BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN
4.9. Cara Analisis Data
Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk table. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dan untuk menilai hubungan
kebermaknaan dilakukan uji statistic menggunakan chi-square, t-independent, Anova dan bonferroni dengan tingkat kemaknaan 5 %.
lvii
BAB 5
ANALISIS HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan di poliklinik Departemen THT-KL FK USU / RSUP. H. Adam Malik Medan sejak Agustus 2009 sampai Mei 2010 dengan jumlah sampel 30 orang. yang terdiri dari 15 orang perokok dan 15 orang bukan perokok. Sampel termuda berusia 18 tahun, sedangkan sampel yang tertua berumur 60 tahun.
Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Umur
Umur (Tahun ) Perokok Bukan Perokok
n % n % ≤ 20 1 6,7 2 13,3 21 – 30 1 6,7 5 33,4 31 – 40 4 26,6 3 20,0 41 – 50 4 26,6 2 13,3 51 – 60 5 33,4 3 20,0 Total 15 100,0 15 100,0 X2 = 4,310 df = 4 p = 0,366
Dari tabel 5.1 Persentase tertinggi kelompok perokok adalah pada umur 51 – 60 tahun yaitu sebanyak lima orang (33,4 %) dan persentase
lviii
terendah kelompok perokok adalah pada umur ≤ 20 tahun dan umur 21 – 30 tahun yaitu masing – masing sebanyak satu orang (6,7 %). Persentase tertinggi kelompok bukan perokok adalah pada umur 21 – 30 tahun yaitu sebanyak lima orang (33,4 %) dan persentase terendah kelompok bukan perokok adalah pada umur ≤ 20 tahun dan umur 41 – 50 tahun yaitu masing– masing sebanyak dua orang (13,3 %).
Dengan uji chi-square, didapatkan hasil yang secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna antara umur dengan status merokok ataupun bukan perokok, dengan nilai p = 0,366 ( p> 0,05 ).
Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Perokok Bukan Perokok
n % n % PNS 3 20,0 2 13,3 Wiraswasta 6 40,0 6 40,0 Mahasiswa 2 13,3 5 33,4 Petani 4 26,7 2 13,3 Total 15 100,0 15 100,0 X2 = 1,010 df = 3 p = 0,799
lix
Dari tabel 5.2, Persentase tertinggi kelompok perokok adalah pada wiraswasta yaitu sebanyak enam orang (40,0 %) dan persentase terendah kelompok perokok adalah pada mahasiswa yaitu sebanyak dua orang (13,3%). Persentase tertinggi kelompok bukan perokok adalah pada wiraswasta yaitu sebanyak enam orang (40,0 %) dan persentase terendah kelompok bukan perokok adalah pada PNS dan petani yaitu masing-masing sebanyak dua orang (13,3 %).
Dengan uji chi-square, didapatkan hasil yang secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan status merokok ataupun bukan perokok, dengan nilai p = 0,366 ( p> 0,05 ).
Tabel 5.3. Waktu Transportasi Mukosiliar (TMS) pada Kelompok Perokok dengan Kelompok Bukan Perokok
Kelompok n Mean SD
Perokok 15 17,81 1,37
Bukan Perokok 15 10,23 0,69
t = 19,194 df = 28 p = 0,0001
Dari tabel 5.3, Rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada kelompok perokok adalah 17,81 (SD ± 1,37) menit dan pada kelompok bukan perokok adalah 10,23 (SD ± 0,69) menit.
lx
Setelah dilakukan uji t-independent didapatkan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar antara kelompok perokok dengan kelompok bukan perokok, dimana waktu transportasi mukosiliar pada kelompok perokok lebih lama dibanding kelompok bukan perokok ( p<0,05 ).
Tabel 5.4. Waktu Transportasi Mukosiliar (TMS) pada Kelompok Perokok Berdasarkan Lamanya Merokok
Lama Merokok (Tahun) n % Mean SD < 10 6 40,0 16,90 0,54 10 – 20 4 26,6 17,68 0,48 > 20 5 33,4 19,02 0,34 Total 15 100,0 17,81 0,35 F = 5,376 df = 2 p = 0,022
Dari tabel 5.4, Persentase tertinggi lamanya merokok adalah sebanyak enam orang (40%) yaitu kurang dari 10 tahun. Persentase terendah lamanya merokok adalah sebanyak empat orang (26,6%) yaitu 10 – 20 tahun.
Rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama merokoknya kurang dari 10 tahun adalah 16,90 (SD ± 0,54) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama
lxi
merokoknya antara 10 – 20 tahun adalah 17,68 (SD ± 0,48) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama merokoknya lebih dari 20 tahun adalah 19,02 (SD ± 0,34) menit.
Setelah dilakukan uji Anova, didapatkan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok berdasarkan lamanya merokok. Dimana pada perokok dengan waktu merokok yang lebih lama memiliki waktu transportasi mukosiliar hidung yang lebih panjang ( p<0,05 ).
Dan setelah dilakukan bonferoni test, didapatkan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung antara kelompok yang merokok selama < 10 thn dengan kelompok yang merokok > 20 tahun ( p=0.020 )
Tabel 5.5. Waktu Transportasi Mukosiliar (TMS) pada Kelompok Perokok Berdasarkan Jumlah Rokok yang Dihisap Perhari
Jumlah Rokok yang dihisap/hari (Batang) n % Mean SD 1 – 10 3 20,0 15,93 0,41 11 – 20 4 26,6 17,58 0,93 > 20 8 53,4 18,64 1,00 Total 15 100,0 17,81 1,37 F = 9,864 df = 2 p = 0,003
lxii
Dari tabel 5.5, Persentase tertinggi jumlah rokok yang dihisap perhari adalah sebanyak delapan orang (53,4%) , yaitu lebih dari 20 batang. Persentase terendah jumlah rokok yang dihisap perhari adalah sebanyak empat orang (26,6%), yaitu 11 – 20 batang.
Rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang menghisap rokok sebanyak 1 – 10 batang rokok perhari adalah 15,93 (SD ± 0,41) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang menghisap 11 – 20 batang rokok perhari adalah 17,58 (SD ± 0,93) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang yang menghisap lebih dari 20 batang rokok perhari adalah 18,64 (SD ± 1,00) menit.
Setelah dilakukan uji Anova, ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap perhari. Dimana pada perokok dengan jumlah rokok yang lebih banyak dihisap perharinya, memiliki waktu transportasi mukosiliar hidung yang lebih panjang ( p<0,05 ).
Dan setelah dilakukan bonferoni test, didapatkan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung antara kelompok yang merokok sebanyak 1-10 batang rokok perhari dengan kelompok yang merokok sebayak > 20 batang rokok perhari ( p=0.003 ).
lxiii
BAB 6 PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di poliklinik Departement THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan, dengan waktu penelitian dari bulan Agustus 2009 sampai Mei 2010, dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok dan bukan perokok. Berdasarkan dari perhitungan sampel minimal, penelitian ini menggunakan 30 sampel yang terdiri dari 15 orang kelompok perokok dan 15 orang kelompok bukan perokok. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan disain potong lintang. Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk table. Data dianalisis secara statistik dan untuk menilai
hubungan kebermaknaan dilakukan uji statistik menggunakan chi-square, t-independent, Anova dan bonferroni dengan tingkat kemaknaan 5 %.
Table 5.1. menunjukkan distribusi subjek penelitian berdasarkan umur, terlihat bahwa persentase tertinggi kelompok perokok adalah pada umur 51 – 60 tahun yaitu sebanyak lima orang (33,4 %) dan persentase terendah kelompok perokok adalah pada umur ≤ 20 tahun dan umur 21 – 30 tahun yaitu masing – masing sebanyak satu orang (6,7 %). Persentase tertinggi kelompok bukan perokok adalah pada umur 21 – 30 tahun yaitu sebanyak lima orang (33,4 %) dan persentase terendah kelompok bukan perokok adalah pada umur ≤ 20 tahun dan umur 41 – 50 tahun yaitu masing –
lxiv
masing sebanyak dua orang (13,3 %). Namun dengan uji chi-square, didapat hasil yang secara statistik tidak menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara umur dengan status merokok ataupun bukan perokok, dengan nilai p = 0,366 ( p> 0,05 ).
Gondodiputro (2007), melaporkan bahwa menurut WHO, ada 1,3 milyar perokok di dunia dan sepertiganya berasal dari populasi global yang berusia 15 tahun ke atas. Hal yang memprihatinkan adalah usia merokok yang setiap tahun menjadi semakin muda. Bila dulu orang mulai berani merokok sejak SMP, maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5 sudah mulai merokok secara diam-diam.
