a. Pengelompokan bunyi bahasa
Bunyi bahasa secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu vokal dan konsonan. Seperti yang dikemukakan oleh Edja Sadjaah, (1995:66) bahwa pengelompokan bunyi bahasa terdiri atas :
1. Vokal
Vokal terjadi dari getaran selaput suara, dengan nafas keluar mulut mendapat halangan. Dalam fonem bahasa Indonesia, bahwa vocal itu terdiri dari : A,I, U, E (benar), E ( merah), dan O. Gorys Keraf, (1991:23) mengartikan vokal adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan. 2. Konsonan
Konsonan adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan, entah seluruhnya atau sebagian.
Konsonan dapat dikelompokkan berdasarkan faktor-faktor berikut : a) Menurut Dasar Artikulator dan Titik Artikulasi terdiri dari :
(1) Konsonan Bilabial
Yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai articulator dan titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan adalah : p, b, m dan w (2) Konsonan Labio-dental
Yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai articulator. Bunyi yang dihasilkan adalah : f dan v
(3) Konsonan Apiko-dental
Yaitu konsonan yang dihasilkan dengan ujung lidah (apex) yang bertindak sebagai articulator dan daerah anar gigi (dens) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan adalah : d, l, n, r, s, t , z. (4) Konsonan Apiko-Alveolar
Yaitu konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai articulator dan lengkung kaki gigi (alveolum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan adalah : d, l. n, r, t
(5) Konsonan Palatal atau Lamino-palatal
Yaitu konsonan yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah (lamina) sebagai articulator dan langit-langit keras (palatum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan adalah : c, j, ny dan sy
(6) Konsonan Velar atau dorso-velar
Yaitu konsonan yang dihasilkan oleh belakang lidah (dorsum) sebagai articulator dan langit-langit lembut (velum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan adalah : g, k, ng dan kh
Yaitu konsonan yan dihasilkan dengan posisi pita suara sama sekali merapat sehingga menutup glottis, udara sama sekali dihalangi. Bunyi yang dihasilkan adalah hamzah ( ‘ )
(8) Konsonan Laringal
Yaitu konsonan yang dihasilkan dengan pita suara terbuka lebar sehingga udara yang keluar digesekkan melalui glottis. Bunyi yang dihasilkan adalah : h
b) Menurut Jenis Halangan Udara
Berdasarkan jenis halangan udara yang terjadi pada waktu udara keluar dari rongga ujaran, konsonan dapat dibedakan atas :
(1) Konsonan Hambat (stop)
Konsonan yang dihasilkan dengan udara yang sama sekali dihalangi pada daerah artikulasi. Konsonan yang dihasilkan adalah : b, c, d, g, j, k, p dan hamzah
(2) Frikatif
Yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru digesekkan sehingga terdengar bunyi geser atau frikatif. Konsona yang dihasilkan adalah : f, h, kh, dan v
Yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan berupa pengadukan sehingga terdengar bunyi desis. Konsonan yang dihasilkan adalah : s, z, sy.
(4) Likuida atau Lateral
Yaitu knsonan yang dihasilkan dengan menaikkan lidah ke langit-langit sehingga udara terpaksa diaduk dan keluar melalui kedua sisi (latus) lidah. Konsonan yang dihasilkan adalah l (5) Getar atau Trill
Yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mendekatkan dan menjauhkan lidah ke alveolum dengan cepat dan berulang-ulang sehingga udara bergetar. Getaran udara yang terjadi disebut getar apical ( apical Trill). Konsonan yang dihasilkan adalah : r
c) Menurut Bergetar dan Tidaknya Pita Suara. (1) Konsonan Bersuara
Yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari rongga ujaran turut menggetarkan pita suara. Konsonan yang terjadi adalah b, d, j, g, m, n, r, v, ny, ng,
Konsonan yang terjadia bila udara yang keluar dari rongga ujaran tidak menggetarkan pita suara. Konsonan yang terjadi adalah : c, f, h, k, p, s, t, kh, sy dan hamzah
d) Menurut Jalan Keluar Udara
a. Konsonan Oral, yaitu konsonan yang terjadi bila udara keluar melalui rongga mulut atau oris. Konsonan yang dihasilkan adalah b, c, d, f, g, h, j, k, l, p, r, s, t, v ,z, sy, kh, hamzah.
