B. Capaian Pembelajaran
1. Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Umat Hindu memiliki kewajiban untuk melaksanakan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Dharma Negara adalah kewajiban untuk tunduk dan taat terhadap aturan-aturan pemerintah. Implementasi dharma agama dan dharma negara yang mendukung keutuhan NKRI antara lain:
a. Melalui konsep tri hita karana umat Hindu diwajibkan menguatkan hubungan antara Hyang Widhi Wasa, menguatkan sraddha dan bhakti-nya ke hadapan Hyang Widhi Wasa, hubungan manusia dengan manusia, juga menguatkan hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya.
b. Melalui konsep tat twam asi yang artinya aku adalah kamu, umat Hindu dituntun untuk membangun dan menguatkan jalinan persaudaraan, saling menyayangi, saling menghargai, toleransi antarsesama ciptaan Hyang Widhi Wasa.
c. Konsep vasudaiva kutumbhakam, yang artinya kita semua bersaudara, umat Hindu dituntun untuk membangun serta menguatkan jalinan persaudaraan, saling menyayangi, saling menghargai, toleransi antarsesama ciptaan Hyang Widhi Wasa.
Selain itu, masih banyak ajaran agama Hindu yang secara konsepsional mewajibkan umat Hindu untuk menguatkan pelaksanaan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, cinta tanah air, musyawarah, asah-asih-asuh, yang teraplikasi dalam kearifan lokal Hindu di Nusantara. Agama Hindu juga sangat melarang terjadinya himsa karma, yaitu menyakiti dan membunuh.
Secara menyeluruh, konsep-konsep tersebut sangat bertentangan dengan fanatisme dan radikalisme.
Kurikulum rumpun pendidikan agama Hindu berfokus pada
a. Kitab suci Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu yang menekankan kepada pemahaman nilai-nilai kebenaran (satyam), kesucian (siwam) dan keindahan (sundaram).
b. Sraddha dan bhakti yang terkait dengan aspek keimanan dan ketakwaan terhadap Hyang Widhi Wasa sebagai sumber segala ciptaan.
c. Susila yang merupakan konsepsi tentang akhlak mulia, dalam ajaran agama Hindu menekankan pada penerapan etika dan moral yang baik sehingga tercipta insan-insan Hindu yang sādhu (bijaksana), siddha (kerja keras), śuddha (bersih), dan siddhi (cerdas).
d. Acara yaitu implementasi dari Weda yang merupakan praktik keagamaan (ibadah) dalam agama Hindu sesuai dengan kearifan lokal Hindu di Nusantara.
e. Sejarah agama Hindu yang menekankan kepada sejarah perkembangan agama dan kebudayaan Hindu lokal, nasional, dan internasional.
Pada bagian capaian pembelajaran agama Hindu ini, khususnya akan membahas fase B. Menurut capaian pembelajaran yang dirumuskan oleh Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2020, kelas IV SD masuk ke dalam Fase B (umumnya kelas 3 – 4). Pada akhir kelas IV, peserta didik diharapkan dapat memahami sekilas tentang kitab suci Weda sebagai langkah awal untuk menuju pemahaman yang lebih luas pada kelas selanjutnya.
Secara terfokus pada akhir tahun ajaran, peserta didik diharapkan mampu memahami ajaran dharma dalam Ramāyana. Ajaran dharma dalam Ramāyana merupakan aspek kitab suci. Pemahaman terhadap nilai-nilai dharma dalam Ramāyana sangat penting bagi peserta didik, mengingat ke depannya nanti mereka adalah tiang-tiang penyangga keutuhan nusa dan bangsa seperti yang disebutkan pada Kakawin Ramāyana bait kedua.
Sebagai penguatan aspek sraddha dan bhakti, peserta didik diarahkan untuk mempelajari cadu sakti yaitu empat kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa. Aplikatif ajaran ini yaitu peserta didik dituntun untuk menyadari bahwa Hyang Widhi Wasa merupakan sumber alam semesta dengan segala isinya, sehingga beliau berkuasa penuh atas ciptaannya. Hyang Widhi Wasa adalah penguasa alam semesta beserta isinya, beliau memegang hukum keadilan tertinggi di alam semesta.
Ajaran subha asubha karma merupakan aspek susila. Aplikatif ajaran subha asubha karma merupakan bingkai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran subha asubha karma memberikan tuntunan agar peserta didik mengetahui perbuatan baik yang wajib diteladani dan perbuatan kurang baik yang patut dihindari.
