PENELAAHAN PUSTAKA
A. Gangguan Sistem Saluran Nafas
3. Bronkitis akut
Bronkitis merupakan kondisi inflamasi pada bagian dari trakeobronkial.
Proses inflamasi ini tidak meluas hingga alveoli. Bronkitis diklasifikasikan menjadi
akut dan kronik. Bronkitis akut terjadi pada semua usia dan ditandai dengan batuk,
demam, dan seringkali mengi. Keadaan ini merupakan tampilan umum dari influenza
dan batuk rejan. Bronkitis kronik tidak terjadi pada anak-anak (Meadow, 2005).
a. Patogenesis
Bronkitis akut terutama merupakan penyakit self-limiting dan jarang
menyebabkan kematian. Infeksi trakea dan bronki menyebabkan hiperemi dan edema
membran mukosa dengan peningkatan sekresi bronkial. Perusakan epitel respiratori
dapat terjadi dari ringan sampai berat dan mempengaruhi fungsi mukosiliar bronkial.
merusak aktivitas mukosiliar. Bronkitis akut kemungkinan dapat meyebabkan
kerusakan permanen pada saluran nafas (Glover, 2005).
b. Terapi
1) Tujuan terapi
a) Mencegah dan mengurangi gejala-gejala yang muncul
b) Mengurangi dehidrasi dan gangguan saluran pernafasan
2) Sasaran terapi
a) Gejala-gejala bronkitis
b) Dehidrasi dan gangguan saluran pernafasan
3) Strategi terapi
a) Non-farmakologis
(1) Istirahat yang cukup.
(2) Pasien sebaiknya banyak minum untuk mencegah dehidrasi dan untuk
menurunkan viskositas sekret pada saluran pernafasan (Glover, 2005).
(3) Pemberian uap atau meningkatkan kelembaban udara dalam kamar anak
(Griffith, 1989).
b) Farmakologis
Tidak ada terapi spesifik, sebagian besar penderita sembuh tanpa
banyak masalah, tanpa pengobatan apapun. Pada bayi-bayi yang kecil, drainase
paru dipermudah dengan cara sering melakukan pergeseran posisi. Batuk iritatif
dan paroksismal dapat menyebabkan distres berat dan mengganggu tidur.
Walaupun penekanan batuk dapat menambah kemungkinan supurasi,
untuk pengurangan gejala. Antihistamin, yang mengeringkan sekresi tidak boleh
digunakan, dan ekspektoran tidak menolong. Antibiotik tidak memperpendek
lamanya penyakit virus atau menurunkan insidens komplikasi bakteri; walaupun
pada kenyataannya penderita dengan episode berulang kadang-kadang dapat
membaik dengan pengobatan demikian, hal ini memberi kesan bahwa ada
beberapa infeksi bakteri sekunder (Stern, 1996).
4. Bronkiolitis
Bronkiolitis adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran
nafas kecil (bronkiolus) yang terjadi pada anak kurang dari 2 tahun dengan insidensi
tertinggi pada usia sekitar 2-6 bulan dengan penyebab tersering Respiratory Sincytial
Virus (RSV), diikuti dengan parainfluenza dan adenovirus. Penyakit ditandai oleh
sindrom klinik yaitu, napas cepat, retraksi dada dan wheezing (Setiawati, 2006).
a. Patofisiologi
Mikroorganisme masuk melalui droplet akan mengadakan kolonisasi dan
replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga akan
terjadi nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. Respon imun tubuh yang terjadi
ditandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan makrofag. Akibat dari proses
tersebut akan terjadi edema sub mukosa, kongesti serta penumpukan debris dan
mukus sehingga terjadi penyempitan lumen bronkioli. Penyempitan ini mempunyai
distribusi tersebar dengan derajat yang bervariasi (total/sebagian). Gambaran yang
terjadi adalah atelektasis yang tersebar dan distensi yang berlebihan (hyperaerated)
dengan akibat akan terjadi hipoksemia (Pa O2 turun) dan hiperkapnea (Pa CO2
meningkat). Kondisi yang berat dapat terjadi gagal nafas (Setiawati, 2006).
b. Terapi
1) Tujuan terapi
a) Membunuh mikroorganisme penyebab bronkiolitis
b) Mengurangi gejala bronkiolitis yang muncul
c) Meningkatkan sistem imun tubuh
2) Sasaran terapi
a) Mikroorganisme penyebab bronkiolitis
b) Gejala bronkiolitis
c) Sistem imun tubuh
3) Strategi terapi
a) Non-farmakologis
(1) Istirahat yang cukup.
(2) Menjaga ketahanan tubuh terutama pada musim dingin.
(3) Menghindari sumber iritasi seperti debu, polusi udara, dan asap rokok.
