Bab 6 ANALISA TEKNIS PEMBANGUNAN INDUSTRI ALUTSISTA KAPAL
6.5. Building Sequence untuk Perusak Kawal Rudal
Karena prosedur pembangunan dari PKR adalah yang paling rumit dan butuh tingkat presisi tinggi sehingga pembuatan prosedur pembangunan untuk industri yang akan dibangun menggunakan kapal alutsista PKR sebagai acuan. Pembangunan dilakukan menggunakan metode FOBS (Full Outfitting on Block System) mengacu pada sasaran dan implementasi kementrian perindustrian tahun 2015-2025. Berikut adalah garis besar prosedur pembangunan yang akan digunakan untuk pembangunan kapal perang jenis PKR :
Plate Sorting Plan
Sand Blasting for Raw Material Fabrication Process Sub Assembly Process Assembly Process Joint Module Main Engine Loading Block Blasting Process Weapon, Sonar and Propulsion Instalation Steering, Propulsion, Weaponry & Sonar
Allignment Fininshing (Piping,Electrical, Furniture) Final Painting Sea Trial, Weapon,Radar & Sonar Final Calibraton and Delivery START Hull Construction, Superstructure, Steel And Aluminium Outfitting Insulation, Lining, Ceiling Installation FOBS Aluminium Grand Assembly Grand Assembly Bilge & Ballast System Installation Main Generator Installation Anchor, Capstan, Steering Gear Installation FINISH
116
Gambar 6.10 Perencanaan Flow Material
Secara garis besar proses pembangunan kapal perang sama dengan pembangunan kapal pada umumnya, hanya berbeda pada proses assembly dan grand assembly dimana jenis kapal
perang yang panjangnya dibawah atau sama dengan 40 meter menggunakan konstruksi berbahan aluminium alloy yang telah dibahas sebelumnya, dan juga faktor pemasangan instalasi senjata yang membutuhkan presisi dan ketepatan. Berikut adalah proses pembangunan secara tahapan mulai dari tahap sorting plate hingga tahap joining module:
A. Tahap Preparation
1. Proses Sorting Plate pada Steel Stock House
2. Setelah proses sorting, dilakukan tahap persiapan dengan melakukan pelurusan pelat yang masih berupa raw material, kemudian proses blasting untuk pembersihan dan pengecatan proses pengecatan primer
Tahap ini dilakukan di bengkel preparation dan steel stock house B. Tahap Hull Construction
1. Proses yang pertama dilakukan adalah pemotongan pelat dan profil pada bengkel fabrikasi
2. Setelah didapat pelat berupa potongan-potongan, dilakukan proses sub
assembly yaitu proses penggabungan pelat dan profil menjadi seksi-seksi.
3. Seksi-seksi yang telah didapat pada proses sub assembly kemudian digabungkan untuk membentuk modul-modul yang disebut proses assembly. Pada tahap ini terdapat perbedaan pada jenis kapal yang menggunakan pelat jenis high tensile steel dan aluminium, kapal dengan material berbahan high
tensile steel mengalami proses assembly di bengkel assembly hall sedangkan
untuk kapal berbahan aluminium mengalami proses assembly di bengkel
aluminium hall.
4. Setelah didapatkan modul-modul, sebelum memasuki proses selanjutnya, modul kembali mengalami pembersihan pada bengkel block blasting untuk menghilangkan kotoran-kotaran sebelam dilakukan pengecatan.
Tahap ini dilakukan di bengkel fabrikasi, sub assembly, assembly, block
blasting shop dan aluminium hall. Tahapan hull construction dikerjakan
dengan metode FOBS (Full Outfitting Block System), yaitu dilakukan pemasangan peralatan outfitting pada tahapan sub assembly dan assembly. Metode FOBS pada sepanjang tahapan konstruksi lambung hingga sebelum proses block blasting dan setelah proses block blasting.
