• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2016

3.3 Capaian Lain di Luar IKU

Sebagaimana diamanatkan dalam Renstra PusKKPA 2015-2016, terdapat dua sasaran strategis, SS-3 dan SS-4 pada perspektif internal process yang tidak dinyatakan dalam penetapan dan perjanjian kinerja. Tetapi pada dasarnya SS-3 dan SS-4 tersebut merupakan sasaran pendukung bagi pencapaian SS-1 dan SS-2.

Capaian SS-3 melalui indikator kinerja-5 dimaksudkan sebagai bahan dasar bagi pencapaian SS-2 melalui IKU-2. Sedangkan capaian SS-4 melalui IKU-6 dimaksudkan untuk mendukung pencapaian SS-2 melalui IKU-3 dan 4, dimana melalui indikator kinerja-6 diharapkan kemampuan untuk menghasilkan publikasi ilmiah bagi para peneliti Psat KKPA dapat ditingkatkan. Adapun target kinerja SS-3 dan SS-4 tahun 2016 adalah sebagai berikut:

26 Tabel 3-7. Target Kinerja SS-3 dan SS-4, Tahun 2016

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target Waktu Penyelesaian

dan antariksa 15 Desember

4. Meningkatnya

7. Jumlah kerjasama teknis di bidang

kebijakan penerbangan dan antariksa

3 Desember

Capaian kinerja SS-3 yaitu terselenggaranya kajian kebijakan penerbangan dan antariksa dan SS-4 peningkatan kapasitas iptek penerbangan dan antariksa di bidang kajian kebijakan strategis untuk tahun anggaran 2016, dapat dijelaskan pada beberapa tabel di bawah ini. Capaian SS-4 melalui indikator kinerja-6 dapat berupa karya tulis ilmiah baik yang diterbitkan pada jurnal terakreditasi maupun terbitan lainnya seperti Buku Ilmiah Pusat KKPA, dipresentasikan dalam seminar nasional, diterbitkan dalam proceeding, Buletin KKPA atau bentuk terbitan lainnya.

Adapun capaian SS-3 dan SS-4 tahun 2016 dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa

Tabel 3-8. Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa Pusat KKPA Tahun 2016

No. Judul Kajian Kegiatan Kelompok

Penelitian 1. Kajian Biaya dan Manfaat Keanggotaan Indonesia Pada

APSCO

Poklit 1 2. Kajian Biaya dan Manfaat Keanggotaan Indonesia Pada

ISNET

Poklit 1 3. Kajian Pemilihan Lokasi Bandar Antariksa Poklit 1 4. Kajian Posisi Indonesia Terhadap MTCR Poklit 1 5. Finalisasi Penerjemahan Undang-undang No 21 Tahun

2013 Tentang Keantariksaan (Undang-undang Keantariksaan)

Poklit 2 6. Penyusunan Naskah Policy Brief Pertimbangan

Penentuan Penyusunan tiga RPP dari sembilan amanat Poklit 2

27 Hasil-hasil kajian kebijakan sebagaimana disebut di atas, keseluruhannya disampaikan kepada stakeholder utama Pusat KKPA yaitu Kepala LAPAN. Sebagai contoh hasil Kajian Biaya dan Manfaat Keanggotaan Indonesia Pada Asia Pacific Space Cooperation Organization (APSCO), merekomendasikan kepada Kepala LAPAN agar Indonesia segera meratifikasi APSCO sehingga Indonesia dapat menjadi aggota penuh APSCO, dengan catatan Indonesia dapat mengambil seluruh manfaat yang ditawarkan oleh APSCO, diantaranya dengan menempatkan pegawai untuk bekerja di APSCO pada level direktur. Atas dasar rekomendasi tersebut, Kepala LAPAN menugaskan Pusat KKPA untuk berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) agar usulan ratifikasi tersebut segera dapat ditindak lanjuti. Saat ini usulan ratifikasi APSCO sudah disampaikan ke Kemlu.

