• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV AKUNTABILITAS KINERJA DAN ANGGARAN

1. Capaian Kinerja Program Pendidikan Islam

1. Pengukuran Kinerja

Salah satu pondasi utama dalam pengelolaan birokrasi adalah pengukuran kinerja sebagai cara untuk menjamin adanya peningkatan layanan publik dan akuntabilitas dengan melakukan klarifikasi outcome. Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara kinerja aktual (fakta yang ada) dengan kinerja yang diharapkan. Pengukuran ini dilakukan secara berkala, yaitu triwulan dan tahunan. Dalam rangka mempertanggungjawabkan kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, dilakukan pengukuran terhadap indikator berdasarkan satuan ukurnya masing-masing, yaitu:

a. Pengukuran indikator yang dinyatakan dalam satuan angka/rerata/predikat/ opini diperoleh dari data sekunder/pihak/instansi yang berwenang.

Sebagai salah satu bentuk transparansi dan akuntabilitas serta untuk memudahkan pengelolaan kinerja, data kinerja dikumpulkan dan dirangkum. Pengumpulan dan perangkuman tersebut dengan memperhatikan indikator kinerja yang digunakan, frekuensi pengumpulan data, penanggungjawab, mekanisme perhitungan dan media yang digunakan. Terkait dengan pengumpulan data kinerja pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dilakukan melalui laporan kinerja Unit Eselon II pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

3. Reviu Kinerja

Reviu adalah penelaahan atas laporan kinerja untuk memastikan bahwa laporan kinerja telah menyajikan informasi kinerja yang andal, akurat, dan berkualitas, sebagaimana tersebut pada

11 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

Permenpan dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Pelaporan Kinerja Instansi Pemerintah. Tujuan reviu atas Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019 adalah: (1) membantu penyelenggaraan sistem akuntabilitas kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama; (2) Memberikan keyakinan terbatas mengenai akurasi, keandalan, dan keabsahan data/informasi kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama sehingga dapat menghasilkan Laporan Kinerja yang berkualitas.

Untuk mencapai hal tersebut, apabila ditemukan kelemahan dalam penyelenggaraan manajemen kinerja dan kesalahan penyajian data/informasi serta penyajian laporan kinerja, maka Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam selaku pengelola kinerja akan segera melakukan perbaikan atau koreksi atas kelemahan/ kesalahan tersebut secara berjenjang. Reviu atas Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama ini dilakukan oleh Tim Reviu Inspektorat Jenderal Kinerja Kementerian Agama, sesuai dengan surat pernyataan direviu yang menyatakan bahwa Laporan Kinerja Kementerian Agama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2019 telah disajikan sesuai ketentuan. Reviu atas laporan kinerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tahapan pelaporan kinerja melalui pengumpulan evidence (bukti) sebagai pemenuhan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) .

Indikator Kinerja Utama (IKU) merupakan ukuran keberhasilan yang menggambarkan kinerja utama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama sesuai dengan tugas fungsi serta mandat (core business) yang diemban. IKU dipilih dari seperangkat indikator kinerja yang berhasil diidentifikasi dengan memperhatikan proses bisnis dan kriteria indikator kinerja yang baik. IKU Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama ditetapkan pada awal tahun berdasarkan Perjanjian Kinerja antara Direktur Jenderal Pendidikan Islam dengan Menteri Agama Tahun 2019.

Indikator Kinerja pada tingkat Kementerian adalah indikator hasil (outcome) dan dampak (impact) yang akan dicapai pada Tahun 2019 sesuai tugas, fungsi dan kewenangan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019.