Suheni (2007), mengatakan bahwa dari survai secara nasional ditemukan bahwa laki-laki remaja banyak yang menjadi perokok dan hampir 2/3 dari kelompok umur produktif adalah perokok. Pada pria prevalensi perokok tertinggi adalah umur 25-29 tahun. Sebagian perokok mulai merokok pada umur < 20 tahun dan separuh dari laki-laki umur 40 tahun ke atas telah merokok tiga puluh tahun atau lebih, hampir 70% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum mereka berusia 19 tahun.
Tabel 5.2. menunjukkan distribusi karakteristik subjek penelitian berdasarkan pekerjaan. Dapat dilihat bahwa persentase tertinggi kelompok perokok adalah pada wiraswasta yaitu sebanyak enam orang (40,0 %) dan persentase terendah kelompok perokok adalah pada mahasiswa yaitu sebanyak dua orang (13,4 %). Persentase tertinggi kelompok bukan perokok adalah pada wiraswasta yaitu sebanyak enam orang (40,0 %) dan
lxv
persentase terendah kelompok bukan perokok adalah pada PNS dan petani yaitu masing – masing sebanyak dua orang (20,0 %). Dengan uji chi-square, ditemukan hasil yang secara statistik tidak menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara jenis pekerjaan dengan status merokok ataupun bukan perokok, dengan nilai p =0,799 ( p> 0,05).
Merokok telah menjadi kebiasaan, gaya hidup tanpa memandang status sosial ekonomi, dari golongan bawah, menengah sampai atas. Kebiasaan merokok juga tidak memandang jenis pekerjaan, apakah itu petani, pedagang, manajer perusahaan, direktur dan sebagainya (Dzakiyah, 2008 ).
Tabel 5.3. menunjukkan waktu transportasi mukosiliar (TMS) pada kelompok perokok dengan kelompok bukan perokok. Dimana didapatkan rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada kelompok perokok adalah 17,81 (SD ± 1,37) menit dan pada kelompok bukan perokok adalah 10,23 (SD ± 0,69) menit.
Dengan uji t-independent ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar antara kelompok perokok dengan kelompok bukan perokok, dimana waktu transportasi mukosiliar pada kelompok perokok lebih lama dibanding kelompok bukan perokok ( p<0,05 ).
Hasil yang didapatkan diatas, sesuai dengan yang dijelaskan oleh Isawa et al, 1984 , bahwa berdasarkan pada struktur anatomi hidung dan sinus paranasal, maka udara yang dihirup akan berkontak langsung dengan
lxvi
membrane mukosiliar dan silia–silia epitel. Stanlay et al (1986) mendapatkan waktu rata rata transportasi mukosiliar hidung pada 28 orang perokok adalah 20,8 (SD± 9,3) menit, yang secara signifikan lebih panjang dari waktu rata-rata transportasi mukosiliar hidung pada 27 orang non perokok 11,1 (SD±3,8).
Asap rokok dapat menurunkan resistensi hidung terhadap aliran udara. Individu – individu yang terpapar asap rokok akan menyebabkan terjadinya iritasi dan rhinorrhea (Bisesi 1994). Pada perokok cenderung lebih banyak menderita sinusitis dibandingkan dengan bukan perokok, keadaan ini mungkin sebagai akibat udem membran sinus yang disebabkan oleh pengaruh dari tembakau dan akibat dari berkurangnya aktivitas sel–sel epitel saluran pernafasan (Dye et al, 1994 ). Mahakit (1994) mendapatkan waktu transportasi mukosiliar normal adalah 12 menit. Pada perokok akan menunjukkan TMS yang abnormal (Bisesi 1994). Waguespack (1995) mendapatkan nilai rata-rata adalah 12-15 menit. Nurcahyo (2000) mendapatkan bahwa dari 30 pria perokok, sebanyak 20 orang (33,3 %) mengalami gangguan transportasi mukosiliar hidung, sementara dari 30 pria bukan perokok, 22 orang (13,33 %) diantaranya tidak mengalami gangguan waktu transportasi mukosiliar hidung. Elynawaty (2002) dalam penelitian mendapatkan nilai normal waktu transportasi mukosiliar adalah 7,61 menit untuk wanita dan 9,08 menit untuk pria.
lxvii
Tabel 5.4. menunjukkan waktu transportasi mukosiliar (TMS) pada kelompok perokok berdasarkan lamanya merokok, dimana persentase tertinggi lamanya merokok adalah sebanyak enam orang (40%), yaitu kurang dari 10 tahun dan persentase terendah lamanya merokok adalah sebanyak empat orang (26,6%) yaitu 10 – 20 tahun.
Rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama merokoknya kurang dari 10 tahun adalah 16,90 (SD ± 0,54) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama merokoknya antara 10 – 20 tahun adalah 17,68 (SD ± 0,48) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang lama merokoknya lebih dari 20 tahun adalah 19,02 (SD ± 0,34) menit.
Setelah dilakukan uji Anova, ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok berdasarkan lamanya merokok. Dimana pada perokok dengan waktu merokok yang lebih lama memiliki waktu transportasi mukosiliar hidung yang lebih panjang ( p<0,05 ).
Dan setelah dilakukan bonferoni test, ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung antara kelompok yang merokok selama < 10 thn dengan kelompok yang merokok > 20 tahun ( p=0.020 )
Hasil di atas hampir sama dengan yang didapatkan oleh Stanley et al
(1986) dalam penelitiannya, dimana perokok yang secara regular merokok lebih dari 10 tahun memiliki waktu transportasi mukosiliar lebih panjang
lxviii
dibandingkan dengan perokok yang secara regular merokok paling tidak dalam 5 tahun terakhir.Keadaan ini juga sesuai dengan yang disampaikan oleh Drastyawan et al (2001), bahwa besar pajanan asap rokok bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh lamanya waktu merokok.
Tabel 5.5, menunjukkan waktu transportasi mukosiliar (TMS) pada kelompok perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap perhari, dimana persentase tertinggi jumlah rokok yang dihisap perhari adalah sebanyak delapan orang (53,4%) , yaitu lebih dari 20 batang. Persentase terendah jumlah rokok yang dihisap perhari adalah sebanyak empat orang (26,6%), yaitu 11 – 20 batang.
Rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang menghisap rokok sebanyak 1 – 10 batang rokok adalah 15,93 (SD ± 0,41) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang menghisap 11 – 20 batang rokok perhari adalah 17,58 (SD ± 0,93) menit, rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok yang menghisap lebih dari 20 batang rokok perhari adalah 18,64 (SD ± 1,00) menit.
Setelah dilakukan uji Anova, ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan bermakna dari rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap perhari. Dimana pada perokok dengan jumlah rokok yang lebih banyak dihisap perharinya, memiliki waktu transportasi mukosiliar hidung yang lebih panjang ( p<0,05 ).
lxix
Dan setelah dilakukan bonferoni test, ditemukan hasil yang secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung antara kelompok yang merokok sebanyak 1-10 batang rokok perhari dengan kelompok yang merokok sebayak > 20 batang rokok perhari ( p=0.003 ).
Hasil di atas sesuai dengan yang didapatkan Stanley et al (1986) dalam penelitiannya pada 28 orang perokok, bahwa 23 orang yang mengkonsumsi rokok >20 batang perharinya memiliki rata-rata waktu transportasi mukosiliar hidung lebih panjang dibandingkan waktu transportasi mukosiliar hidung pada 5 orang yang menghabiskan 10-19 batang/hari dan seorang dintaranya yang mengkonsumsi > 40 batang/hari, memiliki waktu transportasi mukosiliar hidung > 60 menit. Keadaan ini juga sesuai dengan yang disampaikan oleh Drastyawan et al ( 2001 ), bahwa besar pajanan asap rokok bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap dan pola rokok tersebut.
lxx
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
7.1.1. Rata-rata waktu transportasi mukosiliar pada kelompok perokok adalah 17,81 (SD ± 1,37) menit .
7.1.2. Rata-rata waktu transportasi mukosiliar kelompok bukan perokok adalah 10,23 (SD ± 0,69) menit.
7.1.3. Terdapat perbedaan bermakna waktu transportasi mukosiliar antara kelompok perokok dan bukan perokok. Dimana berdasarkan hasil uji t-independent didapati p = 0,0001 (p< 0,05).
