• Tidak ada hasil yang ditemukan

IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan Fraud Control Plan (FCP)

AKUNTABILITAS KINERJA

B. Analisis Capaian Kinerja Tujuan Strategis 1

2. IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan Fraud Control Plan (FCP)

Pencegahan korupsi meliputi dua langkah fundamental, pertama adalah penciptaan dan pemeliharaan kejujuran dan integritas, dan yang kedua adalah pengkajian risiko korupsi serta membangun sikap yang konkrit guna meminimalkan risiko serta menghilangkan kesempatan terjadinya korupsi. Korupsi tidak akan terjadi apabila tidak ada kesempatan, oleh karena itu organisasi dapat menghilangkan atau mengurangi kesempatan terjadinya korupsi melalui langkah berikut:

1) Mengidentifikasi sumber serta mengukur risiko korupsi.

2) Mengimplementasikan pengendalian pencegahan dan pendeteksian.

3) Menciptakan pemantauan secara luas melalui peran serta pegawai, pelanggan dan masyarakat.

4) Memfungsikan pengecekan independen, termasuk fungsi audit dan standar investigasi.

Dalam mengelola organisasi, hal-hal yang diperlukan untuk mencegah korupsi seperti tersebut di atas dikenal dengan Program Anti Korupsi atau Fraud Control Plan (FCP). FCP merupakan suatu pengendalian yang dirancang secara spesifik, teratur, dan terukur oleh suatu organisasi, untuk mencegah, menangkal, dan memudahkan pendeteksian, jumlah, serta frekuensi kemungkinan terjadinya korupsi/kecurangan yang ditandai dengan eksistensi dan implementasi beberapa atribut dalam kerangka upaya mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.

Terkait dengan FCP, BPKP melaksanakan penugasan:

1) Sosialisasi FCP, adalah kegiatan penyebaran informasi FCP oleh tim kerja FCP kepada organisasi atau pihak lain yang berkepentingan.

2) Diagnostic Assesment (DA) FCP, dilaksanakan setelah dilakukan sosialisasi yang bertujuan untuk menentukan eksistensi dan implementasi FCP yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan organisasi dalam mencegah dan mendeteksi fraud.

3) Bimbingan teknis FCP, meliputi transfer pengetahuan mengenai FCP dan membantu penyusunan pedoman praktis FCP.

4) Evaluasi atas Implementasi FCP, bertujuan untuk menilai sejauh mana organisasi telah mengembangkan dan mengimplementasikan FCP dan apa hambatannya.

5) Monitoring dan Tindak Lanjut FCP, dilakukan terhadap setiap tahapan FCP yang telah dilaksanakan oleh organisasi. Tujuannya adalah untuk mengkaji apakah kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, mengidentifikasi masalah yang muncul agar dapat diatasi, mengetahui kaitan antara kegiatan implementasi FCP dengan tujuan untuk memperoleh ukuran kemajuan. Untuk mengukur manfaat pengawasan Deputi Bidang Investigasi yang bersifat pencegahan, maka ditetapkan indikator kinerja IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan FCP. Capaian indikator ini diukur dari jumlah instansi yang telah menerapkan FCP. Pada tahun 2014 Deputi Bidang Investigasi dan Perwakilan BPKP Bidang Investigasi melaksanakan penugasan FCP sebanyak 120 kegiatan yang terdiri dari sosialisasi FCP, diagnostic assesment FCP, bimbingan teknis FCP, dan evaluasi atas implementasi FCP. IPP/IPD/BUMN/BUMD

Realisasi outcome tahun 2014 sebanyak 17 instansi atau mencapai 120% dari target sebanyak 14 instansi. Faktor pendukung tercapainya indikator tersebut adalah Deputi Bidang Investigasi terus melakukan pendekatan ke Instansi Pemerintah maupun BUMN/BUMD dengan melakukan sosialisasi FCP. Untuk Instansi Pemerintah atau BUMN/BUMD yang telah melakukan sosialisasi disarankan untuk melakukan

diagnostic assesment FCP dan megimplementasikan FCP. Deputi Bidang Investigasi

juga selalu menekankan dan menyampaikan kepada instansi bahwa korupsi perlu dicegah dan ditangkal sebelum terjadi agar tidak menimbulkan kerugian keuangan negara dan akibat negatif lain bagi keuangan/perekonomian negara.

