Rita Margaretha Setianingsih
II. Candi, taman, dan pengertiannya
Dalam percakapan sehari-hari kata candi digunakan bagi penyebutan semua bangunan peninggalan kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia. Itu dapat
Partonun di Pematang Siantar… (Defri Elias Simatupang) 77 ditujukan bagi pemandian kuna, gapura atau gerbang kuna, atau bangunan suci keagamaan. Ada pula yang mengartikan candi sebagai bangunan kuna yang dibuat dari batu sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja atau pendeta Hindu-Buddha pada zaman dahulu. Kerap pula dijumpai penamaan candi bagi sekumpulan arca yang telah dikeramatkan oleh masyarakat. Selain itu dikatakan pula bahwa kata candi berasal dari kata cinandi yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti dimakamkan, sehingga candi merupakan bangunan pemakaman (Ayatrohaedi dkk.,1981).
Bangunan masa pengaruh Hindu-Buddha, khususnya candi dan lingkungannya merupakan lahan yang oleh nenek moyang dimaksudkan sebagai ruang yang dijadikan tempat bangunan suci. Di Jawa orang juga yakin kata candi berasal dari nama Dewi Parwati, yaitu sakti Siwa Mahadewa yang dipuja sebagai dewi maut yang disebut Kali atau Candika. Adapun tempat pemujaannya disebut candika-grha, yang lama-kelamaan hanya tersisa kata candi saja. Kata candi kemudian diartikan sebagai bangunan suci, baik yang bersifat agama Hindu maupun Buddha (Stutterheim,1937). Di Sumatera Utara, khususnya di kawasan Padang Lawas yang merupakan lokasi puluhan monumen peninggalan masa klasik Indonesia, kata biaro lebih dikenal oleh masyarakat sebagai pengganti kata candi. Kata biaro sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, vihara yang aslinya berarti serambi tempat para pendeta berkumpul atau berjalan-jalan. Belakangan dalam bahasa Indonesia kata itu menjadi biara atau wihara yang artinya tempat para biksu atau pendeta (Koestoro dkk, 2001).
Dalam tradisi pembangunan Hindu-Buddha dikenal adanya beberapa ketentuan. Itu berkenaan antara lain dengan penempatan bangunan suci di dekat air (tirtha), baik air di sungai (terutama di sekitar pertemuan/tempuran dua aliran sungai), danau atau laut. Pada kondisi dimana tidak ada obyek geografis yang mengandung air, maka harus dibuatkan kolam di halaman bangunan suci itu. Dijelaskan pula bahwa tempat lain yang baik bagi pendirian bangunan suci adalah di puncak gunung, dilereng, gunung, dalam hutan, atau di lembah (Kramrisch,1946).
Kita ketahui bahwa di Pulau Jawa kebanyakan candi didirikan di dekat aliran sungai. Bahwa Candi Borobudur menempati lahan di tempuran Sungai Progo dan Sungai Opak, maka Biaro Sipamutung di Padang Lawas, Pulau Sumatera didirikan di tempuran Sungai Barumun dan Sungai Batang Pane. Tentu sesuatu yang tidak mengherankan akan kenyataan ini, dan itu juga berhubungan dengan anggapan sementara orang bahwa daerah tempuran/pertemuan sungai adalah tempat yang angker atau ―ada apa-apanya‖ (Setianingsih & Hartini,2002).
BAS NO. 19 / 2007 78
Kemudian pengertian umum tentang taman, yaitu ruang terbuka, hijau, indah, dan asri yang mampu memberi rasa tenteram, rasa tenang. Dapat dibayangkan bahwa dalam taman serasa tidak ada pertandingan untuk mengalahkan waktu yang selalu melesat ke arah batas saat orang mulai menunaikan tugas. Taman yang kaya dengan oksigen yang diproduksi tanaman hijau-hijauan membuat orang dapat menghirup nafas dalam-dalam untuk kemudian merasakan kesejukan dan kesegaran di dalam-dalam dada dan pikirannya. Penataan lanskap yang teratur dan seimbang memberikan sensasi seolah-olah beban pekerjaan dan tugas-tugas berat telah dituntaskan. Oleh karena itu, bagi kebanyakan orang, taman dirasa dapat memberikan perasaan lega dan menghilangkan rasa penat.
