• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL TANGKAPANJu

5.3 Bubu Lipat Modifikasi dan Umpan Cacing Tanah

Hasil tangkapan bubu lipat penelitian pada pengujian efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar dengan menggunakan umpan cacing tanah dan umpan tembang selama 20 trip, relatif homogin dengan hasil tangkapan pada pengujian efektivitas bubu lipat dengan umpan tembang (standar) yang telah dilakukan sebelumnya (31 trip). Hasil tangkapan terdiri dari lobster (lobster hijau pasir - Panulirus homarus, lobster hijau - Panulirus versicolor, dan lobster mutiara - Panulirus ornatus), rajungan - swimming crab, sotong-Sepia sp., kerapu tutul- Epinephelus maculatus, dan udang ronggeng-

Squilla mantis.

Lobster yang dominan tertangkap adalah jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus). Lobster yang tertangkap berada pada selang kelas panjang karapas < 77 mm yang merupakan ukuran lobster yang masih kecil (baby lobster). Berdasarkan selang kelas berat (gram) lobster yang tertangkap sebanyak 30 ekor merupakan di bawah ukuran ekonomis, karena di bawah 100 gram harga lobster sangat rendah, selain juga karena memang ukuran yang masih kecil untuk dimanfaatkan. Namun demikian salah satu jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus) yang tertangkap pada trip ke-8 dengan ukuran panjang karapas (CL) 72 mm dan berat 120 gram sudah memiliki telur.

Kondisi matang dewasa pertama lobster memiliki ukuran panjang karapas yang berbeda-beda. Seperti yang diungkapkan oleh Montgomery (1992) bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan dalam panjang karapas (CL) antara ukuran lobster pada saat matang dewasa pertama dan ukuran lobster saat pemuliaan. Kriteria Pencapaian matang dewasa ini adalah kehadiran setae yang berkembang dengan baik, atau adanya telur melekat pada pleopods (kaki renang). Tidak ada

perbedaan signifikan dalam panjang karapas (CL) antara ukuran lobster pada saat matang dewasa pertama dan ukuran lobster saat pemuliaan (Montgomery 1992).

Umumnya kondisi matang dewasa didefinisikan sebagai ukuran pertama atau usia di mana 50% dari hewan mencapai kematangan seksual (Somerton 1980

diacu dalam Montgomery 1992). Aiken dan Waddy (1980) diacu dalam

Montgomery (1992) menjelaskan berbagai karakteristik lobster yang telah digunakan untuk menentukan matang dewasa, yaitu termasuk perubahan dalam hubungannya dengan morfometrik, dimorfisme dari pleopods, kondisi ovarium, kehadiran telur, kehadiran kelimpahan spermatophoric, dan perubahan dalam sternalis.

Sebuah pengetahuan tentang ukuran di mana hewan mencapai kondisi matang dewasa dapat menjadi penting dalam pengelolaan stok. Hal ini memungkinkan, yaitu kombinasi informasi tentang distribusi panjang individu dan perkiraan proporsi hewan yang mampu berkembang biak dalam populasi. Hal ini dapat digunakan juga sebagai ukuran yang mendasari ukuran minimum yang legal dan /atau usia untuk hewan yang diperbolehkan untuk ditangkap. Tujuan dalam pengelolaan adalah untuk melindungi hewan yang cukup matang dewasa dari kegiatan penangkapan sehingga stok yang ada cukup untuk mempertahankan populasi, atau untuk mempromosikan ukuran maksimum yang tertangkap dari jenis yang diinginkan dari individu dengan ukuran tertentu dalam populasi (Alen 1954 diacu dalam Montgomery 1992).

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar) dan perlakuan umpan (cacing tanah dan tembang) yang dilakukan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (Fvalue α=5% = 3,45 > Ftabel = 2.72 atau p- value = 0.0206 < 0.05). Selanjutnya, hasil analisis sidik ragam untuk masing- masing faktor, yaitu untuk penggunaan jenis bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (p–value α=5% = 0.0396 < 0.05). demikian juga dengan penggunaan jenis umpan (cacing tanah dan tembang) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (p–value α=5% = 0,0296 < 0.05). Sedangkan di antara bubu dan umpan tidak ada interaksi terhadap perolehan hasil tangkapan lobster (p–value α=5% = 0.3073 >

0.05). Pada kondisi tersebut diperlukan analisis lanjutan untuk melihat perbedaan efektivitas masing-masing diantara faktor bubu lipat dan perlakuan umpan dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. Atau dengan kata lain bahwa faktor bubu lipat dan perlakuan umpan masing-masing berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster.

Gunarso (1985) menyatakan bahwa untuk memudahkan dalam menangkap ikan selain menggunakan alat tangkap, dibutuhkan juga taktik dan metode yang tepat. Selain adanya interaksi yang saling ketergantungan, antara lain seperti kepada jenis ikan, kondisi fisiologis ikan, musim atau bahkan perubahan waktu dalam sehari. Taktik dalam penangkapan dengan bubu diperlukan bagaimana bubu dapat menarik perhatian lobster (lobster attraction) bahwa bubu dapat berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) atau tempat bersembunyi (hiding place) dan taktik penggunaan umpan untuk tujuan menimbulkan rangsangan umpan bersifat kimiawi (chemical bait). Faktor bubu lipat saat di dasar dapat berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) atau tempat bersembunyi (hiding place), sedangkan penggunaan umpan dapat menimbulkan bau akibat faktor kimiawi umpan (chemical bait).

