BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
3. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Menurut Dendawijaya (2009: 121) Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain Capital Adequacy Ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya pembiayaan yang diberikan.
CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Berdasarkan ketentuan yang dibuat Bank Indonesia dalam rangka tata cara penilaian kesehatan bank, terdapat ketentuan bahwa modal bank terdiri atas modal inti dan
19 modal pelengkap. Disamping itu, ketentuan BI juga mengatur cara perhitungan aktiva tertimbang menurut risiko, yang terdiri atas jumlah antara ATMR yang dihitung berdasarkan nilai masing-masing pos aktiva pada neraca bank dikalikan dengan bobot risikonya masing-masing dan ATMR yang dihitung berdasarkan nilai moasing-masing pos aktiva pada rekening administratif bank dikalikan dengan bobot risikonya masing-masing. (Dendawijaya, 2009: 121)
Menurut Werdaningtyas (2002) dalam penelitian Sakinah (2013) Semakain tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit atau aktiva produktif yang berisiko. Besarnya CAR diukur dari rasio antara modal bank terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Menurut PBI No 10/15/PBI/2008 Pasal 2 Bank wajib menyediakan mdoal minimum sebesar 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Sebuah bak mengalami risiko modal apabila tidak dapat menyediakan modal minimum sebesar 8%.
Dengan penempatan CAR pada tingkat tertentu dimaksudkan agar bank memiliki kemampuan modal yang cukup untuk meredam kemungkinan timbulnya risiko sebagai akibat berkembang atau meningkatnya ekspansi aset terutama aktiva yang dikategorikan dapat memberikan hasil dan sekaligus mengandung risiko. Besarnya CAR suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:
20 4. Likuiditas
Menurut Tampubolon (2013: 40) rasio likuiditas menunjukan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan ke dalam kas dengan sedikit atau tanpa penurunan aktiva, serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh. Tingkat likuiditas bank dapat diukur dengan menggunakan rasio likuiditas yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu bank yaitu salah satunya dengan menggunakan indikator FDR.
Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio antara seluruh jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oelh bank. FDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian pembiayaan kepada nasabah dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan pembiayaan. (Fatimah, 2014).
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, besarnya Financing to Deposit Ratio ditetapkan oleh Bank Indonesia tidak boleh melebihi 110%, yang berarti bank boleh
21 memberikan kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi 110%. Apabila suatu bank melebihi dari batas yang ditetapkan oleh BI, maka bank dalam hal ini dapat dikatakan tidak menjalankan fungsinya sebagai pihak intermediasi (perantara) dengan baik. Rumus untuk mengukur tingkat FDR yaitu:
5. Profitabilitas
Menurut Harmono (2009: 109) profitabilitas merupakan suatu kemempuan yang menggambarkan kinerja fundamental perusahaan yang ditinjau dari tingkat efisiensi dan efektivitas operesi perusahaan dalam memperoleh laba. Menurut Rodoni dan Ali (2014: 27) rasio profitabilitas yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio ini dapat dirumuskan salah satunya di dalam Return on Assets (ROA)
ROA merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan. Semakin besar Return On Assets (ROA), semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dansemakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset (Dendawijawa, 2009: 118). Menurut Martono (2010: 84) ROA merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank di dalam memperoleh laba dan efisiensi
22 secara keseluruhan. Rumus ROA adalah sebagai berikut:
6. Kinerja Operasional
Kinerja operasional atau yang biasa disebut Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan perbandingan antara total biaya operasional dan total pendapatan operasional. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah bertindak sebagai perantara, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana (misalnya dana masyarakat), maka biaya dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan hasil bunga (Dendawijaya, 2009: 120).
Menurut Fatimah (2014) BOPO merupakan rasio perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. BOPO menurut kamus keuangan adalah kelompok rasio yang mengukur efisiensi dan efektivitas operasional suatu perusahan dengan jalur membandingkan yang satu terhadap yang lainnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan ioerasinya, terutama kredit. Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya. Rumus BOPO adalah sebagai berikut:
23 7. Net Imbalan (NI)
Menurut SEOJK No 10/SEOJK/.03/2014 Net Imbalan (NI) adalah Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil- (Imbalan dan Bonus) adalah pendapatan penyaluran dana setelah dikurangi beban imbal hasil, imbalan, dan bonus (disetahunkan). Pendapatan penyaluran dana meliputi seluruh pendapatan dari penyaluran dana, sedangkan beban imbalan hasil meliputi seluruh beban bagi hasil, imbalan, dan bonus dari penghimpunan dana. Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aset yang menghasilkan bagi hasil, imbalan dan bonus baik di neraca maupun pada TRA. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh pendapatan operasionalnya dari dana yang ditempatkan dalam bentuk pinjaman pembiayaan. Semakin tinggi NI meunjukkan semakin efektif bank dalam penempatan aktiva produktif dalam bentuk pembiayaan.