7.2 Saran
7.2.1 Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh variasi anatomi dan alergi terhadap waktu transportasi mukosiliar hidung, dengan disain yang sesuai
7.2.2 Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor atau keadaan-keadaan yang dapat memperbaiki fungsi transportasi mukosiliar hidung
7.2.3 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada berbagai keadaan lain terutama faktor lingkungan yang mungkin dapat mempengaruhi fungsi mukosiliar hidung.
lxxi
DAFTAR PUSTAKA
Aditama TJ, 2004, Sepuluh Program Penaggulangan Rokok, Majalah Kedokteran Indonesia, vol 54, no 7, pp. 255 – 59.
Amedee G Ronald. 1993. Sinus Anatomy and Function. In : Head and Neck Surgery Otolaryngology. Byron J.Bailey. JB Lippincott Company. Philadhelpia. pp.343-49.
Ballenger JJ. 1996. Hidung dan Sinus Paranasal, Aplikasi klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Sinus Paranasal. Dalam : Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok dan Leher. Edisi 13. Jilid satu. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal.1-25.
Bissesi, Alan, 1994, Chemical Air Pollutans and Otorhynolaryngeal Toxicity, Journal of Environmental Health Association, vol.56, pp.24.
Bouquot, JE, and Schroeder, KS, 1992, The Oral Effect of Tobacco Abuse, A Review Paper Published in The Journal of The American Dental Institute, vol.43. pp. 44-5.
Crofton,J, 1990, A Respiratory Desease and Problems Explained, ENT Consultans Pages: 1-12
Drastyawan et al, 2001, Pengaruh Asap Rokok Tehadap Saluran Nafas, Journal Respirologi Indonesia, Official Journal of the Indonesian Association of Pulmonologist, vol.1, pp. 31-7.
Dye et al , 1994, Effects of cigarette smoke on epithelial cells of the respiratory tract, Occasional review, Department of Anatomy,
lxxii
Physiological Sciences, and Radiology,College of Veterinary Medicine,North Carolina State University,Raleigh, North,USA, p: 825-34
Dzakiyah, 2008, Perokok Pasif dan Aktif. Available from http:/ani-dzakiah.blongspot.com/2008/11/perkok-pasif-dan-aktif.html.
Elynawati N, Roestiniadi, Hoetomo. 2002. The Influence of Air Polutant on Mucociliary Transportasit in Wood Factory Worker. 7 th ARSR, p.119.
Gondodiputro, S,2007, Bahaya Tembakau dan Bentuk-Bentuk Sediaan Tembakau, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas, Padjadjaran Bandung, hal :1-19
Gosepath J, Grebneva N, Mossikhin S, Mann WJ. 2002. Topical antibiotic, antifungal and antiseptic solutions decrease ciliary activity in nasal respiratory cells. Am J Rhinnol. 16; 25-31
Higler AP. 1997. Hidung : Anatomy dan Fisiologi Terapan. Dalam : Boies, Buku Ajar Penyakit THT (Boies Fundamentals of Otolaryngology). Edisi 6. EGC Penerbit buku kedokteran. Jakarta. 174-89
Higler AP. 1997. Hidung : Anatomy dan Fisiologi Terapan. Dalam : Boies, Buku Ajar Penyakit THT (Boies Fundamentals of Otolaryngology). Edisi 6. EGC Penerbit buku kedokteran. Jakarta. 240-60
Isawa et al, 1984, Mucociliary Clearance Mechanism in Smoking and Nonsmoking Normal Subjects, Departement of Medicine, The
lxxiii
Research Institute for Chest Diseases and Cancer, Tohoku University, Japan ; p:352-59.
Joki S, Toskala E, Saano V, Nuutinen J. 1998. Correlation Between Ciliary Beat Frequency and the Structure of Ciliated Epithelia in Pathologic Human Nasal Mucosa. Laryngoscope; 108, 426-30 Jorissen M, Willems T, Boeck KD. 2000. Diagnostic Evaluation of Mucociliary
Transportasit: From Symptoms to Coordinated Ciliary Activity after Ciliogenesis in Culture. Am J Rhinol; 14: pp.345-52
Kollapan C and Gopi, 2002, Tobacco Smoking and Pulmonary Tuberculosis, Thorax, vol.57, pp. 964-6.