Hasil uji Duncan terhadap faktor bubu lipat adalah bahwa kedua jenis bubu, baik bubu lipat modifikasi pintu samping maupun bubu lipat Standar berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah tetap bubu lipat Standar (Mean = 0,96025) dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (Mean = 0,82358). Hasil uji duncan juga diperkuat oleh analisis rata-rata hasil tangkapan lobster per trip bubu lipat standar (1,1 ekor ± 0,05) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (0,5 ekor ± 0,03). Demikian juga dengan nilai efektivitas bubu lipat, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat standar (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%). Kondisi ini sama dengan hasil yang diperoleh dalam pengujian sebelumnya, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat modifikasi pintu atas yang telah dilakukan experimental fishing

standar masih lebih baik dalam perolehan hasil tangkapan lobster dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi.

Rata-rata hasil tangkapan sampingan (by-catch) per trip bubu lipat modifikasi pintu samping (1 ekor ± 0,08) lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar (2 ekor ± 0,08). Kondisi ini dapat dikatakan bahwa bubu lipat modifikasi dapat mereduksi by-catch hingga 50% dibandingkan penggunaan bubu lipat standar. Namun demikian, jenis by-catch yang tertangkap juga memiliki nilai komersial yang cukup tinggi, seperti rajungan, ikan kerapu dan sotong. Meskipun dapat mereduksi by-catch bagi bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar memperoleh hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam keadaan hidup. Hasil tangkapan jenis lobster memiliki ukuran yang masih kecil, sehingga diperlukan aspek pengelolaan yang baik dalam memanfaatkan lobster dengan ukuran di bawah size ekonomis. Salah satu bentuk upaya pengelolaan yang menjadi pilihan adalah pengembangan budidaya pembesaran lobster, dimana bibit lobster ditangkap dari alam sebagai hasil tangkapan bubu lobster kemudian dimasukan ke dalam karamba apung .

Bubu biasanya digunakan oleh nelayan untuk menangkap dan mempertahankan target tangkapan yang diinginkan yaitu lobster dan jenis krustasea lainnya yang juga target yang baik, seperti halnya ikan bersirip, gastropoda dan moluska (Miller 1990). Lebih dari itu, bubu juga mewakili alat tangkap yang berguna untuk kegiatan pemanenan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab. Bubu adalah alat tangkap yang selektif, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis dapat dikembalikan ke perairan tanpa melukainya, sedikit hasil tangkapan sampingan atau by-catch (Groneveld 2000) dan mempunyai dampak yang minimum terhadap komunitas dasar perairan (Eno et al., 2001). Lebih jauh dikatakan oleh Miller (1990), bahwa kualitas bubu lipat sebagai perangkap adalah karena hasil tangkapan dalam keadaan hidup dengan kualitas yang sangat baik, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis (under size) dapat dikembalikan ke perairan dalam keadaan hidup dan biaya penangkapan rendah.

Umpan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan, khususnya untuk alat tangkap yang

bersifat pasif seperti bubu. Seperti yang dinyatakan oleh Raharjo dan Linting (1993), bahwa umpan merupakan perangsang yang memikat sasaran penangkapan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan laju tangkap bubu. Percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam skala laboratorium menunjukkan bahwa lobster Jasus lalandei memakan makanan yang disukainya jika diberikan pilihan, dan memilih umpan-umpan alami yang ada di laut sebelum digunakan jenis makanan alami di darat (daging hewan). Selanjutnya, Fielder (1965) menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi terkait dengan tingkah laku makan lobster Jasus lalandei tentang makanan yang disukai, yaitu : (1) Lobster

Jasus lalandei memiliki tingkah laku makan yang selektif, yaitu jika diberikan pilihan makanan; (2) Umpan yang berasal dari laut, seperti ikan dan hiu lebih disukai daripada umpan yang berasal dari daratan, seperti kuda dan kelinci; (3) Umpan segar lebih disukai dari pada umpan busuk; dan (4) Umpan cumi-cumi termasuk jenis umpan yang efisien seperti halnya umpan ikan.

Hasil uji Duncan terhadap perlakuan umpan adalah bahwa kedua jenis umpan, baik umpan cacing tanah maupun tembang berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini umpan yang paling baik digunakan adalah cacing tanah (Mean

= 0.96429) dibandingkan dengan umpan tembang (Mean = 0.81954). Hasil uji duncan juga diperkuat oleh analisis rata-rata hasil tangkapan lobster per trip bahwa bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (1,1 ekor ± 0,03) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (0,5 ekor ± 0,03). Demikian juga dengan hasil perhitungan nilai efektivitas umpan, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan umpan tembang (3,8%).

Rata-rata hasil tangkapan sampingan (by-catch) per trip untuk bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (1,2 ekor ± 0,06) lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (1,9 ekor ± 0,08). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengoperasian bubu yang menggunakan umpan cacing tanah dapat mereduksi by-catch hingga 36,8% dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang.

Dokumen terkait