• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Temuan jenis satwa liar lainnya (Mamalia dan Burung)

4.2. Burung

i.Keanekaragaman Jenis.

Pengumpulan data keberadaan jenis-jenis burung baik secara langsung maupun tidak langsung telah mencatat sebanyak 100 jenis burung di dalam maupun di luar transek. Semua jenis yang tercatat dalam kawasan survei tersebut tergabung dalam 38 keluarga dengan jumlah jenis terbanyak berasal dari keluarga Timaliidae 8 jenis, selanjutnya Nectarinidae, Picidae dan Pycnonotidae masing-masing 7 jenis. Jumlah tersebut belum mewakili kekayaan jenis burung di lokasi survei, pengamatan yang lebih lama dan ruang lingkup yang lebih luas akan memberi kemungkinan untuk mendapat daftar jenis yang lebih banyak lagi.

Tabel 7. Jumlah jenis burung per famili di lokasi survei.

No Famili Inggris Jumlah

Spesies

1 Accipitridae Hawks, Eagles, Kites, Vultures 5

3 Anhingidae Darters 1

4 Apodidae Swifts 1

5 Ardeidae Heron 2

6 Artamidae Swallow 1

7 Bucerotidae Hornbills 1

8 Campephagidae Cuckoo-shrikes, Minivet 4

9 Capitonidae Barbets 2

10 Caprimulgidae Nightjar 1

11 Chloropseidae Ioras, Leafbirds 3

12 Ciconidae Stork 1

13 Columbidae Pigeons, Doves 4

14 Corvidae Jays, Magpies, Crows 1

15 Cuculidae Cuckoos 6 16 Dicaeidae Flowerpeckers 1 17 Dicruridae Drongos 3 18 Falconidae Falconet 1 19 Hirundinidae Swallows 1 20 Laniidae Shrikes 1 21 Meropidae Bee-eaters 1

22 Motacillidae Wagtails, Pipits 1

23 Muscicapidae Old World Flycatchers 4

24 Nectariniidae Sunbirds, Spiderhunters 7

25 Oriolidae Oriole 1

26 Phasianidae Pheasant 1

27 Picidae Woodpeckers 7

28 Ploceidae Sparows, Weavers, Munias 3

29 Psittacidae Parrots 2

30 Pycnonotidae Bulbuls 7

31 Pytriaseidae Bristlehead 1

32 Rallidae Crake, Waterhen 2

33 Strigiformes Owls 1

34 Sturnidae Starling 2

35 Syllviidae Old World Wabblers 3

36 Timaliidae Babblers 8

37 Trogonidae Trogons 2

ii. Status Perlindungan

Berdasarkan status konservasi yang mengacu pada Peraturan Permen LH dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar, dari total 100 jenis burung yang berhasil dicatat di lokasi survei (dalam dan luar transek) terdapat 19 jenis dengan status dilindungi seperti burung Rangkong (Bucerotidae), Elang (Accipitridae), Burung Madu (Nectariniidae), Bangau Tongtong (Ciconiidae) dan lain-lain. Berdasarkan status keterancaman global menurut IUCN terdapat 4 jenis burung masuk kategori kategori VU (Vulnerable) yaitu Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), Betet ekor panjang (Psittacula longicauda), Empuloh paruh - kait (Setornis criniger) dan Kerak kerbau (Acridotheres javanicus). Di samping itu juga terdapat 17 jenis burung yang mendekati terancam punah (NT). Berdasarkan CITES (Convention on International Trade Endangered Species) terdapat 2 jenis yang masuk dalam appendix II, yaitu Tiong emas (Gracula religiosa) dan Kengkareng perut putih (Anthracoceros albirostris). Dari data tersebut bila dibagi per blok, dengan memasukkan hanya burung-burung yang ada di dalam transek, akan terlihat pada tabel 8 dan 9 berikut ini.

Tabel 8. Jenis burung yang dijumpai di transek Blok Kendawangan beserta status perlindungannya.