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menetapkan 9 (sembilan) sasaran strategis dan 34 (tiga puluh empat) IKU. Pencapaian IKU dari sembilan sasaran strategis tersebut dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019 dengan rata-rata capaian mencapai 107,28% atau kategori Sangat Baik. Secara umum capaian IKU Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019 disajikan dalam tabel berikut:

12 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m Tabel 4.2

Capaian IKU Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019

Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Capaian

(%) Kategori Sasaran Strategis 1

Meningkatnya akses masyarakat tidak mampu terhadap Pendidikan Dasar-Menengah dan Pendidikan Tinggi melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan Program Bidikmisi 1. Jumlah Siswa MI/Ula Penerima

Manfaat PIP 883.556 956.701 108,28 Sangat Baik

2. Jumlah Siswa MTs/Wustha

Penerima Manfaat PIP 940.363 1.185.844 126,10 Sangat Baik 3. Jumlah Siswa MA/Ulya Penerima

Manfaat PIP 370.815 473.934 127,81 Sangat Baik

4. Jumlah Mahasiswa Penerima

Manfaat Bidikmisi 7.000 10.000 142,86 Sangat Baik

Capaian kinerja Sasaran Strategis 1 126,26 Sangat Baik

Sasaran Strategis 2

Meningkatnya Angka Partisipasi Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Tinggi

1. Persentase APK RA 9,14 9,16 100,22 Sangat Baik

7. Persentase APM MTs/Wustha 19,73 21,21 107,50 Sangat Baik

8. Persentase APM MA/Ulya 9,06 9,02 99,56 Baik

Capaian kinerja Sasaran Strategis 2 99,80 Baik

Sasaran Strategis 3

Menurunnya jumlah siswa yang tidak melanjutkan pendidikan 1. Persentase Angka Putus Sekolah

Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 3 99,49 Baik

Sasaran Strategis 4

Meningkatnya ruang kelas RA/Madrasah dalam kondisi baik

1. Persentase Ruang Kelas RA 75,54 86,73 114,81 Sangat Baik 2. Persentase Ruang Kelas MI 63,61 83,33 131,00 Sangat Baik 3. Persentase Ruang Kelas MTs 71,90 87,42 121,59 Sangat Baik 4. Persentase Ruang Kelas MA 78,75 91,65 116,38 Sangat Baik Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 4 120,95 Sangat Baik

Sasaran Strategis 5

Meningkatnya jaminan kualitas pelayanan Pendidikan

1. Persentase RA yang Terakreditasi 26,38 23,97 90,86 Baik

13 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Capaian

(%) Kategori

Terakreditasi Minimal B 44,86 45,14 100,62 Sangat Baik Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 5 102,49 Sangat Baik

Sasaran Strategis 6

Meningkatnya jaminan kualitas pelayanan Pendidikan

1. Rerata Nilai Ujian Sekolah MTs 50,00 48,46 96,92 Baik 2. Rerata Nilai Ujian Sekolah MA

Jurusan IPA 48,00 47,40 98,75 Baik

3. Rerata Nilai Ujian Sekolah MA

Jurusan IPS 45,00 45,94 102,09 Sangat Baik

4. Rerata Nilai Ujian Sekolah MA

Jurusan Bahasa 52,00 57,67 110,90 Sangat Baik

5. Rerata Nilai Ujian Sekolah MA

Jurusan Keagamaan 53,00 56,08 105,81 Sangat Baik

Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 6 102,89 Sangat Baik Sasaran Strategis 7

Meningkatnya pendidik yang kompeten dan profesional pada pendidikan madrasah dan PTKI 1. Persentase Guru Madrasah

Bersertifikat Pendidik 44,26 40,55 91,62 Baik

2. Persentase Dosen PTKI Bersertifikat

Pendidik 45,00 34,28 76,18 Cukup

3. Persentase Dosen PTKI Berkualifikasi

S3 15,00 14,12 94,13 Baik

Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 7 87,31 Baik Sasaran Strategis 8

Meningkatnya ketersediaan guru pendidikan agama Islam pada sekolah yang telah bersertifikat

1. Persentase Guru Pendidikan Agama

Islam Bersertifikat Pendidik 67,00 44,78 66,84 Cukup Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 8 66,84 Cukup

Sasaran Strategis 9

Meningkatnya akses pendidikan keagamaan sesuai aspirasi umat beragama 1. Jumlah Peserta Didik pada

Pendidikan Keagamaan Islam 10.918.524 17.418.301 159,53 Sangat Baik Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 9 159,53 Sangat Baik Rata-rata Capaian Kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

