• Tidak ada hasil yang ditemukan

c. Komunitas sebagai Modal Sosial

Dalam dokumen Buku ini tidak diperjualbelikan. (Halaman 152-157)

Bagaimana peran relasi kerabat sebagai tonggak utama dalam kehidupan berkomunitas kartunis KOKKANG?. Seberapa kuat pengaruh hubungan kekeluargaan pa-da komunitas?. Saya menganggap faktor kerabat88

atau hubungan darah menjadi pelanggeng dari hubungan patron-klien di antara tukang gambar setanan Kaliwungu. Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan menjelaskan tentang berbagai modal sebagaimana pandangan dari Grenfell and Hardy (1987:445) bahwa terdapat berbagai macam modal yaitu modal simbolik, modal linguistik, ekonomi dan kultural. Pertama, modal simbolik meliputi prestise, otoritas, dan kemasyuran; kedua modal linguistik termasuk dalam kemampuan untuk berbicara dengan baik dan kemampuan untuk berbicara yang sesuai dengan konteks dan situasi; ketiga, modal ekonomi meliputi tanah, benda materi, uang, dan investasi; terakhir, modal kultural berkaitan dengan ranah kebudayaan yang meliputi pengakuan dan apresiasi dalam pekerjaan artistik termasuk penilaian secara akademis/estetika. Legitimasi dan supremasi menjadi modal kultural pada tukang gambar setanan Kaliwungu dan menjadikan karya KOKKANG dikenal luas dalam jagad perkartunan terutama kartun humor di Indonesia.

88 Kekerabatan menurut William A Haviland (2011: 501) adalah “Kinship is a social network of

relatives within which individuals possess certain mutual rights and obligations are. Providing group of relatives with a social structure, kinship helps shield them from the dangers of disorganization and fracture. In such societies, individuals must depend on a wide network of relatives for support and pro-tection.”

142 Studi Budaya Kreatif Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) Gojek, Gojlok, Momong :

Modal sosial merujuk pada koneksi antar anggota dalam jaringan yang saling bertautan, sebagaimana penjelasan dari Richardson (1986:21) bahwa modal sosial adalah agregasi aktual atau sumber potensial yang terkait dalam hubungan dan jaringan pada satu institusi atau lebih yang saling menguntungkan, mengenal, dan saling mengakui keanggotaan suatu kelompok. Berdasarkan hasil wawancara dengan Koesnan Hoesi tanggal 27 April 2014 bahwa kekuatan KOKKANG terletak pada keguyupan karena mereka berasal dari satu kampung, satu desa dan rata-rata mempunyai hubungan keluarga (sak dulur dhewe). Lain halnya dengan komunitas kartun di Semarang, Semarang Cartoonist Club (SECAC) yang keanggotaan lebih beragam latar belakang. Kecuali Ratno seorang anggota yang mempunyai hubungan keluarga sebab dua adiknya menjadi kartunis pula. Dalam keanggotaan KOKKANG terdapat tujuh kartunis yang mempunyai relasi kerabat, baik sebagai adik kakak maupun hubungan lain dalam keluarga besar seperti keponakan, ipar atau sepupu. Ketujuh kartunis tersebut diantaranya: Wawan Bastian, Itos Budi Santoso, Muhammad Najib, Syaifudin Ifoed, Muchid Rahmat, Nurachim, dan Asbahar. Sebagaimana dapat dilihat pada bagan berikut:

Bagan 2. Relasi Kerabat dalam Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG)

124 Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) Wawan Bastian, Totok Harianto, Ali Hanafi, Didik Trisnadi dan Joko

Susilo Budi Santoso (Itos) , Tyok Budi Setiowidodo dan Mulad Muhammad Najib, Muhammad Nasir, Abdul Azis dan

Muhammad Nazarudin Syaifudin Ifoed dan Muhammad Muslih Muchid Rahmat dan Sobirin Nurachim dan Zaenal Abidin Asbahar dan Abdul Fatah.

Faktor kekeluargaan adalah salah satu penyebab kuatnya jaringan antar kartunis dalam KOKKANG. Berdasarkan wawancara saya dengan Wawan Bastian tanggal 26 Desember 2013, anggota komunitas lebih didominasi hubungan keluarga atau relasi kerabat, saya menyebutnya sebagai jaringan keluarga KOKKANG yang terdiri dari tujuh jaringan keluarga. Pertama, keluarga Wawan Bastian terdiri dari Totok Harianto, Ali Hanafi, Didik Trisnadi, dan Joko Susilo; kedua, keluarga Budi Santoso (Itos) dengan Tyok Budi Setiowidodo, dan Mulad; ketiga, keluarga Muhammad Najib yang terdiri dari Muhammad Nasir, Abdul Azis, dan Muhammad Nazarudin; keempat, keluarga Syaifudin Ifoed dengan Muhammad Muslih; kelima, keluarga Muchid Rahmat dan Sobirin; keenam, Zaenal Abidin masih berkeluarga dengan Nurochim; dan ketujuh, Asbahar dengan Abdul Fatah.

