• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU HARTA KARUN

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 128-138)

“Itu tempat gua ngajar,” Ical menunjuk saung kecil yang terletak di tengah bukit. “Kugy ngajar di sana,” tangan Ical lalu menunjuk pohon beringin besar yang di bawahnya ter-dapat sepuluhan anak lesehan di atas tikar.

Dari kejauhan, Keenan bisa melihat siluet Kugy yang me-munggunginya. Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah se-perti sedang memperagakan sesuatu.

“Kita nggak ada ikatan apa-apa, lho, Nan. Karena cerita-nya kamu pengajar tamu, kapan pun kamu mau ngajar, kamu bisa datang. Tidak ada keharusan waktu atau apa pun,” Ami menjelaskan.

“Anak-anak ini semangat banget pingin belajar gambar, tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. Asal lu muncul sekali-sekali aja, mereka pasti udah senang,” Ical menambahkan.

“Saya ngajar di kelas siapa dulu, nih?” tanya Keenan se-raya menyandangkan ransel berisi peralatan gambar yang sudah ia bawa.

Ical dan Ami saling berpandangan. “Bebas. Terserah kamu aja,” jawab Ami.

“Saya ke sana dulu, ya,” Keenan menunjuk ke arah pohon beringin. Tempat yang paling ingin ia datangi sejak tadi.

Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai dom-ba Garut siap ngamuk yang ceritanya akan dikalahkan oleh Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Masih dalam posisi menung-ging dengan kedua tangan membentuk tanduk, Kugy terpaku saat mengenali ransel marun berinisial “K” yang tahu-tahu muncul di depan mukanya. Sepasang sepatu yang ia kenal. Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asing. Cepat-cepat, Kugy berdiri, mendapatkan Keenan yang tersenyum simpul sambil membuat tanda antena dengan kedua jarinya.

“Agen Keenan Klappertaartmania siap beroperasi,” sapa Keenan dengan posisi tegap seperti perwira.

“Kata sandi?” tanya Kugy. Mukanya serius. “Pisang susu.”

Kugy tampak berpikir keras. “Hmm. Baiklah. Silakan ber-gabung.” Mukanya berubah cerah seperti biasa, “Anak-Anaaak! Kita kedatangan guru tamu. Namanya ... Kang Keenan!”

Keenan mengernyit. Nama itu terdengar aneh di kuping-nya.

“Rangginang16?” Seorang anak berceletuk, disambut pekik

tawa yang lain.

“Eh, Pilik. Kamu belum tahu Kang Keenan ini bisa apa. Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau—dalam waktu ti-dak lebih dari satu menit!”

Keenan mengernyit lagi.

“Satu menit teh sakumaha17?” Pilik bertanya kembali.

“Satu menit itu enam puluh detik. Jadi kalian harus ber-hitung satu sampai enam puluh, bareng-bareng semuanya. Yang belum bisa, ikuti saya. Tapi semua harus ikut meng-hitung. Siaaap?”

“SIAAAP!” Anak-anak itu menjawab serempak.

“Kalian mau dibuatkan gambar apa, ayo?” Keenan ber-tanya seraya bersiaga di samping kertas besar dan spidol yang sudah berdiri tegak di atas sandaran kayu yang ia bawa.

“Gambar si Hogi!” seorang anak berteriak.

Keenan mengernyit untuk yang ketiga kali. “Apa tuh ‘Hogi’?” bisiknya pada Kugy.

“Ayam jago, besar, hitam, pokoknya ganteng. Oke?” Kugy

16 Sejenis makanan ringan khas Jawa Barat terbuat dari beras.

lalu beralih lagi pada murid-muridnya, “Siap berhitung,

barudak18! Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ...”

Beramai-ramai mereka menghitung sampai enam puluh. Di hitungan keempat puluhan, Keenan sudah ongkang-ongkang kaki. Gambar ayam pesanan mereka sudah siap.

Tercenganglah anak-anak itu melihat gambar ayam yang tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu sing-kat. Mereka bersorak-sorai kesenangan. Langsung terlontar-lah bertubi-tubi permintaan berikutnya untuk Keenan.

“Gambar robot!” “Gambar pesawat!” “Gambar Pak Somad!”

