BAB V PENUTUP
A. Landasan Teori
1. Budaya Komunitas Pesantren a. Konsep Budaya
Kajian keilmuan dalam memahami konsep budaya bukanlah sesuatu hal yang mudah, sehingga menyebabkan banyak pemahaman yang bervariasi. Disiplin ilmu budaya sebenarnya berasal dari disiplin ilmu antropologi. Secara formal budaya di definisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan, ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.95 Budaya di defisinisikan sebagai keyakinan, nilai, peraturan, norma, simbol, serta tradisi yang telah dipelajari merupakan hal yang umum bagi sekelompok orang. Karakter yang sama dari sekelompok orang itulah yang membuat mereka unik. Budaya merupakan cara hidup dan kebiasaan.96
Jeff Carttwright97 mengatakan bahwa budaya adalah penentu yang kuat dari keyakinan, sikap dan perilaku orang, dan pengaruhnya dapat diukur melalui bagaimana orang termotivasi untuk merespon pada lingkungan budaya mereka. Jeff Carttwright mendefinisikan budaya sebagai sebuah kumpulan orang yang terorganisasi yang berbagi tujuan, keyakinan dan nilai-nilai yang sama, dan dapat diukur dalam bentuk pengaruhnya pada motivasi.
95Syaiful Sagala, Memahami Organisasi Pendidikan Budaya dan Reinventing Organisasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 111.
96Peter G. Northouse, Kepemimpinan Teori dan Praktik (Jakarta: PT Indeks, 2013), hal.
364.
97Jeff Carttwright, Cultural Transformasional: Nine Factor for Continuous Business Improvement (Singapore: Finansial Times/Prentice 2009), hal. 11.
Secara etimologis, Koentjaningrat98 menyatakan bahwa kata budaya berasal dari kata budhayah, bahasa sanksekerta, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal.
Dengan demikian, kebudayaan dapat dikatakan “hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal”. Karena ia berkaitan dengan budi dan akal manusia, maka skupnya pun menjadi demikian luas. Budaya menurut Koentjaningrat adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Jadi, budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari, antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, berani bertukang, dan berrelasi dalam masyarakat merupakan budaya. C. Kluckohn merupakan ahli antropologi pertama yang merumuskan tujuh unsur budaya. Ketujuh unsur budaya tersebut ialah sebagai berikut: 99
1) Sistem Religi
Sistem religi dan upacara keagamaan merupakan produk manusia sebagai homo religius. Sistem religi sebagai sistem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang suci.
2) Sistem organisasi kemasyarakatan
Sistem organisasi kemasyarakatan merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Organisasi sosial merupakan sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Sistem organisasi sosial atau kemasyarakatan meliputi kekerabatan, asosiasi, sistem kenegaraan, sistem kesatuan hidup, dan perkumpulan.
3) Sistem pengetahuan
Sistem pengetahuan merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Sistem pengetahuan berkisar pada pengetahuan mengenai
98Koentjaningrat, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia, 1976), hal. 19.
99 C. Kulckhohn, Universal Categories of Culture (Illinois: University of Chicago, 1953), hal. 23.
kondisi alam sekelilingnya. Sistem pengetahuan meliputi flora dan fauna, ruang pengetahuan tentang alam sekitar, waktu, ruang dan bilangan, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia serta tubuh manusia.
4) Sistem mata pencaharian hidup
Sistem mata pencaharian hidup merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus. Sistem mata pencaharian hidup merupakan segala usaha dan upaya manusia untuk mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan.
5) Sistem teknologi dan perlengkapan hidup manusia
Sistem teknologi dan perlengkapan hidup manusia merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Teknologi merupakan jumlah dari semua teknik yang dimiliki oleh para anggota dalam suatu masyarakat. Unsur teknologi yang menonjol adalah kebudayaan fisik.
6) Bahasa
Bahasa merupakan produk manusia sebagai homo language.
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa merupakan suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan dan sebagai alat perantara yang paling utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasikan kebudayaan.
