SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
E Ultrastruktur Kayu Reaks
K. Botani dan Habitus
1. Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen)
Sengon (Paraserianthes falcataria Nielsen) yang dahulu dikenal dengan Albizzia falcata (L.) Backer atau Albizia falcataria (L.) Fosberg, di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama sengon sabrang atau sengon laut, di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama jeungjing, dan di Madura dikenal dengan nama jing-laut (Hildebrand, 1951). Kayu ini di Malaysia Barat, Sabah, Philippina, Inggeris, Amerika Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda dan Jerman dikenal dengan nama batai, dan di Brunai dikenal dengan nama kayu puah, sedangkan di Serawak dikenal dengan kayu machis (Martawijaya 1977).
Di kalangan para rimbawan sebelum tahun 1986 timbul banyak pertanyaan, nama mana yang benar, Albizzia (zz double) atau Albizia (z single), falcataria (+ ria) atau falcata (-ria). Fosberg (1965) mengungkapkan bahwa namanya yang tepat adalah Albizia falcataria, sehingga nama inilah yang harus dipakai dalam komunikasi international. Selanjutnya Fosberg (1965) menyatakan bahwa sebetulnya nama marga Albizia diangkat oleh Durazz dari nama Cavalier Filippo Albizzi sebagai penghormatan atas jasanya, namun ahli botani Durazz telah dengan sengaja memberikan nama marga itu Albizia (z single) dan bukan Albizzia (zz double). Selanjutnya Fosberg (1965) lebih jauh menyatakan bahwa jenis tumbuhan ini sebelumnya telah secara luas dikenal sebagai Albizzia moluccana Miquel, sampai saat Backer dalam tahun 1908 mempopulerkan dengan nama yang tidak tepat yaitu Albizzia falcata Backer.
Griffioen (1954) menyatakan untuk jenis tanaman ini nama resminya adalah Albizzia falcata (L.) Backer, sinonim dari Albizzia moluccana Miquel, yang diberikan oleh Miquel kepada bahan yang ditemukan dari kepulauan Banda. Griffioen (1954) menambahkan bahwa di Jawa pohon ini dinamakan sengon laut, namun lebih banyak dipakai nama daerah Sunda yaitu jeungjing. Heyne (1950) mengatakan bahwa Albizzia falcata (L.) Backer merupakan jenis pohon yang tumbuhnya paling cepat di daerah tropik. Menurut Heyne (1950) tumbuhan ini ditemukan pertama kali oleh Teysmann tahun 1870 di
daerah Banda, kemudian dibawa ke Kebun Raya Bogor, dan dari Kebun Raya Bogor disebar luaskan ke seluruh Nusantara sejak tahun 1871.
Buku Tree Flora of Indonesia, check list for Sumatera (Whitmore, 1986) mengungkapkan bahwa baik Albizzia falcata (L.)Backer, maupun Albizia falcataria (L.) Fosberg, sebenarnya namanya adalah Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen. Nama Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen sebenarnya sudah lebih dahulu diberikan oleh Nielsen, tetapi tidak banyak dikenal orang, sehingga menurut aturan tata nama international nama yang lebih dahulu diberikan itulah yang diakui. Oleh karena itu sejak tahun 1986 mulai diperkenalkan nama kayu sengon sebagai Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen.
Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen termasuk jenis pohon yang cepat tumbuh dan dapat mencapai tinggi sampai 45 m dengan diameter batang mencapai 100cm. Batangnya tidak berbanir, kulit berwarna kelabu muda, licin batang lurus dengan batang bebas cabang dapat mencapai tinggi 20 m, tajuknya berbentuk perisai, agak jarang dan selalu hijau (Griffioen 1954). Sengon termasuk jenis pohon yang pertumbahannya sangat cepat sehingga disebut “miracle tree” (Prosea 1994). Perakarannya terbentang melebar dan di samping susunan akar yang agak dangkal, terdapat pula susunan akar yang berkembang masuk agak dalam. Pohon kayu sengon umumnya berbunga dalam bulan Juni-Nopember dan umumnya berbuah terutama pada akhir musim kemarau (Griffioen 1954). Jumlah biji kering ada sekitar 40.000- 55.000 per kg atau sekitar 36.000 per liter, dan daya kecambah rata-rata sekitar 80%. Bijinya berkulit keras dan dapat mempertahankan daya kecambahnya selama beberapa tahun (Griffioen 1954).