Akan tetapi di sisi lain, jika selisih imbalan dan bonus semakin besar dapat diartikan perbankan kurang efisien dapat disebabkan skala usaha yang kecil atau masalah internal perbankan, misalnya biaya operasional yang tinggi, yang memaksa bank menaikkan tingkat bunga pinjaman.
24 Standar yang ditetapkan Bank Indonesia untuk rasio NIM/NI adalah 6%.
8. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Financing (NPF) suatu rasio yang membandingkan tingkat pmbiayaan bermasalah (pembiayan yang dikualifikasikan) terhadap total pembiayan yang diberikan (www.bi.go.id). Menurut Ihsan dan Nur’aini (2013: 96) NPF adalah mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh bank syariah. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan kualitas pembiayaana bank syariah semakin buruk. Bank dengan NPF yang tinggi akan memperbesar biaya baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank.
Menurut Margaretha dan Setiyaningrum (2011) NPL/NPF digunakan untuk mengukur risiko bank yang berkaitan dengan risiko pemberian kredit/pembiayaan dan risiko nilai index untuk mengukur risiko bank yang berkaitan dengan pengembalian aset, yang menunjukkan bahwa pengambilan kredit/pembiayaan mempunyai pengaruh pada kecukupan modal Perhitungan rasio NPF sebagai berikut:
25 B. Penelitian Terdahulu
Menurut Damayanti et al. (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
―Pengaruh Rentabilitas dan Likuiditas terhadap Kecukupan Modal pada PT Bank Syariah Mandiri Periode 2009-2014‖ menunjukkan bahwa secara parsial ROA berpengaruh positif signifikan terhadap CAR dan FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR. Secara simultan ROA dan FDR berpengaruh signifikan terhadap CAR.
Menurut Haryanto (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
―Determinan Permodalan Bank Melalui Profitabilitas, Risiko, Ukuran Perusahaan, Efisiensi dan Struktur Aktiva‖ menunjukkan bahwa profitabilitas, ukuran, dan struktur aktiva memberikan dampak positif terhadap CAR. Sementara itu risiko bank memiliki dampak negatif terhadap CAR. Efisiensi tidak berdampak pada CAR.
Menurut Africano (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
―Pengaruh NPF terhadap CAR serta dampaknya terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia‖ menunjukkan bahwa pengaruh NPF terhadap CAR yaitu berpengaruh negatif.
Menurut Ramadhan et al (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
―Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, dan BOPO terhadap Capital Adequacy Ratio dengan Return on Assets sebagai Variabel Interverning Pada Perusahaan Perbankan Syariah Di Indonesia‖ menunjukkan bahwa CR, DER,
26 ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap CAR. BOPO berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap CAR.
Menurut Bukian dan Sudiartha (2016) dalam penelitiannya yang berjudul ―Pengaruh Kualitas Aset, Likuiditas, Rentabilitas dan Efisiensi Operasional terhadap Rasio Kecukupan Modal‖ menunjukkan bahwa NPL dan LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap CAR, ROA dan BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap CAR.
Menurut Yuliani et al (2016) dalam penelitiannya yang berjudul ― Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Return on Assets (ROA) dan Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR) studi pada Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa‖ menunjukkan bahwa LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR, NPL berpengaruh positif tidak signifikan terhadap CAR, ROA berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap CAR dan BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR.
Menurut Evelina (2016) dalam penelitiannya yang berjudul ―Pengaruh Rasio Profitabilitas terhadap Kesehatan Permodalan Bank Swasta Nasional di BEI‖ menunjukkan bahwa Net Profit Margin (NPM) berpengaruh positif terhadap CAR, ROE berpengaruh negatif terhadap CAR, sementara ROA tidak mempengaruhi CAR
Menurut Maolany dan Helliana (2015) dalam penelitiannya yang berjudul ―Pengaruh Likuiditas dan Profitabiitas terhadap Kecukupan Modal
27 pada Bank Syariah Mandiri Periode 2008-2013‖ menunjukkan bahwa secara parsial FDR berpengaruh signifikan terhadap CAR, sedangkan ROA berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR. Secara simultan FDR dan ROA memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap CAR
Menurut Fatimah (2014) dalam penelitiannya yang berjudul
―Pengaruh Rentabilitas, Efisiensi dan Likuiditas terhadap Kecukupan Modal Bank Umum Syariah‖ menunjukkan bahwa ROA berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR, BOPO berpengaruh positif signifikan terhadap CAR dan FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR.