No Indonesia Ilmiah Inggris Endemik Status Konservasi

IUCN CITES UU/P 1 Luntur Putri Harpactes duvaucelii Scarlet-rumped

Trogon NT V

2 Kipasan Belang Rhipidura javanica Pied Fantail LC V

3 Burungmadu

Sepah-raja Aethopyga siparaja Crimson Sunbird LC V

4 Takur Tutut Megalaima refflesii Red-crowned

Barbet NT V

5 Empuloh

Paruh-kait Setornis criniger Hook-billed Bulbul VU V

6 Serindit Melayu Loriculus galgulus Blue-crowned

Hanging Parrot LC V

7 Sepah Tulin Pericrocotus igneus Fiery Minivet NT 8 Tiong Emas Gracula religiosa Common Hill

Myna LC II V

9 Elang Brontok Spizaetus cirrhatus Crested

Hawk-Eagle LC V

10 Caladi Badok Meiglyptes tukki Buff-necked

woodpecker NT

11 Kadalan Beruang Phaenicophaeus

diardii

Black-bellied

Malkoha NT

13 Pelanduk Ekor-pendek Malacocincla malaccense Short-tailed Babbler NT

14 Asi Besar Malacopteron

magnum

Rufous-crowned

Babbler NT

15 Ciungair Pongpong Macronus ptilosus Fluffy-backed

Tit-Babbler NT

16 Pentis Kumbang Prionochilus

thoracicus Scarlet-breasted Flowerpecker NT 17 Kengkareng Perut-putih Anthracoceros albirostris Oriental Pied Hornbill LC II V

Tabel 9. Jenis burung yang dijumpai di transek blok Air Hitam beserta status perlindungannya.

No Indonesia Ilmiah Inggris Endemik Status Konservasi

IUCN CITES UU/P

1 Kipasan Belang Rhipidura javanica Pied Fantail LC V

2 Pelanduk Dada-putih Trichastoma rostratum White-cested Babbler NT 3 Pelanduk Ekor-pendek Malacocincla malaccense Short-tailed Babbler NT

4 Elang Bondol Haliastur indus Brahminy Kite LC V

5 Puyuh Sengayan Rollulus rouloul Crested Partridge NT 6 Serindit Melayu Loriculus galgulus Blue-crowned

Hanging Parrot LC V

7 Kadalan Saweh Phaenicophaeus

sumatranus

Chestnut-bellied

Malkoha NT

8 Luntur Putri Harpactes

duvaucelii

Scarlet-rumped

Trogon NT V

9 Takur Tutut Megalaima refflesii Red-crowned

Barbet NT V

10 Sepah Tulin Pericrocotus igneus Fiery Minivet NT 11 Cipoh Jantung Aegithina viridisima Green Iora NT 12 Cicadaun Kecil Chloropsis

cyanopogon

Lesser Green

Leafbird NT V

13 Empuloh

Paruh-kait Setornis criniger

Hook-billed Bulbul VU V 14 Tiongbatu Kalimantan Pityriasis gymnocephala Bornean Bristlehead NT

15 Asi Besar Malacopteron

magnum

Rufous-crowned

Babbler NT

16 Tiong Emas Gracula religiosa Common Hill

Myna LC II V

17 Burungmadu

Status endemisitas yang dimaksud, mengacu pada konsep endemisitas menurut Birdlife

International (Stattersfield dkk. 1998). Burung sebaran terbatas adalah burung yang dikategorikan

burung darat dengan luas daerah jelajah kurang dari 50.000 km² sepanjang sejarahnya pencatatan distribusinya (sejak tahun 1800) (Stattersfield dkk. 1998). Dalam mengacu endemisitas juga sebaran burung tersebut harus spesifik lokasi, misalnya Ciconia stormi meskipun termasuk pada kategori spesies terancam karena populasinya sangat kecil dan sebarannya terbatas di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia, tetapi spesies ini dalam sejarahnya juga tersebar di wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya dan Sabah), sehingga spesies ini tidak digolongkan dalam spesies endemik untuk Indonesia.

iii. Spesies penting

Sebagai suatu kelompok, burung sangat bermanfaat untuk mengevaluasi gangguan terhadap hutan, karena hal-hal sebagai berikut:

1. Taksonomi burung yang lebih baik dan kemudahannya untuk diidentifikasi dilapangan

2. Ketersediaan informasi biologis dan ekologis mengenai sebagian besar suku burung dan spesiesnya

3. Kepekaan burung terhadap perubahan struktur, iklim mikro, dan komposisi hutan dan

4. Fungsi ekologis burung (misalnya sebagai pollinator, penyebar dan pemangsa benih, (Fimbel

et.al. 2001).

