disebut ‘Mbak Pacar Baru’,” celetuk Wanda sambil menger-ling ke arah Keenan yang berdiri di sebelahnya dengan muka memerah.
“Mbak Kugy nggak pernah ikut lagi, ya, Mas Keenan? Resmi putus nih ceritanya?” Itok mesem-mesem dengan ta-tapan haus gosip.
“Mas Itok, jangan aneh-aneh, deh. Beliin tiket bioskop aja,” Eko mulai protes.
“Hebat Mas Keenan, ya. Mentang-mentang ganteng, pa-carnya ganti-ganti, cantik-cantik lagi,” Itok masih terus ber-komentar.
Transaksi pun berjalan seperti biasa, dan cepat-cepat me-reka berlalu dari hadapan Mas Itok sebelum manusia itu terus mengorek-ngorek info tidak penting.
“Memangnya—kamu pernah pacaran sama Kugy?” tanya Wanda pelan.
Keenan hanya menggeleng. Entah kenapa, ia tidak ber-selera untuk panjang lebar menjelaskan.
“Kugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada di otak Mas Itok seorang,” Eko menambahkan sambil ter-kekeh. Dalam hatinya, Keenan merasa tersentil dengan ucapan Eko, sekalipun tahu bahwa temannya hanya ber-canda.
“Tauk tuh Kugy. Sibuk banget sekarang. Dia jadi guru relawan buat sekolah darurat gitu, hampir tiap hari ngajar. Pulangnya sore terus, habis itu nggak pernah keluar kamar,” Noni bercerita.
“Aneh. Emangnya dia ngajar sampai malam? Memangnya ada layar tancap midnight di Bojong Koneng? Kalo kata gua, ada faktor sibuk dan sok sibuk,” Eko menimpali lagi.
“Nan, are you okay?”
Keenan tersentak dengan pertanyaan Wanda yang tiba-tiba, dan ia pun tersadar bahwa Wanda memperhatikannya
saksama sejak tadi. Sebagai jawaban, Keenan tersenyum se-kilas.
“Beli popcorn, yuk,” Wanda tahu-tahu menggamit tangan-nya, dan mereka berdua berjalan menuju mesin popcorn di dekat sana.
Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua ini terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam Ming-gu, tempat yang sama, mesin popcorn yang sama. Bedanya, orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu ada-lah Kugy.
Bandung, April 2000 ...
Sambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacar-nya sejak tadi. RambutSambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacar-nya yang semakin panjang, kaus “Lake Toba”—seragam tidur favoritnya—sudah semakin lu-suh, celana pendek batiknya yang berkeriut-keriut, mata bundarnya tampak serius menekuni buku J.R.R. Tolkien yang tebalnya minta ampun. Ojos pernah bercanda, buku setebal itu lebih cocok buat senjata melawan anjing galak ketimbang buat bacaan. Seumur hidupnya, Ojos tak mem-bayangkan akan bisa membaca sepuluh persen saja dari jumlah buku yang dibaca Kugy.
Mulai merasa diamati, Kugy pun mengangkat mukanya. “Mau baca juga, Jos? Aku ada Donal Bebek ....”
Ojos menggeleng. Kugy pun kembali pada bacaannya. Ojos kembali mengamati. Ruangan itu kembali hening. Lama.
“Gy ....” “Hmm?”
“Are you okay?”
“Kamu jadi lebih diam akhir-akhir ini. Ada yang kamu pikirin?”
Kugy seperti terusik mendengar pertanyaan itu, tapi cepat ia tersenyum. “Nggak ada. Paling-paling soal Sakola Alit. Murid kita tambah banyak sekarang.”
“Kamu sibuk banget ngurusin sekolah itu.”
“Aku betah ngajar di sana. Anak-anak itu ....” Kugy ber-decak, “kadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari mereka.”
“Tapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu juga, dong. Kamu tambah kurus.”
“Makanku tetap sadis, kok.”
“Iya, tapi aktivitas kamu juga gila-gilaan. Kamu harus istirahat. Badan kamu sampai habis, gitu.”
“Bukan. Itu karena anakonda di perutku juga tambah be-sar ....”
“Gy, aku serius.”
“Jos, I’m okay,” tandas Kugy, “... oke?” Tak lama, Kugy kembali tenggelam dalam bacaannya, dan ruangan itu kem-bali hening.
“Gy ....” “Hmm?”
“Kamu butuh liburan.” “Liburan apa?”
“Kita ke Singapur, yuk. Weekend aja. Omku baru beli apartemen di daerah Orchard. Kita bisa stay di sana.”
“Nggak punya uang.” “Aku bayarin.” “Nggak mau.”
“Waktu kamu dari Senin sampai Jumat dihabiskan buat anak-anak itu. Aku cuma minta satu weekend doang. Masa sih kamu nggak bisa kasih?”
“Jos, hari ini malam Minggu, dan aku bareng sama kamu. Apa bedanya?”
