Aspal beton adalah lapis permukaan yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi menerus, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam kondisi panas dengan suhu tertentu. Aspal beton mempunyai ciri kedap air, mempunyai nilai struktural, awet, kadar aspal berkisar 4 – 7 % terhadap berat campuran dan dapat digunakan untuk lalu lintas ringan, sedang, hingga berat.
Campuran ini memiliki tingkat kekakuan yang tinggi.
Campuran beraspal panas terdiri dari kombinasi agregat yang dicampur dengan aspal. Pencampuran dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan agregat terselimuti aspal dengan seragam. Untuk mengeringkan agregat dan memperoreh kekentalan aspal yang mencukupi dalam mencampur dan megerjakannya, maka kedua-duanya dipanaskan masing-masing pada temperatur tertentu, (Pedoman Pelaksanaan Lapis Campuran Beraspal Panas:2007).
Jenis campuran beraspal dibedakan menjadi:
a. Latasir (lapis tipis aspal pasir/sand sheet), yaitu lapis penutup permukaan jalan yang terdiri atas agregat halus atau pasir atau campuran keduanya dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu.
b. Lataston (lapis tipis aspal beton / HRS), yaitu lapis permukaan yang terdiri atas lapis aus (lataston lapis aus / HRS-WC) dan lapis permukaan antara (lataston lapis permukaan antara / HRS-Binder) yang terbuat dari agregat bergradasi sejang dengan dominasi pasir dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu.
c. Laston (lapisan aspal beton / AC), yaitu lapis permukaan atau lapis fondasi yang terdiri atas lapis aus WC), laton lapis permukaan antara (AC-BC) dan laston lapis fondasi (AC-Base). Setiap jenis campuran AC yang menggunakan bahan aspal polimer atau aspal dimodifkasi dengan Asbuton atau aspal multigrade atau aspal keras Pen 60 dengan Asbuton butir disebut masingmasing sebagai AC-WC modified, AC-BC modified, dan AC-Base Modified.
Menurut Sukirman (2007), Aspal beton adalah jenis perkerasan jalan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal, dengan atau tanpa bahan tambahan.
Material-material pembentuk aspal beton dicampur di instalasi pencampur pada suhu tertentu, kemudian diangkut kelokasi, dihamparkan, dan dipadatkan. Suhu pencampuran ditentukan berdasarkan jenis aspal yang akan digunakan. Jika digunakan semen aspal, maka suhu pencampuran umumnya antara 145°-155°C, sehingga disebut aspal beton campuran panas. Campuran ini dikenal dengan nama
“hot mix”. Aspal beton yang menggunakan aspal cair dapat dicampur pada suhu ruang, sehingga dinamakan “cold mix”.
Tujuh karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh aspal beton adalah sebagai berikut:
a) Stabilitas, adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalulintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang lalulintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur, dan bleeding.
b) Keawetan atau durabilitas, adalah kemampuan aspal beton menerima repetisi beban lalulintas seperti berat kendaraan dan permukaan jalan, serta menahan keausan akibat pengaruh cuaca dan iklim, seperti udara, air atau perubahan temperatur.
c) Kelenturan atau flexibilitas, adalah kemampuan aspal beton untuk menyesuaikan diri akibat penurunan (konsolidasi/ settlement) dan pergerakan dari pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak.
d) Ketahanan terhadap kelelehan (fatique resistance), adalah kemampuan aspal beton menerima lendutan berlubang akibat repetisi beban, tanpa terjadinya kelelehan berupa alur dan retak.
e) Kekesatan/tahan geser (skid resistance), adalah kemampuan permukaan aspal beton terutama pada kondisi basah, memberikan gaya gesek pada roda kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir ataupun slip.
f) Kedap air (impremeabilitas), adalah kemampuan aspal beton untuk tidak dapat dimasuki air ataupun udara kedalam lapisan aspal beton.
g) Mudah dilaksanakan (workability), adalah kemampuan campuran aspal beton untuk mudah dihamparkan dan dipadatkan.
