pembelajaran, pada siklus berikutnya langkah perbaikan yang dilakukan :
(a) Guru mengurangi jumlah anggota tiap kelompok dan menambah kelompok .
(b) Meminta siswa hanya membuat peta konsep/simpulan sederhana yang mudah difahami dari informasi yang didapat pada diskusi.
(c) Memperjelas masalah/soal yang diberikan pada tiap kelompok.
(d) Guru perlu memberikan arahan atau membimbing siswa dalam diskusi.
Aktivitas pembelajaran pada siklus I belum mencapai indikator penelitian sehingga, peneliti perlu untuk melanjutkan ke siklus II.
2. Hasil Penelitian Siklus II a. Perencanaan
Dari analisis dan refleksi siklus I, penelitian ini dilanjutkan ke siklus II dengan persiapan sama pada yang dilakukan siklus I hanya ada beberapa yang perlu diperbaiki, diantaranya memperkecil jumlah anggota kelompok yang ada di dalam tiap kelompok, memperjelas masalah/soal yang diberikan pada tiap-tiap kelompok serta guru meminta siswa hanya membuat peta konsep atau simpulan sederhana yang mudah difahami dari informasi yang didapat dalam diskusi, dan guru perlu mememberikan arahan dan bimbingan dalam diskusi.
b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus II ini dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Pelaksanaan siklus II dimulai pada minggu pertama dan minggu kedua bulan Oktober 2014. Berikut diuraikan pelaksanaan proses pembelajaran Sosiologi untuk pertemuan pertama dan kedua pada siklus II.
(1) Pertemuan Pertama Siklus II
Untuk pertemuan pertama pada siklus II ini dilaksanakan pada hari Jum’at bulan Oktober 2014. Peneliti dan observer memasuki kelas setelah bel masuk berbunyi. Pada pertemuan pertama pada siklus II ini terdapat 3 siswa yang tidak hadir sehingga jumlah siswa yang hadir sebanyak 38 siswa. Yang tidak hadir Dam Yuliani dengan keterangan sakit, Darma juga keterangannya sakit dan Erik permadi tanpa keterangan. Selanjutnya peneliti menyebutkan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran. Standar kompetensinya adalah memahami struktur sosial serta berbagai penyebab konflik dan mobilitas sosial. Kompetensi dasar menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat. Indikatornya menjelaskan faktor-faktor penyebab konflik sosial dan mendeskripsikan situasi pemicu konflik. Tujuan pembelajaran siswa mampu menjelaskan faktor-faktor penyebab konflik sosial, siswa mampu mendeskripsikan situasi pemicu konflik, selanjutnya apersepsi mengingat kembali pelajaran yang lalu. Peneliti mengontrol siswa untuk duduk ke dalam kelompok masing-masing, pada siklus II ini kelompok dibagi menjadi 7 kelompok dapai dilihat pada, dan peneliti memberikan kokarde kepada setiap siswa. Selain itu peneliti menjelaskan aturan yang diikuti siswa selama pembelajaran berlangsung kegiatan ini berlangsung selama 5 menit.
Selanjutnya peneliti memberikan satu masalah atau soal kepada masing-masing kelompok sebagai bahan untuk didiskusikan dalam kelompoknya. Berikut ini pembagian masalah atau soal tiap kelompok :
1. Kelompok 1: Apa yang dimaksud dengan konflik dan faktor apa aja yang menyebabkan munculnya konflik?.
2. Kelompok 2: Jelaskanlah contoh adanya konflik sosial horizontal dan
konflik sosial vertikal?.
1548
3. Kelompok 3: mengapa konflik akan serlalu muncul dalam kehidupan manusia?.
4. Kelompok 4: Upaya apa sajakah yang bisa kalian lakukan disekolah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik sosial destruktif?
5. Kelompok 5: Upaya apa sajakah yang bisa kalian lakukan disekolah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik sosial konstruktif?
6. Kelompok 6: Jelaskan pembagian konflik menurut darendorf ?
7. Kelompok 7: Mengapa terorisme lebih sering terjadi di masyarakat demokratis dari pada masyarakat otoriter?.
Diberikan waktu selama 20 menit kepada setiap kelompok untuk mendiskusikan topik yang telah diberikan. Peneliti selalu mengontrol dan membimbing siswa selama pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ini berlangsung.
Kegiatan mempresentasikan, bertanya dan memberikan tanggapan berlangsung selama 55 menit. Setiap kelompok diberi waktu sebanyak 8 menit. Untuk aktivitas bertanya 6 kelompok mendapatkan 3 pertanyaan dan 1 kelompok mendapatkan 1 pertanyaan. Untuk aktivitas menanggapi 2 kelompok mendapatkan 3 tanggapan dan 5 kelompok mendapatkan 2 tanggapan.Saat pembelajaran dimulai observer mengamati aktivitas masing-masing siswa sesuai dengan kokarde siswa dan mencatatkan aspek yang diamati yaitu aspek mendengar, mencatat, bertanya, menanggapi, dan membaca.Siswa bersama peneliti membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari 10. Dan peneliti menambahkan hal-hal yang dianggap penting yang berhubungan dengan materi. Peneliti meminta kepada ketua kelas untuk mengumpulkan kokarde, hal ini untuk mengantisipasi hilangnya atau tercecernya kokarde dan mengingatkan kembali bahwa untuk pertemuan berikutnya sebelum guru dan peneliti masuk siswa disuruh duduk pada kelompoknya masing-masing.