Ciri-ciri botani sengon menurut Tantra (1981) adalah sebagai berikut: Pohonnya dapat mencapai tinggi 30-45 m, ranting muda berbentuk persegi dan berambut. Daun sempurna menyirip rangkap dengan satu kelenjar atau lebih pada tangkainya. Sirip 6-20 pasang, anak daun 6-26 pasang setiap sirip, bentuk ellip sampai memanjang dengan ujung yang sangat miring atau runcing. Bunga berbilangan lima, kelopak bergigi, tingginya lebih kurang 2 mm. Tabung mahkota bentuk corong, putih sampai kuning pucat, berambut tingginya lebih kurang 6 mm. Benang sari banyak, muncul ke luar mahkota,
sekitar 1,5 cm. Polongan bentuk pita, lurus di atas tenda bekas mahkota dengan tangkai yang panjangnya 0,5-1 cm. Di atas biji terdapat sedikit melembung lebar lebih-kurang 2 cm, membuka dengan dua katup, dan jumlah biji sekitar 16 buah atau kurang.
2. Damar (Agathis loranthifolia Salisb.)
Agathis loranthifolia Salisb. termasuk famili Araucariaceae, seksi Microbracteatae (Team Reboisasi LPH Bogor 1971). Buah berbentuk conus yang khas, sisik berlapis seperti atap genteng (imbricatus) dan membentuk suatu spiral mengelilingi suatu poros berbentuk ganda yang berdaging tebal. Biji berbentuk telur terbalik, panjang 10-11 mm, lebar 8 mm, bersayap. Daun dewasa berhadap-hadapan, pada dahan muda daun berbentuk bulat panjang hingga berbentuk telur; panjang 7,5 -12 cm, lebar 2-3,5 cm, pada dasarnya sedikit membulat; tangkai daun jelas kelihatan.
Agathis loranthifolia termasuk pohon besar, tingginya dapat mencapai 60 m, dan diameter setinggi dada dapat mencapai 200 cm. Batang monopodial, lurus, tidak berbanir, kulit kayu tebalnya 1-2 cm berwarna coklat kelabu (Prosea 1995). Tajuk tidak lebar, berbentuk kerucut dan agak rapat terutama pada pohon yang masih muda, menjadi agak jarang dan sedikit mendatar bila sudah tua. Sistem perakaran pada pohon yang masih muda selalu terdapat akar tunggang dengan akar mendatar yang kecil, dan baru setelah pohon mulai dewasa dikembangkan akar-akar tenggelam (zinkers) dan akar-akar mendatar yang kuat.
Pohon damar umumnya mempunyai dua sistem perakaran yaitu system perakar mendatar yang dalamnya hanya beberapa desimeter, tapi menjalar sampai jauh ke semua jurusan. Sedangkan sistem perakaran vertikal (akar tunggang) berbentuk kerucut di kelilingi akar-akar tenggelam besar yang tumbuh lurus ke bawah. Pohon damar dikenal mempunyai sistem perakaran yang kuat, sehingga jarang ditemukan ada pohon damar yang tumbang, kecuali disebabkan keadaan tanah tertentu, sebaliknya banyak pohon roboh karena pangkal batang busuk (Team Reboisasi LPH Bogor 1971).