Dari sudut konservasi, beberapa spesies burung penting ditemukan di lokasi: Rangkong (Bucerotidae)

Sebagai frugivora, burung rangkong memiliki ruang lingkup dan jelajah yang luas serta merupakan jenis pemencar biji yang sangat baik sehingga secara ekologi memiliki peran penting dan dianggap sebagai spesies yang merupakan indikator kondisi hutan, keberhasilan regenerasi hutan dan indikator keberadaan cadangan keanekaragaman hayati pohon

Rangkong memiliki distribusi yang tidak merata di Kalimantan beberapa di antaranya menempati dataran rendah dan beberapa di antaranya cukup umum dan tersebar dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan tingkat kepadatan yang berbeda.

Pada survei singkat ini, tercatat hanya 1 jenis burung rangkong (Bucerotidae) dari 9 jenis burung rangkong yang ada di Kalimantan. Jenis yang dijumpai adalah Kengkareng perut putih (Athracoceros albirostris) yang dijumpai sepasang di lokasi transek 10 (HKI 3).

Pelatuk (Picidae)

Pelatuk membentuk kelompok spesialis pelubang kayu yang beradaptasi memungkinkannya untuk membuat lubang sarang dan berkembang biak dalam pohon, memanjat batang pohon secara vertikal, dan mempertahankan posisi yang sesuai untuk mencari makan dan membuat lubang.

Pelatuk memiliki fungsi ekologi yang bernilai tinggi bagi konservasi kelompok vertebrata dan invertebrata tropis karena kelompok ini melubangi rongga pohon yang dibutuhkan oleh banyak spesies lain, kelelawar, burung hantu yang bersarang dalam rongga, spesies lalat tertentu, ular, kadal, dan tupai pohon.

Dari 7 jenis pelatuk yang ditemukan di lokasi Tukik tikus (Sasia abnormis), Pelatuk merah (Picus

miniaceus) dan Pelatuk ayam (Dryocopos javensis) paling sering terlihat (3 kali di berbagai transek)

sedangkan jenis lain hanya sesekali terlihat.

Luntur (Trogonidae)

Burung Luntur adalah pemakan serangga di hutan tropis dan subtropis yang mencari makan dengan cara menyapu permukaan substrat dan dengan menyerang secara tiba-tiba. Lambert dan Collar (2002) menyimpulkan bahwa populasi Luntur harus dipantau dengan lebih hati-hati, karena bukti yang ada mengungkapkan bahwa mereka lebih rentan terhadap perubahan yang terjadi di hutan-hutan wilayah Sunda land, dibandingkan dengan taksa yang lain.

Jenis burung Luntur yang cukup sering dijumpai di lokasi survei adalah Luntur Putri (Harpactes

duvaucelii). Suara yang khas, dan warna yang mencolok (merah) menjadi penanda burung ini. Burung

Luntur dapat menjadi salah satu indikator bahwa hutan yang ada pada lokasi transek masih bagus, karena spesies ini termasuk dalam spesies yang sensitif terhadap perubahan hutan.

Raptor (Accipitridae)

Sebanyak 5 spesies raptor telah diidentifikasi selama survei, hal ini menunjukan bahwa daerah ini memiliki jenis dan kepadatan raptor tinggi. Elang tikus (Elanus caeruleus) dan Elang Brontok (Spizaetus cirhatus) terlihat cukup umum, sebagai predator mungkin menunjukkan bahwa kawasan ini kaya dengan reptil dan vertebrata kecil lainnya.

Cucak-cucakan (Pycnonotidae)

Cucak-cucakan/kutilang merupakan suku besar dari spesies yang mempunyai preferensi habitat yang beragam. Perbedaan besar badan tidak begitu terlihat, namun spesies dibedakan oleh tipe habitat, ketinggian, dan kemungkinan perbedaan makanan serta perilaku pencarian makanan.

Pada umumnya setelah kegiatan penebangan hutan, pemakan serangga yang hidup di interior hutan bisa digantikan oleh spesies sikatan atau masuknya spesies cucak-cucakan (Pycnonotidae) yang memiliki karakteristik habitat pinggiran hutan, spesies pemakan buah tersebut umumnya berasosiasi dengan spesies tumbuhan perintis yang cepat tumbuh, tetapi juga mengkonsumsi serangga.

