• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya belajar siswa berprestasi pada proses belajar mengajar di kelas di MI Khadijah Kota Malang

Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar.

Menurut Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing “Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa”.71

Dalam proses belajar mengajar, siswa mengalami suatu perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan ini dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang dihasilkan oleh siswa dari kegiatan mengerjakan soal ulangan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Tujuannya adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu. Perubahan yang dimaksudkan tentu saja menyangkut semua unsur

71 Eva Nauli Thaib, Hubungan antara Prestasi Belajar dengan Kecerdasan Emosional (Jurnal Ilmiah Didaktika), di akses pada tanggal 13 Juli 2017 pukul 10.15 WIB

yang ada pada diri individu. Sedangkan islam sendiri mewajibkan pada setiap umatnya untuk belajar, dengan tujuan agar umatnya berprestasi.

Dari pendapat tersebut di atas, maka seseorang dinyatakan melakukan kegiatan belajar, setelah ia memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah suatu proses untuk mencapai suatu kecakapan, kebiasaan, sikap dan pengertian suatu pengetahuan dalam usaha merubah diri menjadi semakin baik dan mampu.

Selanjutnya Abdurrahman Saleh memberikan prestasi belajar atau hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa dari mempelajari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tertentu dengan alat ukur berupa evaluasi yang dinyatakan dalam bentuk angkah huruf atau kata atau simbol, dengan istilah lain yakni prestasi. Salah satu program diklat (mata pelajaran) yang diajarkan di sekolah adalah program diklat (mata pelajaran) kewirausahaan. Pelajaran ini sengaja diterapkan di sekolah-sekolah bertujuan adalah menghasilkan lulusan yang akan menempati lapangan pekerjaan maupun berwiraswasta.

Pengertian prestasi belajar adalah sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai anak didik dalam memahami mata pelajaran di sekolah. Sehingga dari pengertian di atas dapat diketahui yang

dimaksud dengan prestasi belajar kewirausahaan adalah bukti keberhasilan siswa dalam penguasaan terhadap program diklat kewirausahaan melalui tahap-tahap evaluasi belajar yang dinyatakan dengan nilai. Untuk mengukur prestasi belajar program diklat kewirausahaan, guru harus memberikan penilaian kepada siswa dalam bentuk angka dan ditulis sebagai laporan pendidikan yang biasanya tercantum dalam raport.

Budaya belajar tidaklah mudah dibentuk dan dilakukan seperti halnya teori-teori yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa juga harus bisa memahami dirinya bagaimana cara untuk membuat semangat belajar, harus mengetahui budaya belajar seperti apa yang ada pada dirinya, membiasakan diri untuk belajar rutin agar budaya belaajar bisa terbentuk dengan baik. Siswa yang bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah atau putus sekolah akan terpengaruh dengan mereka. Banyak siswa gagal belajar karena tidak mempunyai budaya belajar yang baik, karena budaya belajar mengandung kebiasaan belajar atau cara-cara belajar yang dianut oleh siswa dan akan selalu melekat didalam setiap tindakan siswa sehari-hari baikdi sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat. Misalnya tradisi memanfaatkan waktu dalam belajar, disiplin dalam belajar, kegigihan/keuletan dalam belajar, dan konsisten menerapkan cara belajar efektif.

Menerapkan budaya belajar dalam proses pembelajaran, diharapkan perilaku siswa dalam melaksanakan tugas dan menaati norma-norma serta

peraturan yang berlaku sehingga tujuan dan kebijakan pemerintah dalam pendidikan dapat dicapai dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ketika proses belajar mengajar belajar dikelas berlangsung, beberapa siswa berprestasi mempunyai budaya belajar bermacam-macam yang membuatnya fokus dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru. Budaya belajar akan mempengaruhi bagaimana hasil belajar yang didapat siswa, namun dengan beberapa budaya belajar siswa berprestasi bisa merugikan siswa lain karena salah satu diantara siswa berprestasi mengganggu konsentrasi belajar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Rusyan, bahwa budaya belajar memberikan sumbangan yang sangat besar dalam menyongsong era baru, karena kemampuan yang dikembangkan melalui budaya belajar kita adalah kemampuan jasmaniah dan rohaniah. Adapun kemampuan jasmaniah dan rohaniah tersebut pengembangannya meliputi segi pengetahuan, keterampilan, kecakapan, nilai-nilai prikehidupan, sikap, dedikasi dan disiplin. Oleh karena itu maka budaya belajar merupakan suatu upaya untuk menjawab tantangan terhadap masalah-masalah yang timbul dalam era millineum baru.72

Proses pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan tuntutan bila didukung oleh pratisipasi pihak yang memiliki kemampuan, sebab kemampuan siswa dalam arti kemampuan jasmaniah dan rohaniah tidak secara otomatis dapat

