BAB II LATAR BELAKANG BERDIRINYA RADIO REPUBLIK
B. Budaya
Sejarah perkembangan kota dan kemaritiman sangat mewarnai corak kehidupan masyarakat dan kebudayaan Kota Sibolga. Gaya hidup sehari-hari dan pola hubungan antar masyarakat menggambarkan budaya dan norma yang dianut dan diyakini oleh masyarakat. Karena didiami oleh beragam etnis, maka demikian juga kebudayaan yang berkembang di daerah ini masing-masing membawa budaya dari daerah asalnya dan berpadu di dalam kota ini serta menyesuaikan terhadap kondisi setempat.
Pada tahun 2003, Kota Sibolga dikenal dengan julukan “Negeri berbilang kaum” karena terdiri dari berbagai macam etnis. Etnis yang ada di Kota Sibolga yaitu : Etnis Batak Toba, Pesisir, Minangkabau, Melayu, Jawa, Nias, Tionghoa, dll.
22
Sebagai salah satu Kota yang terletak di Pantai Barat Sumatera Utara. Budaya dan adat istiadat di Kota Sibolga didominasi oleh kedua suku yakni: Batak dan Pesisir.25
Kedua budaya dan adat dari suku ini paling menonjol dan dapat dilihat setiap hari dari segi bahasa. Kegiatan adat dan budaya sampai saat ini masih tetap dipertahankan seperti “Adat Sumando”. Sejarah adat Sumando berasal dari migrasi penduduk pulau poncan ke wilayah Sibolga, dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Tapanuli Tengah.26 Istilah Sumando berasal dari bahasa Batak “suman”, yang memiliki makna serupa. Kemudian, kata suman ini berubah menjadi kata
“sumando” yang menyesuaikan dengan logat masyarakat pesisir, namun tidak merubah maknanya. Tradisi ini juga terdapat di wilayah Minangkabau, namun tetap terdapat perbedaan antar adat Sumando yang berada di wilayah Sibolga.
Bagi masyarakat pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah, adat Sumando merupakan ikatan batin kekeluargaan yang sangat kuat sehingga menjadi sarana komunikasi dalam hal persaudaraan. Bagi masyarakat pesisir Sibolga, adat Sumando sangat dihargai dan dihormati. Adat Sumando Sibolga juga memiliki kesamaan dengan adat Mingkabau. Kata Sumando dalam bahasa Batak berarti cantik/sesuai dan secara mendalam adalah besar-besaran.
Pelaksanaan acara pernikahan ini tidak terlepas dari iringan musik dan tari yang biasa dikenal dengan kesenian Sikambang. Sikambang sendiri berasal dari kata
25Kantor Statistika Kotamadya Sibolga dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II Sibolga, 1986, Kotamadya Sibolga Dalam Angka 1985, Sibolga: BPS, hal.14.
26R. Nainggolan, 2005, Adat Perkawinan Masyarakat Etnis Pesisir Tapanuli Tengah Pantai Barat Sumatera Utara, Majelis Budaya Pesisir dan Pariwisata Sibolga Tapanuli Tengah Pantai Barat Sumatera, hal.47.
23
“si” dan “kambang” yang namanya berasal dari sebuah alat musik gendang khas masyarakat pesisir Sibolga/Tapanuli Tengah, Gendang Sikambang. Pada umumnya, masyarakat pesisir Sibolga mengartikan Sikambang sebagai salah satu jenis kesenian yang bercorakkan petuah, beririama lagu, dan berwujud tari.
Proses multikultural kesenian Sikambang terjadi antara tradisi yang berasal dari etnis Minang dan Melayu, namun yang berasal dari Minang akan tetap terlihat Minang, dan berasal dari Melayu akan tetap terlihat Melayu. Hal ini tentunya dapat dilihat pada dua tarian khas masyarakat pesisir Sibolga. Sikambang menunjukkan bahwa masyarakat dari berbagai etnis yang berdiam di Kota Sibolga belajar saling menghargai, memberi apresiasi terhadap keberagaman etnis, melahirkan resolusi terhadap konflik antar etnis yang mungkin terjadi.
