• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Patriarki Secara Umum

Patriarki adalah tata kekeluargaan yang sangat mementingkan garis turunan bapak. Secara etimologi, patriarki berkaitan dengan sistem sosial di mana ayah menguasai seluruh anggota keluarganya, harta miliknya, serta sumber-sumber ekonomi. Dalam sistem sosial, budaya (juga keagamaan), patriarki muncul sebagai bentuk kepercayaan atau ideologi bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan; bahwa perempuan harus dikuasai bahkan dianggap sebagai harta milik laki-laki (Retnowulandari, 2010: 17).

Sylvia Walby (1993), patriarki itu bisa dibedakan menjadi 2: patriarki privat dan patriarki publik. Inti dari teorinya adalah telah terjadi ekspansi wujud

patriarki, dari ruang-ruang pribadi dan privat seperti keluarga dan agama ke

wilayah yang lebih luas yaitu negara. Ekspansi ini menyebabkan patriarki terus menerus berhasil mencengkram dan mendominasi kehidupan laki-laki dan perempuan (Retnowulandari, 2010: 18).

Keluarga patriarkat adalah salah satu perubahan sosial yang penting yang membuka jalan bagi pembagian masyarakat menjadi majikan dan budak, serta menjadi batu permata dalam struktur kerajaan kuno yang dibangun di atas kolonialisasi (Nawal, 2011: 199).

Mesir, sebuah Negara di kawasan Dunia Arab yang merupakan salah satu Negara dengan budaya patrilineal yang masih sangat kuat, marjinalisasi bagi kaum perempuan tampah terlihat dalam praktek kehidupan sosial dan politik. Perempuan sepanjang sejarah tidak pernah di perbolehkan untuk terlibat dalam masalah politik. Negara Mesir, walaupun dalam undang-undang telah memperbolehkan keterlibatan perempuan, namun budaya yang ada di kawasan ini sangat bertolak belakang. Budaya patrilineal Dunia Arab banyak disebabkan oleh penafsiran agama yang konservatif.

Menurut Gloria Ada Fwangyil dalam Jurnal Afrrev Laligens, Vol.1 (2), April-July, 2012 berjudul Cradle to Grave: an Analysis of Female Oppression in Nawal El Saadawi‟s Woman at Point Zero bahwa perempuan mengalami penindasan dari laki-laki dan penekanan pada berbagai tahap kehidupan.

Sayangnya, penindasan yang dialami oleh perempuan secara mendalam tertanam dalam budaya masyarakat yang menjamin kelanjutan dari kontrol patriarki.

Situasi ini membuat perempuan tidak dapat mencari cara membebaskan diri mereka sendiri karena hal itu akan sama saja dengan menantang tradisi dan

kebiasaan orang-orang lama. Penindasan terhadap perempuan adalah masalah yang masih ada di masyarakat saat ini. Fakta bahwa kita hidup di dunia modern dengan kemajuan teknologi monumental belum mengubah kenyataan bahwa perempuan mengalami diskriminasi dan ditekan karena struktur patriarkal.

Keyakinan budaya, tradisi dan agama dari sebagian besar masyarakat lebih memperhatikan patriarki sehingga memastikan kelanjutan dari dominasi dan penindasan perempuan. Setiap usaha oleh perempuan untuk memprotes ketidakadilan dan diskriminasi dijatuhkan oleh rakyat pria sama saja dengan usia menantang tradisi panjang dan budaya yang dianggap penistaan. Oleh karena itu ia dibuat untuk menerima posisi kelas bawahan dan kedua. Perempuan telah membuktikan keberanian mereka dalam sosial, bidang ekonomi dan politik masyarakat dengan membuat kontribusi yang berarti untuk pengembangannya.

Pada beberapa masyarakat bahkan ada sebuah anggapan bahwa anak laki-laki lebih berharga dari pada anak perempuan sehingga anak laki-laki lebih disukai daripada anak perempuan. Dalam konstruksi budaya Jawa misalnya, muncul kecenderungan boy preference (lebih berpihak pada anak laki-laki).

2. Patriarki di Mesir Menurut Nawal as-Sa‟dawi

Kebudayaan Mesir pada awalnya sangat menghargai perempuan. Tetapi kemudian berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik dan agama, mengelilingi perempuan, dan melahirkan budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi lemah dan tidak lebih sebagai obyek belaka.

