DINAS KESEHATAN KOTA PALEMBANG
2.3 Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan Kota Palembang Periode Tahun 2013-2018
2.3.1 Capaian Indikator Kinerja
Bagian ini mengulas capaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2013-2017 berdasarkan indikator kinerja yang ditetapkan dalam RPJMD Kota Palembang Tahun 2013-2017.
Capaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Palembang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.6
Pencapaian Kinerja Dinas Kesehatan Kota Palembang Tahun 2013-2017
No Sasaran
Strategis Indikator
Target Realisasi Rasio Capaian
2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 1 Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat Angka Kematian Ibu 118 / 100.000 KH 118 / 100.000 KH 102 / 100.000 KH 102 / 100.000 KH 100 / 100.000 KH 13 / 29.911 KH 12 / 29.235 KH 12/ 29.091 KH 11 / 29.521 KH 7 / 27.876 KH 100% 100% 100% 166,9 % 174,9% Angka Kematian Bayi 26/ 1000 KH 26/ 1000 KH 23/ 1000 KH 23/ 1000 KH 23/ 1000 KH 168/ 29.911 KH 51/ 29.235 KH 25/ 29.091 KH 29/ 29.521 KH 29/ 27.877 KH 100% 100% 100% 197,6 % 195,7% Prevalensi Balita Gizi Kurang < 15% < 15% < 15% < 15% < 14% 0,61% 0,49% 0,47% 0,56% 0,56% 100% 100% 100% 198,9 % 197,4% Umur harapan Hidup (UHH) 71,20 Tahun 71,20 Tahun 71,20 Tahun 73,81 Tahun 73,81 Tahun 69,80 Tahun 69,80 Tahun 70,00 Tahun 70,05 Tahun 70,10 Tahun 100% 99,8% 100% 100% 94,9% 2 Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas Terakreditasi 0 0 0 11 16 0 0 0 11 16 0% 0% 0% 100% 100% Rumah Sakit Pratama 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0% 0% 0% 0% 100%
2.3.1.1 Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain.
Jumlah kematian ibu tahun 2013 di Kota Palembang, berdasarkan laporan Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 395 per 100.000.
Sebanyak 13 orang dari 29.911 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2013). Penyebabnya yaitu pre-eklamsia berat (31%), diikuti oleh hipertensi dalam kehamilan (23%). Penyebab lainnya adalah perdarahan (2 kasus), persalinan lama (1 kasus) dan lain-lain (1 kasus).
Jumlah kematian ibu tahun 2014 di Kota Palembang, berdasarkan laporan sebanyak 12 orang dari 29.235 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2015).
Penyebabnya yaitu perdarahan (41.7%), diikuti oleh emboli paru (1 kasus), suspek syok kardiogenik (1 kasus), eklampsia (1 kasus), suspek TB (1 kasus), hipertensi dalam kehamilan (1 kasus), dan lainnya.
Jumlah kematian ibu tahun 2015 di Kota Palembang, berdasarkan laporan sebanyak 12 orang dari 29.011 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2015). Penyebabnya yaitu pendarahan (41.7%), diikuti
oleh emboli paru (1 kasus), suspek syok kardiogenik (1 kasus), eklampsia (1 kasus), suspek TB (1 kasus), hipertensi dalam kehamilan (1 kasus), dan lainnya.
Di tahun 2016 di Kota Palembang, berdasarkan laporan sebanyak 11 orang dari 29.521 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2016). Penyebabnya yaitu perdarahan, diikuti oleh emboli paru, suspek syok kardiogenik, eklampsia, suspek TB, hipertensi dalam kehamilan, dan lainnya. Sedangkan target MDG’s tahun 2016 adalah 102/100.000 kelahiran hidup. (Depkes RI, 2010).
Jumlah kematian ibu tahun 2017 di Kota Palembang berdasarkan laporan sebanyak 7 orang dari 27.876 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2017). Penyebabnya kematian terbanyak adalah hipertensi dalam kehamilan 72% (5 orang), dan terendah adalah perdarahan 14% (1 orang). Sedangkan penyebab kematian ibu lainnya adalah gangguan metabolik (DM) yaitu sebanyak 1 (satu) orang.
Faktor yang mendukung keberhasilan capaian ini antara lain akses dan mutu pelayanan KIA di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rujukan yang sudah semakin membaik, termasuk sistem pelaporan, pelacakan, dan pendataan kematian ibu yang juga membaik. Adanya kegiatan kajian kasus kematian perinatal yang fokus pada upaya
pembelajaran dan perbaikan mutu pelayanan KIA, tidak hanya menyalahkan. Serta meningkatnya upaya perbaikan gizi pada ibu hamil dan remaja putri.
Sedangkan hambatan yang masih ditemui adalah peran puskesmas PONED dan rumah sakit PONEK belum optimal, belum seluruh fasilitas pemberi layanan KIA (Bidan Praktek Mandiri dan Rumah Bersalin) memberikan pelayanan antenatal sesuai standar antenatal terpadu (10T), kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan neonatus (asfiksia) dan deteksi dini dan ibu hamil resiko tinggi masih kurang, serta sistem rujukan yang belum optimal.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, beberapa strategi telah disusun antara lain optimalisasi peran puskesmas PONED dan rumah sakit PONEK, meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap fasilitas kesehatan pemberi pelayanan KIA dalam rangka memantau dan meningkatkan mutu pelayanan KIA, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan secara berkala, dan optimalisasi sistem rujukan maternal neonatal.
2.3.1.2 Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi adalah jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup di tahun yang sama.
Target tahun 2017 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup yang ditetapkan berdasarkan target MDG’s. Di Kota Palembang tahun 2017 jumlah kematian bayi sebanyak 29 kasus dari 27.877 kelahiran hidup atau 1 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut diperoleh dari kematian bayi yang terlaporkan pada sarana kesehatan dan masih dibawah target MDG’s.
Jumlah kematian bayi masih dibawah target, keberhasilan ini didukung oleh beberapa faktor antara lain sistem pelaporan, pelacakan dan pendataan kematian bayi pada semua fasilitas layanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta dan rumah sakit yang ada semakin baik. Juga meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan bayi sudah semakin membaik, terutama dalam penanganan kasus kegawatdaruratan neonatal. Termasuk adanya kegiatan kajian kasus kematian maternal perinatal yang fokus pada pembelajaran dan perbaikan mutu pelayanan KIA, tidak hanya menyalahkan. Serta meningkatnya kegiatan pembinaan fasilitas kesehatan pemberi pelayanan kesehatan KIA.
Hambatan yang masih ditemui antara lain cakupan pelayanan kesehatan neonatal sudah sangat baik, namun kualitas pelayanan masih belum optimal. Disamping itu kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan masih kurang (perlu di-update), juga peran rumah sakit PONEK yang belum optimal. Serta penyebab tersering kematian bayi terkait masalah gizi (BBLR) dan infeksi, sehingga untuk penangannya memerlukan keterlibatan lintas sektor terkait.
Strategi untuk perbaikan ke depan adalah meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar (10T) dengan distribusi 1-1-2, meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan remaja di puskesmas dan sekolah (melalui kegiatan UKS dan skrinning anak sekolah) sesuai dengan standar nasional PKPR, meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan neonatal dengan
menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM), meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan neonatal secara berkala, serta menjamin ketersediaan sarana dan prasarana untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan bayi.
2.3.1.3 Prevelensi Balita Gizi Kurang
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara antropometrik yang menggunakan indeks Berat badan menurut umur balita kemudian disetarakan dengan standar baku rujukan WHO-NCHS untuk mengetahui status gizinya. Ada 4 status gizi balita yang ditentukan menurut berat badan/ umur (BB/ U) yaitu Gizi Buruk (< -3SD), Gizi Kurang (-3 SD sampai –2 SD), Gizi Baik (-2 SD sampai +2SD), dan Gizi Lebih (>+3 SD).
Kasus gizi buruk dari tahun 2013 – 2017. Pada Tahun 2013 kasus gizi buruk ada 13 kasus, pada tahun 2014 ada 22 kasus, pada tahun 2015 ada 14 kasus, pada tahun 2016 ada 19 kasus dan pada tahun 2017 ada 3 kasus. Dari semua kasus gizi buruk yang ada semuanya telah mendapatkan penanganan dan telah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 100%.
Penilaian gizi berikutnya adalah pravelensi kekurangan gizi pada balita. Kurang gizi diukur melalui berat badan balita. Berat badan yang masih dibawah garis merah (BGM) pada Kartu Menuju Sehat (KMS) yang
merupakan pendekatan untuk menghitung standar gizi yang terpenuhi. Dari Tabel 2.1 terlihat prevelensi gizi kurang pada balita di Kota Palembang Tahun 2013-2017.
Selama kurun waktu antara Tahun 2013-2017, Prevelensi Gizi Kurang Kota Palembang yang paling tinggi adalah terjadi pada tahun 2013 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 136.816 balita dengan angka prevalensi gizi kurang sebesar 0,61. Tahun 2014 angka prevalensi 0,49 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 131.024 balita. Tahun 2015 angka prevalensi 0,47 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 130.985 balita. Tahun 2016 angka prevelensi sebesar 0,56 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 127.567 balita dan tetap pada angka prevalensi tersebut pada Tahun 2017 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 120.635 balita.
2.3.1.4 Angka Harapan Hidup
Kesadaran yang semakin meningkat terhadap gizi dan kesehatan diri dan keluarga ikut mempengaruhi peningkatan Angka Harapan Hidup di Kota Palembang. Terlihat dari tabel 2.1 Angka Harapan Hidup dari Tahun 2013 sampai tahun 2017 terus meningkat, pada Tahun 2013 Angka Harapan Hidup sebesar 69,80 dan pada tahun 2017 sebesar 70,10.