b. Konsonan Nasal, yaitu konsonan yang terjadi bila udara keluar melalui rongga hidung (nasus). Konsonan yang dihasilkan adalah : m, n, ny dan ng
b. Pembentukan Bunyi Bahasa /ng/, /k/ dan /g/
1) Pembentukan Bunyi Bahasa /ng/ (velar, sengau, bersuara)
a) Dasar Ucapan fonem /ng/ : lidah bagian belakang dan langit-langit lembut
b) Pembentukannya :
(1) Ujung lidah terletak pada dasar mulut, rahang atas dan rahang bawah terbuka, celah suara tebuka sehingga terjadi getaran suara. (2) Aliran udara melalui hidung, tertutup oleh pangkal lidah
(3) Udara dalam rongga dada dan kepala beresonansi c) Cara Melatihnya :
· Adakanlah percakapan kecil mengenai kejadian hangat hari itu, atau gambar, ataupun apa saja yang dapat menjadikan dari anak rileks dan menemukan fonem-fonem yang akan dilatihkan, misalnya fonem /ng/ : ngaji, bunga, buang, kemudian tuliskanlah kata-kata tersebut pada sehelai kertas, lalu garis bawah suku kata yang mengandung fonem /ng/. · Ucapkan secara global “ngaji” suruhlah anak menirukannya. · Amatilah ucapan anak.
ii. Secara Visual
· Ajaklah anak memperhatikan posisi lidah dan gerakan rahang pada saat pembentukan fonem /ng/. Suruhlah anak menirukan dan mengamati gerakan rahang dan lidahnya sendiri.
· Ucapkan “ngaji” kemudian anak menirukan. · Ajaklah anak meraban :
Nga nganga nganganga nganganganga ngaaaaaaa nga Ngo ngongo ngongongo ngongongongo ngoooooo ngo Ngi ngingi ngingingi ngingingingi ngiiiiiiiii ngi
iii. Secara Auditoris
· Ajaklah anak meraban sambil mengamati ada tidaknya bunyi rabaan itu.
· Bila sudah bereaksi adanya bunyi, maka tutuplah mulut guru, lalu ucapkan secara global “bunga” dan anak menirukannya.
· Berikan kesempatan anak meraban sendiri sambil mengamati suaranya.
iv. Secara Haptik
· Ajaklah anak untuk merasakan getaran pada hidung dan leher dengan cara silang.
· Ajaklah anak meraban bervariasi, sambil merasakan getaran yang terjadi.
2) Pembentukan bunyi bahasa /k/ (velar, letup, tak bersuara)
a) Dasar Ucapan fonem /k/ : daun lidah bagian belakang dan langit-langit lembut
b) Pembentukannya :
(1) Ujung lidah bagian belakang menekan langit-langit lembut sehingga aliran udara terhambat pada pangkal lidah
(2) Ujung lidah terletak di dasar mulut dan menyentuh kaki gigi bawah
(4) Jika hambatan udara secara tiba-tiba ditiadakan, langit-langit lembut terangkat, terjadilah letupan dan terbentuklah /k/
c) Cara Melatihnya : (1) Titik Tolak
· Adakanlah percakapan kecil mengenai kejadian hangat hari itu, atau gambar, ataupun apa saja yang dapat menjadikan dari anak rileks dan menemukan fonem-fonem yang akan dilatihkan, misalnya fonem /k/ : kado, kaki, bapak, kemudian tuliskanlah kata-kata yang megandung fonem /k/. · Ucapkan secara global “kaki” suruhlah anak untuk
menirukannya.
· Amatilah ucapan anak. (2) Secara Fisual
· Ajaklah anak memperhatikan lidah dan bentuk bibir guru pada cermin, kemudian suruh anak menirukannya.
· Ucapkan “katak” kemudian anak meniru.
· Tuliskan suku kata ka, ko, ki, ku, ke lalu ajaklah anak meraban ka kaka kakaka kakakaka kaaaaaa ka kakaka Ko koko kokoko kokokoko koooooo ko kokoko
Ki kiki kikiki kikikiki kiiiiiiii ki kiki dan seterusnya. (3) Secara Auditoris
· Gunakan suara yang lebih keras, atau speech trainer, ABM anak.
· Ajaklah anak mengamati ada tidaknya suara sambil meraban.
· Bila sudah bereaksi ada bunyi maka tutuplah mulut guru lalu ucapkan kata secara gelobal, anak menirukannya.
· Berikan kesempatan anak meraban sendiri sambil merasakannya suaranya sendiri.
(4) Secara Haptik
· Ajaklah anak untuk merasakan udara meletup yang keluar dari mulut dengan ujung jarinya.