L. Penyebaran dan Tempat Tumbuh
1. Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen)
Pohon ini secara alami ditemukan di Maluku (Griffioen 1954) dan pada tahun 1871 mulai di masukkan ke Jawa. Lain daripada itu pohon ini juga terdapat di Toampala, Sulawesi Selatan dan di daerah Irianpun terdapat jenis ohon ini (Hildebrand 1951). Selain di Indonesia pohon ini juga ditanam di Serawak, Brunai dan Kepong (Anonymous 1953). Troup (1921) seperti dikutip Alrasjid (1973) di Sri Langka maupun di India (Assam) jenis pohon ini sering dipakai peneduh di perkebunan-perkebunan teh. Di Jawa pohon ini dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m. di atas pemukaan laut (Griffioen 1954), dan bahkan pada 1600 m di atas permukaan laut pohon ini masih dapat tumbuh (Hildebrand 1951).
Batas terendah pohon ini masih dapat tumbuh adalah 10 m dpl. Di Serawak dan Brunai pohon ini tumbuh pada berbagai jenis tanah, bahkan pada tanah yang berdrainase jelek (Anonymous 1953). Di Jawa Barat jenis pohon ini sudah menjadi tanaman rakyat, dan biasa di tanam di pekarangan rumah, tegalan dan di pematang sawah. Di daerah Cibinong Bogor telah dilaporkan bahwa kayu sengon dapat tumbuh dengan baik pada tanah berkapur (Pandit 1988).
2. Damar (Agathis loranthifolia Salisb)
Nama Agathis loranthifolia Salisb. diberikan oleh Salisbury berdasarkan material yang dkumpulkan di Pulau Jawa yang dulu bibitnya berasal dari Ambon (Team Reboisasi LPH Bogor 1971). Material yang dikumpulkan dari Ambon (Maluku) kebanyakan nama daerahnya damar putih (damar) dan hanya satu nomor herbarium yang dikumpulkan dengan nama damar merah. Pada permulaan nomor-nomor herbarium dari Ambon dideterminasi sebagai Agathis alba Foxw., dan Agathis damara Rich., kemudian semua diganti menjadi Agathis alba Foxw., dan satu nomor herbarium yang mempunyai nama daerah damar merah dideterminasi namanya menjadi Agathis loranthifolia.
Damar merah yang dideterminasi sebagai Agathis loranthifolia Salisb., dikumpulkan oleh Dr. F. Buwalda dari tempat yang tingginya lebih-kurang 300 m dpl. dan tidak pernah ditemukan dekat pantai, tepi sungai, tanah-tanah becek atau di rawa-rawa. Pada tempat-tempat yang miring dalam hutan alam banyak ditemukan. Tanaman damar memerlukan iklim basah sepanjang tahun, dengan curah hujan 3000-4000 mm, mengendaki tanah yang sarang, agak dalam dan subur. Pertumbuhan yang paling baik di temukan pada lereng- lereng yang drainasenya baik pada ketinggian 300m-1200m dpl. Menurut penyelidikan Coster dan Verhoef dalam Team Reboisasi LPH Bogor (1971), dinyatakan bahwa tanaman damar memerlukan oksigen agak tinggi, dalam suatu percobaan tanaman muda yang perakarannya dimasukkan ke dalam air menggenang, tanaman akan mati dalam waktu sekitar16 hari.
Damar merupakan salah satu genus Coniferales yang menghuni hutan dataran rendah hutan hujan tropika (Prosea 1994). Damar dapat ditemukan mulai dari dataran rendah sampai ketinggian lebih dari 2000m dpl. Kayu damar juga dikenal dengan nama perdagangan kauri pine mempunyai daerah penyebaran alami mulai dari Semenanjung Malaysia, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Philippina, Moluccas, New Guinea, Australia, Kepulauan Salamon, New Caledonia, Vanuatu, Fiji dan New Zealand.
Pohon damar banyak ditanam untuk program pengkayaan hutan khususnya di Irian Jaya (Prosea 1994). Pohon damar mempunyai sistem perakaran yang kuat dan mempunyai bentuk tajuk yang indah dan selalu hijau sehingga baik dipakai untuk jenis tanaman hutan kota, terutama untuk ditanam disisi kiri-kanan jalan. Pohon damar juga dikenal sebagai pengahasil getah damar atau kopal yang secara ekonomis dapat membantu untuk kehidupan masyarakat di sekitar hutan. Kopal merupakan bahan excudate yang keluar melalui saluran damar yang tersebar pada kulit bagian dalam (innerbark) (Hillis 1987).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Kerangka Pendekatan Penelitian
Kerangka pendekatam penelitian ultrastruktur kayu reaksi ini pertama dimulai dari adanya keinginan dalam rangka untuk mengatasi kekurangan kayu untuk bahan baku industri di dalam negeri. Salah satu usaha yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan pembangunan dan pengembangan hutan tanaman. Akan tetapi hutan tanaman umumnya menghasilkan batang yang mengandung kayu normal dan kayu abnormal. Salah satu bentuk abnormalitas pada batang pohon yang sering menimbulkan cacat serius adalah adanya kayu reaksi sehingga perlu dilakukan penelitian mendalam terhadap masalah ini. Untuk lebih jelasnya kerangka pendekatan penelitian dijelaskan dalam bentuk diagram alir seperti pada Gambar 1. di bawah ini.
Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Pendekatan Masalah Penelitian Ultrastuktur HUTAN TANAMAN
BATANG POHON TUMBUH NORMAL DAN ABNORMAL
KAYU REAKSI
MAKROSKOPI S MI KROSKOPI S ULTRA STRUKTUR
KARAKTERI STI K ULTRA STRUKTUR KAYU REAKSI
SOLUSI PEMECAHAN MASALAH
Dipilihnya kedua jenis kayu ini sebagai objek dalam penelitian ini karena berbagai pertimbangan antara lain :
1. Kayu sengon merupakan salah satu jenis KDL, dimana evolusinya dianggap lebih modern karena baru muncul di muka bumi pada zaman Tertier (Farb 1978). Sedangkan kayu damar tergolong KDJ yang lebih primitif, karena muncul di muka bumi sejak jaman Triasik (Farb 1978). Kayu damar pertama kali herbariumnya dikumpulkan oleh Dr. Buwalda dan nama Agathis loranthifolia Salisb. diberikan oleh Salisbury (Team Reboisasi LPH Bogor 1971). Penelitian jenis-jenis ini diharapkan dapat mewakili kedua kelompok kayu tropik yang struktur anatominya sangat berbeda (Brown 1949; Panshin 1980; Haygreen 1982; Tsoumis 1991; Hoadley 2000).
2. Kayu sengon merupakan jenis asli yang tumbuh di bumi Indonesia, pertama kali ditemukan oleh Teysmann tahun 1870 di Kepulauan Banda, Maluku dan tahun 1871 untuk pertama kali ditanam di Kebun Raya Bogor (Heyne 1950). 3. Sengon merupakan jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat,
bahkan dikatakan merupakan jenis kayu yang tumbuhnya paling cepat untuk daerah tropik sehingga disebut “miracle tree” (Prosea 1994).
4. Sengon mempunyai bentuk tajuk seperti perisai yang tipis ( Prosea 1994) sehingga sebagian sinar matahari yang melalui tajuk dapat menembus tajuk sampai ke permukaan tanah, memberi kesempatan tanaman bawah tumbuh, sehingga sangat baik untuk dikembangkan dalam agroforestry.
5. Sengon merupakan salah satu jenis famili Leguminosae umumnya kaya akan unsur nitrogen sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah yang kurang subur (Alrasjid 1973).
6. Kayu sengon juga dikenal sifat dasar kayunya sangat moderat, sehingga mempunyai prospek yang baik untuk terus dikembangkan sebagai bahan baku industri kayu di masa depan. Di samping itu penelitian ultrastruktur kayu sengon juga belum pernah dilakukan.
Kayu damar dipilih sebagai objek dalam penelitian ini antara lain karena : 1. Kayu damar merupakan salah satu jenis kayu daun jarum (KDJ) asli daerah
2. Kayu damar mempunyai sifat yang sangat baik untuk bahan baku industri pulp dan kertas, di samping karena kayunya berwarna putih, juga mempunyai serat (tracheids) yang panjang dan persentase seratnya juga sangat tinggi.