Menurut Margaretha dan Setiyaningrum (2011) dalam penelitiannya yan berjudul ―Pengaruh Resiko, Kualitas Manajemen, Ukuran dan Likuiditas Bank terhadap Capital Adequacy Ratio Bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia‖ menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa ZRISK, NIM dan LACSF mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap CAR. Dan EQTL mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap CAR. Sedangkan NPL dan Size tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap CAR. Adapun hasil penelitian terdahulu dapat dilihat pada table 2.1 di bawah ini.
28
Metode Penelitian Hasil Temuan Persamaan Perbedaan
29
Metode Penelitian Hasil Temuan Persamaan Perbedaan
30
Metode Penelitian Hasil Temuan Persamaan Perbedaan
31
Metode Penelitian Hasil Temuan Persamaan Perbedaan
32
Metode Penelitian Hasil Temuan Persamaan Perbedaan
33 C. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
Laporan Keuangan Tahunan Bank Umum Syariah
FDR ROA BOPO NI NPF
CAR (Y) Uji Asumsi Klasik
Normalitas Multikolinieritas Autokorelas
i Heterokedastis
Model Regresi Data Panel
Common Effect Fixed Effect Random Effect
Uji Chow Uji Hausman
Uji Signifikansi
Uji t Uji F Koefisien Determinasi
Interpretasi dan Kesimpulan Fixed Effect
34 Berdasarkan gambar 2.1 di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menguji pengaruh FDR, ROA, BOPO, NI dan NPF terhadap Kecukupan Modal (CAR). Semakin tinggi tingkat ROA dan NI maka akan meningkatkan CAR, begitu pula sebaliknya apabila tingkat ROA dan NI rendah maka akan menurunkan CAR. Sementara semakin tinggi tingkat FDR, BOPO dan NPF maka akan menurunkan CAR, begitu pula sebaliknya apabila tingkat FDR, BOPO dan NPF mengalami penurunan maka akan meningkatkan CAR. Ini berarti bahwa tinggi rendahnya tingkat FDR, ROA, BOPO, NI dan NPF maka akan mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat CAR.
Kemudian dalam menguji variabel tersebut tahapan pertama yaitu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik terbagi menjadi empat yaitu uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
Tahapan kedua dilakukan uji model regresi data panel, untuk menguji model regresi data panel pertama dilakukan uji model Common Effect dan uji model Fixed Effect. Untuk menentukan model manakah yang tepat antara uji model Common Effect atau Fixed Effect dilakukan Uji Chow.
Kedua dilakukan uji model Fixed Effect dan uji model Random Effect.
Untuk menentukan model manakah yang tepat antara uji model Fixed Effect atau Random Effect dilakukan Uji Hausman. Tahapan ketiga dilakukan uji signifikansi, uji signifikansi terbagi menjadi tiga yaitu uji-t,
35 uji-F dan adjusted R². Kemudian setelah selesai dilakukan diinterpretasi dan diberi kesimpulan
D. Keterkaitan Antar Variabel dan Hipotesis
Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti bagi problematika yang diajukan dalam penelitiannya. Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian. Dengan kedudukannya itu maka hipotesis dapat berubah menjadi kebenaran, akan tetapi juga dapat tumbang sebagai kebenaran (Arikunto, 2010: 55). Adapun Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Kecukupan Modal (CAR) Apabila pertumbuhan jumlah pembiayaan yang diberikan lebih besar dari pada pertumbuhan jumlah dana yang dihimpun maka nilai FDR bank tersebut akan semakin tinggi. Semakin tinggi rasio tersebut mengindikasikan semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai pembiayaan akan menjadi semakin besar. Suatu bank yang memiliki alat-alat likuid yang sangat terbatas dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, akan ada kemungkinan penyediaan likuiditas tersebut akan diambil dari permodalannya (Abdullah, 2003).
