BAB II BIMBINGAN KNSELING ISLAM, TEORI
C. Bullying
(h) Apakah rencana-rencana perubahan yang telah anda buat benar-benar memuaskan dan apakah rencana-rencana itu juga membantu anda dalammencapai keinginan?
4) P (Planning)
Perintahkan konseli untuk membuat rencana guna memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara lebih efektif. Konselor membantu konseli untuk membuat rencana dalam mengubah perilaku total yang melibatkan komponen-komponen berikut: mencari perilaku alternatif, negosiasi rencana, berkomitmen dengan rencana yang dibuat, mengembangkan perilaku yang relevan, dan mengevaluasi kemajuan dan melaksanakan rencana yang disepakati.41
Dari pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa terapi ini dilakukan dengan tujuan untuk membangun tanggungjawab konseli atas segala sesuatu dalam hidupnya serta mampu mengevaluasi diri dan juga mensyukuri apa yang sudah diterima oleh konseli. Dengan demikian konseli mampu menciptakan konsep diri positif.
(C) Bullying
1. Pengertian Bullying
Bullying merupakan suatu istilah yang terinspirasi dari kata dalam bahasa inggris yakni bull yang berarti “banteng” yang suka menanduk, dari sinilah kata bullying kerap kali digunakan untuk
41Richard Nelson-Jones, Teori dan Praktik Konseling dan Terapi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 299.
suatu perlakuan yang menyakiti orang lain atau pihak lain. Pihak pelaku dari bullying seringkali disebut bully.42
Ken Righby mendefinisikan bullying sebagai suatu dorongan untuk menyakiti. Dorongan ini dimunculkan ke dalam tindakan, yang mengakibatkan seseorang merasa menderita. Tindakan ini dilakukakan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang merasa lebih kuat, tidak bertanggungjawab, dan biasanya dilakukan secara berulang.43
Lebih jelasnya bullying merupakan tindakan agresi (intimidasi, penganiyayaan dan kekerasan lain) yang mana dilakukan oleh seseorang yang lebih kepada seseorang yang lebih lemah baik secara fisik maupun secara psikis dan hal ini dilakukan secara berulang kali.44
Dari beberapa pengertian sebelumnya dapat dijabarkan bahwa bullying merupakan suatu tindakan yang dapat menyakiti dan menimbulkan kecemasanyang mana dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kepada orang lain maupun kelompok lain yang dirasa lebih lemah.
2. Ciri-ciri Bullying
Ada pun beberapa ciri-ciri bullying yang dapat kita ketahui, diantaranya adalah:
a. Merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar, tindakan bullying merupakan tindakan
42 Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), BULLYING: Mengatasi
Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan, ( Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hal. 2
43 Ponny Retno Astuti, Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi K.P.A.), (Jakarta: PT. Grasindo,2008), hal. 3
44Ponny Retno Astuti, Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi K.P.A.), (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hal. 2
yang dilakukan oleh pelaku bullying dalam keadaan sadar, sengaja dan bukan termasuk suatu kelalaian.
b. Tindakan bullying dilakukan secara berulang, tindakan bullying tidak dilakukan hanya satu kali namun berulang kali.
c. Tindakan bullying dilakukan kepada seseorang atau sekelompok yang tidak memiliki posisis disuatu kelompok atau merupakan orang yang fisiknya lebih lemah dari pelaku bullying.45
3. Bentuk-bentuk Bullying
Bentuk bentuk yang dapat dikatakan sebagai perbuatan dari bullying untuk saat ini ternyata semakin beragam, diantara bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut:
a. Fisik
Bentuk bullying secara fisik merupakan bentuk yang paling terlihat oleh orang lain, hal ini karena sebagian (tidak semuanya) dari perilakunya menimbulkan bekas luka dan sejenisnya pada tubuh korbanya. Misalnya; memukul, meludahi, mendorong, menampar, menendang dan kekerasan fisik lain.