Sehubungan dengan taman, dikenali komponen-komponennya. Pertama jelas berkenaan dengan keberadaan lahan. Selanjutnya adalah gambaran akan tanaman, air (baik dalam bentuk kolam/danau/pancuran serta kanal/terusan), gunung, hewan, dan manusia. Semua digabung dalam komposisi tertentu untuk menimbulkan citra kesejukan, ketenangan, keharmonisan dan sebagainya.
Dalam pengertiannya seperti yang disebutkan di atas, kita dapat melihat tentang keberadaan candi dan taman sebagaimana sumber arkeologis dan sejarah mengutarakannya. Pada masa periode Hindu-Buddha, yang kelak memungkinkan dijumpainya banyak peninggalan benda cagar budaya berupa candi, berdasarkan data prasasti, relief, dan kakawin (kidung, jenis puisi Jawa kuna) diketahui adanya pertamanan pada lokasi-lokasi tertentu. Walaupun pola pertamanan itu tidak sepenuhnya diketahui, namun pada prinsipnya sebuah taman dibuat untuk suatu kesenangan dan keindahan, dibuatkan seperti keindahan yang berada di surga. Tergambar dalam sumber-sumber lama itu bahwa sebuah taman dilengkapi dengan sawah, kebun buah-buahan, saluran air, dan segala jenis makhluk hidup (termasuk hewan). Menyangkut Nusantara, gambaran dimaksud antara lain berkenaan dengan taman Sriksetra, yang berkaitan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Adapun di Srilangka, pada kompleks suci Hindu-Buddha ditanam tumbuh-tumbuhan terutama yang harum baunya, buah-buahan dan dilengkapi kolam serta bunga teratai (Casparis,1990:44).
Taman dari masa klasik terus berlanjut pada masa pengaruh Islam di Nusantara. Pada kompleks bangunan peninggalan masa Islam di Yogyakarta, yang dikenal sebagai Kraton Yogyakarta, dijumpai jenis tumbuh-tumbuhan yang ternyata telah ditanam ratusan tahun yang lampau. Penggantian akan pohon yang mati dilakukan dengan segera untuk menjaga keberlangsungannya. Pohon-pohon tersebut juga mempunyai
Partonun di Pematang Siantar… (Defri Elias Simatupang) 79 makna simbolis, serta sampai sekarang masih dipertahankan penanamannya di kawasan Kraton Yogyakarta.
Pengenalan akan jenis tanaman yang terdapat di lingkungan kraton akan membantu upaya pengenalan jenis tanaman maupun penempatannya pada lingkungan bangunan suci pada masa pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha. Begitupula halnya dengan pemilihan tumbuh-tumbuhan yang tepat seperti yang dilakukan di Kraton Yogyakarta dapat dijadikan acuan di dalam pengenalan akan jenis-jenis pohon yang dapat/layak ditanam di seputar candi yang sekarang telah berubah fungsi sebagai benda cagar budaya. Selain berhubungan dengan makna dan fungsinya, pemilihan tumbuh-tumbuhan itu juga didasarkan atas sifat-sifat tanaman tersebut yang antara lain setelah ratusan tahun ditanam ternyata tumbuhan tersebut dapat dikatakan tidak merusak bangunan kuna. Akar tanaman keras itu misalnya, ternyata tidak menyebabkan terjadinya kerusakan mekanis pada obyek-obyek arkeologis (yang sekaligus benda cagar budaya), karena tidak ada penyusupan akar yang membahayakan.