2. Wadah Karboit (10 liter)
3.4.4 Budidaya Thalassiosira sp. Skala Laboratorium Skala Laboratorium
Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), kultur Thalassiosira sp. merupakan hasil isolasi Thalassiosira sp., yang dikultur atau ditumbuhkan dalam
Skala Intermediate Skala Massal
Jenis Pupuk Dosis Pemakaian Jenis Pupuk Dosis Pemakaian
Na2SiO3(Silikat) 2–3 ml Na2SiO3(Silikat) 5–10 ml
KNO3 20–30 gr KNO3 50–80 gr
NPK 50–60 gr NPK 150–170 gr
keadaan aseptik. Untuk melakukan kultur Thalassiosira sp., ini harus digunakan alat, bahan dan lingkungan yang steril.
Dalam menyiapkan bibit Thalassiosira sp., ruangan laboratorium di PT. Esaputlii Prakarsa Utama, Barru bibit sudah ada monospesies (murni) jadi tidak menggunakan teknik pengisolasian untuk mendapatkan jenis Thalassiosira sp., murni. Hasil kultur murni didapatkan bibit berasal dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, kemudian dikultur media pada media agar. Hasil biakan kultur media agar kemudian dikultur secara bertingkat ke dalam erlenmeyer volume 500 ml, 1 liter dan karboit volume 10 liter. Pada volume 10 liter tahap terakhir di dalam ruangan, sebelum dikultur di luar ruangan dengan volume yang lebih besar dan dilakukan pengamatan dimikroskop guna mengetahui perkembangan pembelahan sel, kontaminasi protozoa dan sel rusak.Skema kultur Thalassiosira sp., pada volume bertingkat skala laboratorium dapat dilihat pada Gambar 3.
Media agar powder Erlenmeyer vol. 500 ml
Karboit vol. 10 liter Erlenmeyer vol. 1 liter
Gambar 3 Skema kultur Thalassiosira sp., pada volume bertingkat skalalaboratorium
Kultur murni dilakukan di dalam ruangan laboratorium yang terisolasi dari lingkungan luar, dilengkapi dengan air conditioner (AC) agar suhu ruangan selalu terkendali, sebagai sumber pencahayaan untuk berlansungnya proses fotosintesis digunakan lampu neon TL dengan intensitas cahaya 2000 lux. Untuk sumber pengudaraan menggunakan mini blower tersendiri yang untuk menghindari kontaminasi. Pengkulturan dimulai dari media agar, erlenmeyer 500 ml, erlenmeyer 1 liter dan karboit volume 10 liter yang dilakukan di dalam ruangan khusus dan terkontrol. Kegiatan ini bertujuan untuk penyediaan stok bibit murni awal untuk perbanyakan dengan kultur Intermediate dan massal di luar ruangan. Kegiatan sebelum kultur Thalassiosira sp., skala laboratorium dapat dilihat pada Lampiran 2.
Sebelum Thalassiosira sp., dikultur ke volume selanjutnya, harus mengamati pertumbuhan dan kepadatan populasinya di bawah mikroskop kegiatan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 4. Tujuannya yaitu untuk mengetahui perkembangan sel dan mengetahui pertumbuhan adanya protozoa pada media kultur, apabila ada 2–3 ekor masih bisa ditoleransi, tetapi apabila melebihi maka pengkulturan dihentikan dan mengganti starter yang lain atau baru, larva akan mati jika pakan tersebut di berikan. Mengingat tubuh protozoa yang lebih besar dan gerakan yang lebih aktif dibandingkan larva udang vaname. Untuk kultur Thalassiosira sp., pada tingkat yang lebih besar dilakukan di luar ruang.
Pemanenan skala laboratorium Thalassiosira sp., ini di lakukan ketika
Thalassiosira sp., ini berumur tiga hari, dengan cara bibit yang telah dikultur di bawah
sinar lampu selama tiga hari di masukkan dalam ember kemudian di transfer ke bak fiber/Intermediate. Kegiatan kultur dan panen Thalassiosira sp., dapat dilihat pada Lampiran 4.
Skala Intermediate
Kultur Intermediate dilakukan pada bak fiber berbentuk bulat dengan diameter bak 1,8 meter dan tinggi bak 1,2 meter, dengan volume air 2,5 m3. Kultur Intermediate dilakukan setiap pagi hari pukul 06.00 yang dikultur selama 24 jam sebelum dipindahkan ke kultur massal. Kultur Intermediatedilakukan di diluar ruangan.