Serupa dengan APSCO hasil Kajian Biaya dan Manfaat Keanggotaan Indonesia Pada ISNET mengindikasikan bahwa Indonesia sebaiknya tetap menjadi anggota ISNET, karena dari hasil kajian menunjukkan bahwa manfaat yang bisa diperoleh dari ISNET jauh lebih besar dari kontribusi tahunan pemerintah Indonesia.

Hasil kajian penentuan lokasi bandar antariksa dan keanggotaan Indonesia pada MTCR juga telah disampaikan kepada Kepala LAPAN. Dari hasil kajian penentuan lokasi bandar antariksa, nampaknya Pulau Biak akan dipilih sebagai alternatif lokasi. Atas dasar pemilihan tersebut untuk tahun 2017 hasil kajian

Pembentukan RPP dalam Undang-undang Keantariksaan

7. Penyusunan Naskah Policy Brief Pertimbangan Pembentukan Forum atau Media Koordinasi Nasional Dalam Finalisasi Rumusan Kebijakan dan Penerbangan Antariksa

Poklit 2

8. Penyusunan Naskah Urgensi dan Draft RPP Tentang Tata Cara Perlindungan Dalam Penguasaan dan Pengembangan teknologi Keantariksaan

Poklit 2

9. Draft Pedoman Delegasi RI untuk sidang ke-53 Sub Komite Ilmiah dan Tehnik UNCOPUOS

Poklit 3 10. Draft Pedoman Delegasi RI untuk sidang ke-55 Sub

Komite Hukum UNCOPUOS

Poklit 3 11. Draft Pedoman Delegasi RI untuk sidang ke-59 Komite

UNCOPUOS

Poklit 3 12. POLICY BRIEF Kepentingan Indonesia Di Centre For

Space Science And Technology Education In Asia And The Pacific (UN-CSSTEAP)

Poklit 3

13. Draft Policy Brief Posisi Indonesia Terkait dengan ICC-RESAP, ESCAP

Poklit 3 14. POLICY BRIEF Kepentingan Indonesia di Regional

Centre for Space Science and Technology Education in Asia and the Pacific ( RCSSTEAP-China )

Poklit 3 15. Draft Space Activities of Indonesia in 2016 Poklit 3

16. Bedah Isu GSO Poklit 3

28 tersebut akan didiskusikan ketingkat nasional dan diharapkan rencana pembangunan bandar antariksa tersebut menjadi program nasional. Sedangkan untuk kajian MTCR diharapkan pada tahun 2017 dapat ditetapkan posisi nasional RI apakah akan bergabung dengan MTCR atau tidak.

Hasil penyusunan naskah policy brief Pertimbangan Penentuan Penyusunan tiga RPP dari sembilan amanat Pembentukan RPP dalam Undang-undang Keantariksaan, juga telah disampaikan kepada Kepala LAPAN. Atas penyampaian policy brief tersebut, Kepala LAPAN menyetujui bahwa sembilan amanat Pembentukan RPP akan dikelompokkan menjadi 3 RPP.

Kemudian, dari hasil penyusunan naskah policy brief Pertimbangan Pembentukan Forum atau Media Koordinasi Nasional Dalam Finalisasi Rumusan Kebijakan dan Penerbangan Antarikasa, diusulkan kepada Kepala LAPAN agar pasca pembubaran DEPANRI perlu dibentuk panitia teknis (ad hoc) yang diketuai oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi guna menjembatani koordinasi antara LAPAN dengan kementerian dan lembaga terkait.

Demikian juga dengan hasil-hasil kajian kebijakan yang lainnya telah disampaikan kepada Kepala LAPAN untuk dijadikan dasar pengambilan kebijakan dalam menyelenggarakan keantriksaan di Indonesia.

b. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Kebijakan Penerbangan dan Antariksa

Tabel 3-9. Karya Tulis Ilmiah di Bidang Kebijakan Penerbangan dan Antariksa Pusat KKPA Tahun 2016

No Judul Karya Tulis Media

1. Legal Implication of Placing The Google Balloon in

National Air Space Jurnal Dinamika

Hukum – Unsoed 2. Towards the Ratification pf Asia Pacific Space

Cooperation Organization (APSCO) : Organizational Performance

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia

3. Mechanism of the Space Falling Objects Mitigation in

Indonesia STI Policy and

Mangement Journal 4. Dampak Dan Konsekuensi Hukum Pembubaran

DEPANRI Terhadap Kepentingan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Penerbangan dan Antariksa

