Tabel 1. Rataan tinggi tanaman pada umur 10 MST pada berbagai perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol
3. Bobot Umbi/Plot
Berdasarkan data pengamatan dan daftar sidik ragam (lampiran 11 dan 12) dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap bobot umbi per plot sedangkan interaksi dari kedua perlakuan tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap bobot umbi/plot tanaman kentang.
Rataan bobot umbi/plot pada berbagai perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan bobot umbi/plot pada berbagai perlakuan Dosis kalium dan paklobutrazol. Dosis Kalium Konsentrasi Paklobutrasol RATA - RATA P0 P1 P2 P3 K0 9.99 10.68 10.56 8.77 10.00c K1 11.13 10.47 11.78 11.98 11.34a K2 11.91 11.69 11.98 8.77 11.09b K3 11.73 12.29 11.79 9.93 11.44a
RATA - RATA 11.19b 11.08b 11.53a 9.86c
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap bobot umbi/plot. Bobot umbi/plot tertinggi terdapat pada perlakuan K3 dengan rataan 11.44 kg berbeda nyata dengan perlakuan K0 dan K2 tetapi tidak berbeda nyata dengan K1. Sedangkan terendah terdapat pada perlakuan K0 dengan rataan 10.00 kg, berpengaruh nyata dengan perlakuan K1, K2 dan K3.
Hubungan antara bobot umbi/plot dengan dosis kalium dapat dilihat pada gambar 4. y = 11.781+ 2.407K r = 0.874 9.00 10.00 11.00 12.00 0 32 64 96 Dos is Kalium (g)
B
o
b
o
t U
m
b
i/P
lo
t(
kg
)
Gambar 4. Hubungan Antara Bobot Umbi Perplot Tanaman Kentang dengan Dosis Kalium.
Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa hubungan antara bobot umbi/plot dengan dosis kalium bersifat linier positif artinya semakin tinggi dosis kalium yang diberikan maka bobot umbi/plot semakin tinggi..
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan konsentrasi paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap berat umbi/plot. Berat umbi/plot tertinggi terdapat pada perlakuan P2 dengan rataan 11.53 kg berbeda nyata dengan perlakuan P0, P1 dan P3 sedangkan bobot umbi/plot terendah terdapat pada perlakuan P3 dengan rataan 9.86 kg berbeda nyata dengan P0, P1 dan P2.
Hubungan antara bobot umbi/plot dengan konsentrasi paklobutrazol dengan bobot umbi/plot dapat dilihat pada gambar 5.
= 11.087+3.781P - 7.0333P2 R2 = 0.87 max = 11,58 kg pada P = 0,268 g/l 9.00 10.00 11.00 12.00 0 0.25 0.5 0.75 Konsentrasi Paklobutrazol(g)
B
o
b
o
t U
m
b
i/P
lo
t(
k
g
)
Gambar 5. Hubungan Antara Bobot Umbi/Plot Tanaman Kentang Dengan Konsentrasi Paklobutrazol.
Berdasarkan gambar 5 dapat dilihat bahwa hubungan antara bobot umbi/plot dengan kosentrasi paklobutrazol bersifat kuadratik positif artinya setiap peningkatan konsentrasi paklobutazol akan meningkatkan bobot umbi sampai 0.268 g/l dan jika melebihi dosis ini akan menurunkan bobot dari umbi tanaman kentang.
4. Jumlah Umbi/Sampel
Data pengamatan dan daftar sidik ragam (Lampiran 13 dan 14) dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk kalium dan konsentrasi paklobutrazol serta interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi/sampel.
Rataan jumlah umbi/sampel pada perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan jumlah umbi/sampel pada berbagai perlakuan dosis kalium dan paklobutrazol.
