• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Bidang Kelembagaan

3. Capaian Kinerja Lainnya

a. Rapat Koordinasi Nasional Komisi Informasi se-Indonesia

Rakornas Komisi Informasi se-Indonesia telah dilaksanakan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh pada tanggal 15 – 17 Oktober 2015. Tema kegiatan Rakornas 2015 adalah “Keterbukaan Informasi Memperkuat Kepribadian dan Kemandirian Bangsa”. Peserta yang hadir pada kegiatan ini berjumlah 192 peserta. Peserta terdiri dari KI Pusat, KI Provinsi, KI Kabupaten/Kota.

Pembahasan hari pertama Rakornas dibuka dengan Laporan Panitia oleh Sekretaris KI Pusat. Dalam laporannya menyampaikan bahwa maksud dari terselenggaranya Rakornas ini adalah menyelaraskan strategi peningkatan kinerja Komisi Informasi seluruh Indonesia untuk mewujudkan budaya keterbukaan informasi sebagai wujud penegakan demokrasi di Indonesia. Dilanjukan dengan sambutan Ketua KI Pusat yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa salah satu Komisioner KI Pusat tidak bisa hadir dikarenakan sedang dalam pelathan selama 6 bulan. Agenda seminar nasional yang sebelumnya telah diagendakan, dihapus karena Narasumber tidak bisa hadir. Komisi Informasi masuk list dalam lembaga yang akan dibubarkan. Mari kita buktikan dengan kinerja sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenang kita.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka acara oleh Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa merupakan suatu kebanggan tahun ini Aceh mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah Rakornas Komisi Informasi. Salah satu aspek penting reformasi birokrasi adalah mendukung terciptanya pemerintahan transparan melalui peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi dan diharapkan juga Komisi Informasi terus melakukan visioning kepada jajaran pemerintah, sehingga budaya transparansi akan mendorong birokrasi meningkatkan kompetensinya. Hari kedua dilaksanakan Rapat Pleno I (Pelaporan Komisi Informasi se-Indonesia), Rapat Pleno II (Sidang Komisi) dan Rapat Pleno III (Perumusan dan Laporan Hasil Rakornas 2015). Hari ketiga ditutup dengan City Tour dan Temu Media.

Output dari kegiatan ini adalah tersedianya rekomendasi dari 3 bidang Komisi yaitu Komisi Penyelesaian Sengketa Informasi, Komisi Advokasi, Sosialisasi dan Edukasi

45

(ASE), dan Komisi Kelembagaan, yang dapat mendukung terciptanya koordinasi yang menyeluruh antar Komisi informasi se-Indonesia dan adanya kesepakatan upaya-upaya yang akan dilakukan oleh Komisi Informasi untuk menjadi lembaga yang mandiri, akuntabel dan kredibel. Dalam kegiatan ini terdapat kendala diantaranya adalah tidak hadirnya Narasumber dikarenakan kurangnya persiapan dalam mempersiapkan Rakornas. Serta sulitnya untuk mengkonfirmasi mengenai kedatangan para Narasumber.

b. Asistensi dan Konsultasi Kelembagaan dan Aktivitas Komisi Informasi Daerah

Pada akhir 2014 hingga 2015, terdapat beberapa Komisi Informasi tingkat Provinsi yang baru terbentuk secara kelembagaan dan beberapa Komisi Informasi tingkat Provinsi yang telah memasuki periode ke-2. Komisi Informasi tingkat Provinsi yang baru terbentuk atau yang memasuki periode ke-2, diperlukan pendampingan dalam melaksanakan tugas dan fungsi Komisi Informasi dalam melakukan penyelesaian sengketa informasi yang sesuai dengan Perki 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik dan menjalankan kegiatan kelembagaan lainnya. Sebagai contoh, apakah Komisi Informasi Provinsi dalam melakukan pemanggilan untuk menyelesaikan sengketa informasi sudah dilakukan sesuai dengan peraturan? Hal ini merupakan satu dari beberapa hal masalah kelembagaan yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan penyelesaian sengketa pada Komisi Informasi Provinsi yang menjadi titik berat maksud dan tujuan diperlukannya kegiatan ini.