Relasi kerabat antar anggota KOKKANG menjadikan komunitas ini mempunyai ikatan yang khas, dibanding dengan komunitas kartunis lain di Indonesia. Meskipun demikian, terdapat anggota komunitas yang tidak memiliki hubungan keluarga (bate) dengan kartunis lain, namun mempunyai kiprah yang besar dalam organisasi. Salah satu kartunis senior yang bagi sebagian besar anggota KOKKANG dianggap sebagai ayah adalah Darminto M Sudarmo (Pak Dar/Odios). Beliau adalah ayah bagi semua anggota KOKKANG, melalui gagasan awal dan kepekaan pada potensi tentang kreatifitas masyarakat Kaliwungu beliau mendirikan komunitas dan selama dua generasi dapat melahirkan tukang gambar setanan pada periode 1984-1999.

Bagaimana sosok Pak Dar di kalangan anggota KOKKANG itu sendiri?. Berdasarkan hasil wawancara dengan Wawan Bastian, terungkap bahwa Pak Dar dianggap sebagai sesepuh, selain sebagai pendiri KOKKANG yang pada masa lalu kerap membawakan

Gojek, Gojlok, Momong :

honor tukang gambar setanan Kaliwungu yang dimuat di media cetak nasional. Bahkan Wawan Bastian menegaskan pada masa itu warga Kaliwungu, khususnya yang terpanggil untuk menjadi kartunis sangat antusias, jika melihat Pak Dar pulang kampung. Menurut saya, selain menjadi bapak bagi kartunis Kaliwungu, sosok Pak Dar adalah leader yang tidak kenal lelah bukan hanya urusan pengembangan komunitas tapi juga identitas. Menilik Saya Sasaki Shiraishi (2009: 5-6) mengenai tabir identitas keIndonesiaan melalui bahasa politik-kekelurgaan selama orde baru. Presiden Soeharto menganggap dirinya seorang supreme father dengan menyebut pejabat bawahannya dan seluruh bangsa Indonesia dengan sebutan ‘anak’. Jika dikaitkan dengan keorganisasian tukang gambar setanan Kaliwungu, KOKKANG ibarat keluarga yang dilahirkan oleh tiga orang ayah yang memiliki supremasi (Pak Dar/Odios, Itos, dan Nurachim). Namun secara kepemilikan akses dan jaringan ke media lebih dimiliki oleh Pak Dar. Sampai saat ini rumah Pak Dar selalu menjadi tempat untuk konsultasi berbagai permasalahan khususnya menyangkut komunitas, termasuk kegiatan makan bersama untuk memperkuat solidaritas berupa lotek’an.

Gambar 23. Darminto M Sudarmo (Pak Dar/Odios): Bapak Tukang Gambar Setanan Kaliwungu (Sumber: Dokumentasi Peneliti)

Jika dianalogikan bahwa KOKKANG seperti sebuah sawah. Berawal dari tanah tandus, kemudian muncul sosok Pak Dar yang mempunyai gagasan untuk memanfaatkan tanah tandus tersebut, dibantu oleh Itos Budi Santoso tanah tandus mulai dibenahi89 , setelah itu datang Nurachim yang dapat menjadi pendukung pembangunan infrastruktur penunjang pertanian. Ketiganya tidak kenal lelah membenahi tanah tandus tersebut sampai menimbulkan ketertarikan dari pihak-pihak lain untuk ikut bersawah. Dari situlah awal keberadaan dan kontribusi sawah yang bernama Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG), yang terbukti membantu perekonomian warga Kaliwungu baik sebagai penghasilan alternatif maupun pekerjaan utama. Menurut Bourdieu (dalam Giuffre 2009:18) dalam kebudayaan kreatif terdapat disinterested yang melibatkan kemampuan dan mana sebagai taktik untuk pencapaian status pada arena produksi kultural dengan mengutamakan aspek otonomi.

Komunitas kartun sebagai industri kreatif merepresentasikan dua modal yaitu modal simbolik dan modal kultural. Khusus relasi kerabat berada pada lingkup modal sosial, karena berkaitan dengan interkoneksitas antar tukang gambar setanan Kaliwungu. Bourdieu (dalam Svasek 2007:96) berpendapat bahwa orang tidak hanya menggunakan modal ekonomi untuk meningkatkan reputasi mereka dan meningkatkan ‘kekuatan’ mereka, tetapi juga memanfaatkan sistem pengetahuan (sebagai modal kultural), simbol tertentu dan ritual pengakuan (sebagai modal simbolis) dan interaksi yang intensif dengan pihak lain (sebagai modal sosial) untuk tujuan tertentu. KOKKANG telah memberdayakan semua sumberdaya untuk kemajuan bersama melalui indikasi sebagai berikut: pertama, sinergi antara pengetahuan-ketrampilan menggambar sebagai modal kultural; kedua, penggunaan inisial nama komunitas sebagai modal

89 Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Dar, pada awal berdirinya KOKKANG Pak Dar

dan Itos Budi Santoso lebih berkiprah pada kekaryaan sedangkan Nurachim lebih pada pendukung publikasi karya seperti mengadakan pameran.

146 Studi Budaya Kreatif Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) Gojek, Gojlok, Momong :

simbolis; ketiga, jaringan kreatifitas yang berbasis kekerabatan sebagai modal sosial.90

Dalam dokumen Buku ini tidak diperjualbelikan. (Halaman 152-157)