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

29 5. Reposisi Peran Lembaga Penerbangan Dan Antariksa

Nasional (LAPAN) Setelah Pembubaran Dewan Penerbangan Dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI)

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

6. Tanggung Jawab Terhadap Pihak Ketiga Dalam Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Indonesia

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

7. Masalah Definisi Dan Delimitasi Antariksa: Analisis

Kecenderungan Pengaturan Dan Posisi Indonesia Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016 8. Pertimbangan Yuridis Dan Konsekuensi

Pengelompokan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Sebagai Amanat Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

9. Penerapan Air Defence Identification Zone (ADIZ) Di Wilayah Ruang Udara Oleh Negara

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016 10. Peluang Pemanfaatan Bandara Frans Kaisiepo Biak

Sebagai Aerospaceport di Indonesia Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016 11. Pemilihan Lokasi Pembangunan Bandar Antariksa Di

Kabupaten Biak Numfor Dan Kabupaten Pulau Morotai Ditinjau Dari Kelayakan Politis

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

12. Skema Kerja Sama Bilateral Indonesia-Tiongkok Di

Bidang Keantariksaan Buku Ilmiah Pusat

KKPA TA 2016 13. Pertimbangan Dan Dasar Pembentukan Forum Atau

Media Koordinasi Nasional Dalam Finalisasi Rumusan Kebijakan Penerbangan dan Antariksa

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

14. Dampak Dan Konsekuensi Hukum Pembubaran DEPANRI Terhadap Kepentingan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Penerbangan dan Antariksa

Buku Ilmiah Pusat KKPA TA 2016

15. Aspek Politik Yang Perlu Diperhatikan Dalam

Pembangunan Bandar Antariksa di Pulau Morotai dan Pulau Biak

Presentasi Seminar Nasional

16. MTCR dalam Pengembangan Teknologi Peroketan Indonesia

17. Manfaat dan Biaya Keanggotaan Indonesia Pada

Asia-Pacific Space Cooperation Organization (APSCO) Presentasi Seminar Nasional

18. Beberapa Aspek Hukum Yang Harus Diperhatikan Dalam Membangun Bandar Antariksa : Alternatif Biak dan Morotai

Presentasi Seminar Nasional

19. Integrasi Global Penerbangan dan Antariksa:

Tantangan Kedepan Presentasi Seminar

Nasional 20. Pertimbangan Pembentukan Forum atau Media

Koordinasi Nasional Pasca Pembubaran DEPANRI

Presentasi Seminar Nasional

30 21. Potensi Permasalahan Hukum dari Penggunaan

Pesawat Tanpa Awak Presentasi Seminar

Nasional 22. Posisi (sementara) Indonesia terhadap Draft Guidelines

Long Term Sustainability of Outer Space Activities : Kategori International Cooperation, Capacity-Building and Awareness

Presentasi Seminar Nasional

23. Upaya-Upaya PBB serta Posisi Indonesia dalam Pengamanan Keantariksaan

Presentasi Seminar Nasional

24. Mimpi Ikut Menguasai Antariksa

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

25. Indonesia Akan Membangun Bandar Antariksa Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

26. Menyoal Standar Keantariksaan Global

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

27. Perkembangan Teknologi Unmanned Aircraft Vehicle (UAV) Dan Permasalahan Hukumnya

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

28. Ratifikasi Asia-Pasific Space Cooperation Organization (PSCO):Perspektif Keuangan

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

29. Google Balloon, Solusi Atau Polemik ?

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

30. Pembahasan Isu Geo Stationary Orbit (GSO) Di Uncopuos

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

31. Long-Term Sustainability Of Outer Space Sebuah Perdebatan Yang Belum Usai

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

32. Menambang Di Ruang Angkasa: Antara Profit Dan Legalitas

Buletin Pusat KKPA Edisi Pertama tahun 2016

33. Menjadikan Keantariksaan Sebagai Isu Strategis Dalam Politik Indonesia

Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

34. Ekonomi Antariksa Buletin Pusat KKPA

Edisi Kedua tahun 2016

35. Perlunya Perumusan National Space Policy Indonesia Ditinjau Dari Aspek Kerja Sama Internasional

Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

36. Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh

Untuk Mendukung Pertahanan Keamanan Negara Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