Realisasi IPP/IPD/BUMN/BUMD yang mengimplementasikan FCP tahun 2014 sebanyak 17 instansi mengalami peningkatan sebanyak 4 instansi dibandingkan dengan realisasi tahun 2013 sebanyak 13 instansi. Capaian outcome tahun 2014 sebesar 120% meningkat 20% dibandingkan capaian tahun 2013 sebesar 100%.

Realisasi outcome akhir periode Renstra 2010-2014 sebanyak 14 instansi apabila dibandingkan dengan capaian outcome pada akhir periode Renstra 2005-2009 sebanyak 10 instansi, maka capaian tersebut naik sebanyak 4 instansi.

Target dan realisasi IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang

mengimplementasikan FCP dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.11

Target dan Realisasi IKU IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan FCP

No. Tahun

IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan FCP

Target Realisasi Capaian (%)

1. 2010 10 11 110,00

2. 2011 11 13 118,18

3. 2012 12 12 100,00

4. 2013 13 13 100,00

Target dan realisasi tersebut dapat digambarkan dengan grafik berikut:

Grafik 3.5

Target dan Realisasi IKU IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplemantasikan FCP

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa selama periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 target yang telah ditetapkan selalu tercapai.

Perkembangan capaian outcome dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 dapat digambarkan dengan grafik berikut:

Grafik 3.6

Perkembangan Capaian IKU IPP/IPD/BUMN/BUMD berisiko fraud yang mengimplementasikan FCP

Dari grafik tersebut terlihat bahwa capaian IPP/IPD/BUMN/BUMD yang mengimplementasikan FCP cenderung naik dan selalu melampaiui 100%. FCP merupakan produk unggulan Deputi Bidang Investigasi, oleh karena itu FCP terus dikembangkan, diantaranya dengan melakukan revisi Pedoman Bimbingan Teknis FCP pada tahun 2013. 2010 2011 2012 2013 2014 TARGET 10 11 12 13 14 REALISASI 11 13 12 13 17 -2 4 6 8 10 12 14 16 18 2010 2011 2012 2013 2014 Capaian 110,00 118,18 100,00 100,00 121,43 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00

Penugasan bimtek FCP pada tahun 2014 menggunakan SDM sebesar 824 OH dari target 51 OH dan dana sebesar Rp3.280.000,00 atau 11,01% Rp29.790.000,00. Realisasi penggunaan SDM sangat tinggi, hal ini terjadi karena pada saat penyusunan perencanaan penugasan bimtek FCP diutamakan untuk melakukan sosialisasi FCP yang membutuhkan SDM atau OH tidak terlalu banyak. Pada kenyataannya pada tahun 2014 instansi yang telah melaksanakan sosialisasi meminta BPKP untuk melaksanakan penugasan diagnostic assesment dan bimtek FCP. Penugasan tersebut menggunakan SDM atau OH banyak sehingga realisasi penggunaan SDM sangat tinggi.

Pada tahun 2014 IPP/IPD/BUMN/BUMD yang mengimplementasikan FCP sebanyak 17 instansi yaitu:

1) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Muaro Jambi 2) Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Kalimantan Utara

3) Dinas Kesehatan Kabupaten Buru 4) PDAM Gunung Kidul Yogyakarta

5) Rumah Sakit Umum Kalabahi Nusa Tenggara Timur 6) Dinas Kesehatan Kota Binjai

7) Kantor Imigrasi Kelas II Sorong 8) PDAM Pontianak Kalimantan Barat 9) Kantor Pertanahan Kota Ambon

10) Rumah Sakit Daerah Mardi Waluyo Kota Blitar 11) BPJS Ketenagakerjaan

12) Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Binjai 13) Rumah Sakit Umum Daerah DR Doris Sylvanus Palangkaraya 14) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Kampar 15) PDAM Binangun Kulon Progo

16) Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Tebing Tinggi 17) Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau