SEJARAH SEBAGAI MASA LALU DAN CATATAN TERTULIS
C. Bukti Sejarah
Moh Ali berpendapat bahwa sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian sejarah sejak zaman purba sampai sekarang.125
Sumber sejarah merupakan bukti dan fakta adanya sejarah. Berdasarkan sifatnya dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Sumber primer menurut Nugroho Notosusanto bahwa sumber yang keterangannya diperoleh secara langsung oleh yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala sendiri.126
2. Sumber sekunder disebut juga dengan sumber kedua : sumber yang ditulis oleh sejarawan berdasarkan sumber primer atau sumber yang bukan merupakan kesaksian langsung.
3. Sumber tersier yaitu berupa buku-buku sejarah yang disusun berdasarkan laporan penelitian ahli sejarah tanpa melakukan penelitian langsung.
Berdasarkan klasifikasinya sumber sejarah dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Sumber tertulis
Sumber tertulis adalah keterangan tertulis yang berkaitan dengan peristiwa sejarah, antara lain : prasasti, kronik, babad, piagam, dokumen, laporan, arsip, dan surat kabar. Menurut Sartono Kartodirdjo, sumber tertulis dapat diklasifikasikan menjadi berikut ini :
a) Otobiografi
b) Surat pribadi, catatan atau buku harian, dan
c) memoirc) Surat kabard) Cerita romane) Dokumen pemerintah.127
124
Sumber: wikipedia.org/pembinaan dan perkembangan bahasa nasional.html/ 125
R. Moh. Ali, 2003 Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, (Yogyakarta : LkiS : 2003), hlm. 321.
126
Notosusanto, Nugroho. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengalaman). (Jakarta: Yayasan Idayu : 19780, hlm. 49..
-35 - 2. Sumber lisan
Sumber lisan adalah keterangan langsung dari pelakuatau saksi dari suatu peristiwa sejarah. Sumber lisan berfungsi sebagai sumber tertulis yang belum memadai. Cara yang dilakukan untuk memperoleh sumber lisan,yaitu dengan melakukan wawancara. Sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu kita harus memiliki persiapan yang matang.128
3. Sumber benda Sumber rekaman
Sumber benda disebut juga sebagai sumber corporal, yaitu sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan, misalnya, alat-alat atau benda budaya, seperti kapak, gerabah, perhiasan, manik-manik, candi, dan patung.129
Untuk mengungkap sumber-sumber sejarah diatas diperlukan berbagai ilmu bantu, seperti :
1) Epigrafi : ilmu yang mempelajari tulisan kuno atau prasasti. 2) Arkeologi : ilmu yang mempelajari benda/peninggalan kuno. 3) Ikonografi : ilmu yang mempelajari tentang patung.
4) Nomismatik : ilmu yang mempelajari tentang uang. 5) Ceramologi : ilmu yang mempelajari tentang keramik. 6) Geologi : ilmu yang mempelajari lapisan bumi.
7) Antropologi : ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian serta perkembangan makhluk manusisa dan kebudayaannya.
8) Paleontologi : ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup 9) Paleoantropologi : ilmu yang mempelajari bentuk manusia
10) Sosiologi : ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat. 11) Filologi : ilmu yang mempelajari tentang bahasa, kebudayaan, pranata dan
sejarah.130
Bukti peninggalan sejarah merupakan sumber penulisan sejarah. Fakta adalah hasil dari seleksi data yang terpilih. Fakta sejarah ada yang berbentuk benda konkret, misalnya, candi, patung, perkakas yang sering disebut artefak. Fakta yang berdimensi
127
Sartono Kartodirdjo. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. (Jakarta : Gramedia.:, 1992)., hlm. 65. 128 Ibid., hlm. 44. 129 Ibid., hlm. 45. 130
Notosusanto, Nugroho. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengalaman). Loc. Cit., hlm. 49.
-36 -
sosial disebut sociofact, yaitu berupa jaringan interaksi antar manusia, sedangkan fakta yang bersifat abstrak berupa keyakinan dan kepercayaan disebut mentifact. Bukti dan fakta sejarah dapat diketahui melalui sumber primer dan sumber sekunder. Dengan adanya fakta maka para sejarawan dapat menyusun cerita sesuai dengan bahan yang ada.
Umumnya, fakta erat hubungannya dengan pertanyaan tentang apa, siapa, kapan dan di mana. Kebenaran fakta tergantung pada keberadaan evidensi empiris sehingga setiap pengamat yang tertarik atau tidak memihak akan sependapat. Kebenaran atau kepalsuan dari pernyataan-pernyataan semacam itu dapat diuji oleh setiap orang yang ingin melakukannya.131
Menurut Sartono Kartodirdjo, fakta dapat digolongkan menjadi dua, pertama adalah fakta yang masih lunak (cold facts/soft fact), yakni fakta yang masih labil, fakta yang masih perlu diselidiki atau diuji kebenarannya.132 Untuk menguji kebenaran fakta-fakta tersebut, sejarawan harus mendapatkan bukti bukti yang kuat. Kedua adalah fakta yang keras (hard fact), yakni fakta yang sudah stabil, fakta yang sudah teruji kebenarannya. Contoh fakta yang masih lunak adalah pembunuhan J.F. Kennedy yang masih sangat kontroversial. Sedangkan fakta yang keras antara lain Declaration of Independence 1776, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diucapkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945, dua tokoh Proklamator Indonesia ialah Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta; itu semua telah pasti dan telah menjadi bukti dalam sejarah.
Artefak adalah semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil garapan tangan manusia, contohnya, candi, patung, dan perkakas. Peralatanperalatan yang dihasilkannya dapat menggambarkan tingkat kehidupan masyarakat pada saat itu (sudah memiliki akal dan budaya yang cukup tinggi), bahkan dapat juga meggambarkan suasana alam, pikiran, status sosial, dan kepercayaan para penciptanya dari suatu masyarakat, hal inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan.133
131
Ibid., hlm. 84. 132
Sartono Kartodirdjo. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Loc. Cit., hlm. 65.
133
-37 -
Fakta sosial adalah fakta sejarah yang berdimensi sosial, yakni kondisi yang mampu menggambarkan tentang keadaan sosial, suasana zaman dan sistem kemasyarakatan, misalnya interaksi (hubungan) antarmanusia, contoh pakaian adat, atau pakaian kebesaran raja. Jadi fakta sosial berkenaan dengan kehidupan suatu masyarakat, kelompok masyarakat atau suatu negara yang menumbuhkan hubungan sosial yang harmonis serta komunikasi sosial yang terjaga baik. Fakta sosial sebagai bukti sosial yang muncul di lingkungan masyarakat mampu memunculkan suatu peristiwa atau kejadian. Masyarakat pembuat logam memunculkan ciri sosial yang maju, berintegritas, dan mengenal teknik. Di balik itu mereka memiliki tradisi animisme atau dinamisme melalui benda hasil garapannya, bahkan jika kita teliti dengan saksama masyarakat tersebut sudah mengenal persawahan dan hidup dengan ciri gotong royong.134
Fakta mental adalah kondisi yang dapat menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Jadi fakta mental bertalian dengan perilaku, ataupun tindakan moral manusia yang mampu menentukan baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan negara. Peristiwa yang terjadipada masa lampau dapat memengaruhi mental kehidupan pada masa kini bahkan ke masa depan. Fakta mental erat hubungannya antara peristiwa yang terjadi dengan batin manusia, sebab perkembangan batin pada suatu masyarakat dapat mencetuskan munculnya suatu peristiwa (ingat peristiwa bom atom di kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang yang menyisakan perubahan watak dan rasa takut, itu sebabnya Jepang memelopori kampanye anti bom atom).135
Fakta mental merupakan fakta yang sifatnya abstrak atau kondisi yang menggambarkan alam pikiran, kepercayaan atau sikap, misalnya kepercayaan keyakinan dan kepercayaan benda yang melambangkan nenek moyang dan benda upacara, contohnya nekara perunggu di Pejeng (Bali), untuk dipuja. Namun ada artefak yang juga menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak perunggu atau bejana perunggu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari hiasannya dapat berfungsi sebagai fakta sosial, dan jika
134
Menurut R. Moh. Ali, 2003 Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, loc. Cit., hlm. 321. 135
-38 -
menempatkan kapak perunggu dan bejana perunggu sebagai sistem kepercayaan maka disebut fakta mental.
Bukti adalah sesuatu yang dapat memperkuat kebenaran suatu pendapat maupun kesimpulan.Dalam ilmu sejarah,bukti merupakan jejak-jejak peninggalan perbuatan pada masa lampau.136
Fakta adalah pernyataan tentang sesuatu yang telah terjadi. Sedangkan fakta dalam ilmu sejarah merupakan pernyataan tentang kejadian yang merupakan proses mental dari sejarawan yang bersifat subjektif. Beberapa defenisi fakta sejarah menurut para ahli sebagai berikut:
1. Menurut Sartono Kartodirjo, fakta sebenarnya merupakan produk dari proses mental (sejarawan) atau memorisasi karena itu wajar kalau fakta itu ada unsur subjektivitasnya. Untuk itulah dalam penelitian sejarah diperlukan ketajaman interprestasi dan kejujuran para sejarawan.137
2. F.J Tiger, Fakta merupakan sumber penyelidikan secara kritis yang di tarik dari sumber- sumber dokumenter.138
3. Louis Gottschalk, Fakta sebagai suatu unsur yang di jabarkan secara langsung atau tidak langsung dari sumber sejarah yang dipandang kredibel.139
4. Backer, fakta dapat digolongkan menjadi dua : fakta lunak dan fakta keras.140 Fakta sejarah menurut para ahli sejarah terbagi dalam dua bagian, yaitu : 1. Fakta lunak atau fakta mentah (coldfact) adalah fakta labil memerlukan
penyelidikan untuk memperoleh kejelasan.
2. Fakta keras (hardfact) adalah fakta yang sudah stabil dan teruji kebenarannya. Fakta dalam sejarah adalah rumusan atau kesimpulan dari sumber sejarah atau dokumen.141
Adapun fakta sejarah mempunyai beberapa bentuk antara lain:
136 Ibid., hlm. 78. 137 Ibid., hlm. 88. 138
G.J., Reinier, Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta : 1997)., hlm. 43.
139
Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto. (Jakarta : Universitas Indonesia Press. : 1986)., hlm. 95-96.
140
R. B. Cribb, Audrey Kahin,Historical dictionary of Indonesia, (USA : Scarecrow Press : 2004), hlm 459
141
-39 -
1. Artefak adalah benda baik secara keseluruhan atau sebagian diubah atau dibentuk oleh manusia secara monumental.
2. Fakta mental adalah kondisi yang dapat menggambarkan suasana pikiran, perasaan, batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta.
3. Fakta sosial dalam sejarah adalah fakta sejarah yang berdimensi sosial yakni kondisi yang mampu menggambarkan tentang keadaan sosial, suasana zaman dan system kemasyarakatan, misalnya interaksi antar manusia. Fakta sosial sebagai bukti sosial yang memunculkan suatu peristiwa atau kejadian.142
142
-40 -
BAB III
SEJARAH SEBAGAI ILMU DAN SENI SERTA METODE