Tercatat 7 jenis dari kelompok ini ditemukan di lokasi, 2 jenis di antaranya terlihat sangat dominan dijumpai hampir di semua lokasi transek, yaitu Merbah Corok-corok (Pycnonotus simplex) dan Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) .

Jenis burung lainya yang memiliki nilai ekonomi

Beberapa jenis burung yang memiliki nilai ekonomi untuk diperdagangkan dan sangat populer sebagai burung peliharaan seperti Kucica Hutan/Murai Batu (Copsychus malabaricus) dan Cica-daun/Murai Daun (Chloropsis sp) lebih mudah ditemukan di dalam sangkar yang ada di pemukiman masyarakat dibandingkan di lokasi survei.

DISKUSI 1. Orangutan

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) merupakan salah satu dari 3 sub-jenis Orangutan yang sebarannya cukup luas di pulau Kalimantan, meliputi sebagian daerah Kalimantan Barat hingga Kalimantan Selatan. Kecamatan Kendawangan adalah salah satu daerah sebaran Orangutan di Kabupaten Ketapang. Dalam buku Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia, 2019 – 2029 dilaporkan bahwa, populasi orangutan di Blok Kendawangan – Jelai diperkirakan masih ada sekitar 50 individu yang menempati habitat seluas 293,49 km2. Jumlah populasi yang tergolong rendah dengan sisa habitat yang semakin menyempit diproyeksikan keberlanjutan hidup Orangutan akan sulit bertahan dalam waktu yang lama.

Fragmentasi habitat dari hutan alam menjadi kawasan budidaya dan penggunaan lain menjadi alasan utama dalam penurunan populasi dan sebaran Orangutan di Kendawangan. Ekosistem hutan yang dahulu masih terhubung satu dengan lainnya kini terputus menjadi beberapa bagian, bahkan PT.

HKI yang memiliki luasan konsesi kurang lebih 97.891,38 ha pun bukan merupakan kawasan yang utuh tetapi terbagi dua bagian dengan jarak yang jauh dan terputus secara ekosistem. Blok Kendawangan dan blok Air Hitam adalah contoh bahwa sebelumnya merupakan ekosistem hutan yang utuh yang pernah menjadi habitat Orangutan. Berdasarkan analisa vegetasi dari temuan pakan yang ada di semua plot di jalur transek kedua blok, jumlah pakan orangutan lebih dari 60% dibandingkan dengan jenis lainnya, artinya memang kawasan hutan kendawangan yang memiliki berbagai tipe hutan mulai dari riparian, lahan basah, gambut, dataran rendah bahkan sampai kerangas merupakan habitat Orangutan. Fakta di lapangan keberadaan Orangutan dijumpai hanya indikasi berupa sarang Orangutan di Blok Air Hitam dengan temuan jumlah sarang yang sedikit (3 sarang dari 5 sampling transek yang dibuat, ditambah 1 sarang berada di luar transek). Selain itu juga sarang yang dijumpai sudah berumur lama dan diperkirakan sudah lebih dari 1 bulan (kelas 3 dan kelas 4). Dalam kurun waktu 2 tahun sejak survei di tahun 2017 oleh Hatfield, sebaran sarang Orangutan tidak berbeda jauh lokasinya dengan hasil survei ini, hanya saja jumlahnya waktu itu lebih banyak (9 sarang).

Oleh karenanya untuk mempertahankan keberadaan Orangutan yang ada di blok Air Hitam, maka daerah atau lokasi yang menjadi tempat sebarannya harus tetap dipertahankan (tidak dibuka untuk kepentingan lain) dan diusahakan tetap menjadi hutan yang menyambung (koridor) dengan kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan dan Hutan Lindung Jelai.

2. Satwa liar lainnya (Mamalia dan Burung)

Dibandingkan hasil survei jenis satwa mamalia dan burung yang dilaksanakan pada tahun 2017 di kawasan PT. HKI, jumlah jenis satwa mamalia dan burung pada survei 2019 mengalami penurunan sangat signifikan khususnya bagi satwa mamalia. Perbandingannya adalah pada survei tahun 2017 jenis mamalia yang diidentifikasi melalui temuan langsung dan wawancara dengan masyarakat diperoleh hasil 41 jenis (18 temuan langsung dan 37 hasil wawancara dengan masyarakat), sedangkan hasil pada survei ini hanya teridentifikasi 13 jenis mamalia yang dijumpai langsung (tanpa wawancara dengan masyarakat) dan indikasinya di semua lokasi. Sementara untuk inventarisasi jenis burung, hasil yang diperoleh hanya sedikit mengalami penurunan dibandingkan survei dua tahun yang lalu (2017 ada 106 jenis; 2019 ada 100 jenis). Namun demikian variasi jenis burung mengalami penambahan, di mana terdapat 40 jenis burung yang tidak ditemukan pada survei tahun 2017.

Keberadaan satwa liar seperti halnya mamalia dan burung saat ini menjadi incaran dari berbagai elemen masyarakat untuk kebutuhan konsumsi maupun pemburu yang mengincar satwa

untuk diperdagangkan. Bahkan saat ini banyak kolektor satwa liar di dalam konsesi yang dilakukan secara illegal. Kondisi ini yang mempercepat laju penurunan satwa liar yang ada di hutan alam. Di samping juga adanya fragmentasi habitat yang diakibatkan oleh konversi hutan dan kebakaran.

Hasil pengamatan selama survei di semua lokasi dapat disimpulkan bahwa jenis satwa liar yang memiliki nilai ekonomis akan menjadi sasaran utama dalam perburuan. Untuk mamalia, jenis Rusa (Rusa timorensis) sering diburu untuk kebutuhan akan dagingnya. Sementara jenis Landak (Hystrix

brachyura) menjadi sasaran untuk dikonsumsi dagingnya dan diambil bagian tubuhnya (bulu). Indikasi

ini diketahui dengan banyaknya jerat yang dipasang di dalam hutan.

Sementara jenis burung yang memiliki peranan yang sangat besar di alam seperti halnya Rangkong sudah dipastikan hampir semuanya tidak lagi dijumpai di kawasan HKI, hanya satu jenis yang dijumpai yaitu Kengkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris). Jenis lainnya yang merupakan burung berkicau seperti Murai Batu/Kucica Hutan, Kacer, Tiong, Kerak Kerbau, Kucica-daun sudah menjadi burung peliharaan di masyarakat maupun di beberapa tempat di dalam konsesi PT. HKI.

Tabel 10. Matriks satwa dilindungi yang terindikasi di Blok Kendawangan dan Air Hitam.

Kelompok Satwa Jenis Satwa IUCN CITES P.106

Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii CR I V

Satwa Liar Dilindungi Lainnya Hylobates albibarbis EN I V Presbytis rubicunda LC V Helarctos malayanus VU I V Tragulus kanchil LC V Tragulus napu LC V Rusa timorensis VU V Anhinga melanogaster NT V Leptoptilos javanicus VU V Anthracoceros albirostris LC II V Aethopyga siparaja LC V Gracula religiosa LC II V Setornis criniger VU V Chloropsis cyanopogon NT V Megalaima refflesii NT V Harpactes diardii NT V Harpactes duvaucelii NT V Loriculus galgulus LC V Psittacula longicauda VU V Microhierax fringillarius LC V

Ictinaetus malayensis LC V Haliastur indus LC V Elanus caeruleus LC V Spizaetus cirrhatus LC V Pernis ptilorhynchus LC V Rhipidura javanica LC V

Ancaman Terhadap Satwa yang Dilindungi

Selain perburuan dan pemeliharaan satwa liar, kerusakan habitat secara perlahan karena penebangan liar juga harus diwaspadai. Karena pada beberapa lokasi survei dijumpai sisa-sisa lokasi penebangan liar. Potensi kebakaran hutan dan lahan pada saat musim kemarau pun perlu diwaspadai, karena bisa saja kebakaran terjadi di luar maupun di dalam konsesi PT. HKI, namun dapat merambat dan berdampak pada habitat satwa yang berada di lokasi PT. HKI. Dari hasil survei lapangan, terdapat hal-hal relevan yang menjadi kemungkinan ancaman terhadap individu maupun habitat satwa, antara lain :