Hal ini terlihat dengan adanya beberapa kesamaan bahasa dan budaya terdapat dalam beberapa etnis yang ada di Kota Sibolga. Misalnya, bahasa pesisir Sibolga yang memiliki kesamaan dengan bahasa Minangkabau, yang membedakannya adalah logat atau dialek pengucapannya dengan volume suara yang keras seperti bahasa Batak. Bahasa Pesisir adalah bahasa asli Kota Sibolga. Disamping itu, keberadaan budaya yang berkembang di Kota Sibolga juga tidak terlepasdengan adanya akulturasi.
24 C. Pendidikan
Dalam perjalanan panjang Kota Sibolga ini memiliki catatan sejarah tentang pendidikan. Dalam pembangunan pendidikan, Kota Sibolga mengalami kemajuan untuk pembangunan sekolah, baik itu sekolah swasta maupun negeri. Hal ini dikarenakan tingginya minat dan aspirasi masyarakat untuk memajukan daerah di bidang pendidikan melalui jalur formal. Terbangunnya jumlah sekolah yang semakin memadai menunjukkan eksistensi pendidikan di Kota Sibolga semakin tinggi demi mendukung peningkatan sumber daya manusia untuk memajukan masyarakat yang terampil dan terdidik sesuai dengan pembangunan pendidikan.
Di sisi lain, sekolah adalah lembaga pendidikan yang secara khususnya diciptakan untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa di Indonesia. Di dalam hal ini sekolah perlu kiranya diseimbangkan dengan jalur pendidikan yang ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang dan pendidikan digunakan sebagai alat politik untuk mengatur bangsa.27 Kemajuan-kemajuan yang tercapai dalam kehidupan sejarah bangsa Indonesia umumnya dan Khususnya di Sumateran Utara menyebabkan terasa perlunya tenaga-tenaga yang terdidik dalam masyarakat Indonesia.28
Pendidikan merupakan salah satu upaya bagi masyarakat untuk mencapai tingkat kemajuan, sebagai sarana untuk membebaskan dirinya dari keterbelakangan
27S. Nasution, 2001, Sejarah Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, hal.10.
28Masjkuri dan Sutrisno Kutoyo, 1981, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara, Medan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal.54.
25
dan berbagai belenggu sosial yang menghambat tercapainya kesejahteraan bersama.29 Mekanisme jalur pendidikan di bagi menjadi 3 bagian adalah pendidikan secara formal, informal, dan non formal. Fungsi dari berbagai jalur pendidikan berbeda-beda dalam pengertiannya.
Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, bertingkat/berjenjang, dimulai dari dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya.
Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.30 Pendidikan informal adalah proses kesadaran dari pengalaman sehari-hari di lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Dan pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilakukan di luar sekolah yang diselenggarakan oleh kelompok masyarakat atupun suatu lembaga pendidikan.
Dalam perjalanan catatan sejarah Kota Sibolga di jelaskan mengenai kemajuan pendidikan sudah lama diberikan di Kota Sibolga. Sejak awal abad ke-19, pendidikan sudah tumbuh subur di daerah ini. Pendidikan formal secara umum mulai dengan didirikannya ELS (Eropa Lagere School) dimana sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Belanda dan anak-anak masyarakat Cina dari kalangan kapitan pada tahun 1920.
Kemudian dalam perkembangan sejarah sekolah disusul pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan oleh lembaga (yayasan keagamaan) seperti Islamiyah
29Ibid., hal. 10.
30Aida Mj, 2005, Ilmu Pendidikan, Semarang: Putra Sanjaya, hal.67
26
School tahun 1920, Katholieke HIS tahun1929, Christelijke HIS tahun 1932, AmbachtsSchool tahun 1992, Meisjes School 1924 dan Holland Indishe Vereniging School pada tahun 1925. Bersama sekolah-sekolah yang diselenggarakan Perguruan Islamiya Sibolga, Muhammadiyah, Pendidikan Kristen dan sekolah Buddha. Dunia pendidikan di Sibolga terus berkembang memacu masyarakat untuk meraih pendidikan tertinggi.31 Dalam hal pendidikan Kota Sibolga juga menjadi pusat pendidikan daerah.
D. Ekonomi
Dalam bidang ekonomi Kota Sibolga sendiri terpusat pada sektor perikanan laut dan sektor perdagangan, sedangkan sektor pertanian dan perkebunan merupakan kegiatan daerah belakangan. Kedua kegiatan itu, untuk sebagian menunjang kegiatan pelabuhan Sibolga. Jenis angkutan laut yang melayani kegiatan itu adalah pelayaran perintis, dan pelayaran Peramina.