Kementerian Agama Tahun 2019 107,28 Sangat Baik

14 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

2. Analisa Capaian Kinerja dan Anggaran

Pelaksanaan analisis capaian kinerja dilakukan melalui pengukuran kinerja dengan menggunakan formulir pengukuran kinerja sesuai Peraturan Menpan dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan program sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Tolak ukur keberhasilan sasaran strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama tidak seluruhnya dapat dituangkan dalam grafik dan angka-angka. Namun demikian pengukuran tingkat capaian kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama tahun 2019 telah dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi dengan target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019. Tingkat capaian kinerja masing-masing sasaran strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2019 dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Analisa Capaian Kinerja

Berdasarkan capaian kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang dilaporkan melalui aplikasi Sistem Informasi Performa Kementerian Agama (SIPKA) bahwa secara umum pencapaian kinerja telah memenuhi target IKU Renstra Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang telah ditetapkan untuk Tahun 2019.

Berikut penjelasan capaian sasaran strategis program pendidikan Islam Tahun 2019 :

1. Sasaran Program Meningkatnya Akses Masyarakat Tidak Mampu terhadap Program Indonesia Pintar (PIP) pada Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Tinggi

Capaian jumlah siswa MI/Ula, MTs/Wustha, dan MA/Ulya penerima manfaat PIP dan mahasiswa penerima manfaat Bidikmisi pada Tahun 2019 pada saat pendataan mencapai target capaian sebesar 108,04%, 126,13%, 127,81% dan 142,86% dari 100% target capaian di tahun 2019.

15 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

Gambar 1.Menteri Agama RI menyalurkan Kartu Indonesia Pintar kepada salah satu siswa madrasah secara Simbolis. (sumber: Ditjen Pendis Kemenag)

Sebagai catatan, penerima manfaat PIP untuk siswa MI adalah 933.214 siswa dari alokasi 853.380 siswa meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk siswa MI adalah 617.367 siswa. Sedangkan untuk santri Ula adalah 23.487 santri dari alokasi sebesar 30.176 santri menurun dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk santri Ula adalah 29.021 santri. Dengan besaran anggaran masing-masing per siswa/santri Rp450.000/tahun. Untuk penerima manfaat PIP untuk siswa MTs adalah 1.093.312 siswa dari alokasi 835.263 siswa meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk siswa MTs adalah 585.710 siswa.

Sedangkan untuk santri Wustha adalah 92.532 santri dari alokasi sebesar 105.100 santri menurun dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk santri Wustha adalah 105.100 santri.

Dengan besaran anggaran masing-masing per siswa/santri Rp750.000/tahun, Untuk penerima manfaat PIP untuk siswa MA adalah 428.363 siswa dari alokasi 317.259 siswa meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk siswa MA adalah 301.886 siswa.

Sedangkan untuk santri Ulya adalah 45.571 santri dari alokasi sebesar 53.556 santri menurun dibandingkan tahun 2018 dimana penerima manfaat PIP untuk santri Ulya adalah 53.556 santri.

Dengan besaran anggaran masing-masing per siswa/santri Rp1.000.000/tahun, dan Untuk penerima manfaat Bidikmisi untuk mahasiswa adalah 10.000 mahasiswa dari alokasi 7.000 mahasiswa. Dengan besaran anggaran masing-masing per mahasiswa Rp13.200.000/tahun.

16 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m Untuk lebih ringkasnya uraian diatas, kami sampaikan pada tabel berikut:

Tabel 4.3

Realisasi Capaian Penyaluran Bantuan Siswa Miskin Program Indonesia Pintar (PIP) Tahun 2019 (Realisasi per-31 Desember 2019)