Nawal, seorang dokter, sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya, dimana dia banyak menyaksikan ketidakadilan terhadap perempuan

Mesir. Pengalaman itu kemudian membentuknya menjadi seorang yang berjiwa progresif; dalam upaya pembebasan perempuan dari ketidakadilan.

Pengalamannya sebagai dokter, membantunya dan menjadi rujukan dalam menafsirkan dan menerjemahkan kembali budaya patriarki di Mesir. Nawal melihat bahwa praktek Khitan terhadap anak perempuan, misalnya, dilakukan dengan alasan agar perempuan lebih bisa menahan seksualitasnya. Dengan demikian perempuan tidak akan berselingkuh; dan lebih jauh lagi dimaksudkan agar perempuan lebih berkonsentrasi dalam ruang domestik. Menurut Nawal hal ini tidak bisa diterima. Mengapa seksualitas perempuan harus dipangkas sementara laki-laki tidak. Pada kesempatan lain, Nawal melihat seorang anak perempuan yang meninggal karena komplikasi yang diakibatkan dari praktek ini. Dari berbagai peristiwa seperti itu, Nawal melakukan kajian ilmiah dan kemudian mengaitkan dan menjelaskannya pada ruang budaya.

Pada masanya, budaya patriarki senantiasa memberi batasan yang dikenakan oleh penguasa kolonial pada perempuan pedesaan. Namun, Nawal masih bisa menempuh studi di Universitas Kairo dan lulus pada tahun 1955 dengan meraih gelar Dokter dalam Psikiatri. Nawal menjadi lulusan terbaik dari 50 orang perempuan di antara ratusan mahasiswa lelaki pada tahun kelulusannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nawal membuka praktek psikiatri mengabdi pada negara. Ketika bekerja sebagai dokter di tempat kelahirannya Kafr Tahla, Nawal mengamati kesulitan dan kesenjangan yang dihadapi oleh perempuan pedesaan. Setelah mencoba untuk melindungi salah satu pasiennya dari kekerasan dalam rumah tangga, Nawal dipanggil kembali ke

Kairo. Nawal akhirnya menjadi Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir (Sariwati, 2014: 1).

a. Patriarki dalam “Perjalananku Mengelilingi Dunia”

Pada kisahnya yang pertama, sangat terlihat sekali bahwa Nawal sangat menentang patriarki. Untuk dapat pergi ke luar negeri, seorang perempuan harus mendapat izin tertulis dari suaminya dan harus disertakan pada paspor.

"Dan saya beritahu Anda bahwa menurut hukum, saya boleh bepergian tanpa izin suami sebab saya perempuan lajang, tanpa suami," kata Nawal kepada polisi di jalan masuk bandara Mesir.

Tetapi, polisi itu ngotot menanyakan surat bukti bahwa Nawal lajang. Nawal lalu menunjukkan surat cerainya dan polisi itu berkata,"Mengapa Anda tidak memberitahu saya dari awal bahwa Anda telah dicerai?”.

"Aku belum pernah dicerai," jawab saya dengan marah.

"Saya bercerai”(Nawal, 2006: 8-9).

Sebagai anak-anak saya merasa pasti akan dua hal: pertama bahwa saya adalah perempuan bukan laki-laki seperti saudara laki-laki saya dan kedua bahwa kulit saya adalah cokelat bukan putih seperti ibu saya. Dengan dua fakta ini, saya menyadari sesuatu yang bahkan lebih penting: bahwa masing-masing dari kedua sifat ini sudah cukup untuk mengutuk masa depan saya untuk gagal (Nawal, 2006: 248).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa di negara Mesir, harga seorang perempuan dinilai dari tubuhnya, bukan kecerdasannya.

Saya ingat akan sebuah artikel yang saya baca di sebuah koran Mesir tahun lalu di mana seorang penulis perempuan telah mengatakan bahwa ada beberapa syarat tertentu yang membuat orang dapat menduduki posisi hakim, yang pertama adalah harus laki-laki (Nawal, 2006: 250).

