• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 41-56

B. Budaya Mappacci Dalam Adat Perkawinan bugis Kabupaten

Mappacci berasal dari kata pacci, yaitu sejenis tumbuhan yang dipergunakan daunnya untuk pemerah kuku. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan “Daun Pacar/Inai (Lowsinia Inermis), tumbuhan kecil yang daunnya dipakai untuk pemerah kuku

Perkataan paccing dapat ditemukan maknanya pada syair Bugis berikut:

Dua kuala Sappo = Dua yang kujadikan pagar

Unganna Panasae = Bunga/kembang nangka

Belo Kanuku = Hiasan kuku

Kalau hanya bersandar pada segi harifahnya saja, tak ada arti penting yang disajikan syair ini, olehnya itu harus diteliti baris demi baris tentang kemungkinan makna yang dikandungnya.

a. Dua yang kujadikan pagar. Pagar dianggap sebagai pembatas, penentuan kepunyaan atau penjaga diri. Kalimat ini dapat diberi makna sementara, yaitu: “dua hal yang saya jadikan penjaga diri”.

b. Bunga nangka. Bahasa bugisnya unganna panasae. Tidak mungkin bunga nangka dapat dijadikan penjaga diri. Bunga nangka, disebut dalam bahasa bugis bunga panasa sama artinya dengan kata lempu. Kata ini bila diucapkan dengan memberikan tekanan pada akhir suku kedua, akan berbunyi lempu’ dan

lempu’ berarti jujur atau kejujuran. Maka dapat diberi arti sementara “kejujuran”.

c. Belo kanuku atau hiasan kuku. Sama dengan makna baris kedua, hiasan kuku tak mungkin menjadi penjaga diri. Mungkin ada maksud lain atau arti sinonimnya yang terdapat dalam bahasa Bugis. Dapat ditemukan bahwa Belo kanuku, adalah alat untuk menghias atau memerahi kuku, dalam bahasa Bugisnya disebut pacci. Maka dapatlah diberikan arti sementara atas baris ketiga ini dengan pacci yaitu bersih, suci dan tak ternoda.41

Berdasarkan dari keterangan diatas, dapatlah disusun maknanya, yaitu “dua hal yang saya jadikan penjaga diri, kejujuran dan kesucian”. Jadi kesucian dan kejujuran merupakan benteng dalam penghidupan, karena kesucian adalah pancaran kalbu yang menjelma dalam kejujuran. Atau makna lainnya adalah hanya dua orang yang dapat dijadikan sahabat, yaitu “orang jujur dan orang yang bersih lahir dan batin.

Istilah mappacci dalam masyarakat meliputi tiga bahasa, pertama Makassar (mappacci), mandar (malattigi), bugis Pinrang (mappacci).

Makna lain dari kata mappacci yaitu:

1) Mappacci (mappassadia cinna) artinya mempersiapkan keinginan.

41

2) Mappacci (mappasilarongeng cinna) artinya menghubungkan keinginan. 3) Mappacci (mappasiruntu cinna) artinya mempertemukan keinginan.42

Dari ketiga makna di atas dapatlah diketahui bahwa apabila seorang laki-laki sudah memiliki keinginan atau kemauan untuk hidup berumah tangga maka ia harus mempersiapkan diri secara matang, jasmani maupun rohani dan mampu untuk memberi nafkah lahir batin. Sebagaimana pesan orang tua “Naullepi mankkelilingi dapurengnge wekka pitu” artinya ia harus mampu mengelilingi dapur tujuh kali. Hal ini mengandung makna yang mendalam bahwa seseorang yang akan hidup berumah tangga, harus mampu menyediakan makanan untuk menghidupi keluarganya setiap hari. Disimbolkan dengan angka tujuh, dimaksudkan jumlah hari dalam seminggu. Apabila tahapan ini telah ditempuh maka pihak keluarga pria berusaha mengadakan penjajakan, menghubungi keluarga pihak wanita, apabila mendapat respon positif, dilanjutkan proses

madduta (melamar), setelahnya proses mappettu ada (kesepakatan bersama). Inilah yang dimaksud mappasirunttu cinna (mempertemukan keinginan) kedua belah pihak untuk hidup berumah tangga, ditandai dengan ikatan perjajian. Perkembangan selanjutnya, istilah mappacci lebih sering dikaitkan dengan salah satu rangkaian kegiatan dalam proses perkawinan masyarakat Bugis Pinrang. Mappacci lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu syarat yang wajib dilakukan oleh mempelai perempuan, terkadang sehari, sebelum pesta