Dosis Kalium Konsentrasi Paklobutrazol RATA - RATA P0 P1 P2 P3 K0 6.92 6.50 6.67 6.42 6.62 K1 6.82 7.56 6.83 5.75 6.74 K2 7.25 6.92 6.50 5.58 6.56 K3 6.25 6.42 6.67 5.67 6.25 RATA - RATA 6.81 6.85 6.66 5.85
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa taraf perlakuan K0 tidak berbeda nyata terhadap K1, K2 dan K3. Perlakuan paklobutrazol P0 tidak berbeda nyata dengan P1, P2 dan P3. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kalium dan paklobutrazol tidak berpengaruh terhadap jumlah umbi/sampel.
Setelah dimasukkan kedalam kelas – kelasnya, maka didapat perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol serta interaksinya berpengaruh tidak nyata terhadap persentase kelas umbi (lampiran 15 dan 16).
Rataan persentase kelas umbi pada perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol serta interaksinya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan jumlah persentase kelas umbi pada perlakuan dosis kalium dan paklobutrazol.
Dosis Kalium Konsentrasi Paklobutrazol RATA - RATA P0 P1 P2 P3 K0 11.22 9.88 10.06 11.93 10.77 K1 12.07 10.53 10.66 8.38 10.41 K2 10.37 9.33 8.58 11.06 9.84 K3 11.34 10.55 10.53 10.99 10.85 RATA - RATA 11.25 10.07 9.96 10.59
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa taraf perlakuan K0 tidak berbeda nyata terhadap K1, K2 dan K3. Perlakuan paklobutrazol P0 tidak berbeda nyata dengan P1, P2 dan P3. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kalium dan paklobutrazol tidak berpengaruh terhadap persentase kelas umbi tanaman kentang. 5. Shoot/Root Ratio
Berdasarkan data pengamatan dan daftar sidik ragam (Lampiran 17 dan 18) dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk kalium berpengaruh tidak nyata terhadap shoot/ root ratio tanaman kentang dan konsentrasi paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap shoot/ root ratio tanamana kentang serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap shoot/ root ratio tanaman kentang.
Rataan shoot/root ratio pada berbagai perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Rataan shoot/root ratio pada berbagai perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol . Dosis Kalium Konsentrasi Paklobutrazol RATA - RATA P0 P1 P2 P3 K0 6.31 4.35 5.47 4.35 5.12 K1 6.45 4.36 5.51 5.32 5.41 K2 5.54 4.67 4.17 4.74 4.78 K3 6.06 5.77 3.28 3.92 4.75
RATA - RATA 6.09a 4.78b 4.61b 4.58b
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa taraf perlakuan dosis Konsentrasi paklobutrazol terbesar pada P0 sebesar 6.09 berpengaruh nyata dengan P3, P2 dan KP1. Taraf perlakuan terendah sebesar 4.58 P3 berbeda nyata dengan P0 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P2.
Hubungan shoot/root ratio pada tanaman kentang dengan konsentrasi paklobutrazol dapat dilihat pada Gambar 6
= 5.2758 - 0.692P R = 0.51 4.00 5.00 6.00 0 0.25 0.5 0.75 Konsentrasi Paklobutrazol(g)
S
h
o
o
t/
R
o
o
t R
a
ti
o
Gambar 6. Hubungan Shoot/Root Ratio Pada Tanaman Kentang Dengan Konsentrasi Paklobutrazol
Berdasarkan Gambar 6 diperoleh hubungan shoot/root ratiotanaman kentang dengan konsentrasi paklobutrazol bersifat linier negatif artinya semakin tinggi konsentrasi paklobutrazol yang diberikan maka shoot/root ratio tanaman kentang semakin menurun. .
Pembahasan
Respon Pemberian Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang
Berdasarkan data pengamatan tanaman kentang dapat diuraikan bahwa pemberian pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap bobot umbi/sampel, bobot umbi/plotdan shoot/root ratio serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi/ sampel dan persentase kelas umbi.
Salah satu faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman adalah suplai zat hara penting. Suplai zat hara dapat ditingkatkan dengan melakukan tindakan yang optimum akan meningkatkan
potensi produksi tanaman. Sedangkan tingkat pemberian unsur hara yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Setyadi,1992).
