BAB II. CAPAIAN KINERJA SAMPAI DENGAN TAHUN 2016 DAN
A. Capaian Kinerja s/d Tahun 2016
Capaian kinerja pelaksanaan pembangunan kehutanan bidang KSDAE pada BBKSDA Jawa Barat yang didasarkan pada pengukuran capaian kinerja sasaran strategis merupakan hasil pengukuran terhadap dokumen Penetapan Kinerja BBKSDA Jawa Barat Tahun 2016. Terdapat delapan belas indikator sasaran yang juga menggambarkan kinerja
outcome BBKSDA Jawa Barat Tahun 2016. Berdasarkan hasil
pengukuran kinerja yang ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja BBKSDA Jawa Barat, capaian kinerja masing-masing sasaran strategis/outcome tahun 2016 adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Capaian Kinerja Tahun 2016
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Target Realisasi % Kategori
1. Terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan konservasi non taman nasional ditingkat tapak serta pengelolaan keanekaragaman hayati di dalam dan di luar kawasan hutan Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitas pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% pada minimal 260 unit KSA, KPA dan TB di seluruh Indonesia
3 Unit 3 Unit 100 Sangat baik
2. Jumlah KPHK pada
kawasan konservasi non taman nasional yang beroperasi sebanyak 100 Unit KPHK
3 Unit 3 Unit 100 Sangat baik
3. Jumlah dokumen
perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 Dokumen Rencana Pengelolaan
1 Dokumen 1 Dokumen 100 Sangat baik
4. Luas kawasan konservasi yang terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya (termasuk penyelesaian konflik pemanfaatan lahan didalam kawasan konservasi)
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 10
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Target Realisasi % Kategori
5. Jumlah desa di daerah
penyangga kawasan konservasi yang dibina sebanyak 77 Desa selama 5 tahun
3 desa 3 desa 100 Sangat baik
6. Jumlah rekomendasi
hasil evaluasi kesesuaian fungsi Kawasan konservasi untuk 521 unit KSA, KPA dan TB di seluruh Indonesia
0 Unit 0 Unit -*) Kurang
baik
7. Jumlah paket data dan
informasi kawasan konservasi yang valid dan reliable pada 521 KSA, KPA dan TB di seluruh Indonesia 1 Paket Data 1 Paket Data 100 Sangat baik 8. Jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 Provinsi
2 Provinsi 2 Provinsi 100 Sangat Baik
9. Persentase peningkatan
populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai The IUCN Red List of Threatened Species sebesar 10% dari baseline data tahun 2013
2% 76,36% 150 Sangat Baik
10. Jumlah penambahan
jenis satwa liar dan tumbuhan alam yang dikembangbiakkan pada lembaga konservasi sebanyak 10 spesies dari baseline tahun 2013
1 species 1 species 100 Sangat baik
11. Besaran PNBP dari
hasil pemanfaatan satwa liar dan
tumbuhan alam sebesar Rp 50 M
319 Juta 464,107
Juta 145,49 Sangat baik
12. Jumlah kunjungan
wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta orang wisatawan nusantara
1,6 juta 2,052 juta 128 Sangat baik
13. Jumlah unit usaha
pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 Unit dari baseline tahun 2013
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 11
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Target Realisasi % Kategori
14. Jumlah kemitraan
pemanfaatan jasa lingkungan panas bumi yang beroperasi di kawasan konservasi sebanyak minimal 5 unit
- Unit - Unit *) Kurang baik
15. Jumlah Kader
Konservasi (KK), Kelompok Pecinta Alam (KPA), Kelompok Swadaya Masyarakat/ Kelompok Profesi (KSM/KP) yang berstatus aktif sebanyak 6.000 Orang
90 orang 90 orang 100 Sangat baik
16. Nilai SAKIP Direktorat
Jenderal KSDA dan Ekosistem minimal 78,00
77 poin 83,11 poin 107,93 Sangat baik
17. Jumlah dokumen
perencanaan penataan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 Dokumen Zonasi dan/atau Blok
1 Dokumen 1 Dokumen 100 Sangat baik
18. Jumlah kerjasama
pembangunan strategis dan kerjasama penguatan fungsi pada kawasan konservasi sebanyak 100 PKS
- PKS - PKS *) Kurang baik
JUMLAH 1647,19
Rata-Rata Pencapaian Sasaran 109,81 Sangat baik
Dalam Program KSDAE (Kegiatan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati) Balai Besar KSDA Jawa Barat pada awalnya memiliki kewajiban untuk memenuhi 18 IKK pada tahun 2016. Namun, pada perkembangan selanjutnya, terdapat 3 (tiga) output/IKK yang harus dihilangkan dari daftar target kinerja maupun 1 (satu) IKK yang diturunkan jumlah volumenya dikarenakan adanya self-blocking anggaran untuk mendukung pencapaian IKK.
