bahwa semakin baik pertumbuhan tanaman makin baik pula bobot kering tanamannya.