7) Kesenian
Kesenian merupakan hasil dari manusia dalam keberadaannya sebagai homo esteticus. Kesenian dapat diartikan sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam itu muncul dari sebuah permainan imajinatif dan kreatif. Hal tersebut dapat memberikan kepuasan batin bagi manusia.
Berdasarkan sifat universalnya, suatu masyarakat seyogyanya memiliki ketujuh unsur budaya sebagaimana budaya yang telah dikemukakan. Tujuh unsur budaya ini, dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Budaya dalam konteks kamunitas manusia, baik dalam bentuk kelompok, organisasi, suku bangsa maupun negara memiliki fungsi yang strategis, yaitu sebagai pengikat dan perekat hingga membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai suatu kelompok, organisasi, suku tertentu bahkan negara. Budaya menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, dan sumber daya. Bagi siapapun terutama bagi kalangan internal suatu komunitas suku tertentu, budaya menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan dan memberdayakan budaya sehingga menjadi kebanggaan bagi suku tertentu, bahkan lebih luas lagi bagi negara tempat suku bangsa tersebut eksis.100
Budaya merupakan pola asumsi dasar sekelompok masyarakat atau cara hidup orang banyak/pola kegiatan manusia yang secara sistematis diturunkan dari generasi ke generasi melalui berbagai proses pembelajaran untuk menciptakan cara hidup tertentu yang paling cocok dengan lingkungannya.101
Budaya sebagai keyakinan, nilai, peraturan, norma, simbol serta tradisi yang telah dipelajari dan merupakan hal yang umum bagi sekelompok orang. Karakter yang sama dari sekelompok orang itulah yang membuat mereka unik, budaya merupakan cara hidup dan kebiasaan.102 Budaya sebagai sikap mental dan kebiasaan lama yang sudah melekat dalam setiap langkah kegiatan dan hasil kerja. Fungsi utama budaya adalah untuk memahami lingkungan dan menentukan bagaimana orang-orang dalam organisasi merespon sesuatu, menghadapi ketidakpastian dan kebingungan. Seorang pemimpin harus memikirkan pentingnya budaya karena sangat berperan penting dalam kesuksesan organisasi.103
100 Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2014), hal. 90-91.
101 Wibowo, Budaya Organisasi (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal, 15-16.
102 Peter G. Northouse, Kepemimpinan Teori dan Praktek (Jakarta: PT. Indeks, 2013), hal. 364.
103 Richard L. Darft, New Era of Management (Jakarta: Salemba Empat, 2010), hal. 98.
Agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada proses internalisasi budaya. Internalisasi adalah proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran.104 Proses pembentukan budaya terdiri dari sub-proses yang saling berhubungan antara lain: kontak budaya, penggalian budaya, seleksi budaya, pemantapan budaya, sosialisasi budaya, internalisasi budaya, perubahan budaya, pewarisan budaya yang terjadi dalam hubungannya dengan lingkungannya secara terus menerus dan berkesinambungan.105
Robbins menyatakan budaya organisasi sebagai nilai-nilai dominan yang didukung oleh organisasi, falsafah yang menuntun kebijaksanaan organisasi terhadap pegawai dan pelanggan, cara pekerjaan dilakukan di tempat itu, asumsi dan kepercayaan dasar yang terdapat diantara anggota organisasi. Budaya organisasi yang baik akan memperkuat nilai-nilai perilaku dalam bekerja, sedangkan budaya organisasi yang lemah hanya memberi sedikit arahan dan membiarkan segala bentuk tindakan yang tidak dapat terjadi. Budaya organisasi mempunyai pengaruh yang sangat berarti pada perilaku anggota organisasi sebagai individu dalam kelompok manapun, sebagai satu kesatuan organisasi secara keseluruhan.
Robbbins dan Judge106 memberi batasan tentang budaya organisasi sebagai berikut: “organizational culture refers to a system of shared meaning held by members that distinguishes the organization from other organization”. Artinya budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dibentuk oleh anggota-anggotanya sekaligus pembeda organisasi. Dengan demikian, setiap organisasi tidak harus
104Talizhidu Dhar, Budaya Organisasi (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 82.
105Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah: Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hal. 72.
106 Stephen Robbins, Timothy Judge, Organizational Behaviour 13 edition (New Jersey:
Person International Edition, 2009), hal. 585.
memiliki budaya yang persis sama. Setiap organisasi memiliki budaya yang merupakan ciri khas, dan sekaligus merupakan pembeda dengan organisasi lainnya. Budaya organisasi sangat mempengaruhi suasana kerja organisasi.
Menurut Luthans107 budaya organisasi adalah “a pattern of basic assumption invented, discovered, or developed by a given group as it learns to cope with as problems of external adaption and internal integration that has worked well enough to be considered valuable and, therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive, think, and feed in relation to those problems.” Dari definisi ini budaya organisasi sesungguhnya tumbuh karena diciptakan dan dikembangkan oleh individu-individu yang bekerja dalam suatu organisasi, dan diterima sebagai nilai-nilai yang harus dipertahankan dan diturunkan kepada setiap anggota. Nilai-nilai tersebut digunakan sebagai pedoman bagi setiap anggota selama mereka berada dalam lingkungan organisasi tersebut dan dapat dianggap sebagai ciri khas yang membedakan sebuah organisasi dengan organisasi lainnya.
Menurut Linda Smireich dalam N. Jabnoun,108 “culture is a system of shared values and beliefs that produce normas of behavior” yang diartikan bahwa, kultur adalah suatu sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang menghasilkan aktivitas perilaku. Budaya juga diartikan sebagai pola perilaku yang membentuk sebagai hasil cipta manusia yang dipakai secara turun-temurun berupa nilai-nilai khusus yang melekat untuk mencapai tujuan hidup manusia yang dapat berupa simbol-simbol, pola perilaku dan pengetahuan.
Martocchio109 mendefinisikan budaya organisasi sebagai sebuah sistem organisasi yang terbagi atas nilai-nilai dan keyakinan untuk
107 Fred Luthan, Organizational Behavior, Element Editions (New York: McGraw-Hill, 2008), hal. 74.
108 Neceur Jobnoun, Islam and Manajement (Riyadh: Internasional Islamic Publishing House, 2008), hal. 33.
109 Joseph J. Martocchio, Strategic Compensation (New Jersey: Person Prentice-Hall, 2006), hal. 49.
kemudian menghasilkan norma-norma perilaku. Nilai-nilai ini terlihat jelas dalam lingkup organisasional dan struktur kerja. Sedangkan Mc Shane dan Von Glinow berpendapat bahwa budaya organisasi adalah pola dasar yang terdiri atas nilai dan asumsi yang berpengaruh terhadap cara pegawai berpikir dan bertindak terhadap berbagai masalah maupun peluang.110
Newstrom111 berpendapat organizational culture is the set of assumptions, beliefs, values, and norms that are shared by and organization’s members. Ia mengatakan bahwa budaya organisasi adalah sekumpulan asumsi, keyakinan, nilai dan norma yang secara bersama-sama telah digunakan oleh para anggota dalam sebuah organisasi.
Budaya organisasi juga berkenaan dengan pola keyakinan, nilai dan pembelajaran cara mengatasi keadaan dengan menggunakan pengalaman yang dikembangkan seiring perjalanan organisasi, dan kemudian dimenifestasikan ke dalam rencana pokok organisasi dan perilaku anggotanya.112
Definisi mengenai budaya disini menyiratkan tiga hal. Pertama, budaya adalah sebuah persepsi, bukan sesuatu yang dapat disentuh atau dilihat secara fisik. Kedua, budaya organisasi bersifat deskriptif yaitu berkenaan dengan bagaimana para anggota menerima dan mengartikan budaya tersebut. Ketiga, meskipun para individu di dalam organisasi memiliki latar belakang yang berbeda dan bekerja pada jenjang organisasi yang juga berbeda, mereka cenderung mengartikan dan mengutarakan budaya organisasi dengan cara yang sama. Inilah aspek penerimaan bersama. 113
110 Mc Shane & Von Glinow, Organizational Behaviour, Fourth Edition (New York:
McGraw-Hill, 2008), hal. 460.