3. Kayu damar juga baik dipakai untuk bahan baku industri mebel dan alat musik karena struktur anatominya homogen, tidak terlampau keras tetapi mempunyai kekuatan cukup dan teksturnya cukup halus.
4. Pohon damar juga diketahui mempunyai sistem perakaran yang kuat karena mempunyai akar jangkar yang dalam sehingga pohonnya tidak mudah roboh (Team Reboisasi LPH Bogor 1971), bentuk tajuknya simetris, evergreen dan indah, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan kota terutama untuk ditanam di sisi jalan.
5. Surjokusumo (1995) menyatakan bahwa kayu damar merupakan jenis kayu yang sangat baik untuk bahan baku industri pesawat terbang ringan, sehingga mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu penelitian ultrastruktur kayu damar sebagian dilaksanakan pada bulan September 2000 di Laboratorium For Structure of Plant Cells Faculty of Agricultural, Kyoto University di bawah bimbingan Prof. Fujita Minoru, D. Agr. Penelitian tahap kedua mulai dilakukan bulan Mei 2005 sampai dengan Agustus 2006, dan dilaksanakan di empat laboratorium yaitu :
1. Laboratorium Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BP2TP) di Cimanggu, Bogor.
2. Laboratorium Kayu Solid Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian (IPB), Bogor.
3. Laboratorium Struktur dan Sifat Kayu, Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
4. Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak Fakultas Peternakan IPB. Bogor.
C. Variabel yang Diamati
Variabel yang dimati dalam penelitian ini meliputi elemen-elemen atau sel-sel penyusun kayu mulai dari macam elemen, bentuk, ukuran dan modifikasi yang terjadi baik bersifat makroskopik, mikroskopik maupun ultramikroskopik yang terjaddi pada kayu normal dan kayu reaksi pada damar dan sengon.
D. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan penelitian
Pembangunan hutan tanaman yang dilakukan oleh Perum Perhutani beberapa tahun terakhir lebih banyak dilakukan dengan pola Pembangunan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), sehingga penanamannya kebanyakan dilakukan dengan pola agroforestry. Keadaan ini menyebabkan agak sulit untuk mendapatkan tegakan sengon monokultur yang betul-betul murni dan di samping itu umur tegakan juga jarang mencapai umur cukup dewasa.
Pohon contoh tegakan hutan tanaman damar untuk bahan penelitian diambil dari hutan pendidikan Fakultas Kehutanan IPB di Gunung Walat Sukabumi. Sedangkan tegakan sengon diambil dari dua tempat yang berbeda yaitu: tegakan berumur 6 tahun diambil dari BKPH Banjarsari, KPH Ciamis Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, dan tegakan berumur 10 tahun dari tegakan hutan tanaman di Kampus IPB Darmaga Bogor.
Di samping bahan berupa kayu, dalam penelitian ini juga dibutuhkan beberapa macam bahan kimia untuk membantu dalam proses penyiapan sediaan atau preparat untuk bahan observasi. Bahan-bahan kimia yang dibutuhkan meliputi: gliserin untuk membantu dalam proses pelunakan kayu, alkohol dalam berbagai konsentrasi dan xylene untuk bahan dehidrasi sediaan, safranin 2% untuk bahan pewarna, canada balsem untuk bahan mounting , dan emas 18 K untuk coater. 2. Alat Penelitian
Dalam penelitian ini di samping alat yang diperlukan untuk pengambilan bahan penelitian di lapangan seperti: gergaji, pita ukur, busur derajat dan alat lain, juga dibutuhkan beberapa alat penting untuk penelitian di laboratorium antara lain:
1. Silding microtome American Opt. untuk membantu dalam pembuatan sayatan tipis untuk bahan preparat mikroskopik dan ultramikroskopik untuk bahan observasi.