Lindberg S. 1997. Mucociliary Transportasit. In: Rhinologic Diagnosis and Treatment. McCaffrey TV. Thieme Medical Publishers, USA: pp.155-173
Mahakit P, Pumhirun P. 1994. The Study of Mucociliary Clearance in Smoker, Sinusitis and Allergic Rhinitis. Am J Rhinol; 5: p.320
Mc Caffrey TV; Remington WJ. 2000. Nasal Function & Evaluation. In: Head & Neck surgery Otolaryngology Vol 1, 2nded, Byron J.Bailey, Lipponcott-Raven, Philadelphia : pp.333-48.
Mygind N. 1981. Nasal Allergy, 2nded, Blackwell Scientific Publication. Oxford. pp.3-35.
Nizar NW, Wardani RS. 2000. Anatomi endoskopik hidung-sinus paranasal dan patofisiologi sinusitis. Dalam: Kumpulan naskah lengkap
lxxiv
kursus, pelatihan dan demo bedah sinus endoskopik fungsional. Makassar : FK Unhas, hal.1-12.
Nurcahyo .2000. Pengaruh Merokok pada Silia Mukosa Hidung. Bagian THT RSUD Dr. Moewardi Surakarta, hal 1-24.
Nuutinen J, Toskala ER, Saano,V. 1993. Ciliary beating frekwency in chronic sinusitis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 119, 645-7.
Rautiainen M . 1994. Impaired muciliary fungtion in the nose. Am J Rhinol; 5: pp.276-7.
Sakakura Y. 1997. Mucociliary Transportasit in Rhinologic Disease. In: Bunnag C, Muntarbhorn K, editors. Asean Rhinological Practice. Bangkok: Siriyot Co, Ltd, pp.137-43.
Sastroasmoro, S, 1995. Pemilihan Subjek Penelitian. Dalam : Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Binarupa Aksara, Jakarta. hal: 42-9. Scadding GK, Lund VJ, Darby YC. 1995. The effect of long term antibiotics
therapy upon ciliary beat frequency in chronic rhinosinusitis. The journal of Laryngo-otology. 109; 24-6.
Soedarjatni, Djoko SS. 1993. Nasal mucociliary clearance (NMC) dan nasal pH pada 30 penderita Diabetes Melitus (NIDDM tipe II WHO). Dalam: Kumpulan naskah ilmiah PIT Perhati. Bukittinggi: hal.760-6.
Soetjipto D, Mangunkusumo E, 2001. Sinus Paranasal. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok Kepala Leher, edisi ke 5, FKUI, Jakarta, hal. 115-19.
lxxv
Solak ZA, Kabaroglu C, Cok g, et al, 2005, Effect of Different Levels of Cigarette Smoking on Lipid Peroxidation, Glutathione Enzyme Paraoxonase 1 Activity in Health People, Clin Exp Med, vol.5, pp: 99-105.
Stanley et al, 1986. Effect Of Cigarette Smoking On Nasal Mucociliary Clearance And Ciliary Beat Frequency, Depaartement of Medicine, Cardiothoracic Institute, Brompton Hospital,London. P: 519-23.
Suheni, 2007, Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki-laki Usia 40 Tahun ke Atas di Badan Rumah Sakit Daerah Cepu, Fakultas Ilmu Keolahragaan , Universitas Negeri Semarang, hal : 14-40.
Sun SS. 2002. Evaluation of Nasal Mucociliary Clearance Function in Allergic Rhinnitis Patients with Technetium 99M-Labeled Macroaggregated Albumin Rhinoscintigraphy. Ann Otol Rhinol Laryngol. 111: pp.77-9.
Talbot AR, Herr TM, Parsons DS. 1997. Mucociliary Clearance and Buffered Hypertonic Saline Solution. Laryngoscope.;107: pp.500-3.
Waguespack R. 1995. Mucociliary Clearance Patterns Following Endoscopic Sinus Surgery. Laryngoscope (supplement);105: pp.1-40.
Weir N, DG Golding. 1997. The Physiology of The Nose & Paranasal Sinuses. In: Kerr Ag. Scott-Brown’s Otolaryngology Rinology. 6thed, Butterworth, London: pp. 4/8/1-1.
lxxvi
Lampiran 1.