Dengan dilakukan di sekretariat Komisi Informasi Provinsi sebagai tempat menjalankan tugas dan fungsinya sehari-hari secara kelembagaan dan dalam menyelesaikan Sengketa Informasi Publik, diharapkan segala permasalahan yang terkait dengan kelembagaan dan penyelesaian sengketa informasi dapat dilakukan asistensi dan konsultasi secara langsung oleh Komisi Informasi Pusat. Namun, asistensi dan konsultasi kelembagaan tersebut juga masih diperlukan bagi Komisi Informasi Provinsi yang khususnya baru saja terbentuk dan berjalan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30 Juni – 3 Juli 2015 di Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat.

46

Walaupun belum lama berdiri, KI Provinsi Sumatera Barat telah menyelesaikan beberapa sengketa informasi melalui mediasi dan ajudikasi non litigasi. Melihat kondisi yang terjadi tersebut, maka Komisi Informasi Pusat memandang perlu untuk memastikan kegiatan yang telah berjalan dilaksanakan dengan efektif dan sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk menjaga kesinambungan penerapan prosedur penyelesaian sengketa sekaligus asistensi dalam hal kelembagaan. Melalui asistensi dan konsultasi kelembagaan Komisi Informasi Provinsi, diharapkan dapat membantu dan mengarahkan secara langsung kepada anggota dan sekretariat Komisi Informasi Provinsi berkenaan dengan hal-hal kelembagaan dan penyelesaian sengketa informasi yang terjadi sejak pembentukan Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat.

c. Kajian Kelembagaan Komisi Informasi

UU KIP menyebutkan bahwa sekretariat Komisi Informasi dilaksanakan oleh Pemerintah (Pasal 29 ayat (2) UU KIP). Pasal selanjutnya, menyebutkan bahwa sekretariat Komisi Informasi Pusat dipimpin oleh sekretaris yang ditetapkan oleh Menteri yang tugas dan wewenangnya di bidang komunikasi dan informatika berdasarkan usulan Komisi Informasi. Sedangkan terhadap sekretariat Komisi Informasi provinsi dilaksanakan oleh pejabat yang tugas dan wewenangnya di bidang komunikasi dan informasi di tingkat provinsi yang bersangkutan.

Sampai saat ini, Komisi Informasi Provinsi yang telah terbentuk sejumlah 27. Komisi Informasi Kabupaten sejumlah 3, dan 1 Komisi Informasi Kota. Namun, dari ke-32 Komisi Informasi yang terbentuk tidak semua memiliki sekretariat dan walaupun sudah ada dukungan sekretariat tetapi jabatannya masih rangkap (ex officio). Kondisi jabatan yang rangkap atau masih melekat disebabkan oleh ketidakjelasan peraturan daerah yang mengaturnya namun Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik (Perki PPSIP) mengatur bahwa kepaniteraan yang bertugas dalam proses penyelesaian sengketa informasi haruslah sekretariat Komisi Informasi tersebut. Hal ini yang menyebabkan terhambatnya Komisi Informasi tersebut untuk melaksanakan tugas dan fungsinya yang utama, yaitu penyelesaian sengketa informasi sebagaimana diatur dalam Pasal 23 UU KIP.

47

Melalui kajian ini dapat terlihat bagaimana susunan organ, serta dukungan yang diberikan dengan melalui metodologi wawancara dan pengisioan kuesioner oleh Komisi Informasi tersebut. Adapun rangkaian kajian ini akan dilakukan selama 3 (tiga) bulan yang terdiri dari kegiatan penyusunan instrumen pengumpulan data, dilanjutkan dengan pengumpulan data secara langsung di 2 (dua) lokasi Komisi Informasi Provinsi dan pengumpulan data secara tidak langsung kepada Komisi Informasi se-Indonesia termasuk Komisi Informasi Pusat, setelah pengumpulan data dilakukan maka hasil tersebut akan dikaji melalui diskusi yang akan mendatangkan para ahli di bidang struktur kesekretariatan, kemudian dilanjutkan dengan konsinyasi hasil kajian, dan diakhiri dengan diskusi publik dalam rangka mensosialisasikan hasil kajian baik kepada Komisi Informasi di daerah maupun instansi terkait.

Dokumen terkait