Sebagian besar (50%) penduduk hidup di bidang perikanan, 30% yang lain di bidang perdagangan dan jasa (Sibolga Selayang Pandang), Nelayan pribumi pada umumnya masih digunakan peralatan tradisional, termasuk bagan yang tersebar di Teluk Tapian Nauli. Budaya peralatan bagan diterima dari nelayan pendatang.
Mekanisasi masih terbatas pada pemilik modal dan umumnya adalah orang Cina.
31Syawal Pasaribu, 2014, Budaya dan Pariwisata Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga, Medan, hal.5.
27
Sibolga merupakan wilayah Pesisir yang memiliki fasilitas perikanan cukup baik, hal ini ditunjang dengan keberadaan Pelabuhan Perikanan Nusantara dan Tangkahan Ikan yang ada disepanjang pantai Sibolga. Kota Sibolga berpotensi mengembangkan sektor perikanan sebagai andalan dalam menggerakkan perekonomian daerah. Secara geografis Kota Sibolga terletak di Pantai Barat Sumatera.
Kota Sibolga sudah sejak lama dikenal sebagai pintu gerbang kegiatan ekspor dan impor berbagai komoditas. Sejak dijadikan Daerah Otonom Tahun 1956, Kota Sibolga mengandalkan Pelabuhan Laut Sibolga dan potensi perairannya sebagai sumber kehidupan penduduk. Namun akhir-akhir ini kegiatan bongkar muat barang di Pelabuhan Sibolga seakan tenggelam. Penyebabnya tak lain adalah fasilitas sandar kapal yang kurang memadai.
Fasilitas penting untuk menampung kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan adalah gudang barang. Adanya gudang yang cukup di pelabuhan akan sangat menunjang kegiatan karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang yang akan dimuat atau setelah bongkar.
Komoditi andalan yang menjadi primadana di Kota Sibolga adalah produksi Perikanan Laut yang cukup berlimpah. Tepatnya produksi ikan yang didarat di wilayah ini. Nelayan umumnya menangkap ikan di perairan Teluk Tapian Nauli, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Nias, Aceh Selatan, bahkan sampai perairan Sumatera Barat dan Bengkulu. Penangkapan ikan merupakan penyumbang utama bagi kegiatan perekonomian Kota Sibolga.
28
Sektor Pertanian yang disebutkan sudah termasuk sub sektor perikanan di dalamnya. Besar kontribusi kedua sektor ini yang bisa dijadikan dasar dalam pembangunan kota yang harus didukung oleh berbagai fasilitas yang ada.
Fasilitas lain yang menunjang kehidupan ekonomi di Sibolga adalah biro perjalanan darat, penginapan, rumah makan, pasar, dan bank. Di Kota Sibolga terdapat beberapa bank, yakni Bank Indonesia (BI), Bank Dagang Indonesia (BDI), Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU), Bank Negara Indonesia 1946 (BNI 1946), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sibolga merupakan terminal lintasan antar jaringan jalur transportasi laut dengan jalur transportasi darat di bagian barat Sumatera Utara. Kota pelabuhan Sibolga ikut menunjang kelancaran angkutan penumpang dan barang ke daerah-daerah terpencil di sekitarnya.
2.2. Berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Sibolga
Berdirinya RRI Sibolga diprakarsai oleh Dr. Ferdinand Lumban Tobing, seorang putra daerah yang juga pemimpin rakyat pada zaman revolusi fisik. Dr.
Ferdinand Lumban Tobing pada masa itu memangku jabatan sebagai Menteri Penerangan Indonesia pada tahun 1953-1955. Dr. Ferdinand Lumban Tobing merencanakan pembangunan RRI di Pantai Barat Sumatera Utara dalam upaya mempercepat arus informasi.
Dalam kaitannya dengan keberadaan RRI di Sibolga dengan daerah kerja meliputi Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor 101 Tahun 1979,
29
memberikan arti penting dalam menunjang pembangunan daerah khususnya belahan Pantai Barat Sumatera Utara. Dengan memberikan perhatian dan prioritas tersebut dan sesuai dengan kemampuan pemerintah daerah Pantai Barat Sumatera Utara akan segera terangkat dan setaraf dengan daerah-daerah tingkat II lainnya di Provinsi Sumatera Utara.