Setelah memahami konsep Weda, cadu sakti dan subha asubha karma, peserta didik dibimbing untuk memahami tempat suci Hindu di Nusantara.
Tempat suci merupakan aspek acara. Peserta didik harus mengetahui bahwa tempat suci memiliki batas-batas wilayah yang disebut tri mandala.
Batas-batas wilayah tersebut memiliki aturan-aturan khusus, mulai dari pendiriannya, penggunaannya, etika memasuki tempat suci, dan hal-hal apa saja yang boleh dilakukan di tempat suci.
Tujuan pembelajaran pada Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah agar peserta didik mampu:
b. Menjiwai dan menghayati nilai-nilai universal pesan moralitas yang terkandung dalam Weda.
b. Menunjukkan sikap dan perilaku yang dilandasi sraddha dan bhakti (beriman dan bertakwa), menumbuhkembangkan dan meningkatkan kualitas diri antara lain: percaya diri, rasa ingin tahu, santun, disiplin, jujur, mandiri, peduli, toleransi, bersahabat, dan bertanggung jawab dalam hidup bermasyarakat, serta mencerminkan pribadi yang berbudi pekerti luhur dan cinta tanah air.
c. Menumbuhkan sikap bersyukur, ksama (pemaaf), disiplin, satya (jujur), ahimsa (tidak melakukan kekerasan), karuna (menyayangi), rajin, bertanggungjawab, tekun, mandiri, mampu bekerjasama, serta gotong royong dengan lingkungan sosial dan alam.
d. Memahami kitab suci Weda, sraddha dan bhakti (tatwa dan keimanan), susila (etika), acara dan sejarah agama Hindu secara faktual, konseptual, substansial, prosedural dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang berwawasan ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, permusyawaratan dan keadilan sesuai dengan per-kembangan peradaban dunia.
e. Berpikir dan bertindak efektif secara sekala (konkrit) dan niskala (abstrak) melalui puja bhakti (sembahyang, japa dan doa), chanda (dharmagita, nyanyian Tuhan, kidung, tembang, suluk, kandayu, bhajan, dan sejenisnya), meditasi, upacara-upakara, tirthayatra (perjalanan suci), yoga, dharma wacana, dan dharma tula.
f. Berperan aktif dalam melestarikan budaya, tradisi, adat istiadat berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Hindu di Nusantara serta membangun masyarakat yang damai dan inklusif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, gotong royong, berkeadilan sosial, berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, dan memenuhi kewajiban sebagai warga negara untuk mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan harmonis.
Tabel 1.21 Capaian Fase Berdasarkan Elemen
Elemen Fase B
Sraddha dan Bhakti
Pada akhir fase, peserta didik dapat memahami cadu sakti sebagai kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa. Hal ini juga dapat diaktualisaiskan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk melatih dirinya untuk memahami akan kecintaan serta hormat bhaktinya kepada Hyang Widhi Wasa dan menerapkanya dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Elemen Fase B
Susila Pada akhir fase, peserta didik dapat menjelaskan perbuatan yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Ajaran etika Hindu dengan isu yang teraktual untuk lebih memahami moralitas dalam bingkai sosial dan kenegaraan.
Acara Pada fase ini, peserta didik mengetahui tempat-tempat suci Hindu di Nusantara serta kearifan budaya daerah berkaitan dengan ajaran Hindu, baik tarian, nyanyian, dan kearifan lokal yang harus dilestarikan sebagai kekayaan budaya bangsa. Hal ini bertujuan untuk mempererat kekerabatan bangsa melalui khasanah budaya.
Kitab suci Weda
Pada fase ini, peserta didik dapat meneladani perilaku bijak tokoh-tokoh utama dalam kitab Ramāyana, epos besar umat Hindu yang masuk dalam kelompok Itihāsa, subbagian dari Weda Sruti dan Smrti sebagai pedoman dalam penerapan agama yang kaitannya dengan IPTEKS untuk menyelaraskan dharma agama dan dharma negara.
Sejarah Pada fase ini, peserta didik dapat mengidentifikasi peninggalan tokoh-tokoh Hindu setelah kemerdekaan Indonesia dan termotivasi untuk meneladani ketokohan beliau. Peserta didik dapat menjabarkan dinamika yang terjadi dalam perkembangannya.
Hal ini dilakukan sebagai pedoman dalam kehidupan, menghargai sejarah dan pelestarian agama dan budaya.
2. Capaian Pembelajaran per Tahun