111 Johan W. Neustorm, Organizational Behavior Human Behavior at Work (Boston: Mc Graw-Hill, 2007), hal. 87.
112Millmore, Lewis, Saunders, Thornhill and Marrow, Strategic Humam Resource Management (London: Prentice Hall, 2007), hal. 206.
113 Stephen P. Robbins dan Mary Coulter, Manajemen (Jakarta: Erlangga, 2010), hal. 63.
Budaya yang kuat (strong culture) semua organisasi memiliki budaya, namun tidak semua budaya organisasi sama kuatnya dalam mempengaruhi perilaku dan tindakan para anggotanya. Budaya yang kuat yaitu budaya yang menanamkan nilai-nilai utama secara kokoh dan diterima secara luas dikalangan para anggotanya dibandingkan dengan budaya yang lemah. Berikut ini tabel mengenai perbandingan antara budaya kuat dan budaya lemah:
Tabel: 2.1 Perbandingan antara Budaya Kuat dan Budaya Lemah114
Budaya Kuat Budaya Lemah
Nilai-nilai diterima secara luas
Nilai-nilai hanya dianut oleh segolongan orang saja di dalam organisasi biasanya kalangan manajemen puncak
Budaya memberikan pesan yang konsisten kepada para karyawan mengenai apa yang dipandang berharga dan penting
Budaya memberikan pesan yang saling bertolak belakang mengenai apa yang dipandang berharga dan penting
Para karyawan/anggota sangat mengidentikkan jati diri mereka dengan budaya organisasi
Para karyawan/anggota tidak begitu peduli dengan identitas budaya organisasi mereka
Terdapat kaitan yang erat di antara penerimaan nilai-nilai dan perilaku para anggota organisasi
Tidak ada kaitan yang kuat di antara nilai-nilai dan perilaku para anggota organisasi
Berdasarkan tabel perbandingan yang ada, semakin kuat budaya organisasi maka semakin dalam pengaruhnya terhadap cara para manajer menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, penataan, kepemimpinan, dan pengendalian.115
Budaya yang kuat mengindikasikan pemahaman dan pelaksanaan nilai dan asumsi organisasi secara lebih baik oleh anggotanya. Selain itu
114 Ibid., hal. 65.
115 Ibid., hal. 66.
budaya yang kuat dapat menghasilkan tingkat efektivitas kerja organisasi yang lebih tinggi. Dengan demikian budaya memberikan suatu hubungan erat dengan nilai, sikap, dan perilaku. Berikut ini adalah skema nilai hubungan budaya, nilai, sikap dan perilaku.116
Budaya
Perilaku Nilai
Sikap
Gambar: 2.1 Skema Hubungan Budaya, Nilai, Sikap, dan Perilaku Dari pengertian di atas budaya menggambarkan cara berpikir dan bekerja manusia, sehingga ia disebut juga sebagai bentuk yang sesungguhnya dari perilaku makhluk Tuhan. Nilai-nilai yang dibangun akan menggiring organisasi untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar, baik dan adil. Jadi jelas, bahwa budaya organisasi merupakan cerminan dari sebuah bentuk organisasi.
Menurut teori ekologis yang memberikan tekanan pada sistem lingkungan. Tokoh utama teori ekologis adalah Urie Brosfenbrenner terhadap perkembangan mengajukan bahwa konteks di mana berlangsung perkembangan individu, baik kognitifnya, sosio emosional, kapasitas dan karakteristik motivasional, maupun partisipasi aktifnya, merupakan unsur-unsur penting bagi perubahan perkembangan. Dalam teori ekologisnya, Brofenbrenner menggambarkan empat kondisi lingkungan di mana perkembangan terjadi, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, dan makrosistem. Empat kondisi lingkungan ini dapat kita lihat melalui gambar di bawah ini:
116Richard M. Steers & J. Stewardt Black, Orgnaizational Behaviour, Fifth Edition (New York: Harper Collins College Publication, 1994), hal. 50.