Tabel 11. Kemungkinan ancaman terhadap satwa dilindungi. Ancaman

Internal Eksternal

Pembukaan lahan tanam yang melanggar

batas lokasi HCV Penebangan liar hutan dalam HCV, perburuan illegal Desain blok yang menyebabkan fragmentasi

hutan sehingga konektivitas antar hutan kurang

kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

Belum diterbitkannya SOP penanganan satwa dan SOP perlindungan satwa

Pengetahuan masyarakat sekitar tentang satwa dilindungi dan konservasi habitatnya masih rendah

3. Flora

Hasil analisis plot vegetasi keseluruhan (15 plot di blok Air Hitam dan 65 plot di blok Kendawangan dengan luasan 1,6 ha masing masing) dijumpai 285 jenis pohon dengan 180 jenis (63 %) di antaranya adalah jenis pohon pakan Orangutan. Pada blok Air Hitam dijumpai 112 jenis pohon, 61 jenis (54%) di antaranya merupakan pohon pakan Orangutan, sementara pada blok Kendawangan dijumpai 241 jenis pohon dengan 158 jenis (66%) merupakan pohon pakan Orangutan.

Ancaman-Gambar 10. Persentase pakan Orangutan dari semua jenis di Blok Air Hitam dan Blok

ancaman terhadap habitat tumbuhan pada areal ini adalah penebangan liar serta kebakaran hutan dan lahan. Selain itu ancaman tersebut juga sangat berpengaruh terhadap jalur lintas satwa, kehidupan satwa di dalamnya dan lebih jauh lagi akan berpengaruh kepada kehidupan manusia.

Hasil analisa indeks keanekaragaman jenis menunjukkan bahwa habitat yang ada di area blok Air Hitam (rawa gambut) dan blok Kendawangan (lowland, lahan basah dan rawa gambut) rata-rata memiliki keanekaragaman sedang, yang ditunjukkan oleh nilai 1 < H < 3.

Tabel 12. Hasil analisa indeks keanekaragaman jenis.

No Habitat HKI Blok Indeks Keanekaragaman Jenis (H)

1 Rawa Gambut 12 Air Hitam 1,27

2 Rawa Gambut 5 Air Hitam 1,183

3 Lowland 01, 02, 10 Kendawangan 1,783

4 Lahan Basah 03, 06, 09 Kendawangan 1,73

5 Rawa Gambut 04, 08 Kendawangan 1,786

Dari empat tipe habitat yang ada di kedua blok tersebut, keanekaragaman jenis pohon relatif sama. Tidak ada nilai yang memiliki perbedaan mencolok pada tiap habitatnya. Salah satu pengaruh dikarenakan hutan pada Blok Air Hitam dan Kendawangan merupakan hutan sekunder, di mana tidak adanya dominansi jenis tertentu yang ada di sana. Pengaruh lainnya yaitu jumlah sampling yang dilakukan. Semakin banyak lokasi sampling, maka akan semakin tinggi pula peluang nilai keanekaragaman jenis pada kawasan tersebut.

Gambar 11. Persentase pakan Orangutan dari semua jenis di Blok Air Hitam.

Gambar 12. Persentase pakan Orangutan dari semua jenis yang terdapat di Blok Kendawangan.

KESIMPULAN

1. Indikasi keberadaan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) dijumpai pada kawasan hutan konsesi HTI PT. HKI blok Air Hitam (Estate HKI 5 dan HKI 12)

2. Diperkirakan masih ada sekitar 4 - 5 individu Orangutan yang masih eksis di lokasi yang kemungkinan besar merupakan Orangutan yang keluar masuk dari Kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan dan Hutan Lindung.

3. Di dalam kawasan ini juga masih dijumpai keanekaragaman satwa yang cukup tinggi, di antaranya 13 jenis mamalia dan 100 jenis burung, dengan frekuensi relatif tertinggi (100%) ada pada 5 spesies yaitu Merbah Cerukcuk, Merbah Corok-corok, Tepus Merbah-Sampah, Pijantung Kecil dan Kipasan Belang.

4. Hasil inventarisasi jenis satwa mamalia pada tahun 2019 lebih rendah dibandingkan dengan hasil HCV Assessment pada tahun 2017. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya perbedaan metode dan waktu pelaksanaan survei lapangan . Sementara untuk jenis avifauna, variasi pada jenis burung yang ditemukan mengalami penambahan jenis.