2.2.3.1. Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC)
Laston terbagi menjadi tiga jenis yaitu Laston sebagai lapisan Aus dikenal dengan nama AC-WC (Asphalt concrete - Wearing Course), Laston sebagai lapisan pengikat dengan sebutan AC-BC (Asphalt Concrete - Binder Course), dan Laston sebagai lapisan pondasi dengan nama AC-Base (Asphalt Concrete - Base).
AC-WC adalah Jenis lapis permukaan dalam perkerasaan yang berhubungan langsung dengan ban kendaraan sehingga lapisan ini dirancang untuk tahan terhadap perubahan cuaca, gaya geser, tekanan roda ban kendaraan, serta memberikan lapis kedap air untuk lapisan dibawahnya.
AC-WC merupakan jenis campuran yang memiliki gradasi menerus.
Berdasarkan kegunaannya AC-WC di bagi menjadi dua yaitu AC-WC bergadasi kasar yang artinya campuran ini didominasi agregat yang kasar yakni tertahan saringan No.8 (2,36 mm) dan biasanya digunakan untuk daerah yang mengalami deformasi yang lebih tinggi dari biasanya seperti pada daerah pegunungan, gerbang tol, dan dekat lampu lalu lintas, sedangkan AC-WC bergradasi halus yang artinya campuran ini didominasi agregat halus yakni lolos saringan No.8 (2,36 mm) dan untuk AC-WC bergradasi halus selalu digunakan untuk jalan raya yang memiliki deformasi tidak terlalu besar.
Pembuatan AC-WC (Asphalt Concrete – Wearing Coarse) harus melalui proses perancangan aggregate blending. Perancangan blending diperlukan agar gradasi campuran dari setiap fraksi agregat (agregat kasar, sedang, halus, dan filler) sesuai kriteria spesifikasi. Spesifikasi yang digunakan adalah Spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018. Ketentuan agregat kasar dan agregat halus menurut Spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018 untuk campuran Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) dapat dilihat pada Tabel 2.3 dan 2.4.
Tabel 2.4. Ketentuan Agregat Kasar
No Jenis Pemeriksaan Standart Syarat
a b c d
3 Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 2439 : 2011 Min. 95%
4 Butir pecah pada agregat kasar SNI 7619 : 2012 95/90 (*) 5 Partikel Pipih dan Lonjong ASTM D4791-10
Perbandingan 1:5 Maks.10 % 6 Material Lolos Saringan N0.200 SNI ASTM C117
: 2012 Maks 1%
Sumber : Spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018
Catatan: (*) 95/90 menunjukkan bahwa 95 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih.
Tabel 2.5 Ketentuan Agregat Halus untuk Campuran Beton Aspal
No Jenis Pemeriksaan Standar Syarat
a b c d
1 Nilai setara pasir SNI 03-4428-1997 Min. 60 % 2 Material lolos saringan No. 200 SNI ASTM
C117:2012 Maks. 10 %
3 Angularitas SNI 03-6877-2002 Min. 45 %
4 Kadar Lempung SNI 03-4141-1996 Maks. 1%
Sumber: Rancangan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Divisi VI Perkerasan Beraspal, Dep. PU, 2010.
Menurut Pusjatan (2019), seluruh spesifikasi perkerasan mensyaratkan bahwa partikel agregat harus berada dalam rentang ukuran tertentu dan untuk masing-masing ukuran partikel harus dalam proporsi tertentu. Distribusi dari variasi ukuran butir agregat ini disebut gradasi agregat.
Tabel 2.6. Amplop gradasi agregat campuran untuk AC-WC
Berikut ini ada 3 metode untuk menentukan persentase dari proporsi setiap fraksi untuk membuat campuran agregat.
1. Metode trial and error, metode ini dengan cara mencoba-coba persentase setiap fraksi agregat agar gradasi campuran sesuai dengan range dari gradasi yang disyaratkan. Menurut Ramu et al (2016) kekurangan dari proses dari trial and error adalah perlu dilakukan berkali-kali pada proporsi agregat dari setiap tipe fraksi agar memenuhi batasan dari gradasi mengingat banyaknya kemungkinan jawaban.
2. Metode grafis, menurut Pusjatan (2019), ada 2 metode grafis yakni metode grafis bujur sangkar dan metode grafis diagonal. Metode grafis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode grafis diagonal dengan 3 fraksi agregat.