Negara Mesir laki-laki selalu berada dipuncak suatu susunan, dan perempuan dianggap tidak layak mendudukinya.

b. Patriarki dalam “Perempuan dalam Budaya Patriarki”

Nawal mengemukakan dalam bukunya The Hidden Face of Eve yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perempuan dalam Budaya Patriarki, bahwa konsep tentang agama berkembang di dalam pikiran manusia, jauh sebelum agama-agama monoteis (beragama tunggal) muncul.

Orang-orang Mesir Kuno, misalnya telah memiliki agama mereka sendiri sebelum agama yahudi masuk ke dalam lingkungan mereka. Keyakinan agama Mesir Kuno dewa-dewa perempuan berdampingan dengan dewa-dewa laki-laki bersama-sama berkuasa atas nasib kehidupan mereka. Naiknya perempuan pada tempat yang tinggi seperti diduduki dewa-dewa itu adalah cerminan kedudukan mereka dalam masyarakat sebelum munculnya sistem yang dicirikan oleh keluarga patriarkat, kepemilikan tanah, dan pembagian masyarakat menjadi kelas-kelas sosial. Dengan lahirnya sistem ini, kedudukan perempuan merosot dan berlanjut ke masa-masa sesudahnya (Murtanto, 2015: 6).

Nawal dalam novelnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul Perempuan dalam Budaya Patriarki, dia mengungkap rasa penasarannya mengenai Tuhan yang dianggap oleh kebanyakan orang bahkan menjadi suatu budaya bahwa Tuhan adalah suatu yang mudzakar, mudzakar itu sendiri bisa dikatakan sebagai laki-laki. Nawal merasa keberatan bahwa Tuhan disebut mudzakar dan mengapa buka mu‟anats,

Aku bertanya kepada Ayahku: “Apakah Allah memiliki organ laki-laki?” Ayah menjawab dengan tenang: “Allah itu laki-laki tetapi tidak memiliki organ seksual karena Ia hanyalah ruh, tidak memiliki tubuh.”, “Bagaimana bisa sebuah ruh adalah laki-laki? Apakah ada ruh laki-laki dan ruh perempuan?” Ia menjawab: “Ruh adalah ruh, tidak laki-laki,

tidak perempuan.”, “Mengapa Bapak mengatakan bahwa Allah laki-laki?”, “Allah adalah ruh dan Ia tidak laki-laki dan juga tidak perempuan.” Kejarku: “Mengapa semua ayat al-Qur‟an menggunakan kata laki-laki ketika berbicara tentang Allah?”, “Karena tidaklah pantas untuk menunjukkan Allah atau berbicara tentang-Nya dalam kalimat perempuan.”,

“Berarti maksud Bapak adalah bahwa jenis kelamin perempuan tidak layak dan harus menderita karena kesalahan, kegagalan atau noda, sementara hal ini tidak terjadi pada laki-laki?”, “Ya, keunggulan laki-laki atas perempuan adalah alasan sebenarnya di belakang fakta bahwa para nabi selalu menggunakan kata laki-laki ketika menunjuk kepada Allah dan berbicara tentang-Nya. Semua nabi adalah laki-laki dan kita tidak pernah mendengar ada nabi perempuan. Orang pertama di bumi adalah Adam yang ditempatkan di atas Hawa karena ia adalah asal-usul ras manusia, lebih kuat dan memberi kehidupan pada Hawa dari salah satu tulang rusuknya. Sementara Hawa mendorongnya untuk memakan buah terlarang dan tidak mematuhi perintah Allah.”. Aku benar-benar heran dan tidak menyerah untuk bertanya: “Apa yang Bapak katakan agak bertentangan.

Bagaimana mungkin Hawa yang lahir dari tulang rusuk tubuh Adam serta lebih lemah daripada Adam tiba-tiba memperoleh kekuatan yang membuatnya mampu mempengaruhi Adam sehingga ia mendengar Hawa dan melanggar perintah Allah.