Urgensi keberadaan RRI Sibolga dalam kancah pembangunan nasional di daerah tertentu dilandasi oleh historis daerah pada masa perjuangan fisik melawan penjajah mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Pada tahun 1954, Direktur Jenderal pada waktu itu dijabat oleh Maladi, mengirimkan satu set perlengkapan pemancar dan peralatan teknik lainnya ke Sibolga. Uji coba pengudaraan pemancar RRI Sibolga dimulai pada tanggal 16 April 1955 oleh RRI Pusat dan ditunjuk lah MS. Simanjuntak sebagai Kepala Stasiun RRI Sibolga yang pertama, sementara Natamidjaya yang ditugaskan RRI Pusat untuk membenahi peralatan pemancar RRI Sibolga ditarik ke RRI Pusat.
Peletakan batu pertama untuk berdirinya Kantor dan Studio RRI Sibolga dilakukan oleh Residen Tapanuli Binanga Siregar pada tanggal 10 Januari 1956 yang terletak di jalan Ade Irma Suryani No.11 Sibolga. Sementara peresmian pemakaian dilakukan oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia Soedibyo dan Direktur Jenderal Maladi pada tanggal 18 September 1957.
Dalam tahap perkembangan yang lebih layak sebagai media penerangan di tengah-tengah masyarakat, RRI Sibolga mengalami masa krisis sewaktu terjadinya peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta di beberapa bagian wilayah tanah air,
30
termasuk Sibolga sebagai daerah basis PRRI. Dengan semangat Tri Prasetya 32, karyawan-karyawan RRI Sibolga pada saat itu berusaha menyelamatkan alat-alat siaran RRI Sibolga.33 Namun dengan keterbatasan tenaga dan kemampuan, akhirnya pemancar yang berkekuatan 300 watt dan 1 kilowatt diboyong oleh PRRI/Permesta ke gunung yang dijadikan sebagai alat propaganda.
Walaupun dalam keadaan darurat dengan diangkutnya dua pemancar oleh PRRI/Permesta, karyawan-karyawan angkasawan RRI Sibolga dengan penuh rasa tanggung jawab tetap melakukan operasional siaran, mengujungi khalayak pendengarnya walaupun dengan mempergunakan peralatan yang serba sederhana yang dirakit sendiri dengan peralatan bekas.34 Walaupun segi peralatan sangat menyedihkan, namun mampu mempertahankan tetap di udara. Kepala Stasiun RRI Sibolga, MS. Simanjuntak melakukan kontak dan konsultasi dengan Kepala RRI Nusantara III Medan yang pada waktu itu dijabat oleh Loetan Soetan Toenaro.
Pada akhir tahun 1959 diturunkan satu tim yang dinamakan Tim Normalisasi Pertama ke RRI Sibolga. Tim ini melakukan pendataan terhadap semua peralatan yang diperlukan, Tim Normalisasi Pertama ini melaporkan permasalahan RRI Kota Sibolga. Kepala RRI Kota Medan kembali menurunkan Tim Normalisasi kedua. Tim Normalisasi kedua ini melakukan pembenahan. Akhirnya tahun 1959, RRI Sibolga kembali mengudara secara normal sampai saat ini.
32Tri Prasetya merupakan semboyan di dalam RRI.
33Darmawati, 2004, Profil dan Lintas Sejarah Berdirinya RRI Sibolga serta Kiprah dan Wujud Radio Publik Milik Bangsa dan Negara, hal.5.
34Tengku Luckman Sinar, Loc.cit.,
31
Pada Tahun 1965 pada pemberontakan G-30S/PKI, RRI Sibolga tetap berada di udara seperti biasa dan tidak menerima pengaruh-pengaruh dari luar, dan pada masa itu RRI di daerah ini merupakan sumber berita resmi mengenai peristiwa tersebut. Pada saat masa konfrontasi pemerintah RI dengan pemerintah Malaysia tahun 1963/1964, RRI Sibolga turut aktif mengadakan siaran-siaran konfrontasi, diasuh oleh almarhum S. Matondang, H. Hutabarat dan Maruli Hutabarat.35
Pada tahun 1968 sampai sekarang RRI Sibolga tetap penyelenggaraan siaran pedesaan dengan empat jenis bahasa masing-masing yaitu: bahasa Indonesia, bahasa pesisir Sibolga, bahasa Tapanuli dan bahasa Nias. Pada tahun 1971, RRI Sibolga aktif menyiarkan kegiatan pemilu dan kegiatan ini berlanjut setiap lima tahun tepatnya setiap pelaksanan pemilu, berikut penyiaran hasil-hasil Sidang Umum MPR.