Unsur kalium diperlukan tanaman untuk pembentukan karbohidrat didalam umbi, untuk kekuatan daun, ketebalan daun, dan pembesaran daun. Tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman tidak begitu nyata. Disamping itu unsur kalium berpengaruh terhadap penigkatan daya serap air pada tanaman sehingga dapat mencegah tanaman menderita kelayuan, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, memperbesar umbi dan meningkatkan daya simpan umbi (Samadi,1997).
.Pemberian pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap bobot umbi/ sampel pada tanaman kentang. Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk kalium yang cukup akan diserap tanaman yang berperan dalam proses fotosintesis sehongga dapat berjalan dengan lancar dan translokasi karbohidrat kelembagaan umbi dapat berjalan dengan baik sehingga menghasilkan umbi yang besar. Surahadikusumah (1982) menyatakan bahwa kalium berperan dalam proses fotosintesis, respirasi, metabolisme dan translokasi karbohidrat. Kalium juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang setelah umbi terbentuk. Tanaman yang cukup mendapat kalium akan mampu membentuk umbi yang besar juga disebabkan oleh penyerapan air dan hara yang lebih baik dan translokasi yang lebih lancar. Dengan demikian perlakun kalium dapat mempengaruhi ukuran umbi.
Pemberian pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap bobot umbi/plot tanaman kentang. Hal ini diduga karena tanaman yang cukup mendapat kalium akan mampu membentuk umbi besar juga bobot yang tinggi dengan diserapnya kalium dengan baik sehingga translokasi karbohidrat dapat berjalan lancar dalam pembentukan umbi. Hal ini sesuai dengan pendapat Harrisson,et al, (1982), menyatakan bahwa unsur kalium diperlukan tanaman dalam sintesa protein dan karbohidrat serta translokasi karbohidrat lebih lancar.
Pemberian pupuk kalium berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman kentang pada semua pengamatan. Hal ini diduga karena pemberian kalium diperlukan tanaman dalam untuk pembesaran daun, ketebalan daun dan untuk kekuatan daun serta memacu meningkatnya jumlah klorofil daun sehingga tinggi tanaman tidak terlalu tampak. Samadi (1997), menyatakan bahwa unsur kalium diperlukan tanaman untuk pembentukan karbohidarat didalam umbi, untuk kekuatan daun, ketebalan daun dan pembesaran daun; tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetatif tidak terlalu nyata.
Pemberian pupuk kalium berpengaruh tidak nyata terhadap shoot/root ratio tanaman kentang. Hal ini diduga karena pemberian pupuk kalium banyak dipengaruhi faktor seperti lingkungan yang tidak cocok atau serangan hama dan penyakit, mengakibatkan kerusakan pada bagian tanaman sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
Pemberian pupuk kalium berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah umbi/sampel dan persentase kelas umbi. Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk kalium banyak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor lingkungan yang tidak cocok ataupun serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan
terganggunya tanaman sehinggga pertumbuhan tanaman terganggu, sehingga pada waktu pembentukan umbi mengalami hambatan. Begitu juga dengan persentase kelas umbi dimana berasal dari banyaknya jumlah umbi.
Respon pemberian Konsentrasi Paklobutrazol Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang
Berdasarkan data pengamatan dan daftar sidik ragam dapat di lihat bahwa perlakuan paklobutrazol berpengaruh nyata bobot umbi/sampel dan bobot umbi/plot, tetapi tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi/sampel, persentase kelas umbi dan shoot/root ratio tanaman kentang.