Berdasarkan hasil pengukuran capaian kinerja (Tabel 2), dari 18 IKK yang telah ditetapkan, 15 di antaranya meraih kinerja sangat baik dengan persentase capaian kinerja ≥95%. Tiga target IKK lainnya adalah target yang direduksi akibat seluruh/sebagian besar anggarannya terkena
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 12 self-blocking. Ketiga IKK tersebut tidak dimasukkan ke dalam perhitungan
kinerja Balai Besar KSDA Jawa Barat secara keseluruhan. Dengan rata-rata capaian kinerja untuk seluruh target sebesar 109,81%, menunjukkan bahwa kinerja Balai Besar KSDA Jawa Barat dalam mewujudkan target kinerja organisasi pada tahun 2016 secara umum telah berjalan dengan baik. Berikut ini penjelasan terkait pencapaian masing-masing IKK.
IKK 1 : Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitas pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% sebanyak 3 unit
Management Effectiveness Tracking Tool (METT) merupakan sebuah perangkat untuk memonitor peningkatan efektivitas pengelolaan suatu kawasan konservasi. METT dikembangkan oleh WWF dan Bank Dunia di tahun 2007 dan menjadi pilihan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam melakukan monitoring.
Mengacu pada dokumen Penetapan Kinerja 2016, pada tahun 2016 Balai Besar KSDA Jawa Barat memiliki target sebanyak 3 (tiga) kawasan konservasi harus memiliki nilai METT minimal sebesar 70%. Ketiga kawasan yang telah ditetapkan tersebut adalah TWA Pangandaran (nilai awal 55%), TWA Tangkuban Parahu (nila awal 51%), dan TWA Telaga Warna (nilai awal 53%).
Guna mendukung pencapaian target kinerja, pada tahun 2016 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 280.770.000,- dengan realisasi sebesar Rp 280.770.000,- atau sebesar 100%. Anggaran tersebut digunakan untuk beberapa jenis kegiatan, yaitu :
1) Self Assesment METT;
2) Pengembangan Sarana Prasarana Pengelolaan Kawasan; dan 3) Koordinasi dan Konsultasi Pelaksanan Pengelolaan Kawasan.
Berdasarkan hasil verifikasi terhadap berbagai dokumen sebagai bukti bahwa pengelolaan kawasan konservasi telah berjalan dengan efektif, dapat disimpulkan bahwa ketiga kawasan yang telah ditetapkan telah mencapai nilai METT lebih dari 70% dengan rincian sebagai berikut : TWA Pangandaran (74%), TWA Tangkuban Parahu
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 13
(75%), dan TWA Telaga Warna (77%) (Gambar 2). Hal tersebut menunjukkan bahwa target peningkatan nilai METT sebesar 70% yang telah dibebankan kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat telah tercapai. Dengan demikian, target kinerja tercapai sebesar 100%.
Gambar 2. Perbandingan Nilai METT Awal dan Hasil Verifikasi pada 3 Kawasan Konservasi
Tabel 3. Realisasi Capaian IKK 1 dan Realisasi Anggaran
No.
Indikator Kinerja Kegiatan Anggaran
Uraian Target Realisasi % Target (Rp) Realisasi (Rp) %
1 Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitas pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% pada minimal 260 unit KSA, KPA dan TB di seluruh Indonesia
3 Unit 3 Unit 100 280.770.000 280.770.000 100,00
IKK 2 : Jumlah KPHK pada kawasan konservasi non taman nasional yang terbentuk dan beroperasi sebanyak 3 unit
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 17 mengamanatkan adanya pembentukan wilayah pengelolaan hutan untuk tingkat provinsi, kabupaten, dan unit pengelolaan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan unit pengelolaan adalah kesatuan pengelolaan hutan terkecil sesuai fungsi pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari. Untuk kawasan konservasi, unit pengelolaan yang dibentuk adalah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK).