Seharian itu Keenan meladeni permintaan mereka. Tiap gambar selalu disambut cengangan kagum dan sorak-sorai. Hari itu, kehadiran Keenan di tengah mereka bak seorang

superstar di antara para pemuja. Gambar-gambar yang ia

buat terpaksa dibagi-bagikan untuk mereka bawa pulang. Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru men-dapat tanda tangan dari bintang film terkenal.

“Kang Keenan sering-sering datang, ya?” pinta Pilik sam-bil memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. “Nanti bikinin gambar saya sama Pasukan Alit.”

Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik, tapi tak urung ia mengangguk.

“Oh, ya. Saya Jenderal Pilik. Tong hilap19!” Pilik

mem-busungkan dadanya lalu menjabat tangan Keenan dengan mantap. Ia lantas berlari-lari kecil menyusul teman-teman-nya. “Pasukaaan ... dagoan euy!20

Keenan menoleh ke arah Kugy. “Saya nggak ngerti, entah

18 Anak-anak.

19 Jangan lupa.

kamu yang selalu berhasil membuat orang-orang jadi ke-bawa aneh, atau memang kamu selalu berjodoh dengan orang-orang aneh.”

Kugy terkikik. “Anak itu memang ‘ajaib’. Dulu kami sem-pat jadi musuh bebuyutan. Tapi begitu berhasil kutaklukkan, sekarang malah jadi kompak banget sama aku. Satu kelas juga ikutan kompak, karena mereka semua nurut sama Pilik.”

“Apa rahasianya, Agen Karmachameleon?” Keenan ber-tanya dengan tampang serius.

Dengan tak kalah serius, Kugy menyambar sesuatu dari dalam tasnya bagaikan menghunus pedang. “Ini rahasianya, Agen Poffertjesmania!” seru Kugy, di tangannya tergenggam sebuah buku tulis lecek.

“Apa itu? Manual Manusia Aneh?”

Kugy langsung duduk di samping Keenan. Matanya ber-kilat-kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. “Lihat, Nan. Ini adalah seri petualangan yang kubuat selama aku menga-jar di sini. Tokohnya adalah murid-muridku sendiri. Dulu mereka males banget belajar baca, terus aku bikin perjanjian dengan mereka. Aku janji akan membuatkan dongeng ten-tang mereka, tapi mereka harus mau belajar baca, supaya nanti mereka bisa baca kisah petualangan mereka sendiri. Dan jadilah ide ini: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Semua tokoh dalam serial ini aku ambil dari kehidupan mereka sendiri. Nih, ada Hogi si Ayam Pelung Keramat ... Palmo si Kambing Nekat ... Gogog si Anjing Jago Renang ... Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda-Tanda ....” Kugy memperlihatkan halaman demi halaman dengan semangat, “anak-anak ini nggak kenal yang namanya Teddy Bear, Barney, atau Elmo. Dan mereka cuma bengong waktu aku kasih tahu soal Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood ... tapi, begitu aku bisa membuat sesuatu dari dunia mereka

sendiri, sesuatu yang mereka kenal, mendadak kayak ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka. Seperti ada kebanggaan, harapan, semangat ...,” Kugy sampai berhenti mengatur napasnya, “seperti ada keajaiban.”

Keenan pun menghela napas panjang. Tersadar bahwa napasnya sedari tadi ikut tertahan karena terhanyut cerita Kugy. “Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan.”

Kugy menggeleng, “Mereka yang hebat. Aku cuma saksi mata yang kebetulan numpang lewat. Nggak tahu Sakola Alit bisa bertahan di sini sampai kapan. Tapi aku merasa ber-syukur banget punya kesempatan ini.”

Keenan menatap kilauan di bola mata Kugy. Dan Kugy menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah. Lama mereka terdiam. Hanya angin yang berbunyi lewat gemerisik daun. Hanya serangga-serangga pohon yang ter-dengar bersahut-sahutan. Mereka berdua hanya saling me-natap tanpa suara.

“Saya kehilangan kamu,” ucap Keenan akhirnya, nyaris berbisik.

Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan arus perasaan yang begitu kuat, yang seolah hendak men-jebol dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbenda-haraan kata di benaknya. Akhirnya, Kugy memilih untuk menunduk.

“Sesama agen harus saling mendukung. Sebentar lagi kamu bakal jadi pelukis profesional. Waktu aku di Warsita, aku sempat dengar Wanda cerita. Dia bilang, kalo kamu me-mang ingin serius jadi pelukis, kamu harus meluangkan

waktu banyak untuk nambah koleksi lukisan kamu. Terus, kamu harus pameran, keliling-keliling. Kamu nggak akan sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begini,” tutur Kugy dengan nada yang dibuat setenang mungkin, “per-jalananku masih panjang dibanding kamu. Kamu sudah ke-temu orang yang bisa mendukung impian kamu,” Kugy mu-lai merasa kata-kata itu membebani mulut, tapi ia harus tetap mengucapkannya, “cita-cita hidup kamu lebih penting dari apa pun. Kita ini punya misi, Nan. Makanya kita di-kirim ke sini oleh Neptunus. Dan sebentar lagi kamu ber-hasil. Jangan sampai rusak di tengah jalan hanya gara-gara kita cuma menuruti keinginan sendiri doang,” Kugy menelan ludah, tak tahu harus bilang apa lagi, “yang namanya bus satu perusahaan itu tidak boleh saling menyalip.”

Tiba-tiba Kugy merasa dagunya diangkat. Kembali me-nemukan tatapan Keenan yang menembus jantung.

“Gy, saya nggak ngerti kamu ngomong apa,” ucap Keenan lembut, “makasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya, cita-cita saya, dan kesempatan yang sekarang ini sedang da-tang untuk saya. Tapi di luar itu semua, saya kehilangan kamu. Kamu menghilang akhir-akhir ini.”

Halus, Kugy menjauhkan wajahnya, hingga genggaman jari Keenan di dagunya lepas. “Aku nggak ke mana-mana, kok,” jawab Kugy lirih sembari mengusahakan sebuah se-nyum, “sekarang kamu tahu di mana markasku. Tinggal cari aku di bawah pohon ini.”

Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Ami muncul dari arah belakang. “Gy, Nan, pulang, yuk? Mum-pung Bimo masih nungguin di depan. Kita sesak-sesakan aja berlima kayak pindang,” ajak Ami sambil terkekeh.

“Yuk!” Kugy bangkit berdiri.

pulang naik angkot, Mi. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo. Jadi nggak perlu kayak pindang. Oke?”

“Yakin?” tanya Ami lagi. Dilihatnya kontras antara Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. Sebetulnya Kugy sudah ingin protes, tapi genggaman tangan Keenan yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti meng-isyaratkan dia untuk diam di tempat.

“Yakin. Kita naik angkot aja,” Kugy akhirnya bersuara. “Dah, Ami!”

Setelah bayangan Ami menjauh, Keenan melepaskan geng-gamannya. “Sebagai upah kamu ngilang, hari ini saya mau seharian booking kamu.”

“Coba kontak ke manajer saya dulu, namanya Mami Noni. Mumpung sekarang lagi low-season, jadi bisa dapat harga murah,” Kugy nyengir sambil mendorong bahu Keenan pelan.

Sisa hari itu mereka habiskan di jalan, bersama-sama. Mereka berjalan-jalan ke toko buku, iseng-iseng ke Kebun Binatang di Taman Sari, ngopi sore di Jalan Dago, hingga akhirnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya.

Di depan gerbang besi bercat putih itu mereka berdua berdiri. Langit mulai gelap dan lampu-lampu di taman de-pan mulai menyala. Sahut-sahutan serangga malam lamat-lamat terdengar.

“Kecil, saya pulang dulu, ya. Hari ini sangat, sangat me- nyenangkan. Makasih untuk semuanya,” ucap Keenan. Nada-nya terasa berat. Kakinyenangkan. Makasih untuk semuanya,” ucap Keenan. Nada-nya terasa berat untuk bergerak.

“Sebagai bonus sudah booking aku seharian ini, aku ada kenang-kenangan untuk kamu,” Kugy menyerahkan buku lecek berisikan kisah petualangan Pilik.