“Kamu nggak bareng sama aku,” Ojos berkata pedas, “kamu bareng sama Tolkien!” Dan ia pun bangkit berdiri, meninggalkan ruang itu dan Kugy yang termangu.
Hari Minggu pagi. Tidak biasanya Ojos bangun sepagi itu. Tapi karena dia janji menemui Noni yang rutin lari pagi di Gasibu, Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk menyetir ke daerah Gedung Sate. Nongkrong di dekat pen-jual minuman sambil menunggu Noni menyelesaikan pu-taran terakhirnya.
Tak lama, Noni datang menghampiri, langsung meneng-gak air mineral botol yang sudah disediakan Ojos.
“Hebat banget sih lu, Non. Baru malamnya nonton
mid-night, kok bisa paginya udah jogging lagi,” komentar Ojos.
“Masih kurang kurus nih, Jos. Dua kilo lagi, deh. Lagi kejar target.”
Ojos melengos. “Apa lagi sih yang mau dikurusin? Dasar cewek-cewek. Nggak ngerti gue. Temen lu tuh yang jadi ku-rus padahal nggak jogging.”
“Maksud lu—Kugy?”
“Itu dia yang pingin gue tanya sama lu, sampai gue bela-belain bangun nyubuh begini,” air muka Ojos berangsur se-rius. “Dia kenapa sih, Non?”
“Kenapa memangnya?”
“Lu kan tiap hari ketemu dia. Merasa ada yang aneh nggak, sih?”
Noni berpikir sejenak. “Mmm. Dia memang jarang jalan sama kita akhir-akhir ini. Sibuk sama Ami di Sakola Alit.
Tiap hari kayaknya dia kecapean kali, ya. Sama gua aja jadi jarang ngobrol. Kalo ada yang penting-penting doang.”
“Selain Sakola Alit, kira-kira ada faktor lain nggak?” Noni berpikir lagi, lalu mengangkat bahu.
“Dia ...,” Ojos seperti berat mengatakannya, “nggak lagi dekat sama cowok lain, kan?”
Kening Noni kontan berkerut. “Cowok lain? Setahu gua nggak ada.”
Ojos kelihatan menimbang-nimbang, seperti ingin meng-ungkapkan sesuatu yang lebih berat lagi. “Kalo dengan Keenan ... dia nggak—”
Spontan, Noni tergelak, sampai hampir tersedak. “Aduuuh ... lu kena sindrom Mas Itok juga ternyata.”
“Siapa tuh Mas Itok?”
“Never mind,” Noni mengibaskan tangannya, “setahu gua,
mereka berdua memang dekat, nyambung, tapi nggak ada apa-apa. Keenan malah lagi naksir-naksiran sama sepupu gua yang dari Melbourne itu.”
“Oh, ya? Mereka udah jadian?”
“Belum, sih. Paling bentar lagi,” Noni terkekeh, “gua lho Mak Comblang-nya.” Tak lupa ia menambahkan dengan nada bangga.
Informasi Noni terasa membawa sedikit ketenangan bagi Ojos, tapi kecemasan itu tak sepenuhnya hilang. “Gue titip Kugy, ya, Non. Kalau ada ada apa-apa, tolong kabarin gue.”
“Lu tenang aja, Jos. Mungkin Kugy memang lagi fokus banget ke kegiatan barunya itu. Kan dia memang gitu anak-nya. Kalo udah suka sesuatu, suka jadi asyik sendiri.”
Namun, ingatan Ojos kembali ke adegan di Stasiun Gam-bir malam hari itu. Sorot mata Kugy, sorot mata Keenan, dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi antara mereka berdua. Dalam hatinya, Ojos yakin ia tak per-nah salah. Radarnya tak perantara mereka berdua. Dalam hatinya, Ojos yakin ia tak per-nah salah.
Dibutuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluh-kan hati mereka, murid-murid Kugy yang kini berjumlah sebelas orang itu. Sedikit di antara mereka yang lancar ber-bahasa Indonesia. Hampir semuanya terus-terusan meng-gunakan bahasa Sunda. Sementara Kugy sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda. Setelah dua minggu, masing-masing pihak mulai saling mempelajari. Kini, anak-anak itu mau lebih banyak memakai bahasa Indonesia, dan Kugy pun di-ajari secara tidak langsung istilah-istilah Sunda oleh anak-anak itu. Alhasil, bahasa Sunda Kugy yang centang perenang menjadi salah satu hiburan favorit mereka.
Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan, Kugy akhirnya menemukan cara lain untuk memotivasi mereka belajar membaca. Awalnya, Kugy membawa setumpuk buku-buku dongeng klasik, termasuk koleksi Donal Bebeknya yang ber-jubel. Terkaget-kagetlah Kugy ketika mengetahui bahwa anak-anak itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan Thumbelina, Putri Salju, Cinderella, Prajurit Timah, dan tokoh-tokoh dongeng klasik lainnya. Donal Bebek dan Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaus saja. Dan tersadarlah ia, bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia anak-anak di Sakola Alit sangat jauh berbeda.
Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu, setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya di-ambil dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamen-ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka.
“Bu Kugy! Saya mau jadi Jenderal!” Seorang anak meng-acungkan tangannya sambil membusungkan dada ketika Kugy pertama kali menceritakan rencananya itu di depan kelas.
Dalam hatinya, Kugy bersorak gembira. Anak itu, Pilik, adalah anak yang paling tua dan disegani di antara murid-murid lain. Usianya sembilan tahun, dan belum bisa baca tulis. Seminggu pertama, Kugy habis dipelonco oleh Pilik. Ia tak berhenti-henti berceletuk, tertawa keras-keras, mengo-mentari Kugy dengan bahasa Sunda yang tak dimengertinya, dan Kugy sadar sedang diperolok-olok.
Walau sempat mangkel luar biasa, Kugy tahu anak itu sesungguhnya cerdas dan berjiwa pemimpin. Tak heran, Piliklah yang paling bersemangat menyambut ide dongeng Kugy, dengan catatan: ia harus jadi tokoh utama, alias jadi Jenderal.
“Setuju! Jenderal Pilik! Siapa yang mau ikutan lagi?” ta-nya Kugy pada semua.
Melihat Pilik begitu antusias, yang lain pun langsung ikut mengajukan diri. Maka hari itu, terbentuklah: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Ada juga Hogi si Ayam Pelung Keramat, Palmo si Kambing Nekat, Gogog si Anjing Jago Renang, dan tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di rumah. Setiap hari sepulang sekolah, Kugy menyempatkan diri bermain bersama mereka di kampung. Dan setiap hari pula, ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku tulis. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata, anak-anak itu selalu riuh bersorak-sorai dan bertepuk ta-ngan menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran membaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik men-jadi sahabat setianya. Dan Kugy menmembaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik men-jadi idola mereka se-mua.
Sore itu, setelah semua muridnya pulang, kembali Kugy duduk di saung kecilnya, menuliskan kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari kejauhan terdengar kokok ayam pelung yang lantang dan panjang. “Hogi ...,” gumam Kugy. Dan tangannya spontan mencoret-coret
gambar ayam jantan dengan bulu-bulu hitam berkilau yang mekar sempurna. Tiba-tiba tangannya berhenti. “Lho ... kok jadi kayak Stegosaurus ...,” gumamnya sendirian.
“Ngapain, Gy?”
Kugy terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Eh, si Ical. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung,” Kugy terkekeh, “gua lagi iseng-iseng bikin ilustrasi. Tapi gagal total.”
“Ya, kata Ami, metode dongeng lu sukses berat,” puji Ical, lalu matanya melirik coretan tangan Kugy, “tapi jangan dipaksain pakai gambar, deh.”
Kugy tergelak. “Untuk soal satu itu, gua tahu diri, kok. Gambar ayam purbakala ini cukup gua, lu, dan Tuhan aja yang tahu.”
“Gua punya teman, jago banget ngegambar. Mungkin dia bisa sekali-sekali kita undang jadi guru gambar di sini.”
“Anak Seni Rupa? ITB?”
“Bukan. Anak kampus kita, kuliah di Manajemen. Dia satu kos sama Bimo, sobat gua.”
Jantung Kugy seketika seperti ditusuk.
“Nanti gua coba hubungi lewat Bimo, deh. Siapa juga yang nggak terketuk hatinya lihat gambar lu itu, Gy,” ujar Ical geli.
Kugy ikut tersenyum, tapi senyuman itu sudah berubah masam. Sepertinya ia tahu siapa yang Ical maksud. Susah payah ia berlari, menghindar, dan menenggelamkan diri da-lam dunia baru ini. Tiba-tiba saja, orang itu akan diundang lagi untuk bergabung. Kalau sampai itu terjadi, Kugy tak tahu harus lari ke mana lagi.
Jakarta, Mei 2000 ...
Kugy tidak bisa lari kali ini. Gara-gara pulang ke Jakarta nebeng Fuad yang kini sudah bisa menempuh perjalanan luar kota, Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajak-nya mampir ke Galeri Warsita.
“Apa maksud dan tujuan kita ke sana, sih?” Kugy ber-tanya setengah protes, “Beli lukisan? Kagak mampu. Lihat lukisan Keenan? Udah sering. Jadi, apa?”
“Ini namanya: support, Sayang. Kita harus menunjukkan dukungan kita pada Keenan. Ini hari bersejarah buat dia,” Noni berpidato, “bayangin, pertama kali lukisannya masuk galeri, eeh ... langsung ke galeri besar kayak gitu. Nggak se-mua pelukis muda bisa punya kesempatan kayak Keenan. Masa kita nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?”
Meski mukanya kurang rela, dalam hati Kugy setuju de-ngan semua yang diucapkan Noni. Ia hanya malas meng-hadapi adegan-adegan yang sekiranya bakal pedas di mata. “Kita cuma mampir bentar, kan? Ngelihat lukisannya di-pajang terus kita pulang?” Kugy memastikan sekali lagi.