5. Tingginya keanekaragaman jenis tumbuhan yang dilindungi dan endemik menunjukkan hutan di kawasan ini memiliki nilai konservasi tinggi.

6. Ditemukannya indikasi keberadaan Orangutan dan jenis burung yang secara global terancam punah dan dilindungi menunjukkan bahwa kawasan ini sangat penting dari sudut konservasi. Untuk itu usaha-usaha konservasi dirasakan sangat penting, di samping untuk menjaga kelangsungan hidup berbagai flora dan fauna, kawasan ini juga sebagai daerah tangkapan dan pengendalian air.

7. Penyadaran dan edukasi terhadap masyarakat dan manajemen serta staff PT. HKI sekitar hutan, tentang pentingnya menjaga jenis-jenis satwa yang dilindungi, terutama jenis mamalia dan burung yang penting secara ekologi dan terancam punah.

8. Monitoring terhadap kerusakan habitat akibat penebangan liar, kebakaran hutan dan lahan juga tak kalah penting, serta monitoring terhadap perburuan liar di kawasan HCV sebagai tindakan mengamankan habitat dan individu satwa dilindungi.

REKOMENDASI

Hasil pemetaan KBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) dan KPNKT (Kawasan Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi) di tahun 2017 sudah banyak membantu dalam perencanaan pengelolaan terkait pelestarian keanekaragaman hayati di PT.HKI (Gambar 5 dan 6). Hasil survei 2019 memperkuat untuk pelaksanaan pengelolaannya ke depan.

Gambar 13. Peta KBKT-KPNKT sebagai koridor habitat satwa liar dilindungi dan usulan penambahan (kotak biru) di Blok Air Hitam.

1. Blok Air Hitam

Kawasan hutan rawa gambut di Blok Air Hitam, HKI 12 di bagian Barat dan HKI 5 di bagian Timur merupakan kawasan penting dengan dijumpainya indikasi keberadaan Orangutan dan spesies penting yang dilindungi lainnya (seperti, owa janggut putih). Oleh karenanya daerah yang diperkirakan menjadi habitat Orangutan tersebut diharapkan tidak dibuka oleh perusahaan dan tetap menjadi hutan alam. Termasuk usulan daerah riparian hasil survei sebelumnya, yaitu di sepanjang anak Sungai Keramat, hulu Sungai Saha, Sungai Sahak, hulu Sungai Tajur, hulu Sungai Benadau, hulu Sungai Ipuk Kiri dan Hutan Adat Desa Hantak (Raharyono 2017).

Pada HKI 12 sebagai daerah sebaran Orangutan (sarang no 8, 9, 10, 11, 13, 14 dan 15) yang hutannya berbatasan langsung dengan Cagar Alam Muara Kendawangan diharapkan tidak dibuka dan tetap menjadi kesatuan hutan yang saling terkoneksi antara satu dengan lainnya.

Pada HKI 5 lokasi penemuan sarang Orangutan (no 7 dan 12) diharapkan dapat tersambung sebagai koridor (kotak biru; Gambar 5) yang menghubungkan area tempat ditemukannya sarang Orangutan (no 1 – 6). Pada gambar peta di bawah adalah alternatif daerah berhutan yang bisa dijadikan koridor untuk jelajah Orangutan. Kedua lokasi tersebut juga berkoneksi langsung dengan Hutan Lindung Jelai sehingga daerah jelajah Orangutan akan menjadi lebih luas.

1.1. Pengelolaan Rencana Koridor

Koridor satwa merupakan elemen lansekap kunci yang berfungsi untuk memberikan dan meningkatkan konektivitas antara habitat yang terfragmentasi. Menurut FORINA. 2014, fungsi koridor sendiri antara lain:

(1) Memberikan ruang bagi satwa untuk bergerak dan bermigrasi. (2) Memberikan ruang bagi tumbuhan untuk tumbuh.

(3) Memungkinkan terjadinya pertukaran genetis.

(4) Memberikan ruang bagi satwa untuk bergerak ketika terjadi perubahan lingkungan dan bencana alam.

(5) Memberikan ruang bagi individu melakukan rekolonisasi pada habitat yang populasi

Dokumen terkait