(4) Menjaga kelembaban udara pada kamar anak.
(5) Banyak minum air putih. Hindari minum susu karena dapat
meningkatkan kekentalan sekresi mukus (Griffith, 1989).
b) Farmakologis
Anak dengan bronkiolitis ringan bisa dirawat di rumah, untuk bayi
Pengobatan terdiri:
(1) Antibiotik tidak perlu diberikan. Namun bila diperkirakan perlu misalnya
pada keadaan berat dan ada kemungkinan infeksi sekunder bakteri,
antibiotik yang sesuai dapat diberikan.
(2) Peran bronkodilator masih kontroversial, maksud pemberian untuk
memperbaiki pertukaran gas. Bila perlu ipratropium bromida, obat
simpatomimetik, atau teofilin; yang terbukti memberikan manfaat pada
beberapa penderita dapat dicoba untuk diberikan.
(3) Pemberian kortikosteroid juga belum dapat dibuktikan bermanfaat.
(4) Pemberian antivirus seperti ribavirin dapat dipertanggungjawabkan,
terutama untuk bayi risiko tinggi yaitu dengan sistik fibrosis,
bronchopulmonari diplasia, imunodefisiensi, dan penyakit jantung bawaan.
Obat ini terbukti efektif untuk pasien dengan ventilator.
(5) Imunoterapi masih dalam penelitian, terutama immunoglobulin untuk
infeksi SRV (Supriyatno dkk, 2004).
5. Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit peradangan parenkim paru yang disebabkan
oleh bermacam etiologi seperti bakteri, virus, mikoplasma, jamur atau bahan
kimia/benda asing yang teraspirasi dengan akibat timbulnya ketidakseimbangan
ventilasi dengan perfusi (ventilation perfusion mismatch).
a. Patofisiologi
Paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme: filtrasi partikel di
refleks batuk, pembersihan ke arah kranial oleh mukosilier, fagositosis kuman oleh
makrofag alveolar, netralisasi kuman oleh substansi imun lokal dan drainase melalui
sistem limfatik. Faktor predisposisi pneumonia: aspirasi, gangguan imun, septisemia,
malnutrisi, campak, pertusis, penyakit jantung bawaan, gangguan neuromuskular,
kontaminasi perinatal dan gangguan klirens mukus/sekresi seperti pada fibrosis
kistik, benda asing atau disfungsi silier.
Mikroorganisme mencapai paru melalui jalan nafas, aliran darah, aspirasi
benda asing, transplasental atau selama persalinan pada neonatus. Umumnya
pneumonia terjadi akibat inhalasi atau aspirasi mikroorganisme, sebagian kecil
terjadi melalui aliran darah (hematogen). Secara klinis sulit membedakan pneumonia
bakteri dan virus. Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia tersering pada bayi
dan anak kecil. Pneumonia lobaris lebih sering ditemukan dengan meningkatnya
umur. Pada pneumonia yang berat bisa terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis
respiratorik, asidosis metabolik dan gagal nafas (Setiawati, 2006).
b. Terapi
1) Tujuan terapi
a) Membunuh mikroorganisme penyebab pneumonia
b) Mengurangi gejala pneumonia yang muncul
c) Meningkatkan sistem imun tubuh
2) Sasaran terapi
a) Mikroorganisme penyebab pneumonia
b) Gejala pneumonia
3) Strategi terapi
a) Non-farmakologis
(1) Istirahat yang cukup.
(2) Banyak minum air putih, minimal 1 gelas air setiap jam. Cairan yang
cukup akan membantu mengencerkan sekret sehingga lebih mudah
untuk dikeluarkan.
(3) Meningkatkan kelembaban udara di sekitar anak.
(Griffith, 1989)
b) Farmakologis
Diagnosis etiologik pneumonia sangat sulit untuk dilakukan, sehingga
pemberian antibiotik dilakukan secara empirik sesuai dengan pola kuman
tersering, yaitu Streptococcus pneumonia dan Haemophilus influenza.
Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok umur. Bayi di bawah 3
bulan diberikan golongan penisilin dan aminoglikosida. Usia lebih dari 3 bulan,
ampisilin dipadu dengan kloramfenikol merupakan obat pilihan pertama. Bila
keadaan pasien berat atau terdapat empiema, antibiotik pilihan adalah golongan
sefalosporin (Supriyatno dkk, 2004).
Antibiotik parenteral diberikan sampai 48-72 jam setelah panas turun,
dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 7-10 hari. Bila diduga penyebab
pneumonia adalah Staphylococcus aureus, kloksasilin dapat diberikan. Bila
alergi terhadap penisilin, diberikan sefazolin, klindamisin, atau vankomisin.