Berarti perannya positif dan kepribadiannya lebih kuat daripada Adam yang pasif dan mau mematuhi ucapannya.”,

“Ya, namun Hawa bersifat positif bila berkenaan dengan kejahatan.” (Nawal, 2011: 208-209).

c. Patriarki dalam “Perempuan di Titik Nol”

Nawal, dalam karyanya pada umumnya, dan khususnya di Women at Point Zero, mengambil tanggung jawab untuk menumbangkan kekuasaan

patriarkal dan kekuasaan yang mengatur masyarakat Mesir dengan menciptakan perempuan generasi baru, yang tidak menerima untuk dihancurkan dalam nama tradisi dan Islam. Nawal mencerca institusi perkawinan, perempuan Muslim mengenakan jilbab dan sunat perempuan, yang baginya berkaitan dengan dominasi kelas, perbudakan dan patriarki. Tujuannya adalah untuk

merehabilitasi perempuan, untuk memberi mereka suara karena saat Nawal mengatakan, “mereka terkubur atas nama sopan santun, dan saya mencoba untuk menarik mereka keluar dari kuburan itu." Karya milik Nawal menggambarkan tangga yang berbeda yang Firdaus naiki untuk mencapai kebebasan dan realisasi diri dengan cara kekerasan. Cerita ini menelusuri kehidupan Firdaus, dari masa mudanya di pedesaan Mesir kebrutalan ayahnya dan dengan semua masyarakat patriarkal yang sama memaklumi perilaku ayahnya, klitorisnya, pendidikannya-realisasi kekuatan dari uang, kekuatan tubuhnya dan penemuan kembali jati dirinya (Konate: 2006, dalam situs anthroglobe.org diakses pada 6 Desember 2016).

Dalam bukunya yang berjudul Perempuan di Titik Nol, Nawal menjelaskan ketidakadilan budaya patriarki yang berjalan di Mesir, perempuan dianggap makhluk yang selalu bersalah, dan laki-laki dianggap makhluk yang tidak memiliki cela, bahkan memukul perempuan tidaklah berdosa, dan tidak ada hukum yang dapat melindungi perempuan.

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah Paman. Tetapi Paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukul istrinya, dan istrinya menambahkan bahwa Paman pun sering kali memukulnya. Saya katakan bahwa, bahwa Paman adalah seorang Syekh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan karena itu tidak mungkin dia memiliki kebiasaan memukul istrinya. Dia menjawab, bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istrinya” (Nawal, 2014: 70).

Seorang istri dipukuli oleh suaminya dianggap wajar dan tidak ada masalah. Bahkan dianggap sebagai suatu budaya yang biasa. Dari sini terlihat

bahwa perempuan selalu ditindas, dan dianggap sebagai makhluk yang tidak berharga.

“Betapapun juga suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi semua lelaki yang saya kenal, tiap orang di antara mereka telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat saja; untuk mengangkat tangan saya dan menghantamkannya ke muka mereka”

(Nawal, 2002: 149).

Kutipan di atas merupakan sepenggal dialog yang terdapat pada novel Perempuan di Titik Nol yang ditulis Nawal as-Sa‟dawi. Novel ini mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Ketika perempuan masih mengalami ketimpangan hak dan tidak tidak pernah mendapatkan hak yang sama seperti yang didapatkan laki-laki. Seperti halnya bangsa Arab, budaya patriarki menjadi salah satu dasar perdebatan akan kedudukan perempuan dalam masyarakat dan masih menuai konflik. Mengenai hak-hak perempuan yang kurang terjamin, kebebasan dalam dunia politik, serta kungkungan hierarkis suami membuat perempuan terbelakang dalam segala kesempatan, mengalami diskriminasi, kekerasan, serta kemiskinan.

“Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur” (Nawal, 2002: 26).

Hidup di tengah-tengah keluarga patriarkat sudah dirasakan oleh Firdaus sejak kecil. Hidup di tengah keluarga miskin, tak jarang Firdaus merasakan dan melihat seorang ayah diperlakukan seperti seorang raja oleh istri dan

anak-anaknya. Seorang laki-laki (ayah) diperlakukan sebagai individu nomor satu di antara individu-individu lainnya. Relasi ini menunjukkan ketidaksetaraan di dalam sebuah keluarga, bahwa di posisi inipun perempuan mengalami dampak budaya patriarki. Begitu juga dalam lingkungan sosial, tokoh Firdaus kerap mengalami ketidakadilan sosial karena ia seorang perempuan. Saat Firdaus memasuki masa remaja, ia ingin sekali belajar di Kairo mengikuti jejak pamannya. Namun, ia tidak diperbolehkan belajar di sana karena dia adalah seorang perempuan.