72

Sihnata, Budaya Belajar Siswa Studi Situs SDN 2 Temanggung (Tesis, Program

Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2012), diakses pada tanggal 13 juli 2017 pukul 10.20 WIB

dimiliki siswa melainkan berdasarkan pada upaya dilakukan siswa melalui budaya belajar, sebab setiap siswa dengan adanya era globalisasi menunjukkan akan kepentingan budaya belajar dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia sehingga memiliki kemampuan dalam belajar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Winardi yaitu selain disiplin dalam belajar, kegigihan dalam belajar dan konsisten dalam belajar faktor lain yang dapat mempengaruhi budaya belajar siswa adalah adanya partisipasi yang mendorong siswa untuk belajar. Karena pada dasarnya partisipasi dari pihak yang mempunyai kemampuan lebih dalam membimbing siswa dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar.73

Budaya belajar siswa berprestasi pada proses belajar mengajar di kelas menurut kesimpulan peneliti adalah siswa dikatakan berprestasi di kelas karena adanya perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap yang terus meningkat sejak kelas I sampai kelas V yaitu dilihat melalui kegiatan belajar mengajar di kelas, nilai raport maupun nilai ulangan harian.

B. Budaya belajar siswa berprestasi pada proses belajar mengajar di luar kelas di MI Khadijah Kota Malang

Waktu belajar di rumah merupakan faktor penting seseorang untuk mencapai prestasi karena waktu belajar di rumah lebih banyak dibandingkan dengan di sekolah. Di sekolah waktu yang digunakan untuk belajar adalah

73

berkisar antara 7-8 jam sedangkan sisanya yaitu sebanyak 16-17 jam adalah waktu yang dihabiskan di rumah. Sehingga waktu belajar di rumah mempunyai rentang waktu yang lebih lama dari pada disekolah. Oleh karena itu waktu belajar di rumah harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Uraian di atas sependapat dengan Hamalik yang mengatakan bahwa:

”Sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, oleh sebab itu aspek-aspek kehidupan keluarga turut mempengaruhi kemajuan studi bahkan dapat dikatakan sebagai faktor dominan sukses di universitas”.74

Sebagai seorang pelajar, tugas utamanya adalah belajar. Jam pelajaran sudah ditentukan, sedangkan di rumah siswa sendiri yang harus memberikan dan mengatur sendiri waktu untuk belajar dengan baik dan efisien. Berikut ini ada beberapa pakar pendidikan yang menjelaskan tentang cara menggunakan waktu belajar agar lebih efektif.

“Menurut Hakim adalah (1) pemilihan atau penentuan jadwal belajar sifatnya individual, ada siswa yang lebih cocok belajar pada malam hari, ada yang lebih cocok pada sore hari dan ada pula yang lebih cocok pada pagi hari, (2) atur jadwal belajar dengan mempertimbangkan jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari dalam satu semester, (3) sediakan waktu belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan mata pelajaran,dan (4) buat jadwal pelajaran secara fleksibel (jangan terlalu terikat dengan jadwal). 75

Kecerdasan dalam proses pendidikan dianggap sangat penting dan dapat menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar. pandangan

74 Darwin Bangun, Hubungan Persepsi Siswa Tentang Perhatian Orang Tua, Kelengkapan Fasilitas

Belajar, Dan Penggunaan Waktu Belajar Di Rumah Dengan Prestasi Belajar SD Negeri

Pagelaran 2012/2013, https://journal.uny.ac.id/index, diakses paa tanggal 18 Juli 2017 pukul 16.45

WIB

75

seperti ini lebih condong tehadap kemampuan kognitif siswa. Siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi sedangkan siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi pada umumnya memilki perhatian yang lebih baik, belajar lebih cepat, kurang memerlukan latihan, mampu menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang singkat, mampu menarik kesimpulan dan melakukan abstraksi.76

Siswa dikatakan berprestasi jika memenuhi sebanyak mungkin dari delapan indikator cara belajar siswa berprestasi, yaitu seperti cara membuat jadwal dan pelaksannannya, cara membuka buku, cara membuat catatan, cara mengikuti pelajaran, cara mengulangi pelajaran, cara melakukan konsentrasi, cara menghafal pelajaran, dan cara menempuh ujian. Jadi ciri-ciri siswa yang berprestasi adalah lebih banyak menjawab kriteria-kriteria cara belajar yang telah ditentukan. Sedangkan siswa yang kurang berprestasi lebih sedikit jawaban yang sesuai dengan indikator cara belajar yang telah ditentukan oleh peneliti. Selain dari itu perbandingan juga dapat dilihat dari cara belajar mereka. Siswa yang berprestasi lebih cenderung mempunyai cara belajar yang baik dan disiplin. Meskipun cara belajar yang baik tidak menjamin akan menghasilkan prestasi yang optimal. Namun sekiranya dengan

76

memiliki cara belajar yang baik dapat meminimalisir hal-hal yang tak diinginkan.77

Budaya belajar siswa berprestasi di luar kelas menurut kesimpulan peneliti adalah di rumah siswa berprestasi membuat jadwal belajar dan pelaksannannya, membuka buku, membuat catatan, mengulangi pelajaran, melakukan konsentrasi saat belajar baik di dalam rumah maupun di tempat belajar yang lain, menghafal pelajaran. Hal ini dilakukan siswa berprestasi sejak kelas I, karena untuk mempertahankan meningkatkatnya pengetahuan, keterampilan, pemahaman dan sikap harus disertai praktek/proses belajar ketika di luar kelas.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Belajar Siswa Berprestasi di