No. Output Kuota Realisasi Capaian

per Output % Capaian

Anggaran /Siswa/

Santri/Tahun

1 Siswa MI 853.380 933.214 109,36%

108,28% Rp450.000

2 Santri Ula 30.176 23.487 77,83%

3 Siswa MTs 835.263 1.093.312 130,89%

126,10% Rp750.000 4 Santri Wustha 105.100 92.532 88,04%

5 Siswa MA 317.259 428.363 135,02%

127,81% Rp1.000.000

6 Santri Ulya 53.556 45.571 85,09%

7 Mahasiswa 7.000 10.000 142,86% 142,86% Rp13.200.000

Pada tahun 2019 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyalurkan dana bantuan sosial PIP sebesar Rp1.327.434.750.000 meningkat dibandingkan tahun 2018 yang hanya sebesar Rp Rp1.018.983.650.000 kepada 2.454.889 siswa madrasah (tingkat MI, MTs dan MA) yang mempunyai KIP, PKH, dan KKS. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam juga menyalurkan dana bantuan sosial PIP sebesar Rp125.539.175.000 juga menurun dibandingkan tahun 2018 yang hanya sebesar Rp145.960.200.000 kepada 161.590 santri pondok pesantren (tingkat Ula, Wustha dan Ulya).

Gambar 2. Suasana Kompetisi Robotik Madrasah 2019 yang digelar Kementerian Agama RI di Grand City Mall Surabaya, Sabtu (16/11/2019). (sumber: Ditjen Pendis Kemenag)

17 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

Kapasitas pengelola program PIP di daerah dan pusat terutama dalam hal pengelolaan data besar (big data) masih belum optimal sehingga penyediaan data siswa sebagai sasaran penerima PIP masih belum maksimal, disamping tidak adanya tim pengelola yang khusus menangani masalah PIP sehingga komunikasi dan koordinasi masih ada hambatan keterlambatan. Oleh karenanya, dilakukan penguatan kapasitas pengelola PIP baik di daerah maupun di pusat dengan memanfaatkan fungsi IT dalam pengelolaan data besar PIP, selain perlu dianggarkan anggaran untuk penyedia jasa untuk membantu kinerja pengelolaan data besar agar proses verifikasi dan validasi tidak mengalami hambatan. Selanjutnya, kualitas pendataan siswa melalui pendataan EMIS kurang baik yang diantaranya (data tidak lengkap, tidak ada NISN, tidak ada nama orang tua siswa, tidak ada alamat domisili, inkonsistensi penulisan nama siswa antara data usulan dan data EMIS) selain data EMIS belum mutakhir sehingga data siswa yang ada dalam SIPMA belum data siswa pada tahun pelajaran berjalan. Oleh karenanya, dilakukan penguatan dan intervensi EMIS yang menyediakan layanan data siswa secara mutakhir paling lambat sejak 3 bulan pada tahun pelajaran baru (sekitar bulan Oktober 2019, sudah ada update data siswa baru) dan juga adanya penambahan fungsi EMIS untuk melakukan pemadanan data siswa baru madrasah terhadap basis data keluarga miskin Kemensos selain mendapatkan identifikasi data penerima PIP yang belum melakukan aktivasi rekening melalui kerjasama BP dengan EMIS.

Untuk tahun 2018, anggaran PIP Santri masih berada di pusat selanjutnya ditahun 2019 penganggaran PIP Santri dilakukan di daerah. Perubahan penganggaran dari pusat ke daerah berdampak ke Bank Penyalur karena daerah diberikan kewenangan untuk melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama banyak Bank Penyalur (BP) dengan berpedoman pada aturan yang ada.

Permasalahan terjadi disebabkan adanya penggunaan standar penanggalan (kalender akademik) antara santri/pondok pesantren yang menggunakan tahun hijriyah dengan BP yang menggunakan kalender tahun masehi. BP memberlakukan aturan sendiri yang tidak tercantum pada PKS sehingga menyulitkan pencairan karena perbedaan penggunaan kalender. Disamping itu, masih dilakukan evaluasi kebijakan penggunaan BP yang diserahkan kepada masing-masing wilayah, dengan tetap memperhatikan ketentuan penyaluran yang berlaku secara nasional, seperti ketentuan pembukaan rekening yang dipermudah, ATM yang berlaku sebagai KIP, akses monitoring, dan lain sebagainya.