“Apa yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”

Lalu saya menjawab: “saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman.”

Kemudian paman tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja.

El Azhar merupakan suatu dunia yang mengagumkan dan hanya dihuni oleh laki-laki saja, dan paman merupakan salah seorang dari mereka. Dan dia adalah seorang laki-laki (Nawal, 2002: 22).

Dalam budaya patriarki, sisi laki-laki yang sangat dominan menciptakan identitas perempuan menjadi makhluk kelas dua. Akibat budaya patriarki ini sejak kecil Firdaus kerapa kali mengalami tindak kekerasan dan sewenang-wenang dari laki-laki. Ayah Firdaus adalah sosok yang ditakuti dalam keluarganya. Sebagaimana dalam budaya patriarki, ayah mempunyai peranan dominan dalam keluarga. Tak jarang Firdaus mendapatkan kekerasan dari ayahnya yang membiarkannya lapar dan membasuh kaki ayahnya apabila sedang kedinginan. Ayahnya pula yang menciptakan identitas Firdaus sebagai pelayan rumah tangga pengganti ibunya.

Pelecehan seksual kerap kali didapatkan oleh Firdaus dari pamannya sejak kecil.

“Saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak dibalik buku yang sedang Ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi paha saya”

(Nawal, 2002: 20).

Perlakuan inilah yang nantinya membentuk identitas Firdaus menjadi perempuan lacur. Ketika Firdaus memasuki usia remaja, ia dinikahkan oleh pamannya kepada seorang laki-laki bernama Syekh Mahmoud seorang laki-laki tua yang berperangai kasar dan kikir. Firdaus ditukar dengan mahar yang sangat mahal. Dalam rumah tangganya tidak jarang Firdaus mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya karena dia adalah seorang istri dan seorang perempuan.

“Pada suatu peristiwa ia memukul badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya pergi dari rumah dan pergi ke rumah paman” (Nawal, 2002: 63).

Identitas Firdaus sebagai seorang perempuan yang dianggap sebagai makhluk kelas dua membuat Firdaus pasrah menerima perlakuan kekerasan dari suaminya. Di tengah-tengah budaya patriarki kejadian tersebut dianggap lumrah, ketika seorang suami memukul istri. Bahkan pamannya berkata bahwa ia juga sering memukul istrinya. Kewajiban seorang istri ialah kepatuhan yang sempurna. Pengalaman demi pengalaman yang dialami oleh Firdaus sejak kecil memberikan pelajaran kepada Firdaus bahwa identitasnya sebagai seorang perempuan hanyalah dijadikan sebagai objek yang dapat ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. perlakuan sewenang-wenang yang diterima Firdaus mengajarkan bahwa ia juga pantas menerima sebuah kebebasan, tanpa

kontrol dan siksaan dari laki-laki. Dalam kondisinya yang miskin Firdaus lebih memilih menjalani profesinya sebagai pelacur.

Dalam mencapai kesusksesan menjadi pelacur yang bebas tersebut, Firdaus sampai pada permenungan bahwa peran laki-laki dalam budaya patriarki mempunyai peran besar membentuk tubuhnya menjadi pelacur.

“Saya tahu bahwa profesi saya diciptakan oleh seorang laki-laki. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak” (Nawal, 2002: 133).

d. Patriarki dalam “Memoar Seorang Dokter Perempuan”

Kali ini Nawal menekankan dalam Memoar Seorang Dokter Perempuan, betapa tersiksanya perempuan karna ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Aku ingin membuktikan kepada ibuku dan nenekku, bahwa aku bukanlah perempuan seperti mereka, bahwa aku tak bermaksud menghabiskan kehidupanku dengan berkurung di dapur, mengupas kentang, bawang merah dan bawang putih, membuang-buang hari-hari berharga demikian rupa, agar suamiku dapat menikmati makan dan terus makan (Nawal, 2005: 18).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa perbedaan gender yang selama ini dialaminya ingin dibantahnya.

Aku ingin menunjukkan kepada ibuku bahwa aku lebih pandai daripada saudara laki-lakiku. Aku harus lebih pandai dari lelaki manapun dan bahwa aku dapat melakukan setiap tindakan yang dikerjakan oleh ayahku, bahkan masih banyak lagi (Nawal, 2005: 18).