37. Space Debris Dan Kebutuhan Akan Pengaturan Mitigasi Nasional

Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

38. Indonesia Sebagai Negara Kolong

Khususnya Orbit Geostasioner Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

31 c. Kerjasama Teknis

Tabel 3-10. Status Kerjasama Pusat KKPA dengan Perguruan Tinggi Tahun 2016

No Perguruan Tinggi Inisiator Status

1. Fakultas Hukum Universitas

Atmadjaya – Yogyakarta Poklit 2 PKS telah ditandatangi pada 20 Oktober 2016 2. Fakultas Ekonomi dan FISIP

Universitas Diponegoro

Poklit 1 Draft PKS di PT 3. Fakultas Hubungan

Internasional Universitas Airlangga

Poklit 3 Draft PKS di PT

d. Keikutsertaan Dalam Sidang Sidang UNCOPUOS

Sebagaimana biasanya maka setiap tahun Pusat KKPA selalu ikut serta dalam sidang-sidang UNCOPUOS yang diadakan di Wina, yaitu pada sidang ke-53 Sub Komite Ilmiah dan Tehnik UNCOPUOS, sidang ke-55 Sub Komite Hukum UNCOPUOS, dan sidang ke-59 Komite UNCOPUOS. Keikutsertaan Pusat KKPA dimulai dari penyiapan bahan Pedoman Delegasi RI untuk digunakan pada sidang-sidang tersebut, maupun ikut hadir pada sidang-sidang-sidang-sidang yang diadakan di Wina.

Sebagai contoh pada bulan April 2016, Kepala Pusat KKPA menghadiri Sidang ke 55 Sub Komite Hukum UNCOPUOS yang dilaksanakan di Wina, Austria, dari 4 hingga15 April 2016, Delegasi Republik Indonesia (Delri) yang terdiri dari wakil dari LAPAN, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Pertahanan dan TNI Angakatan Udara, menyampaikan pandangan umum (general statement), yang dibacakan oleh Ketua Delri yaitu Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia, Bapak Rachmat Budiman. Dalam pandangan umumnya, Bapak Rachmat menyampaikan bahwa Indonesia sejalan dengan pernyataan dari Kelompok 77 dan Cina,

39. 37 Tahun Moon Agreement: Salah Satu

Instrumen Hukum Internasional Yang Lemah Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

40. Tarik Ulur Pengelolaan Pulau Santolo:

Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan Dan Antariksa

Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

41. Pemahaman Mengenai

Jenis, Hierarki Fungsi Dan Materi Muatan Peraturan Perundang-Undangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 (8)

Buletin Pusat KKPA Edisi Kedua tahun 2016

32 menyatakan hal-hal sebagai berikut: Delri yakin bahwa Sub Komite Hukum dan Sub Komite Ilmiah dan Teknik, perlu melakukan identifikasi kemajuan dan pencapaian yang telah dibuat oleh negara-negara anggota dalam hal meningkatkan kerjasama internasional, dan melihat berbagai tantangan dalam rangka menerapkan hukum antariksa termasuk pelaksanaan ke lima Penjanjian PBB dibidang keantariksaan dan penerapan peraturan nasional yang relevan dengan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai.

Dalam kaitan itu, Delri menghimbau agar seluruh anggota UNCOPUOS, khususnya yang memiliki kemampuan teknologi yang tinggi, untuk secara aktif berkontribusi dalam rangka meningkatkan kerjasama internasional dalam pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai, termasuk mencegah perlombaan senjata di antariksa.

Terkait dengan status dan peleksanaan Perjanjian PBB dibidang Keantariksaan, Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi Space Treaty 1967, Rescue Agreement 1968, Liability Convention 1972, dan Registration Convention 1976.