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa FDR berpengaruh signifikan dengan nilai negatif terhadap CAR yaitu artinya ketika FDR
36 mengalami peningkatan maka dapat menurunkan CAR karena suatu bank yang sangat terbatas dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya akan ada kemungkinan penyediaan likuiditas trsebut akan diambil dari permodalannya. (Muljono,1995)
Menurut Sakinah (2013), Maolany dan Helliana. (2015), Oktaviana (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa variabel FDR terhadap CAR memiliki pengaruh signifikan dengan nilai positif, artinya jika FDR mengalami peningkatan maka CAR akan mengalami peningkatan. Sedangkan menurut Krisna (2008), Fitriyani (2011), Fatimah (2014), Damayanti et al. (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa FDR berpengaruh negatif signifikan. Sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
: Tidak terdapat pengaruh FDR yang signifikan terhadap Kecukupan modal
: Terdapat pengaruh FDR yang signifikan terhadap Kecukupan modal
2. Return on Assets (ROA) terhadap Kecukupan Modal (CAR)
Menurut Ali (2006) ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva/assets yang dimilikinya. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin
37 baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset. Sehingga CAR yang merupakan indikator kesehatan bank semakin meningkat. Setiap kali bank mengalami kerugian, modal bank menjadi berkurang nilainya dan sebaliknya jika bank meraih untung maka modalnya akan bertambah.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengaruh ROA terhadap CAR adalah positif.
Menurut Fitrianto dan Mawardi (2006), dan Damayanti et al.
(2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ROA berpengaruh signifikan positif terhadap CAR yang berarti menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas yang tercermin dalam ROA memberi pengaruh terhadap CAR atau dengan kata lain naik turunnya laba yang dihasilkan bank memberikan kontribusi terhadap perubahan kecukupan modal.
Sedangkan menurut Maolany dan Helliana (2015) dan Fatimah (2014) dalam penelitian menyatakan bahwa ROA berpengaruh negatif signnifikan terhadap CAR.sementara itu hasil penelitian Fitriyani (2011), Evelina (2012), Yuliani et al. (2015), Bukian dan Sudiartha (2016) yang menyatakan bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap Kecukupan Modal (CAR). Sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
: Tidak terdapat pengaruh ROA yang signifikan terhadap Kecukupan modal
: Terdapat pengaruh ROA yang signifikan terhadap Kecukupan modal
38 3. Kinerja Operasional (BOPO) terhadap Kecukupan Modal (CAR)
Menurut Abdullah (2003) semakin besar BOPO menunjukan kurang efisiennya bank dalam menjalankan kegiatan operasionalnya karena biaya operasionalnya yang harus ditanggung lebih besar dari pada pendapatan operasional yang diperoleh sehingga ada kemungkinan modal digunakan untuk menutupi biaya operasional yang tidak tertutup oleh pendapatan operasional. Sebaliknya semakin kecil BOPO menunjukan semakin efisiennya bank dalam menjalakan kegiatan operasionalnya, karena biaya operasional yang harus ditanggung lebih kecil dari pada pendapatan operasionalnya. Sehingga aktivitas operasional bank menghasilkan keuntungan, dimana hal tersebut mampu meningkatkan modal bank dan meminimumkan tingkat risikonya. Selain itu, hubungan BOPO dengan CAR dapat dilihat semakin efisien bank menghasilkan laba melalui biaya operasional, semakin meningkat pula modal yang ditanamkannya.
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa BOPO berpengaruh signifikan dengan nilai negatif terhadap CAR yaitu artinya ketika BOPO mengalami peningkatan maka dapat menurunkan CAR karena biaya operasional yang tinggi dan tidak dapat di tutup oleh pendapatan operasional maka modal digunakan untuk menutupinya.
Menurut Fatimah (2014) dalam penelitian menyatakan bahwa BOPO berpengaruh positif signifikan terhadap CAR. Sedangkan menurut
39 Artin (2006) yang menyebutkan bahwa secara parsial BOPO berpengaruh signifikan negatif terhadap CAR. Sementara itu oleh penelitian Krisna (2008), Haryanto (2016), Ramadhan et al. (2016) yang menyatakan bahwa BOPO tidak memiliki pengaruh signifikan dengan terhadap Kecukupan Modal (CAR). Sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
: Tidak terdapat pengaruh BOPO yang signifikan terhadap Kecukupan modal
: Terdapat pengaruh BOPO yang signifikan terhadap Kecukupan modal
4. Net Imbalan (NI) terhadap Kecukupan Modal (CAR)
Semakin tinggi NI Menunjukkan bank semakin efektif dalam penempatan aktiva produktif dalam bentuk kredit. Peneliti terdahulu yang menggunakan NI sebagai variabel pengukur kesehatan bank antara lain dilakukan oleh Sugiyanto et al. (2002) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa NI mampu digunakan sebagai indikator untuk memprediksi kesehatan bank (salah satunya diproksi melalui CAR). Berdasarkan kerangka teori dan hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa NI berpengaruh signifikan dengan nilai positif yaitu berarti semakin tinggi NI yang dicapai oleh bank menunjukkan kinerja bank semakin baik, sehingga CAR akan semakin meningkat.