Sebelum dilakukan kultur terlebih dahulu bak disterilkan dengan melakukan pencucian bak menggunakan detergen 50 gram yang dilarutkan dalam 3 liter air, bak disikat dengan menggunakan spons lalu dibilas dengan air tawar hingga tidak berbusa dan tidak berbau detergen.
Selanjutnya dilakukan pengisian air menggunakan air laut dengan salinitas 29 ppm apabila air laut di atas dari salinitas yang diinginkan dilakukan pengenceran dengan menambahkan air tawar. Setelah dilakukan pengisian air, bibit dari kultur skala laboratoium bervolume 10 liter ditransfer ke bak kultur semi massal sebanyak 150 liter dan diberi pupuk berupa pupuk teknis dengan dosis NPK sebanyak 50 gram, KNO3 sebanyak 20 gram, silikat sebanyak 2 ml dan B. carbonat sebanyak 5 gram. Kegiatan kultul dapat dilihat pada Gambar 4.
Pemanenan dilakukan setelah pengkulturan yang dilakukan selama 24 jam, dengan cara mentransfer bibit Thalassiosira sp., dari skala Intermediate ke bak skala massal dengan menggunakan pompa celub yang di masukkan ke dalam bak fiber. Kegiatan sebelumkultur dan panen disajikan pada Lampiran 5.
Skala Massal
Kultur skala massal dilakukan pada bak beton dengan ukuran 2,7 x 4,5 x 1,5 meter, Dengan volume air 20 m3, dilengkapi dengan 15 titik aerasi, jarak antar aerasi ialah 1 meter, jarak aerasi ke dasar bak ialah 5–10 cm. Sebelum dilakukan kultur terlebih dahulu dilakukan sterilisasi dengan mencuci seluruh dasar dan dinding bak
menggunakan detergen dan digosok dengan spond untuk menghilangkan kotoran atau lumut yang menempel dari kultur Thalassiosira sp., sebelumnya, lalu dibilas dengan air tawar hingga bersih. Setelah bak disterilkan, dilakukan pengisian air, bibit
Thalassiosira sp., dari kultur skala intermediat ditransfer ke dua bak kultur massal
menggunakan pompa axial 1 inch, yaitu sebanyak ± 1250 liter per bak kultur massal, dan ditambahkan pupuk yang telah dilarutkan sebelumnya dengan dosis NPK sebanyak 150 gram, KNO3 sebanyak 50 gram, silikat sebanyak 5 ml dan B. carbonat sebanyak 20 gram.
(1) (2)
Gambar 4 (1) Kultur Intermediate(2) Kultur massal
Thalassiosira sp., dipanen dan diberikan untuk larva dua hari setelah
penebaran bibit. Hal ini dilakukan karena pada saat tersebut diasumsikan bahwa isi sel
Thalassiosira sp., hampir penuh dan dinding sel sudah kokoh, jelas serta kepadatan
alga dalam bak kultur massal sudah mencukupi kebutuhan larva. Untuk menentukan jumlah Thalassiosira sp., yang akan ditransfer ke bak pemeliharaan, terlebih dahulu dilakukan perhitungan kepadatan plankton yang terdapat pada bak skala massal. Perhitungan kepadatan plankton menggunakan alat Haemacytometer.
Dosis pemberian Thalassiosira sp., diberikan tergantung dari jumlah kepadatan alga yang tersisa dalam bak pemeliharaan, dimana pada setiap stadia terdapat standar
pemberian pakan Thalassiosira sp. Standar pemberian pakanThalassiosira sp., pada tiap stadia di PT. Esaputlii Prakarsa Utama tertera pada Tabel 9.
Tabel 9 Standar Pemberian Pakan Thalassiosira sp.
No. Stadia Standar pemberian Thalassiosira sp
(sel/ml) 1 Naupli (N5–N6) 50.000 2 Zoea 1 75.000 3 Zoea 2 100.000 4 Zoea 3 100.000 5 Mysis 1 50.000
Sumber : PT. Esaputlii Prakarsa Utama, 2017
Pemberian Thalassiosira sp., dilakukan dengan cara Thalassiosira sp., ditransfer menggunakan pompa 1,5 inch langsung dihubungkan ke bak pemeliharaan larva. Setelah dilakukan transfer semua peralatan yang telah digunakan disterilkan kemudian disimpan pada tempat yang telah disediakan. KulturThalassiosira sp.,skala massal disajikan pada Gambar 4 dan kegiatan sebelum kultur Thalassiosira sp., skala massal dapat dilihat pada Lampiran 5.