Balai Besar KSDA Jawa Barat sebagai pemangku 50 kawasan konservasi harus melihat, menganalisa, sekaligus mengelola berbagai fungsi hutan beserta permasalahannya. Pada umumnya masyarakat
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 14
menginginkan akses sumberdaya hutan untuk eksistensinya, sedangkan kawasan konservasi tidak memberikan ruang yang cukup untuk kebutuhan tersebut, sehingga menimbulkan berbagai macam konflik yang saling berkaitan dan pada akhirnya membentuk simpul-simpul permasalahan di berbagai level yaitu di kawasan hutan, organisasi pengelola, dan masyarakat.
Di dalam Rencana Strategisnya, Direktorat Jenderal KSDAE telah menargetkan terbentuknya 100 KPHK non taman nasional selama tahun 2015 – 2019. Balai Besar KSDA Jawa Barat mendapatkan mandat untuk mewujudkan 3 (tiga) KPHK yang terbentuk dan beroperasi pada tahun 2016 ini. Tiga KPHK tersebut termasuk KPHK Guntur-Papandayan yang telah terbentuk dan beroperasi pada tahun 2015. Sedangkan 2 (dua) KPHK lain yang menjadi target adalah KPHK Simpang – Tilu dan KPHK Burangrang – Tangkuban Parahu.
Guna mendukung operasionalisasi KPHK Guntur-Papandayan, KPHK Simpang-Tilu, dan KPHK Burangrang-Tangkuban Parahu pada tahun 2015 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 554.995.000,- dengan realisasi sebesar Rp 554.385.000,- (99,89%). Anggaran tersebut digunakan untuk melaksanakan beberapa kegiatan, yaitu:
1) Operasional Pengembangan KPHK Guntur-Papandayan: a. Pengembangan SDM KPHK
b. Penguatasan Sarana c. Mobilisasi Minimal KPHK
d. Monitoring dan Evaluasi KPHK Guntur Papandayan e. Koordinasi Pengeloaan KPHK
f. Koordinasi dan Supervisi Pengelolaan KPHK
2) Pengelolaan KPHK Simpang-Tilu dan Burangrang-Tangkuban Perahu: a. Inventarisasi Potensi Kawasan Konservasi Terkait Pengelolaan
KPHK
b. Penyusunan Rencana Pengelolaan KPHK Simpang-Tilu Dan BurangrangTangkuban Perahu.
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 15
Perahu Burangrang
a. Pengembangan SDM KPHK
b. Penguatasan Sarana Mobilisasi Minimal KPHK c. Monitoring dan Evaluasi KPHK
d. Koordinasi dan Konsultasi Pengelolaan KPHK Simpang -Tilu dan Burangrang-Tangkuban Perahu
Mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor. P.03/KSDAE/SET/KSA.1/7/2016 tentang Petunjuk Teknis Operasional Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi terdapat 3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi agar KPHK dapat dikatakan beroperasi, yaitu syarat mutlak (penetapan wilayah, organisasi KPHK, SDM, sarana dan prasarana, dan anggaran), syarat utama (perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan evaluasi esesuaian fungsi), dan syarat pendukung (pembentukan dan pengembangan daerah penyangga, pemberdayaan dan peran serta mayarakat, kerjasama pengelolaan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan KPHK). KPHK lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat sendiri secara keseluruhan berjumlah 9 (sembilan) KPHK. Dalam hal ini, satu KPHK terdiri atas gabungan dari 2 (dua) atau lebih kawasan konservasi yang secara total berjumlah 50 unit.
KPHK Guntur-Papandayan telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. SK.984/Menhut-II/2013 tanggal 27 Desember 2013 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Guntur-Papandayan yang terletak di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat seluas 15.318 (Lima Belas Ribu Tiga Ratus Delapan Belas) Hektar.
Pada tahun 2016, 2 (dua) KPHK lainnya juga telah ditetapkan. KPHK Simpang-Tilu ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kehutanan Nomor. SK. 739/Menlhk/Setjen/PLA.0/9/2016 tentang
Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Simpang-Tilu , terletak di Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat seluas ± 23.356 (dua pluh tiga ribu tiga
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 16
ratuslima puluh enam) Hektar. Sementara KPHK Burangrang-Tangkuban Parahu ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 740/Menlhk/Setjen/PLA.0/9/2016 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Burangrang-Tangkuban Parahu , terletak di Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat seluas ± 4.772 (empat ribu tujuh ratus tujuh puluh dua) hektar.