Gambar: 2. 2 Ekologi Brofenbrenner
Gambar teori ekologi Brofenbrenner bagi perubahan perkembangan yang terdiri dari empat sistem lingkungan. Keempat lingkungan menjadi landasan perkembangan manusia menurut teori ekologi Brofenbrenner tersebut, akan diuraikan dalam pembahasan berikut:
1. Mikrosistem (microsystem) menunjukkan situasi di mana individu hidup dan saling berhubungan dengan orang lain. Konteks ini meliputi keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan sosial lainnya. Dalam mikrosistem inilah terjadinya interaksi yang paling langsung dengan agen-agen sosial.
2. Mesosistem (mesosystem) menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrosistem atau hubungan beberapa konteks. Sebagaimana contoh adalah hubungan antara rumah dan sekolah, rumah dan masjid, sekolah dan lingkungan, rumah dan tempat kerja.
3. Ekosistem (exosistem) terdiri dari setting sosial di mana individu tidak berpartisipasi aktif, tetapi keputusan penting yang diambil mempunyai dampak terhadap orang-orang yang berhubungan langsung dengannya. Misalnya tempat kerja orang tua, dewan sekolah, pemerintah lokal, dan orang tua kelompok teman sebaya.
4. Makrosistem (macrosystem) meliputi cetak biru (blueprints) pembentukan sosial dan kebudayaan untuk menjelaskan dan
mengorganisis institusi kehidupan. Makrosistem direfleksikan dalam pola lingkaran mikrosistem, mesosistem, dan ekosistem yang dicirikan dari sebuah subkultur, kultur, atau konteks sosial lainnya yang lebih luas. Contoh makrosistem meliputi asumsi, idiologi, dan sistem kepercayaan bersama tentang umat manusia, hubungan sosial dan kualitas kehidupan.117
Berdasarkan pengertian tentang budaya yang demikian, maka setiap individu dan komunitas melalui kreasinya pun bisa menciptakan sebuah budaya tertentu ketika kreasi yang diciptakan itu kemudian secara berulang, bahkan kemudian menjadi kesepakatan kolektif maka pada saat itu kreasi itu telah menjelma menjadi sebuah budaya. Salah satu komunitas yang mampu membentuk budaya yang khas adalah pesantren.
b. Komunitas Pesantren
Komunitas merupakan sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa.118
Menurut Crow dan Allan, komunitas dapat terbagi menjadi tiga komponen. Pertama: berdasarkan lokasi atau tempat, yaitu wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat di mana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. Dan saling mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi dan memberikan kontribusi bagi lingkungannya. Kedua: berdasarkan minat, yaitu sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, hobi maupun berdasarkan minat memiliki jumlah terbesar karena melingkupi berbagai aspek. Ketiga: berdasarkan komuni,
117 Desmita, Psikologi Perkembangan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 54.
118 https://id.m.wikipedia.org/wiki/komunitas. Diakses Pada Tanggal 02 Mei 2017.
yaitu komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri.119
Pesantren merupakan lembaga pendidikan paling awal di Indonesia. Jenis lembaga pendidikan ini dapat dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. tidak heran jika lembaga pendidikan ini memiliki beberapa sebutan lain. Di Sumatra Barat disebut “surau” sementara di Aceh disebut “dayah” atau “meunasah”. Sebutan pesantren atau pondok pesantren pada mulanya hanya berlaku di Jawa, meskipun sekarang sudah menjadi nomenklatur paling umum.120
Secara bahasa pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran santri -an yang berarti tempat tinggal santri. Kata santri sendiri, menurut C. C Berg berasal dari bahasa India shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang saraja ahli kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A. H. John menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.121 Adanya kaitan istilah santri yang digunakan setelah datangnya agama Islam, dengan istilah yang digunakan sebelum datangnya Islam ke Indonesia adalah bisa saja terjadi. Sebab seperti yang dimaklumi bahwa sebelum Islam masuk ke Indonesia masyarakat Indonesia telah menganut beraneka ragam agama dan kepercayaan, termasuk di antaranya agama Hindu. Dengan demikian, bisa saja terjadi istilah santri itu telah dikenal di kalangan masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk. Dan ada juga yang menyamakan tempat pendidikan itu dengan Budha dari segi bentuk asrama.122
Kata pondok dalam bahasa Indonesia mempunyai arti, kamar, gubuk, rumah kecil dengan menekankan kesederhanaan bangunannya.