Kendala lainnya adalah terkait data santri yang perlu diverifikasi bahwa santri yang bersangkutan layak diberikan bantuan PIP. Masih banyak santri yang memiliki identitas tidak jelas, seperti 1 (satu) Nomor Induk Kependudukan (NIK) dimiliki oleh banyak santri. Ini banyak terjadi di lokasi pondok pesantren daerah pinggiran dan latar belakang keluarga santri yang sulit dicari sehingga menggunakan alamat pondok pesantren. Padahal dari sisi penerima bantuan PIP, santri tersebut sangat layak. Maka perlu dilakukan verifikasi mendalam dari daerah untuk memastikan bahwa santri

18 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

benar-benar layak menerima. Terkait serapan PIP yang masih rendah, upaya yang dilakukan oleh Direktorat Diniyah dan Pondok Pesantren yaitu mengajukan pengusulan calon penerima dari pondok pesantren dengan menggunakan Basis Data Terpadu (BDT) Kemensos dan melakukan verifikasi terhadap usulan baru dan ini masih menunggu PKS antara Kemenag dan Kemensos terkait pemanfaatan data BDT yang dikelola Kemensos.

Gambar 3. Menteri Agama RI Fachrul Razi saat membuka acara Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional (POSPENAS) VIII 2019 di Bandung Jawa Barat, Senin

(25/11). (sumber: Ditjen Pendis Kemenag) Capaian PIP

1) PIP Tingkat Dasar

Capaian PIP untuk tingkat dasar dihitung dengan capaian PIP Siswa MI sebesar 933.214 siswa atau 109,36% dari target sebesar 853.380 siswa. Capaian ini mengalami kenaikan 315.847 siswa dari capaian tahun sebelumnya sebesar 617.367 siswa.

Capaian PIP untuk tingkat dasar dihitung dengan capaian PIP Santri Ula sebesar 23.487 santri atau 77,83% dari target sebesar 30.176 santri. Capaian ini mengalami penurunan 5.534 santri dari capaian tahun sebelumnya sebesar 29.021 santri.

2) PIP Tingkat Menengah Pertama

19 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

Capaian PIP untuk tingkat menengah pertama dihitung dengan capaian PIP Siswa MTs sebesar 1.093.312 siswa atau 130,89% dari target sebesar 835.263 siswa. Capaian ini mengalami kenaikan 507.602 siswa dari capaian tahun sebelumnya sebesar 585.710 siswa.

Capaian PIP untuk tingkat menengah pertama dihitung dengan capaian PIP Santri Wustha sebesar 92.532 santri atau 88,04% dari target sebesar 105.100 santri. Capaian ini mengalami penurunan 12.568 santri dari capaian tahun sebelumnya sebesar 105.100 santri.

3) PIP Tingkat Menengah Atas

Capaian PIP untuk tingkat menengah atas dihitung dengan capaian PIP Siswa MA sebesar 428.363 siswa atau 135,02% dari target sebesar 317.259 siswa. Capaian ini mengalami kenaikan 126.477 siswa dari capaian tahun sebelumnya sebesar 301.886 siswa.

Capaian PIP untuk tingkat menengah atas dihitung dengan capaian PIP Santri Ulya sebesar 45.571 santri atau 85,09% dari target sebesar 53.556 santri. Capaian ini mengalami penurunan 7.985 santri dari capaian tahun sebelumnya sebesar 53.556 santri.

4) PIP Tingkat Pendidikan Tinggi

Capaian PIP untuk tingkat pendidikan tinggi dihitung dengan capaian PIP Mahasiswa PTKI sebesar 10.000 atau 142,86% dari target sebesar 7.000.