Pemberian paklobutrazol berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman kentang. Hal ini disebabkan karena pemberian paklobutrasol yang diaplikasikan pada umur 45 HST, 55, dan 65 HST hanya menghambat pertumbuhan tunas yang muncul sehingga tidak terlalu nampak pengaruhnya terhadap tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wieland dan Wampe (1985), yang menyatakan bahwa pemberian paklobutrazol efektif diberikan melalui tanah. Zat tersebut ditranslokasikan melalui jaringan xilem dan mencapai tunas pucuk. Sistem vasculer disebelah titik tumbuh berfungsi sebagai penyimpan zat pengatur tumbuh dan menghambat biosintesa asam giberelat sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan pemanjangan tunas berhenti.
Pemberian paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap bobot umbi/ sampel dan bobot umbi/plot tanaman kentang. Hal ini disebabkan karena aplikasi paklobutrazol meningkatkan kandungan klorofil daun sehingga aktifitas fotosintesis dapat berjalan dengan baik dan penghambatan terhadap tunas memacu hasil fotosintesis dipergunakan untuk pembentukan karbohidrat pada umbi.
Frederick dan jessica (2003) menyatakan bahwa beberapa laporan pertukaran yang tampak akibat aplikasi paclobutrasol mengurangi pertumbuhan yang terlalu tinggi dan pertumbuhan tanaman yang lebih lengkap, mempergelap hijau daun, tingginya klorofil daun dan kandungan karotin, efesiensi fotosintesis lebih tinggi, penambahan ketahanan terhadap tekanan lingkungan dan mempertinggi kapasitas serapan dan mengontrol produksi yang berlebihan.
Pemberian paklobutrazol berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah umbi/ sampel dan persentase kelas umbi tanaman kentang. Hal ini disebabkan karena aplikasi paklobutrazol dilakukan pada umur 45 HST dimana, pada saat ini umbi telah terbentuk sehingga paclobutrasol hanya berfungsi untuk meningkatkan bobot umbi kentang.
Pemberian paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap perbandingan tajuk dan akar (shoot/root ratio) tanaman kentang. Hal ini diakibatkan dengan aplikasi paklobutrazol dapat meningkatkan perluasan akar pada tanaman kentang dan penghambatan pertumbuhan tunas. Dengan ini maka didapat shoot root ratio yang semakin kecil. Hal imi sesuai dengan pendapat Wattimena (1988), menyatakan bahwa paklobutrazol juga memiliki kiprah mempertebal batang, mencegah kerebahan, menghambat etiolasi, memperluas perakaran, penghambat senensese, meningkatkan pembuahan dan membantu perkecambahan.
Pengaruh Interaksi Antara Pemberian Pupuk Kalium dan Paklobutrazol Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang.
Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa hasil interaksi antara perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol berpengaruh tidak nyata terhadap
tinggi tanaman, bobot tanaman/ sampel, bobot tanaman/plot, jumlah umbi/sampel,persentase kelas umbi dan shoot/root ratio pada tanaman kentang.
Hal ini diduga karena antara perlakuan pupuk kalium dan paklobutrazol belum saling mendukung dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman kentang secara bersamaan . Seperti kita lihat bahwa pemberian pupuk kalium diberikan untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan pertumbuhan sel sedangkan paklobutrazol menghambat pertumbuhan sel tanaman kentang. Begitu juga pada bobot umbi dimana pada pembentukan umbi dipengaruhi oleh kelancaran fotosintesis tanaman. Mungkin aplikasi pemberian paklobutrazol belum dalam kondisi yang tepat dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang lain.
Sutedjo dan Kartosapoetra (1998) menyatakan bahwa bila salah satu faktor berpengaruh lebih kuat daripada faktor lainnya, maka pengaruh faktor tersebut tertutupi dan bila masing – masing faktor mempunyai sifat yang jauh berbeda pengaruh dan sifat kerjanya maka akan menghasilkan hubungan yang berpengaruh tidak nyata dalam mendukung suatu pertumbuhan tanaman.
Selanjutnya Hakim (1986), menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman akan lebih baik bila faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seimbang dan memberi keuntungan. Bila faktor ini tidak dapat dikendalikan maka pertumbuhan yang diharapkan tidak dapat diperoleh.