119 Ibid
120 Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20: Pergumulan antara Modernisasi dan Identitas (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 75.
121 Babun Suharto, Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi (Surabaya: Imtiyaz, 2011), hal. 9.
122 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 61-62.
Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri“. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata “Pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti “hotel atau asrama”.123
Pesantren berasal dari santri, yang berarti “terpelajar” (learned) atau “ulama” scholar. Jika santri menunjuk kepada murid, maka pesantren menunjuk kepada lembaga pendidikan. Jadi, pesantren adalah tempat belajar bagi para santri. Pesantren juga disebut pondok pesantren. Kedua sebutan itu sering kali digunakan secara bergantian dengan pengertian yang sama. “pondok” dan “pesantren” dengan pengertian sama, yaitu asrama dan tempat murid-murid belajar mengaji. Pendeknya, kedua sebutan tersebut mengandung arti lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat unsur-unsur „kyai‟ (pemilik sekaligus guru), „santri‟
(murid), „masjid‟ atau „mushalla‟ (tempat belajar), „asrama‟ (penginapan santri), dan „kitab-kitab klasik Islam‟ (bahan pelajaran).124
Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam pandangannya asal usul kata “santri” dapat dilihat dari dua pendapat.
Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri” berasal dari kata
“sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf.
Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santri kelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap.125
123 Zamakhsyari Dhofier, Op. Cit, hal. 18.
124 Arief Subhan, Op., Cit, hal. 75.
125 Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 61.
Menurut Manfred Ziemek dalam Haidar126 asal kata pesantren adalah ”pe-santri-an” yang artinya tempat santri. Jadi pesantren adalah tempat para santri untuk menuntut ilmu (Agama Islam). Pesantren adalah sebuah kawasan yang khas yang ciri-cirinya tidak dimiliki oleh kawasan yang lain. Karenanya tidak berlebihan jika Abdurrahman Wahid menyebut sebagai sub-kultur tersendiri.
Secara garis besar, tipologi pesantren bisa dibedakan paling tidak menjadi tiga jenis, walaupun agak sulit untuk membedakan secara ekstrim di antara tipe-tipe tersebut yaitu salafiyyah (tradisional), khalafiyah (modern) dan terpadu.127 Salafiyah adalah tipe pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, atau kitab-kitab klasik yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Metode pengajaran yang digunakan yaitu metode bandongan, sorogan, hafalan, dan musyawarah. Khalafiyah adalah tipe pesantren modern, yang di dalamnya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu pengetahuan umum, tetapi masih tetap mengajarkan kitab-kitab klasik seperti pesantren Salafiyah.
Tradisi masyarakat sebuah pondok pesantren ditandai dengan norma-norma ajaran Islamiah. Sikap patuh serta tawadhu’ dengan menempatkan kyai sebagai sumber utama dalam kepemimpinan yang wewenangnya menentukan kehidupan sosial di lingkungan pesantrennya, maka akan menimbulkan sikap disiplin santrinya terhadap segala sesuatu yang menjadi kewajibannya. Norma-norma ataupun nilai-nilai yang merupakan budaya sebuah pondok pesantren tercermin dalam panca jiwa pesantren sebagai berikut: jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari, jiwa ukhuwah Islamiyah, dan jiwa kebebasan.128
Sumber budaya adalah para pendirinya, dipertahankan melalui proses seleksi dan sosialisasi organisasi serta tindakan manajemen
126Haidar Putra Daulay, Historisitas dan EksistensiPesantren dan Madrasah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hal. 7.
127 Wahjotomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Pendidikan Alternatif Masa Depan (Jakarta:
Gema Insani Press, 1997), hal. 45.
128 Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: Inis, 2014), hal. 20.