Adapun outfitting yang dipasang sebelum proses block blasting adalah sebagai berikut :
118
• Supporting Pipe, Ducting & Cable Way • Seating dan Coaming
Sedangkan outfitting yang dipasang setelah proses block blasting adalah sebagai berikut :
• Piping • Equipment • Ducting • Insulation
C. Tahap Grand Assembly (Joining Module)
1. Setelah modul-modul selesai dibangun, sebelum proses joining, dilakukan proses loading main engine pada bengkel assembly
2. Pada tahapan ini dilakukan proses joining blok dan joining module yang dilakukan di bengkel assembly, pada tahapan ini, proses FOBS sudah berlangsung, peralatan yang dipasang pada tahap ini adalah sebagai berikut :
• ME & Equipment
• Sistem perpipaan
• Sistem ducting & AC
• Main cable way & Sub cable way • Interior (lining, ceiling, insulation)
3. Selama tahapan hull construction dan grand assembly, juga dilakukan pekerjaan pad bengkel outfitting guna keperluan FOBS dan instalasi outfitting setelah proses joining module.
Gambar 6.11 Contoh Proses Pembuatan Modul Pada Kapal Jenis PKR (Divisi Produksi PT.PAL)
4. Proses joining block dilakukan di 2 tempat, yaitu assembly hall dan plan
assembly area. Untuk mengantisipasi kondisi bengkel yang penuh.
5. Untuk joining module dilakukan di graving dock (untuk PKR, karena PKR dilengkapi instalasi sonar) dan di plan assembly untk kemudian dilanjutkan ke
building berth ( untuk selain PKR).
D. Tahap Weapon and Propulsion Installation
1. Tahap ini dilakukan setelah kapal telah dalam kondisi utuh (telah mengalami proses joining module).
2. Terdapat beberpa tahapan dalam weapon allignment process, seperti disebutkan dalam Gunner’s Mate 2007, Chapter 9 Ballistic, Fire Control and
120
Gambar 6.12 Weapon Allignment and Calibration Process
Seperti terlihat pada gambar 6.12 bahwa terdapat beberapa tahapan utntuk proses kalibrasi senjata yaitu sebagai beikut:
• Shipyard Allignment, yang dimana proses dibagi menjadi 2 macam:
a. Pembuatan bench mark sebagai titik acuan dalam pembentukan pondasi.
b. Pengecekan akurasi tembakan menggunakan alat weapon
calibrator.
• Elevation Allignment, yang dimana proses ini dibagi menjadi 2
a. Elevation Horizon Check, pengecekan kesalahan kalibrasi pada
saat senjata membentuk sudut elevasi.
b. Firing Stop Mechanism, pengecekan stabilitas kapal pada saat
kondisi penembakan beruntun.
• Cam Allignment, proses sinkronisasi sensor senjata dengan kamera
pada ruang kendali.
• Radar Allignment, proses kalibrasi peralatan radar.
• Sonar to Radar Allignment Check Out, proses sinkronisasi sonar
dengan radar, yang notabene keduanya sebagai alat pendeteksi.
• Final Assignment Procedure, proses pemeriksaan kesalahan tahap
terakhir.
• System Allignment, proses kalibrasi ulang jika masih terdapat kesalahan
pemasangan pondasi sehingga memerlukan perubahan bentuk.
3. Pada tahap ini dilakukan proses instalasi sistem persenjataan, propulsi, perlengkapan outfitting dan final painting. Beberapa item yang dipasang pada tahap ini adalah sebagai berikut :
• Sistem perpipan ( isometrik, connecting, press test & function test )
• Sistem permesinan ( main engine, propulsion, function test & steering
system )
• Sistem interior ( furniture, deck covering, lining, ceiling )
• Sistem listrik & elektronika ( power, lighting, check line, wiring,
connecting, clamping, compound, navigation, communication, control auto, monitoring system & function test)
• Sistem perenjataan ( weapon seating/foundation )
122