Perjanjian PBB tersebut ditindaklanjuti dengan disahkannya Undang Undang tentang Keantariksaan pada tahun 2013, yang berfungsi sebagai landasan hukum bagi penyelanggaraan kegiatan keantariksaan di Indonesia.

Delri juga menyampaikan pandangannya bahwa pembahasan mengenai definisi dan delimitasi ruang antariksa perlu terus dilanjutkan guna mencapai konsensus. Indonesia berpandangan pentingnya menetapkan batas ruang udara dengan ruang antariksa suatu negara, mengingat ruang udara adalah bagian dari kedaulatan suatu negara. Dengan tidak adanya definisi dan delimitasi yang jelas yang ditetapkan oleh PBB menciptakan ketidakpastian hukum yang berpotensi pada terjadinya perselisihan antar negara dan kemungkinan pelanggaran wilayah kedaulatan suatu negara. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat semakin meningkatnya kegiatan keantariksaan yang dilakukan oleh berbagai negara maupun oleh kalangan swasta. Dengan adanya definisi dan delimitasi yang disepakati bersama, maka akan ada kejelasan terhadap penerapan dua regim hukum yaitu hukum udara dan hukum antariksa.

Terkait dengan orbit geostasioner, Indonesia berpandangan bahwa orbit tersebut merupakan sumberdaya alam yang terbatas dan berisiko mengalami kejenuhan. Dalam kaitan itu delegasi RI mengingatkan bahwa pada sidang yang ke 39 yang lalu, sub komite Hukum telah mencapai konsensus pada beberapa aspek.

Untuk itu delegasi RI meminta agar sub komite hukum melanjutkan hal tersebut guna meningkatkan kerjasama internasional yang dapat menjamin pelaksanaan

33 prinsip-prinsip kesetaraan akses terhadap orbit geostasioner, dengan mempertimbangkan kepentingan negara-negara berkembang serta negara-negara yang memiliki posisi geografis tertentu.

Sebelum mengakhiri pandangan umumnya, Ketua Delri menyampaikan bahwa LAPAN bekerjasama dengan Space Generation Advisory Council (SGAC) telah menyelenggarakan Asia Pacific Space Generation Workshop (AP-SGW) yang kedua, pada 28-29 November 2015 di Bali, mengawali penyelenggraan APRSAF 22. APSGW tersebut dihadiri oleh beberapa orang mahasiswa dan profesional muda yang berasal dari 17 negara di kawasan Asia-Pasifik, dimana salah satu tema yang dibahas mengenai hukum antariksa. Akhirnya, Ketua Delri menyatakan dukungan dan komitmen Indonesia bagi upaya-upaya yang dilakukan oleh Sub Komite Hukum UNCOPUOS.

Gambar 3-3. Sidang ke 55 Sub Komite Hukum UNCOPUOS - Wina

e. Seminar Nasional Kebijakan Penerbangan dan Antariksa Tahun 2016

Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa – LAPAN (Pusat KKPA) bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya (FH UADY) menggelar acara Seminar Nasional Kebijakan Penerbangan dan Antariksa 2016 bertajuk,

“Pengembangan Kebijakan dan Regulasi Nasional Penerbangan dan Antariksa : Problem dan Tantangan”. Kegiatan tersebut digelar pada Kamis, 20 Oktober 2016 bertempat di Gedung Bonaventura, Kampus III UAJY, Jl. Babarsari 43 – Yogyakarta.

34 Opening Ceremonial seminar tersebut menghadirkan keynote speaker antara lain : Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN), Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH.

LL.M. (Rektor UAJY), dan Samudra Sukardi, MMIS, MSIS (Vice Chairman CSE Aviation Consultant), sedangkan moderator oleh Ir. Agus Hidayat, M.Sc. (Kepala Pusat KKPA). Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari LSM yang concern dengan aktivitas keantariksaan nasional, praktisi pendidikan, serta para peneliti LAPAN.