Pada tanggal 10 Januari 1982, RRI Sibolga kembali melanjutkan pembangunan lantai II kantor dan studio yang berada di Jl. Ade Irma Suryani no.11.
Sibolga dilakukan oleh Kepala RRI Sibolga pada tahun 1979-1989 dijabat oleh H.
Hutabarat BA.
2.2.1. Latar Belakang
Secara umum, RRI merupakan salah satu lembaga penyiaran radio di Indonesia yang menyandang serta program siarannya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Indonesia mengatur penyelenggaran penyiaran di dalam
Undang-35Ibid.,
32
Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.36 Pengaturan tentang penyiaran di Indonesia bermula sejak sebelum kemerdekaan, dengan dikeluarkannya Radiowet oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934. Secara tidak langsung peraturan tersebut dijadikan pijakan untuk pendirian NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschaapij) yang memperoleh hak-hak istimewa dari pemerintah Hindia Belanda.37
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pengaturan radio siaran swasta berkembang seiring dengan bermunculannya radio-radio siaran dan radio komunikasi terutama pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah.
Keberadaan RRI Sibolga sebagai alat perjuangan bangsa, tetap melekat di hati sanubari para Angkasawan RRI Sibolga. Dengan penuh kepercayaan diri terhadap keberadaannya di tengah-tengah kancah pembangunan, maka pada periode pemerintahan Orde Baru dengan era pembangunannya yang sampai saat ini kita kenal dengan program Repelitanya, RRI Sibolga menjelang tahun 1975 menerima dropping pemancar berkekuatan 5 KW dari RRI Pusat yang ditempatkan di lokasi pemancar lama di jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing No.4 Sibolga.
Sesuai dengan kedudukannya sebagai alat perjuangan bangsa yang berperan untuk menyampaikan penerangan dengan cepat kepada masyarakat, maka pada tahun
36Lili Rasjidi, 2002, Pengantar Filsafat Hukum, Bandung: Mandar Maju, hal.34.
37Harian Radio, http://www.jakarta.go.id, diakses tanggal 2 Juli 2021.
33
1976/1977 Stasiun RRI Sibolga kembali mencatat lembaran baru dalam pengembangan yaitu dengan diperolehnya proyek untuk pembangunan kompleks pemancar baru dan perumahan petugas operator pemancar yang berlokasi di jalan Gatot Subroto Sarudik.Kompleks pemancar itu selesai dibangun pada akhir bulan Februari 1977, sekaligus memindahkan pemancar 5 KW dari jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing ke kompleks pemancar baru di Sarudik. Langkah selanjutnya dari pembenahan/pemindahan pemancar RRI Sibolga dilakukan pada tahun 1977 yaitu memindahkan pemancar 1 KW yang masih berada di jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing ke Kompleks pemancar baru di jalan Gatot Subroto Sarudik.
Dulu pemancar yang di pindahkan dari jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing ke jalan Gatot Subroto Sarudik itu pemancar Gelombang Pendek – Short Wave (SW) 1 KW itu sudah rusak dan tidak dipakai lagi sampai sekarang.38 Akhirnya berganti dengan pemancar Gelombang Menengah – Middle Wave (MW) dan sampai saat ini dipergunakan pemancar Freguency Modulation (FM).39 Kompleks pemancar baru yang berada di jalan Gatot Subroto Sarudik sampai sekarang tidak digunakan lagi atau sudah rusak, tower pemancarnya sudah dipindahkan di gunung Parombunan.40 RRI Sibolga juga menerima dropping peralatan Studio Aquiment.
Selama 2 tahun penuh siaran RRI Sibolga secara tunggal merajai angkasa Tapanuli dan Nias dan kunjungan masyarakat ke RRI Sibolga sejak pagi, siang, dan
38Wawancara dengan bapak Edi Saputra pada tanggal 5 April 2021 di RRI Sibolga.
39Wawancara dengan bapak Harison Simatupang pada tanggal 29 Maret 2021 di RRI Sibolga.