Tabel. Subjek Penelitian
No MR Nama Umur Pekerjaan Lama merokok Jumlah rokok Waktu tms Diagnosa 1 415209 PS 43 2 3 3 19.6 OE dekstra 2 413145 Z 30 2 8.9 OE dekstra
3 416950 RH 22 3 1 3 17.2 Serumen prop sinistra
4 392965 B 20 3 1 1 15,8 OE sinistra
5 418379 BP 33 4 2 2 16.9 Faringitis
6 214744 RS 58 4 10.7 Serumen prop duplek
7 423624 AJ 48 2 1 3 17.2 Faringitis
8 329274 MS 52 4 10.1 Serumen prop duplek
9 424767 Sy 57 2 3 3 19.2 Otomikosis dekstra 10 030092 S 41 1 3 2 18.8 Laringitis 11 424726 MN 60 4 3 3 19.7 Laringitis 12 425421 MH 57 2 2 3 18.3 Faringitis 13 426014 M 29 2 10.3 OE dekstra 14 422140 H 38 2 11,2 OE sinistra 15 426652 SM 57 2 1 3 19.2 OE duplek 16 423555 P 23 3 9.6 OE dekstra 17 427343 E 41 1 10,6 Tonsilitis Kronis 18 428149 L 53 2 11.0 OE sinistra 19 428163 DS 31 4 1 1 15,6 OE sinistra 20 428789 AS 57 4 2 3 18,7 OE duplek
21 429318 GR 20 3 9.8 Serumen prop duplek
22 123964 HS 36 2 10.2 Serumen prop sinistra
23 429965 ES 36 2 1 1 16,4 Serumen Prop duplek
24 429728 BS 33 2 9,2 OE dupleks
25 428922 PS 45 1 2 2 16,8 Polip Pita Suara
26 404462 HS 33 1 3 2 17,8 OE sinistra
27 420903 A 41 1 10,2 Serumen Prop dekstra
28 256942 RBM 23 3 10,8 Serumen prop sinistra
29 423391 A 18 3 9,8 Tonsilitis kronis
30 429554 BL 21 3 11,1 Serumen Prop duplek
Keterangan :
Nama : dalam inisial Umur : dalam tahun
Pekerjaan : 1. PNS 2. Wiraswasta 3. Mahasiswa 4. Petani Lama Merokok : 1. < 10 tahun 2. 10 – 20 tahun 3. > 20 tahun Jumlah Rokok : 1. 1 – 10 batang perhari
2. 11 – 20 batang perhari 3. > 20 batang perhari Waktu TMS : dalam menit
lxxvii Lampiran 2 STATUS PENELITIAN Nomor Penelitian : A. Identitas Penderita Nama : Umur/Jenis Kelamin : Pekerjaan : 1.PNS 3. Mahasiswa 2. Wiraswasta 4. Petani Alamat : Telepon : Tanggal pemeriksaan : MR : B. Anamnesis
a. Apakah anda merokok : 1. Ya 2. Tidak b. Sudah berapa lama anda merokok :
1. selama < 10 tahun 2. antara 10 – 20 tahun 3. > 20 tahun.
c. Berapa batang rokok yang anda habiskan sehari : 1. 1 – 10 batang
2. 10 – 20 batang 3. > 20 batang
lxxviii
C. Pemeriksaan THT
Telinga Kanan Kiri
Daun Telinga Normal/Abnormal Normal/Abnormal
Liang Telinga Normal/Abnormal Normal/Abnormal Membran Timpani Utuh/Perforasi Utuh / Perforasi
Hidung Kanan Kiri
Rinoskopi Anterior
Kavum Nasi Lapang/ Sempit Lapang/Sempit
Konka Inferior Eutropi/Hipertropi Eutropi/Hipertropi
Septum N / deviasi N / deviasi
Mukosa Hiperemis +/- Hiperemis +/-
Rinoskopi Posterior PND +/- Orofaring Tonsil Faring
D.Hasil Pemeriksaan sakarin :
Waktu Transportasi Mukosiliar : ...menit.
lxxix
Lampiran 3
PENJELASAN MENGENAI PENELITIAN
“Perbedaan Waktu Transportasi Mukosiliar Hidung pada Perokok dan Bukan Perokok”
Bapak/ibu Yth,
Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul : “Perbedaan