42

walimah pernikahan. Biasanya, acara mappacci dihadiri oleh segenap keluarga untuk meramaikan prosesi yang sudah menjadi turun temurun ini.43

Dalam prosesi mappacci, terlebih dahulu pihak keluarga melengkapi segala peralatan yang harus dipenuhi, seperti; Pacci (biasanya berasal dari tanah arab, namun ada pula yang berasal dari dalam negeri), daun nangka, daun pisang, bantal, sarung sutera, lilin, dan sebagainya.

Mappacci atau tudang penni dahulu dilakukan diluar rumah masing-masing kedua mempelai. Untuk memasuki upacara ini dahulu diadakan upacara pengambilan pacci yang disebut “Mallekke Paccing” yang dilakukan pada sore hari. Apabila yang akan melaksanakan perkawinan adalah bangsawan maka tempat mallekke pacci dirumah raja, tetapi setelah zaman kerajaan berlalu, tempat

mallekke pacci dirumah orang yang berkedudukan (pejabat) yang sebelumnya telah dimintai persetujuannya. Rombongan pallekke paccing ini terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian adat lengkap, iring-iringan rombongan terdiri dari:

1. Pembawa tempat sirih.

2. Pembawa hidangan kue-kue adat lise bosara dengan minuman dan peralatannya untuk suguhan raja atau pejabat negeri.

3. Pembawa tempat pacci diusung dan dipayungi dengan pallellu.

4. Pembawa alat-alat bunyi-bunyian berupa gendang, gong, ana‟ baccing dan

sebagainya.44

43

Harino Solthan, Kepala kelurhan Data. Wawancara, Pinrang, 09 September 2017. 44

Namun dewasa ini dengan adanya perubahan situasi dan kondisi, acara

mallekke pacci jarang dilaksanakan. Demikian pula dengan pembacaan barasanji atau berdzikir tidak lagi dilaksanakan sebelum upacara mappacci. Hal ini dipertegas oleh pendapat informan Raja berikut:

Dahulu pembacaan dzikir bersamaan dengan upacara mappacci yaitu setelah doa selamat penghulu syara’ berdzikir dan saat tiba pada bacaan asyaraka orang-orang kemudian berdiri dan mulailah secara berturut-turut membubuhi pacci ditelapak tangan pengantin yang duduk diatas lamming. Hadirin, utamanya orang-orang yang berkedudukan (pejabat) didahulukan untuk memberi pacci pada pengantin.45

Makna dan Tujuan Mappacci Tradisi mappacci secara simbolik menggunakan daun paccing bertujuan agar calon mempelai dapat membersihkan diri dari sifat tercela dalam pandangan masyarakat serta ucapan dan tindakan yang tidak diridhai oleh Allah swt. Di mana hal tersebut biasa diperbuat sewaktu remaja sampai menjelang perkawinannya. Seperti penjelasan oleh

Kedua calon mempelai diibaratkan berhijrah dari kehidupan pra nikah kepada kesiapan untuk hidup berumah tangga, yang perlu dilandasi dengan kesucian. Mappacci ati (ersih hati), mappacci nawa-nawa (bersih pikiran), mappacci gau (bersih tingkah laku).46

Calon mempelai diharapkan mengambil teladan dari orang yang dipersilahkan untuk meletakkan pacci pada kedua tangannya, baik dari orang tua, tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Demikian pula calon mempelai diharapkan untuk senantiasa berdoa memohon keselamatan dari Allah swt agar proses perkawinan ini dapat terlaksana dengan baik serta memohon kepadanya agar dalam kehidupan rumah tangganya kelak dapat hidup bahagia, sejahtera lahir batin. Diharapkan pula kesiapannya untuk menerima amanah hidup berumah tangga. Sebagai suami harus

45

Harino Solthan, Kepala kelurhan Data. Wawancara, Pinrang, 09 September 2017. 46

Sudirman, Kepala KUA Kec Duampanu Kab.Pinrang, Wawancara, Pinrang 20, September 2017.

menjalankan hak dan kewajibannya kepada istrinya, demikian pula sebaliknya. Hal ini disimbolkan dengan ditegadahkannya kedua tangan.47

Dokumen terkait