b. Verbal
Bentuk bullying secara verbal merupakan suatu penindasan yang dilakukan oleh pelaku bullying secara lisan. Contohnya; mengolok-olok, merendahkan, mengancam, mengumpat dan lain sejenisnya.
c. Cayber atau internet
Bentuk bullying yang satu ini semakin berkembang selaras dengan semakin
45Andri priyatna, “Let’s End Bullying: Memahami, Memecahkan, dan Mengatasi Bullying”,(Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2010) ,hal. 2
berkembangnya media sosial. Hal ini dikarenakan bentukcyberbullying dilakukan melalui media internet, bentuknya pun beragam mulai dari pencemaran nama baik, menyebarkan hoax dan lain-lain.
d. Relasional
Bentuk bullying relasional sering kali dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan seseorang (korban bullying) dari lingkungan. Contohnya; fitnah, mencemarkan nama baik dan lain-lain.46
4. Faktor-faktor Penyebab Bullying
Beberapa faktor atau penyebab terjadinya bullying diantaranya adalah:
a. Kesenjangan sosial (agama, ras, ekonomi bahkan jender)
b. Tradisi senioritas
c. Keadaan keluarga yang tidak harmonis d. Lingkungan yang diskriminatif
e. Kekurangan yang dimiliki secara fisik maupun psikis
f. Tidak percaya diri g. Kurang pergaulan h. Sikap iri atau dendam47 5. Dampak Bullying
Beberapa dampak buruk yang didapat dari perilau bullying, diantaranya adalah:
46Watiek Ideo & Theo Ideo.” Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri-2: Stop Bullying dan Kekerasan pada Anak” (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2016),hal. 5
47 Ponny Retno Astuti, Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi K.P.A.), (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hal. 5
a. Menurunnya harga diri sehingga korban bullying tidak berani untuk melaporkan kepada orang lain (termasuk orang tua dan guru). Hal inilah yang menjadi salah satu faktor kasus bullying yang tidak disadari oleh lingkungan.
b. Perubahan sikap serta kebiasaan c. Terganggunya kesehatan fisik d. Terganggunya kesehatan mental
e. Luka fisik pada tubuh (memar, berdarah dan lain-lain)48
Adapun bullying yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan perlakuan buruk secara verbal(mengolok, mengejek, ungkapan kasar, umpatan) dan fisik(mendorong, menendang, memukul) yang didapatkan konseli dari teman-teman dan juga kakak kelas konseli. Perlakuan bullying yang didapat oleh konseli merupakan akibat dari beberapa perbuatan dan pemikiran konseli yang tidak disukai oleh teman-teman dan kakak kelasnya. 6. Prespektif Islam Bimbingan Konseling Islam
dengan Terapi Realitas untuk Menangani
Seorang Siswa Korban Bullying di MTsN 3 Kota Surabaya
Topik tentang bullying selalu memiliki tempat untuk dibahas. Hampir disemua tempat dan wilayah sudah tidak asing lagi dengan topik bullying. Kekerasan dengan berbagai bentuk yang dilakukan oleh sebagian orang kepada orang yang lebih lemah ini marak terjadi dikalangan pelajar. Hal ini juga terjadi MTsN 3 Kota Surabaya.
48 Ridho Ghifary, Super Santri: About Story From Boarding School, (Yogyakarta: Diandra Kreatif, 2018), hal. 157
Salah satu siswa korban bullying yang pada penelitian ini berperan sebagi konseli mendapatkan perlakuan bullying secara fisik dan juga verbal. Hal ini yang membuat konselor merasa tertarik membantu konseli untuk mencari alternatif agar konseli bisa terlepas dari permasalahan tersebut.