Tabel 4.4

Tren Capaian Penyaluran Bantuan Siswa Miskin Program Indonesia Pintar (PIP)

No. Output

2. Meningkatnya Angka Partisipasi Penduduk Usia Pendidikan Dasar, Menengah Dan Tinggi

Capaian APK pada Tahun 2019 pada saat pendataan hamper mencapai target capaian diantaranya untuk RA sebesar 9,16% atau 1.313.022 siswa dari 9,14% atau 1.309.780 siswa target capaian di tahun 2019 meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APK untuk RA adalah 9,05% atau 1.302.509 siswa. Untuk MI/Ula sebesar 13,45% atau 3.811.633 siswa/santri dari 13,65%

atau 3.868.314 siswa/santri target capaian di tahun 2019 meningkat dibandingkan tahun 2018

20 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

dimana capaian APK untuk MI/Ula adalah 13,10% atau 3.685.3185 siswa/santri. Untuk MTs/Wustha sebesar 23,89% atau 3.249.097 siswa/santri dari 24,52% atau 3.334.818 siswa/santri target capaian di tahun 2019 meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APK untuk MTs/Wustha adalah 23,89% atau 3.221.227 siswa/santri. Untuk MA/Ulya sebesar 10,64% atau 1.425.478 siswa/santri dari 11,03% atau 1.477.877 siswa/santri target capaian di tahun 2019 meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APK untuk MA/Ulya adalah 10,40% atau 1.389.854 siswa/santri serta untuk PTKI/Ma’had Aly sebesar 4,30% atau 945.744 mahasiswa dari 4,17% atau 895.905 mahasiswa target capaian di tahun 2019 meningkat dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APK untuk PTKI/Ma’had Aly adalah 4,04% atau 886.595 mahasiswa.

Gambar 4. Proses pelaksanaan UNBK siswa-siswi madrasah di Lebak Banten sebagai pelaksanaan akses pendidikan. (sumber: Antara)

Capaian APM pada Tahun 2019 pada saat pendataan hampir mencapai target capaian diantaranya untuk MI/Ula sebesar 11,90% atau sebesar 3.371.179 siswa/santri dari 12,45% atau sebesar 3.528.243 siswa/santri target capaian di tahun 2019 menurun dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APM untuk MI/Ula adalah 12,06% atau sebesar 3.755.927 siswa/santri. Untuk MTs/Wustha sebesar 21,21% atau sebesar 2.885.144 siswa/santri dari 19,73% atau sebesar 2.683.359 siswa/santri target capaian di tahun 2019 menurun dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APM untuk MTs/Wustha adalah 18,89% atau sebesar 3.259.984 siswa/santri dan untuk

21 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

MA/Ulya sebesar 9,02% atau sebesar 1.208.793 siswa/santri dari 9,06% atau sebesar 1.213.922 siswa/santri target capaian di tahun 2019 menurun dibandingkan tahun 2018 dimana capaian APM untuk MA/Ulya adalah 8,49% atau sebesar 1.382.364 siswa/santri.

Untuk lebih ringkasnya uraian diatas, kami sampaikan pada tabel berikut:

Tabel 4.5

Realisasi Capaian APK, APM pada RA, MI/Ula, MTs/Wustha, MA/Ula dan PTKI/Ma’had Aly Tahun 2019 (Realisasi per-31 Desember 2019)

Untuk APM baik pada MI/Ula, MTs/Wustha, MA/Ulya tidak kami tampilkan jumlah angkanya dikarenakan sulitnya memperoleh data siswa/santri yang benar-benar berusia 7-12 tahun untuk MI/Ula, 13-15 untuk MTs/Wustha dan 16-18 untuk MA/Ulya sebagai basis perhitungan APM.

Sebagai informasi bahwa perhitungan :

a. APK RA merupakan jumlah seluruh siswa RA yang berusia 5-6 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 5-6 tahun.

b. APK MI/Ula merupakan jumlah seluruh siswa MI/Ula yang berusia 7-12 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 7-12 tahun.

c. APK MTs/Wustha merupakan jumlah seluruh siswa MTs/Wustha yang berusia 13-15 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 13-15 tahun.

d. APK MA/Ulya merupakan jumlah seluruh siswa MA/Ulya yang berusia 16-18 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun.

e. APK PTKI/Ma'had Aly merupakan jumlah seluruh mahasiswa PTKI/Ma'had Aly yang berusia 19-22 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 19-22 tahun.

Sedangkan pada :

a. APM MI/Ula merupakan jumlah seluruh siswa MI/Ula yang benar-benar berusia 7-12 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 7-12 tahun.

b. APM MTs/Wustha merupakan jumlah seluruh siswa MTs/Wustha yang benar-benar berusia 13-15 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 13-13-15 tahun.