Keenan tampak terkejut menerimanya. “Gy ... tapi ini harta karun kamu ....”

“Nggak pa-pa. Buku itu udah habis. Aku lagi nulis di buku baru.”

“Tapi ... masa buku yang lama ini dikasih ke saya?” Keenan masih tak percaya.

“Cuma itu yang bisa aku kasih. Aku juga seneng banget hari ini,” ucap Kugy berseri-seri.

Serta-merta lengan Keenan terentang, dan Kugy terpana ketika ia sudah ada dalam rengkuhan Keenan. Sejenak se-kujur tubuh Kugy kaku bagai papan. Matanya pun masih membelalak. Pikirannya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai meram- bat, mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci, memejam-kan kelopak matanya yang tadi terbuka, dan dengan segenap hati ia mulai meresapi bahwa dirinya sedang dipeluk.

Beberapa detik kemudian, pelukan itu melonggar, lalu lepas. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy sekilas. Mulai salah tingkah. “Kamu baik-baik, ya, Kecil,” gu-mam Keenan. Cepat, ia membalikkan punggung dan pergi.

“Kamu juga,” Kugy menggumam balik. Tidak yakin Keenan mendengar suaranya atau tidak. Namun, ia yakin degup jantungnya terdengar saat tubuhnya direngkuh oleh Keenan tadi, sebagaimana ia juga mendengar degup jantung Keenan.

Di bawah sinar lampu mejanya, Keenan membuka buku tulis pemberian Kugy. Berderetlah tulisan tangan kecil-kecil dan rapi seperti dicetak. Ia membaca kisah demi kisah. Tergelak-gelak sendiri. Tulisan Kugy mampu menghadirkan pertun-jukan sinema di otaknya, yang memutar alur cerita dan menghidupkan tokoh-tokohnya seolah mereka semua me-wujud nyata. Keenan tak bisa berhenti membaca.

Perhatiannya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan Kugy. Keenan tak bisa menebak makhluk apa itu yang ber-usaha digambar Kugy kalau saja ia tak melihat tulisan “Hogi” di bawahnya. Di beberapa halaman berikutnya, tam-pak Kugy mencoba lagi. Menggambar manusia berpeci de-ngan struktur tak proporsional, dan di bawahnya tercantum keterangan “Somad Sang Pendekar”. Dari guratannya, Keenan bisa membayangkan betapa Kugy berusaha keras untuk menggambar. Ia bisa membayangkan air muka Kugy yang serius, seolah sedang mencipta lukisan mahakarya. Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan.

Buku itu pun ditutup. Lalu Keenan menggeser kursinya ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. Su-dah lama kanvas itu kosong. Sejak ia pulang ke Indonesia, belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat lukisan baru. Namun, malam ini ia merasakan dorongan itu. Seolah ada sesuatu yang meminta dijemput olehnya. Apa itu, Keenan tak tahu pasti. Ia hanya memasrahkan tangan-ta-ngannya bergerak, menari dan menoreh di atas kekosongan, hingga sesuatu itu mewujud perlahan di atas kanvasnya.

Pukul dua siang. Lazimnya, kos-kosan baru kembali ber-penghuni setelah sore. Eko tidak kaget melihat betapa sepi-nya tempat kos itu, apalagi penghuninya memang cuma lima orang. Yang aneh justru ketika salah satu penghuni di kosan itu malah ada di tempat. Bahkan sudah berhari-hari tidak muncul di kampus sama sekali.

Pintu kamar itu dibukakan dari dalam. Keenan berdiri di hadapannya, masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka.

“Gile. Baru bangun lu?”

“Hmm,” Keenan menggumam, lalu kembali mengempas-kan tubuhnya ke tempat tidur.

“Kata Bimo udah beberapa hari ini lu nggak kuliah. Kenapa bisa gitu, Bos?”

Tangan Keenan menunjuk ke arah kanvas.

“Wow. Lukisan baru? Ck-ck-ck ... sadis. Lukisan keren gila,” Eko berdecak kagum.

“Yang itu belum selesai ....”

“Wah. Lukisan belum selesai yang keren gila,” Eko cenge-15.

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 128-138)