Secara spesifik seminar juga dimaksudkan untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang dukungan IPTEK penerbangan dan antariksa bagi kesejahteraan rakyat. Sampai dengan saat ini pemanfaatan teknologi keantariksaan di Indonesia telah diaplikasikan pada berbagai bidang, seperti : telekomunikasi, navigasi, penanggulangan bencana, bahkan pertahanan dan keamanan. LAPAN sesuai dengan tugas dan fungsinya merupakan aktor kunci dalam menggiring akselerasi nasional untuk menaikkan status agar tidak hanya sebagai pemanfaat teknologi tetapi inisiator pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa ke depan. Sebagai contoh, upaya pengembangan pesawat transportasi N219 dapat menjadi simbol kebangkitan .teknologi penerbangan dan antariksa kedua. Demikian halnya pengembangan teknologi satelit LAPAN (LAPAN satellite series) juga menjadi kebanggan nasional atas hal tersebut, meskipun terdapat catatan khusus terkait harapan besar Indonesia untuk dapat membangun dan mengoperasikan fasilitas peluncuran di bumi nusantara.

Disamping upaya penguatan teknis dibidang IPTEK penerbangan dan antariksa maka perlu pula menguatkan pilar hukum dan kebijakan yang dapat mendukung pengembangan IPTEK tersebut secara efisien. Pengesahan UU No.

21/2013 tentang Keantariksaan menjadi tonggak legitimasi hukum penyelenggaraan keantariksaan nasional yang diiringi dengan konsekuensi capaian target untuk mewujudkan kemandirian dalam penguasaan IPTEK penerbangan dan antariksa secara komprehensif.

Kepastian hukum di tingkat nasional merupakan filter dalam menghadapi berbagai isu hukum atau kebijakan dalam penyelenggaraan keantariksaan di tingkat nasional maupun internasional, seperti : definisi/delimitasi antariksa, pengoperasian pesawat nir awak, posisi Indonesia terhadap code of conduct Long Term sustainability of Outer Space Activities, dsb. Perlunya perhatian khusus terhadap landasan hukum atau rekomendasi kebijakan yang handal dalam penyelesaian isu-isu strategis tersebut juga menjadi fokus utama paparan Ka.

LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin pada sesi pleno kegiatan seminar tersebut.

35 Komitmen Indonesia untuk menyelesaikan isu-isu strategis tersebut menjadi upaya mengurangi ancaman dampak perkembangan teknologi penerbangan dan antariksa bagi Indonesia, misalnya dikaitkan dengan ancaman atas eksistensi kedaulatan Indonesia ke depan.

Saat ini, salah satu agenda besar Indonesia (dhi. LAPAN) dalam penguatan aspek hukum dan kebijakan penyelenggaraan keantariksaan nasional adalah melakukan finalisasi penyusunan rangkaian aturan implementasi yang didelegasikan oleh UU No. 21/2013 tentang Keantariksaan. Sampai dengan saat ini aturan implementasi yang tengah dalam proses pembahasan final untuk memperoleh pengesahan dari Presiden meliputi : Perpres Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Nasional dan PP tentang Tata Cara Penyelenggaraan Penginderaan Jauh. Selanjutnya sedang dilakukan proses pembahasan pararel untuk penyiapan naskah urgensi dan draft PP tentang komersialisasi keantariksaan, draft PP tentang teknologi sensitif, dan draft PP tentang bandar antariksa.

Selanjutnya di aspek regulasi penerbangan, praktisi penerbangan, Samudra Sukardi, mencermati tentang kebutuhan penyempurnaan implementasi pengaturan penerbangan nasional sampai tingkat teknis (kepmen). Mengingat pada prakteknya menimbulkan berbagai masalah terhadap pemenuhan standar layanan keamanan dan keselamatan operasi penerbangan di Indonesia, baik terkait ketersediaan lembaga pengawas, pengelolaan SDM, maupun kepatuhan terhadap standar keamanan dan keselamatan yang berlaku.

Terkait kepatuhan terhadap suatu standar keamanan dan keselamatan kegiatan maka dalam penyelenggaraan keantariksaan nasional juga telah diamanatkan oleh UU No. 21/2013 tentang Keantariksaan. Pada prinsipnya Indonesia harus memberi perhatian terhadap pemenuhan standar-standar penyelenggaraan IPTEK keantariksaan yang berlaku agar trust terhadap hasil IPTEK keantariksaan Indonesia makin meningkat.