40Wawancara dengan bapak Edy Purwadi Silitonga pada tanggal 24 Maret 2021 di RRI Sibolga.
34
malam tidak pernah sepi sehingga seluruh karyawan yang lajang disediakan tempat tinggal di studio, selama 2 tahun itu RRI Sibolga mulai mempunyai nama di jajaran RRI di Indonesia. Mulai Tahun 1989, RRI Sibolga secara rutin menyelenggarakan Panggung Gembira/Panggung Budaya yang pelaksanaannya setiap tahun.
Pada tahun 1997, dengan proses yang cukup panjang Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) akhirnya menyetujui Rancangan undang tentang Penyiaran yang kemudian disahkan oleh Presiden menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran pada tanggal 29 September 1997.41 Pada masa berlakunya, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran diwarnai dengan pro kontra terutama berkaitan dengan lembaga pengawas Badan Pertimbangan dan Pengendalian Penyiaran Nasional (BP3N) dan penghapusan Departemen Penerangan.
Adanya BP3N dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran dianggap sebagai sebuah badan otoriter yang mengatur mengenai penyiaran.42 Sedangkan penghapusan Departemen Penerangan menimbulkan masalah baru, yaitu tidak adanya kontrol dari Pemerintah terhadap media, sehingga media dengan bebas mengatur mengenai opini publik, selain itu juga banyaknya pengangguran yang dihasilkan dari pembubaran Departemen tersebut. Penghapusan Badan Pertimbangan dan Pengadilan Penyiaran Nasional (BP3N) serta Departemen
41Judhariksawan, 2010, Hukum Penyiaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal.7.
42Masduki, 2007, Regulasi Penyiaran Dari Otoriter ke Liberal, Yogyakarta: LKIS, hal. 4
35
Penerangan pada tahun 1999 menyebabkan RRI salah satu lembaga yang berada di bawah departemen tersebut tidak memiliki hukum.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran saat itu dipandang tidak sesuai lagi dengan perkembangan penyelenggaraan penyiaran di Indonesia.43 Oleh sebab itu, pada tahun 2002 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran.44
Reformasi di Indonesia yang memunculkan perubahan pada sistem pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan status RRI Sibolga. Tuntutan perubahan untuk pembaharuan organisasi RRI sebagai media massa yang dapat mengakomodir semua pihak, golongan, kepentingan secara independen, telah membuat sebagian besar pemimpin RRI yang masih memiliki hati dan idealisme untuk bersama-sama berani membuat penetapan diri tentang bagaimana eksistensi RRI di masa mendatang.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2000 tentang pendirian Perusahaan Jawatan (Perjan) menjadikan status RRI sebagai Perjan.
Perjan adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkarakteristik tidak mencari keuntungan, memberikan pelayanan kepada publik, merupakan bagian dari suatu departemen pemerintah, dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab
43A. S. Haris Sumadiria, 1950, Hukum dan Etika Media Massa: Panduan Pers, Penyiaran, dan Media Siber, Bandung, Penerbit: Simbiosa Rekatama Media, hal.10.
44Denico Doly, Urgensi Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Jurnal Negara Hukum: Membangunan Hukum untuk Keadilan dan Kesejahteraan, Vol.4, Nomor 2, November 2013, hal.216.
36
langsung kepada Menteri atau Direktur Jenderal Departemen yang bersangkutan dan status karyawannya adalah Pegawai Negeri.
Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran RRI saat ini berstatus Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 menegaskan bahwa RRI adalah LPP yang bersifat independen, netral, tidak komersil, dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat.
Perubahan ini menyebabkan pergeseran peran RRI dari semula berorientasi pada pemerintah menjadi berorientasi ke publik. RRI sebagai LPP juga dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 Tahun 2005 penjabaran lebih lanjut dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002.
Perubahan RRI Sibolga menjadi LPP telah melampui proses yang cukup panjang, dimulai dari semangat perubahan yang berawal dari internal RRI yang menganggap bahwa sudah tidak masanya lagi sebuah radio sebagai corong pemerintah, sosialisasi perubahan ke pihak eksternal, mengadakan kajian-kajian bersama dengan pakar hukum dan komunikasi, dan dengan pemantapan status RRI agar disahkan dalam Undang-Undang, sampai akhirnya RRI saat ini menyandang status sebagai LPP.
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang bersifat independen, netral, tidak
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang bersifat independen, netral, tidak