Pada tahun 2016, sesuai dengan Rencana Strategis Balai Besar KSDA Jawa Barat Tahun 2015-2019, terdapat 3 (tiga) KPHK lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat yang harus beroperasi, yaitu KPHK Guntur-Papandayan, KPHK Simpang-Tilu dan KPHK Tangkuban Parahu-Burangrang. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 3 (tiga) syarat operasionalisasi KPHK, secara umum ketiga KPHK tersebut telah dapat dikatakan beroperasi. Sementara itu, 6 (enam) KPHK lainnya baru sampai pada tahap rancang bangun, dan dalam waktu 3 (tiga) tahun ke depan secara bertahap akan beroperasi dengan dukungan anggaran yang berasal dari APBN.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2016 di 2 KPHK (Burangrang Tangkuban Parahu dan Simpang Tilu) diawali dengan kegiatan yang bersifat prakondisi seperti inventarisasi potensi kawasan, penyusunan dokumen rencana pengelolaan dan penataan blok, serta penguatan kapasitas SDM dalam pengelolaan KPHK. Hal tersebut dilakukan agar KPHK dapat berjalan secara terarah sesuai dengan rencana pengelolaan/tata blok yang telah disusun serta didukung oleh sumber daya manusia yang cukup handal. Namun demikian, terdapat juga beberapa kegiatan yang bersifat operasional.
Seperti halnya pada tahun 2015, pada tahun 2016 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) telah melakukan perekrutan tenaga Bakti Rimbawan yang bertujuan untuk mendukung pengelolaan hutan lestari. Perekrutan ini juga bertujuan memenuhi kebutuhan tenaga teknis, administrasi, dan kewirausahaan yang
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 17
diutamakan pada instansi kehutanan. Selain oleh BP2SDM, perekrutan tenaga bakti rimbawan juga dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat guna memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di 2 (dua) KPHK baru yang baru dibentuk, yaitu KPHK Burangrang-Tangkuban Parahu dan KPHK Simpang-Tilu.
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 3 (tiga) syarat
operasionalisasi KPHK, secara umum ketiga KPHK tersebut telah dapat dikatakan beroperasi. Dengan demikian, target terbentuk dan beroperasinya KPHK sebanyak 3 (tiga) unit berhasil dicapai dengan persentase capaian kinerja sebesar 100%.
Tabel 4. Realisasi Capaian IKK 2 dan Realisasi Anggaran
No.
Indikator Kinerja Kegiatan Anggaran
Uraian Target Realisasi % Target (Rp) Realisasi (Rp) %
1 Jumlah KPHK pada kawasan
konservasi non taman nasional yang beroperasi sebanyak 100 Unit KPHK
3 Unit 3 Unit 100 554.995.000 554.385.000 99,89
IKK 3 : Jumlah dokumen perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 1 dokumen
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), setiap unit pengelola kawasan konservasi (selain taman nasional) bertanggung jawab dalam menyusun blok pengelolaan. Di samping itu, setiap unit pengelola juga mengemban amanah untuk menyusun rencana pengelolaan KSA dan KPA, baik rencana pengelolaan jangka panjang maupun rencana pengelolaan jangka menengah.
Dengan demikian, Balai Besar KSDA Jawa Barat yang mengelola sebanyak 30 cagar alam, 16 taman wisata alam, 3 suaka margasatwa, dan 1 taman buru, dituntut untuk memiliki 50 dokumen rencana pengelolaan. Akan tetapi, sampai dengan tahun 2015 hanya sebagian kecil saja dokumen tersebut yang telah disusun, apalagi yang telah disahkan. Dari data yang ada sampai dengan tahun 2015, dokumen rencana pengelolaan yang telah disahkan berjumlah 5 dokumen atau
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 18
hanya 10% dari total 50 dokumen rencana pengelolaan yang seharusnya ada.