36 Gambar 3-4. Seminar Nasional di UAJY- Yogyakarta

f. Evaluasi dan Persiapan Pedoman Delegasi RI ke Sidang UNCOPUOS

Pusat KKPA pada tanggal 16 dan 17 Mei 2016 telah menyelenggarakan pertemuan antar kementerian yang ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap penyusunan dan pelaksanaan pedoman Delegasi RI ke sidang STSC dan LSC UNCOPUOS tahun 2016 serta mempersiapkan draft awal pedoman Delegasi RI ke sidang Committee UNCOPUOS bulan Juni 2016. Pertemuan dihadiri perwakilan dari instansi-instansi yang selama ini terlibat bekerja sama dengan LAPAN terkait isu-isu yang dibahas di UNCOPUOS yakni Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Kesehatan, dan TNI AU. LAPAN sendiri selain dari Pusat KKPA juga diwakili oleh Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) dan Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Umum (KSHU). Pada hari kedua, pertemuan dihadiri oleh Kepala LAPAN dalam rangka memberikan arahan umum.

Dari pertemuan selama dua hari tersebut, terkait dengan pelaksanaan sidang-sidang UNCOPUOS sebelumnya, peserta pertemuan menyepakati beberapa hal yang harus dievalusi, yakni kesiapan penguasaan materi oleh masing-masing anggota Delri untuk meningkatkan partisipasi aktif, teknis koordinasi sebelum dan selama berlangsungnya sidang, jumlah anggota Delri, dan prosedur pendaftaran presentasi teknis.

Terdapat tiga isu penting dalam sidang-sidang subkomite maupun komite UNCOPUOS yang menurut Kepala LAPAN perlu diperhatikan oleh Indonesia secara komprehensif, yakni isu definisi dan delimitasi antariksa, GSO, dan LTS. Ketiga isu

37 ini menjadi penting karena berkaitan erat dengan kepentingan nasional Indonesia.

Dalam isu definisi dan delimitasi, kita telah menyampaikan bahwa Indonesia menginginkan pembatasan pada ketinggian 110 km di atas permukaan laut. Definisi dan delimitasi antariksa juga diperlukan karena objek-objek antariksa tidak bisa dikendalikan melewati batas-batas negara, ada wahana-wahana yang berpotensi masuk ke dalam wilayah kedaulatan. Isu GSO terkait dengan hak negara-negara equator termasuk Indonesia dan terutama kemungkinan kehilangan slot orbit yang telah kita miliki sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi kita yang berada di equator. Sedangkan dalam pembahasan draft guideline LTS, kita harus berhati-hati terutama terkait dengan masalah space debris, frekuensi, peaceful purposes, dan capacity building. LAPAN masih harus mempelajari isu ini secara lebih mendalam.

Terkait keberadaan dan koordinasi Delegasi RI, Kepala LAPAN memberikan arahan untuk antara lain dapat belajar dari beberapa negara di mana ada delegasi yang mengikuti semua sesi, yang memiliki data satu bundel terkait informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya. Briefing juga diperlukan walau tidak harus kaku untuk menyatukan pendapat dan berbagi tugas mencermati pandangan negara-negara. Pedoman Delri ke Sidang ke-59 UNCOPUOS sendiri masih akan dibahas lagi dalam beberapa pertemuan antar kementerian. LAPAN mengharapkan

Terkait keberadaan dan koordinasi Delegasi RI, Kepala LAPAN memberikan arahan untuk antara lain dapat belajar dari beberapa negara di mana ada delegasi yang mengikuti semua sesi, yang memiliki data satu bundel terkait informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya. Briefing juga diperlukan walau tidak harus kaku untuk menyatukan pendapat dan berbagi tugas mencermati pandangan negara-negara. Pedoman Delri ke Sidang ke-59 UNCOPUOS sendiri masih akan dibahas lagi dalam beberapa pertemuan antar kementerian. LAPAN mengharapkan

Dokumen terkait