Nawal berpendapat, ilmu pengetahuan adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa perempuan layak mendapatkan kesetaraan gender.

Mengapa sebenarnya, ibuku selalu mengadakan pembedaan-pembedaan tajam antara kakak lelakiku dan aku, menggambarkan seorang laki-laki seperti seorang dewa, yang

harus kulayani di dapur selama hidupku? Dan mengapa pula masyarakat sekelilingku selalu mencoba meyakinkan bahwa kelaki-lakian adalah unggul dan merupakan kehormatan, sementara kewanitaan berarti kelemahan dan sesuatu yang memalukan? (Nawal, 2005: 22).

Kutipan di atas Nawal menjelaskan bahwa negara Mesir masih kental dengan perbedaan gender yang membelenggu kaum perempuan untuk merasakan kebebasan dalam bertindak bahkan berfikir, seolah dalam meanset perempuan diprogram bahwa laki-laki adalah dewa yang selalu dilayani.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan kepadaku bahwa perempuan sama dengan lelaki sedangkan lelaki menyerupai binatang (Nawal, 2005: 30).

Nawal memaparkan, perempuan dapat unggul dari laki-laki dengan ilmu pengetahuan. Apabila perempuan memiliki otak yang cerdas, maka ia bisa mengungguli laki-laki, dan perempuan dapat lebih terhormat dibanding dengan laki-laki.

“Mengapa kehidupan tak berjalan sebagaimana mestinya?

Mengapa tak terdapat pemahaman yang lebih besar terhadap kebenaran dan keadilan? Mengapa para ibu tak mengakui bahwa anak perempuan sama saja dengan anak laki-laki atau mengapa lelaki tak mau mengakui bahwa anak perempuan sebagai orang yang sederajat dan sebagai mitra, mengapa masyarakat tak mengakui hak seorang perempuan untuk hidup normal dengan menggunakan otak ataupun tubuhnya”

(Nawal, 2005: 86).

Nawal yang terkenal sebagai feminis yang aktif menggugat kekuasaan lelaki, budaya patriarki, kolonial negara dan agama, dalam teks Wajhu al-A’ri lil Mar’ah al-Arabiyyah tampaknya Nawal ingin mencoba

untuk membebaskan kaum perempuaan dari berbagai bentuk pelecehan, diskriminasi, dan marjinalisasi yang disebabkan oleh sistem patriarkat yang berkelas-kelas didalam masyarakat manusia secara totalitas. Kebudayaan Islam,

atau kebudayaan Arab bukanlah satu-satunya kebudayaan yang menjadikan perempuaan sebagai barang dagangan atau budak belian, karena agama masehi dan kebudayaan Eropapun melakukan hal yang sama bahkan lebih kejam, mereka melakukan diskriminasi ataupum segala bentuk penindasan terhadap kaum perempuaan (Khofifi, dalam wordpress.com diakses 16 Mei 2016).

Nawal melihat budaya ketidakadilan di Mesir telah memasung perempuan dan menjebaknya ke dalam keterpurukan. Sebagai contohnya, seorang suami yang menceraikan isterinya, karena mau menikahi seorang gadis, dianggap tidak salah dan justru isteri yang salahkan, karena tidak mau berhias.

Dari kesenjangan budaya seperti inilah Nawal mencoba mencari benang merah dan merajutnya ke dalam budaya yang adil terhadap perempuan ke dalam ranah sosio-kultur dan ekonomi-politik. Setelah membahas panjang lebar kesenjangan yang dialami perempuan Nawal menyimpulkan bahwa dari sejarah yang tidak adil menimbulkan budaya yang meminggirkan perempuan. Budaya yang menganggap perempuan semata-mata sebagai alat untuk pencapaian materi.

Dari kesenjangan budaya seperti inilah Nawal mencoba mencari benang merah dan merajutnya ke dalam budaya yang adil terhadap perempuan ke dalam ranah sosio-kultur dan ekonomi-politik. Setelah membahas panjang lebar kesenjangan yang dialami perempuan Nawal menyimpulkan bahwa dari sejarah yang tidak adil menimbulkan budaya yang meminggirkan perempuan. Budaya yang menganggap perempuan semata-mata sebagai alat untuk pencapaian materi.

Dokumen terkait