Pada tahun 2016 dokumen perencanaan sebanyak 1 dokumen telah disusun dan saat ini masih dalam proses pengesahan. Pengesahan dokumen perencanaan merupakan kewenangan Pusat, wewenang Balai Besar KSDA Jawa Barat hanya sampai penyusunan dokumen perencanaan sesuai dengan tahapan-tahapan yang ditentukan di dalam aturan perundang-undangan. Dengan melihat kondisi tersebut, target kinerja berupa jumlah dokumen perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 1 dokumen tercapai dengan persentase pencapaian target kinerja sebesar 100%.
Tabel 5. Realisasi Capaian IKK 3 dan Realisasi Anggaran
No.
Indikator Kinerja Kegiatan Anggaran
Uraian Target Realisasi % Target (Rp) Realisasi (Rp) %
1 Jumlah dokumen perencanaan
pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 Dokumen Rencana Pengelolaan
1 Dok 1 Dok 100 63.275.000 61.105.000 96,57
IKK 4 : Luas kawasan konservasi yang terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya (termasuk penyelesaian konflik pemanfaatan lahan di dalam kawasan konservasi) seluas 60 ha
Kawasan konservasi yang berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sampai saat ini masih menghadapi ancaman yang serius. Hutan konservasi yang merupakan benteng terakhir hutan di Indonesia, ternyata belum lepas dari berbagai aktivitas ilegal seperti perambahan, pembalakan liar, penambangan liar, dan sebagainya. Hal tersebut yang menyebabkan kerusakan ekosistem pada kawasan konservasi yang mengancam keberadaan tumbuhan dan satwa liar yang hidup di dalamnya.
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 19
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.48/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemulihan Ekosistem pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Tujuan pemulihan ekosistem adalah untuk mengembalikan sepenuhnya integritas ekosistem kembali ke tingkat/kondisi aslinya atau kepada kondisi masa depan tertentu sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan.
Pemulihan ekosistem penyusun KSA atau KPA antara lain meliputi kegiatan :
1) perlindungan dan pengamanan KSA atau KPA termasuk koridor bagi penyebaran satwa liar dan transfer materi genetik;
2) pemulihan habitat bagi spesies satwa atau tumbuhan asli atau endemik;
3) mempertahankan dan memulihkan dinamika populasi dan struktur vegetasi;
4) mengurangi atau menghilangkan ancaman terhadap kerusakan ekosistem.
Jumlah anggaran untuk mendukung pencapaian target kinerja ini adalah sebesar 1.716.190.000,- dengan 2 sumber anggaran berbeda, yaitu dari APBN sebesar Rp 216.190.000,- dan Hibah Luar Negeri (HLN) sebesar Rp 1.500.000.000,-. Realisasi anggaran untuk pencapaian target kinerja ini sebesar Rp 1.554.820.050,- atau sebesar 90,60%.
Anggaran yang berasal dari HLN digunakan untuk melaksanakan kegiatan Pengelolaan Kawasan Konservasi yang Berada di Sekitar DAS Citarum yang pada tahun 2016 menginjak tahun keempat. Sementara anggaran yang berasal dari APBN digunakan untuk kegiatan prakondisi pemulihan ekosistem kawasan konservasi, yaitu penyusunan dokumen rencana lokasi pemulihan ekosistem dan penguatan kapasitas SDM dalam rangka pemulihan ekosistem. Tahun 2016 ini anggaran untuk penanaman telah dialokasikan. Hanya saja, anggaran untuk penanaman tersebut mengalami self blocking sehingga target IKK yang semula 100 ha direvisi menjadi hanya 60 ha, menyesuaikan dengan jumlah anggaran yang tersisa.
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 20
Namun demikian, dari target 60 ha, hanya 57,46 ha (95,77%) yang bisa terealisasi dengan rincian 14 ha di SM Gunung Sawal, 24,56 ha di TWA Kamojang, dan 18,9 Ha di TWA Papandayan. Tidak terpenuhinya target pemulihan ekosistem tersebut lebih dikarenakan satuan biaya penanaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sehingga anggaran yang ada hanya cukup untuk membiayai pemulihan ekosistem seluar 57,46 ha.
Kondisi tersebut menyebabkan target kinerja berupa luas kawasan konservasi yang terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 60 ha tidak tercapai sepenuhnya dengan persentase pencapaian target kinerja 95,77%.