22 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m

c. APM MA/Ulya merupakan jumlah seluruh siswa MA/Ulya yang benar-benar berusia 16-18 tahun dibagi dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun.

Penjelasan terhadap indikator kinerja yang digunakan dalam mengindentifikasi capaian sasaran strategis di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Secara umum capaian APK dan APM jenjang pendidikan RA s.d PTK/Ma’had Aly lebih dari 95%. Ini merupakan keberhasilan dari upaya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dalam membuka ruang akses pendidikan yang seluas-luasnya disambut secara positif oleh masyarakat.

b. Berdasarkan capaian di atas diketahui bahwa capaian APK dan APM jenjang pendidikan RA s.d PTK/Ma’had Aly berkategori Baik memperlihatkan tren kenaikan APK RA sd. PTK/Ma’had Aly. Ini berarti kebijakan terkait peningkatan akses pendidikan Islam seperti rehabilitasi ruang kelas, pembangunan ruang kelas baru, penggunaan BOP RA dan BOS Madrasah dan Pondok Pesantren, pemanfaatan Bantuan PIP Madrasah dan Pondok Pesantren, Bidik Misi, BOPTN dan lain-lain terlaksana secara efektif dan konsisten.

c. Dari 8 (delapan) indikator kinerja yang digunakan dalam mengindentifikasi capaian kinerja Meningkatnya Angka Partisipasi Penduduk Usia Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Tinggi selama tahun 2019, dapat dijelaskan bahwa secara umum capaian APK dan APM jenjang pendidikan RA sampai dengan PTK/Ma’had Aly dengan rata-rata capaian sebesar 99,80%. Capaian tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,69 dibandingkan capaian tahun 2018 sebesar 97,11%.

Capaian APK

1) APK Tingkat Usia Dini

Capaian APK untuk tingkat usia dini dihitung dengan capaian APK RA/BA sebesar 9,16% atau 100,22%

dari target sebesar 9,14%. Capaian ini mengalami kenaikan 0,11 dari capaian tahun sebelumnya sebesar 9,05%.

2) APK Tingkat Dasar

Capaian APK untuk tingkat dasar dihitung dengan capaian APK MI/Ula sebesar 13,45% atau 98,53% dari target sebesar 13,65%. Capaian ini mengalami kenaikan 0,35 atau dari capaian tahun sebelumnya sebesar 13,10%.

3) APK Tingkat Menengah Pertama

Capaian APK untuk tingkat menengah pertama dihitung dengan capaian APK MTs/Wustha sebesar 23,89% atau 97,43% dari target sebesar 24,52%. Capaian ini tidak mengalami perubahan dari capaian tahun sebelumnya sebesar 23,89%.

23 | L a p o r a n K i n e r j a ( L K j ) P r o g r a m P e n d i d i k a n I s l a m 4) APK Tingkat Menengah Atas

Capaian APK untuk tingkat menengah atas dihitung dengan capaian APK MA/Ulya sebesar 10,64% atau 96,46% dari target sebesar 11,03%. Capaian ini mengalami kenaikan 0,24 dari capaian tahun sebelumnya sebesar 10,40%.

5) APK Tingkat Pendidikan Tinggi

Capaian APK untuk tingkat pendidikan tinggi dihitung dengan capaian APK Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebesar 4,30% atau 103,12% dari target sebesar 4,17%. Capaian ini mengalami kenaikan sebesar 0,26 dari capaian tahun sebelumnya sebesar 4,04%.

Gambar 5. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin beserta jajaran mengadakan pertemuan dengan perwakilan World Bank membahas proyek Realizing Educations Promise (Madrasah Education Quality Reform), Lapangan Banteng Jakarta,

Gambar 5. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin beserta jajaran mengadakan pertemuan dengan perwakilan World Bank membahas proyek Realizing Educations Promise (Madrasah Education Quality Reform), Lapangan Banteng Jakarta,

Dokumen terkait