· Berikan kesemparan anak untuk mencoba, guru melakukan bersamaan dengan itu silanglah tangan guru ke mulut anak, tangan anak ke mulut guru untuk mengontrol letupan.
· Lakukan latihan pernafasan dengan cara meniup lilin dan seterusnya.
3) Pembentukan bunyi bahasa /g/ (palatal, alveolar, letup hambat bersuara) a) Dasar Ucapan fonem /g/ : daun lidah dan langit-langit keras
b) Pembentukannya :
(1) Daun lidah menekan langit-langit keras sehingga udara yang keluar lewat mulut terhambat.
(2) Pinggir lidah menempel pada gigi bawah
(3) Rongga mulut menyempit, pita suara terbuka, jika kita hembuskan nafas, rongga mulut akan terbuka dan terjadi letupan tak sempurna.
c) Cara Melatihnya : (1) Titik Tolak
· Adakanlah percakapan kecil mengenai kejadian hangat hari itu, atau gambar, ataupun apa saja yang dapat menjadikan dari anak rileks dan menemukan fonem-fonem /g/ seperti : gula, gigi, bedug
· Amatilah ucapan anak. (2) Secara Visual
· Ajaklah anak mengamati posisi lidah dan bibir pada saat megucapkan “gula” pada cermin.
· Berilah kesempatan kepada anak berlatih sebanyak-banyaknya.
· Ajaklah anak meraban.
Ga ga ga gaga gagaga gagagaga gaaaaaa ga gaga Gi gi gi gigi gigigi gigigigi giiiiiiii gi gigi
Go go go gogo gogogo gogogogo gooooo go gogo dan seterusnya.
(3) Secara Auditoris
· Gunakan suara yang lebih keras atau speech trainer, ABM. · Ajaklah anak untuk mengamati ada tidaknya suara sambil
meraban.
· Bila sudah bereaksi ada bunyi tutuplah mulut guru. · Biarkan anak berlatih lebih banyak.
(4) Secara Haptik
· Ajaklah anak merasakan aliran udara pada telapak tangan atau ujung jarinya pada saat mengucapkan fonem /g/.
· Getaran dapat dirasakan pada leher, bawalah meraban.
c. Kesalahan yang sering terjadi pada anak tunarungu
Menurut Edja Sudjaah, (1995:102) terdapat beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh anak tunarungu dalam menghasilkan bunyi bahasa /ng/, /k/ dan /g/ diantaranya :
1) /ng/ belum terbentuk 2) /ng/ diucapkan /n/ 3) /ng/ diucapkan lemah 4) /k/ diucapkan tidak meletup 5) /k/ lidah terlalu ke belakang 6) /k/ diucapkan /c/
7) /k/ diucapkan /kh/ 8) /k/ diucapkan /g/
9) /g/ diucapkan belum terbentuk 10) /g/ diucapkan /k/
Berdasarkan beberapa uraian kemungkinan terjadinya kesalahan pengucapan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh anak tunarungu seperti tersebut diatas, maka penulis berusaha untuk memperbaiki dengan menggunakan media madu dan air untuk merangsang mengaktifkan organ bicara terutama pangkal lidah.
5. Tehnik Penggunaan Air dan Madu Dalam Pengajaran Bina Wicara a. Penggunaan Media Air.
Melalui Penggunaan media air ini dimaksudkan untuk merangsang dan melatih gerakan motorik kasar yang langkah-langkahnya sebagai berikut :
1) Menelan air dengan menggunakan selang/sedotan yang diletakkan di ujung rongga mulut, sambil merasakan/meraba pangkal lidahnya dan laring yang sedang aktif bergerak naik turun, dan posisi kepala tengadah.
2) Dengan posisi kepala bertengadah, mulut terbuka, pangkal lidah menutup untuk menahan air, udara dari paru-paru mendorong pangkal lidah yang dalam keadaan tertutup sehingga terbuka dan mengeluarkan gelembung udara, sehingga terjadilah gerakan membuka dan menutup pada pangkal lidahnya.
b. Penggunaan Media Madu
Penggunaan media madu ini dimaksudkan untuk melatih gerakan otot motorik halus (pelemasan) dengan cara memasukkan + 1 cc madu ke rongga mulut, lidah mengecap dan pangkal lidah diaktifkan, dengan menggunakan sarung tangan guru membimbing sambil menunjukkan letak pangkal lidah dan langit-langit lunak, sebagai tempat menutupnya pangkal lidah. Hal ini dilakukan dengan berulang-ulang sehingga anak terampil dan menguasai materi yang diberikan.