Tabel 6. Realisasi Capaian IKK 4 dan Realisasi Anggaran
No. Indikator Kinerja Kegiatan
Anggaran
Uraian Target Realisasi % Target (Rp) Realisasi (Rp) %
1 Luas kawasan konservasi yang terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya (termasuk
penyelesaian konflik pemanfaatan lahan didalam kawasan konservasi)
60 ha 57,46 ha 95,77 1.716.190.000 1.554.820.050 90,60
IKK 5 : Jumlah desa di daerah penyangga kawasan konservasi yang dibina selama 5 tahun sebanyak 3 desa
Kawasan konservasi yang menjadi benteng terakhir hutan di Indonesia, saat ini masih belum lepas dari berbagai ancaman yang bisa menurunkan fungsi kawasan konservasi sebagai perlindungan
perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Kondisi masyarakat sekitar kawasan konservasi yang pada umumnya adalah petani tradisional dengan beberapa karakteristik seperti lemah dari sisi ekonomi, pengetahuan, keterampilan, serta memiliki akses terbatas terhadap permodalan, informasi, dan teknologi semakin menempatkan kawasan konservasi pada posisi yang sulit.
Masih tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan konservasi menyebabkan masyarakat kerap kali melakukan
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 21
interaksi negatif dengan kawasan konservasi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai contoh, sebagian masyarakat menggunakan kawasan konservasi sebagai area bercocok tanam, mengambil kayu sebagai bahan bakar dan bahan bangunan, ataupun menebang kayu hanya untuk kegiatan berladang. Jika kegiatan tersebut tidak dihentikan, akan semakin memperparah kerusakan kawasan konservasi.
Balai Besar KSDA Jawa Barat telah melakukan berbagai upaya di antaranya dengan membentuk Model Desa Konservasi (MDK) dengan Grand Design baru. Dalam hal ini MDK dijadikan sebagai instrumen dalam penangananan permasalahan kawasan konservasi melalui pendekatan sosial. Hal ini dikarenakan pendekatan yang bersifat represif dirasakan belum dapat mengatasi permasalahan kawasan secara optimal.
Guna mendukung pencapaian target kinerja, pada tahun 2016 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 198.315.000,- dengan realisasi sebesar Rp 190.465.000,- atau sebesar 96,04%. Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain:
1) Pembinaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi : a. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat;
b. Pendampingan pelaksanaan kegiatan oleh Penyuluh/Tenaga Lapangan;
2) Koordinasi dan Konsultasi Pengelolaan Daerah Penyangga
Pembinaan dan pendampingan secara kontinu terhadap kelompok MDK oleh para Kepala Resor Konservasi Wilayah dan tenaga Penyuluh Kehutanan juga menjadi faktor penentu keberhasilan pencapaian target kinerja. Melalui pembinaan dan pendampingan tersebut, kelompok MDK
senantiasa merasa termotivasi untuk berperan serta dalam
menjaga/melestarikan kawasan sekaligus juga sebagai bentuk pengawasan terhadap usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh kelompok MDK, IKK 5 ini berhasil tercapai dengan capaian sebesar 100%.
Rencana Kerja Tahun 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat | 22
Tabel 7. Realisasi Capaian IKK 5 dan Realisasi Anggaran
No.
Indikator Kinerja Kegiatan Anggaran
Uraian Target Realisasi % Target (Rp) Realisasi (Rp) %
1 Jumlah desa di daerah penyangga kawasan konservasi yang dibina sebanyak 77 Desa selama 5 tahun
3 desa 3 desa 100 198.315.000 190.465.000 96,04
IKK 6 : Jumlah rekomendasi hasil evaluasi kesesuaian fungsi Kawasan konservasi sebanyak 2 unit
Mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: 49/Menhut-II/2014 tanggal 14 Juli 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), Evaluasi Kesesuaian Fungsi KSA dan KPA didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan untuk diketahui kesesuaiannya dengan kriteria kawasan dan tujuan pengelolaannya.
Sementara tujuan dari evaluasi kesesuaian fungsi KSA dan KPA adalah untuk menetapkan tindak lanjut penyelenggaraan KSA dan KPA yang terdegradasi, baik dalam bentuk pemulihan maupun perubahan fungsi.
Pada awalnya di tahun 2016 akan dilakukan evaluasi kesesuaian fungsi untuk 2 (dua) kawasan, yaitu CA Gunung Tilu dan CA Telaga Warna. Hanya saja, karena sebagian besar anggaran untuk mencapai IKK ini mengalami self blocking, maka IKK ini direvisi dan dihilangkan dari