40 Menurut Margaretha dan Setiyaningrum (2011) dalam penelitian menyatakan bahwa NIM/NI berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR. Sedangkan Hasil penelitian Shitawati (2006) , Evelina (2012), Hadinugroho dan Yudha (2013) menyatakan bahwa Net Interest Margin (NIM)/ Net Imbalan (NI) dalam bank syariah memiliki pengaruh signifikan dengan nilai positif terhadap Kecukupan Modal (CAR).
sementara itu Krisna (2008) dan Rahmawati (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa NI tidak mempunyai pengaruh terhadap CAR.
Sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
: Tidak terdapat pengaruh NI yang signifikan terhadap Kecukupan modal
: Terdapat pengaruh NI yang signifikan terhadap Kecukupan modal
5. Non Performing Financing (NPF) terhadap Kecukupan Modal (CAR) Non Performing Financing (NPF) digunakan untuk mengukur kualitas asset bank dan juga menggambarkan kapasitas bank dalam menyebarkan risiko serta memulihkan kegagalan pembayaran.
Berdasarkan pada teori NPF berpengaruh signifikan dengan nilai negatif terhadap CAR yaitu apabila terjadi pembiayaan bermasalah maka akan menurunkan jumlah pendapatan yang akan diterima oleh bank, sehingga bank akan menggunakan modal yang ada untuk membiayai kegiatan
41 operasionalnya. Semakin sering terjadi kemacetan maka modal bank lama-kelamaan akan terkikis dan akan menurunkan jumlah CAR.
(Oktaviana , 2016)
Menurut Fitrianto dan Mawardi (2006), Africano (2016), dalam penelitian menyatakan bahwa NPF berpengaruh negatif terhadap CAR.
Sedangkan Margaretha dan Setiyaningrum (2011), Andhini (2015), dan Yuliani et al. (2015) menyatakan bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap permodalan (CAR). Sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
: Tidak terdapat pengaruh NPF yang signifikan terhadap Kecukupan modal
: Terdapat pengaruh NPF yang signifikan terhadap Kecukupan modal
42 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR), Return on Assets (ROA), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), Net Imbalan (NI), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Kecukupan modal (CAR). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder, yaitu data laporan keungan Bank Umum Syariah di Indonesia. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data tahunan selama periode 2011-2015. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section dan time series selama periode 2011-2015.
B. Metode Penentuan Sampel
Menurut Sugiyono (2010) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Menurut Sugiyono (2010) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila peneliti melakukan penelitian terhadap populasi yang besar, sementara peneliti ingin meneliti tentang populasi tersebut dan peneliti memiliki keterbatasan dana, tenaga dan
43 waktu, maka peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel, sehingga generalisasi kepada populasi yang diteliti. Maknanya sampel yang diambil dapat mewakili atau representatif bagi populasi tersebut.
Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Syofian Siregar (2010: 148), purposive sampling adalah teknik pemilihan sampel berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia yang terdaftar di Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
2. Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia yang sudah mempublikasikan laporan keuangan tahunan selama periode 2011-2015 dan telah dipublikasikan di website masing-masing Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia.
3. Bank Umum Syariah (BUS) yang sudah memiliki data yang terkait dengan variable penelitian, Financing to Deposit Ratio (FDR), Return on Assets (ROA), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Net Imbalan (NI), dan Non Performing Financing (NPF)
44 Tabel 3.1
Proses Pengambilan Sampel
No. Keterangan Jumlah Sampel Penelitian
1. Populasi Bank Umum Syariah yang terdaftar di BI dan OJK
12 BUS 2. Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia
yang sudah mempublikasikan laporan keuangan tahunan selama periode 2011-2015 dan telah dipublikasikan di website masing-masing Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia.
10 BUS
3. Bank Umum Syariah (BUS) yang sudah memiliki data yang terkait dengan variable penelitian, Financing to Deposit Ratio
3. Bank Umum Syariah (BUS) yang sudah memiliki data yang terkait dengan variable penelitian, Financing to Deposit Ratio