Dalam penelitian ini konselor memilih lebih memfokuskan pada alternatif untuk membantu konseli untuk bisa survive(menyelamatkan diri) dari segala perlakuan bullying yang konseli dapatkan dari teman-temanya serta membangun konsep diri positif konseli. untuk itu dalam penelitian ini konselor memilih menggunakan teori realitas dalam peroses konselingnya. Selain itu konselor juga menyisipkan nilai Islam dalam proses kosnseling, seperti saat konselor menyampaikan nasihat tentang adab berteman dalam Islam. Salah satu dalil dari ayat Al-Qur’an surat Al-Imron ayat 118 menjelaskan tentang salah satu adab dalam memilih teman yang benar, sebagai berikut:
Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah kau jadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan kalanganmu, mereka tidak henti (menumbuhkan) mudharat bagi kamu. Mereka suka apa yang menyusahkanmu. Sudah jelas kebencian dari mulut mereka, dan yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah kami
terangkan kepada kamu ayat-ayat kami, jika kamu memahaminya. (Q.S Al-Imron:118)49
Melihat dari ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan orang yang tidak beriman menjadi sahabat dekat untuk berbagi rahasia dan urusan pribadi. Selain itu konselor juga mengingatkan kepada konseli tentang adab-adab berteman lainnya, dengan menggunakan media video yang sudah konselor siapkan. Konselor juga selalu menekankan bahwa setiap apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan dari lingkungan sesuai dengan perbuatan yang sudah diperbuat.
(D) Penelitian Terdahulu Yang Relevan
1. Bahrudin, Arif (2016) Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas dalam Meningkatkan Rasa Percaya Diri Seorang Anak di Desa Srigading Ngoro Mojokerto Study Kasus Seorang Anak yang Dipaksa Orangtuanya Mondok. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.
Persamaan: Persamaan yang bisa terlihat dari penelitan tersebut dengan penelitian saya adalah terletak pada kesamaan pemilihan terapi realitas untuk menyelesaikan permasalahan.
Perbedaan: perbedaan penelitian diatas dengan penelitian saya terletak pada subjek penelitian, permasalahan, serta lokasi penelitian. Pada penelitian diatas menggunakan terapi realitas untuk
meningkatkan rasa percaya diri seorang anak di Desa Srigading Ngoro Mojokerto, sedangkan pada penelitian saya menggunakan terapi realitas untuk menangani seorang siswa korban bullying di MTsN 3 Kota Surabaya.
2. Wulandari, Tri Ayu (2014) Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi Realitas Untuk Menangani Seorang Ibu yang Memiliki Seorang Anak Penyandang Autis di Gang Salafiyah Wonocolo Surabaya. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.
Persamaan: Persamaan yang bisa terlihat dari penelitan tersebut dengan penelitian saya adalah terletak pada kesamaan pemilihan terapi realitas untuk menyelesaikan permasalahan.
Perbedaan: perbedaan penelitian diatas dengan penelitian saya terletak pada subjek penelitian, permasalahan, serta lokasi penelitian. Pada penelitian diatas menggunakan terapi realitas untuk menangani seorang ibu yang memiliki anak dengan kelainan autis di Gang Salafiyah Surabaya, sedangkan pada penelitian saya menggunakan terapi realitas untuk menangani seorang siswa korban bullying di MTsN 3 Kota Surabaya.
3. Aisyah, Siti Nur (2014) Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas dalam Menangani Anak Terisolir: Study Kasus Anak Hasil Adopsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.
Persamaan: Persamaan yang bisa terlihat dari penelitan tersebut dengan penelitian saya adalah terletak pada kesamaan pemilihan terapi realitas untuk menyelesaikan permasalahan.
Perbedaan: perbedaan penelitian diatas dengan penelitian saya terletak pada subjek penelitian, permasalahan, serta lokasi penelitian. Pada penelitian diatas menggunakan terapi realitas untuk menangani anak terisolir yang merupakan anak dari hasil adopsi, sedangkan pada penelitian saya menggunakan terapi realitas untuk menangani seorang siswa korban bullying di MTsN 3 Kota Surabaya.