2. Fluoresence Microscope type Olympus Bx 51 dari Laboratorium Struktur dan sifat Kayu Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
3. Scanning Electron Microscope type JEOL 5200 dari Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan IPB. Bogor.
E. Teknik Pengambilan Contoh
1. Pengambilan contoh bahan penelitian
Dari tegakan hutan tanaman damar maupun sengon monokultur dan seumur yang telah ditentukan lokasinya, dibuat petak-petak contoh sebanyak empat buah masing-masing berukuran 40x25 m dan 20x25 m. Semua batang pohon dalam petak contoh dihitung jumlahnya, diukur kelilingnya untuk mendapatkan diameter batangnya (dbh), dan sudut kemiringannya. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran disusun dalam bentuk tabulasi. Masing-masing dua batang pohon yang mengalami cacat kayu reaksi dan satu batang pohon yang tumbuhnya normal dipilih secara acak, untuk kemudian ditebang. Pada bagian batang yang mengalami cacat kayu reaksi, batangnya dipotong berupa lempengan tipis (disk) setebal sekitar 10 cm, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk bahan penelitian selanjutnya.
Penelitian di laboratorium dilakukan pertama dengan membuat contoh kayu berbentuk lempengan yang permukaan melintangnya (cross section) dibuat halus untuk memudahkan identifikasi cacat kayu reaksi yang terjadi. Identifikasi kayu reaksi baik untuk kayu tekan maupun kayu tarik didasarkan atas metode yang telah dipakai olehbeberapa peneliti (Panshin 1980; Haygreen 1982; Tsoumis 1991). Contoh kayu reaksi yang sudah diidentifikasi dan telah dihitung persentasenya, selanjutnya dipakai untuk bahan penelitian sifat mikroskopik, ultrastruktur dan penelitian sifat fisiknya.
Contoh kayu untuk pembuatan preparat untuk penelitian sifat mikroskopik dibuat dengan ukuran 1.5x1.5x5cm dan untuk contoh penelitian ultrastruktur dibuat berukuran 0.5x0.5x3cm, di mana masing-masing contoh dibuat dalam tiga bidang orientasi (cross section, radial dan tangensial sections). Prosedur untuk pembuatan preparat mikroskopik baik, untuk pembuatan slide mikrotom maupun slide maserasi
mengikuti metoda yang sudah umum dipakai di Laboratorium Peningkatan Mutu Kayu Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB (Sarajar 1975). Bahan untuk penelitian sifat fisik, contoh kayunya juga diambil dari bahan yang sama, dan dibuat dalam tiga bidang orientasi masing-masing berukuran 5x5x5 cm. Banyaknya batang pohon yang ditebang untuk bahan dalam penelitian ini adalah sebanyak 12 pohon, dan rinciannya disajikan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Batang Pohon yang Ditebang untuk Bahan Penelitian Jenis Kayu No.
Pohon Diameter Batang (Cm) Kemiringan batang (o) Keterangan 4 42.2 0 Normal 15 46.1 5 Tekan Ringan Kayu Damar Gunung Walat 24 35.3 4 Tekan Ringan 8 28.3 8 Tarik Ringan 12 17.2 8 Tarik Ringan 19 30.9 12 Tarik Berat 33 34.7 21 Tarik Berat Kayu Sengon Kampus IPB 4 13.4 2 Normal 15 13.4 5 Tarik Ringan 2 12.7 11 Tarik Berat 10 15.3 11 Tarik Berat Kayu Sengon KPH Ciamis 17 13.7 9 Tarik Ringan Keterangan: (Kartal, 2000)
• Kayu normal adalah batang pohon yang mempunyai kemiringan < 2o
• Kayu Tekan /Tarik Ringan adalah batang pohon mempunyai kemiringan 3-10o
• Kayu Tekan /Tarik Berat adalah batang pohon yang mempunyai kemiringan>10o
2. Pembuatan bahan penelitian
Bahan penelitian ultra-stuktur kayu reaksi dalam penelitian ini disiapkan berupa tiga macam preparat yaitu :
1. Bahan untuk observasi karakteristik kayu reaksi berupa lempengan kayu (disk) dan potongan melintangnya dibuat halus untuk memudahkan observasi. Pengamatan sifat makroskopik dibantu dengan lensa tangan atau loupe pembesaran 10 x. Sifat-sifat yang diamati meliputi karakteristik kayu reaksi, terutama melihat adanya bentuk eksentrisitas penampang melintang batang, mengamati posisi empulur (pith) dalam batang, dan menghitung persentase kayu reaksi yang terjadi.
2. Bahan untuk observasi sifat mikroskopik dibuat dari bahan yang sama untuk pengamatan sifat makroskopik yang telah dilakukan. Bahan penelitian sifat mikroskopik dibuat berukuran 1.5x1.5x5cm dalam tiga bidang orientasi. Dari contoh kayu berukuran kecil tersebut, kemudian dibuat dua macam preparat atau slide mikrotom dan slide maserasi. Pelunakan contoh kecil kayu dilakukan dengan gliserin, pembuatan sayatan tipis dilakukan setebal 15-20 mikron dengan bantuan alat sliding microtome, dehidrasi sayatan dilakukan dengan alkohol bertingkat terakhir dengan xylene, pewarnaan dilakukan dengan safranin 2%. Mounting dilakukan dengan canada balsam dan pengeringan sediaan dilakukan di atas alat pengeringan slide Fisher pada temperature 45-50o C. Di samping preparat mikrotom, juga dibuat preparat maserasi berdasarkan metode Schultze (Sarajar 1975). Observasi sifat mikroskopik dilakukan dengan bantuan Flourescens Microscope Olympus type Bx 51. Prosedur pembuatan slide mikrotom dan slide maserasi secara rinci disajikan dalam Lampiran.
3. Untuk penelitian ultra-struktur kayu reaksi, bahan observasi dibuat berupa preparat SEM dengan metode sebagai berikut: contoh kayu normal dan kayu yang mengalami cacat kayu reaksi masing-masing berukuran 0.5x0.5x3.0 cm dibuat dalam tiga bidang observasi, dilunakkan dengan gliserin:alkohol (1:1). Kemudian disayat dengan Sliding Microtome American Opt. dengan ketebalan sekitar 40-50 mikron. Dehidrasi dilakukan dengan alkohol bertingkat dan terakhir dengan xyline (xylol) untuk memperoleh bahan yang betul-betul bebas air. Kemudian hasil sayatan disimpan dalam tempat yang sudah diberi celica gel untuk mempertahankan agar kondisi sayatan betul-betul bebas dari uap air. Kemudian sayatan dibuat berukuran sekitar 2,5x2,5 mm dan diletakkan di atas
specimen holder untuk dilapisi (coating) dengan emas 18 karrat. Lamanya coating memerlukan waktu sekitar 4 menit untuk mencapai ketebalan sepuhan sekitar 300Ao (Rachman 2001).
4. Bahan untuk penelitian sifat fisik untuk menentukan kadar air, berat jenis dan
persentase penyusutan, contoh kayunya dibuat masing berukuran 5x5x5 cm.
E. Tahapan Kegiatan Penelitian
Dalam rangka membangun dan mengembangkan hutan tanaman industri, banyaknya cacat kayu reaksi terutama pada jenis-jenis pohon yang tumbuhnya cepat akan menimbulkan banyak masalah. Masalah itu terutama disebabkan karena sifat-sifat kayu reaksi mempunyai banyak kelemahan, sehingga nilai ekonominya menjadi lebih rendah. Untuk menjelaskan tahapan kegiatan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat dalam diagram alir yang disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram Alir Tahapan Kegiatan Penelitian Ultrastruktur Kayu Reaksi pada Damar (Agathis loranthifolia) dan Sengon (Paraserianthes falcataria).
HUTAN TANAMAN DAMAR DAN SENGON
ASPEK 1. KEMI RI NGAN POHON % KAYU REAKSI PENELI TI AN
LAPANGAN
SAMPEL PENELI TI AN MAKROSKOPI K
PEN. MI KROSKOPI K PEN. ULTRA MI KROSKOPI K