(2) Pertemuan kedua siklus II
Pertemuan kedua siklus II dilaksanakan pada hari Jum’at bulan Oktober 2014. Pada jam pelajaran 1-2 tepatnya pada pukul 8.30 – 19.00. Peneliti dan observer memasuki kelas.
pada pertemuaan ini seorang siswa yang tidak hadir, pada pertemuan kedua ini siswa yang hadir berjumlah 40 siswa. Siswa yang tidak hadir Atranda tanpa keterangan. Kemudian peneliti menyebutkan standar kompetensi, kompetensi dasar indikator dan tujuan pembelajaran diantaranya: standar kompetensi adalah memahami sturktur sosial serta berbagai penyebab konflik dan mobilitas sosial. Kompetensi dasar menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat. Indikator mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik, cara mengatasi konflik dan mendeskripsikan dampak-dampak konflik. Selanjutnya peneliti memberikan apersepsi berupa mengingat kembali materi minggu lalu. Tujuan pembelajaran siswa mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik, siswa mampu mengidentifikasi cara mengatasi konflik dan siswa mampu mendeskripsikan dampak-dampak konflik. Berikutnya apersepsi mengingat kembali pelajaran minggu lalu.Peneliti memberikan kokarde kepada setiap siswa. Setelah seluruh siswa berada di kelompoknya masing-masing, peneliti memberikan 1 masalah/soal kepada setiap kelompok yang dijadikan bahan diskusi mereka dan hasil diskusi dibuat dalam buku catatan. Berikut ini adalah masalah/soal masing-masing kelompok diantaranya:
1. Kelompok 1: Peristiwa G30 SPKI termasuk konflik apa jelaskanlah ?.
2. Kelompok 2: Jelaskanlah dampak konflik (GAM) secara langsung yang terjadi pada masyarakat Aceh ?.
3. Kelompok 3: Penyelesaian konflik dengan menggunakan jasa pengacara termasuk penyelesaian konflik secara apa jelaskanlah?.
1549 4. Kelompok 4: Apabila terjadi konflik budaya menurut anda cara pengendalian mana yang efektif dilakukan jelaskanlah?.
5. Kelompok 5: Apa yang dimaksud dengen konflik tertutup dan konflik terbuka jelaskan dengan contoh?.
6. kelompok 6: Identifikasilah dampak konflik secara positif dan negatif dalam suatu masyarakt berserta contohnya ?.
7. kelompok 7: Menurutmu, langkah atau cara apakah yang cocok diterapkan untuk mengelola konflik ditengah masyarakat indonesia yang majemuk agar berdampak positif
Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 5 menit. Selanjutnya siswa diberikan waktu selama 15 menit untuk mendiskusikan tugas yang diberikan padanya. Setelah itu masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompoknya.
Kegiatan mempresentasikan, bertanya dan menanggapi berlangsung selama 60 menit.
Setiap kelompok mempunyai waktu sebanyak 8-9 menit. Pada aktivitas bertanya 5 kelompok mendapatkan 3 pertayaan dan 2 kelompok mendapatkan 2 pertayaan. Aktivitas menanggapi 4 kelompok mendapatkan 2 tanggapan dan 3 kelompok mendapatkan 3 tanggapan.
Selama pembelajaran berlangsung observer mengamati aktivitas masing-masing siswa baik aspek mendengar, mencatat, bertanya, menaggapi yang dilakukan setiap siswa.
Kegiatan selanjutnya, siswa bersama peneliti menyimpulkan materi selama kurang lebih 10 menit.
c. Pengamatan
Data penelitian siklus II dikumpulkan melalui pengamatan. Pengamatan dilakukan oleh observer terhadap aktivitas siswa saat pembelajaran dimulai sampai akhir pertemuan.
Aktivitas belajar berdasarkan pelaksanaan penelitian selama dua kali pertemuan pada siklus II diperoleh data hasil pengamatan aktivitas yang dapat dilhat pada Tabel 3 berikut ini :
Tabel 3: Aktivitas Belajar Siswa Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua Siklus II
Sumber: Pengolahan Data Primer Tahun 2014
Dalam tabel pengamatan proses pembelajaran Group Investigation siklus II rata-rata aspek dari aktivitas mendengar, mencatat, bertanya, menanggapi, membaca telah meningkat. Untuk aktivitas mendengar rata rata 29 (83%) dengan kriteria baik sekali.
Aktivitas mencatat rata 31 (87%) dengan kriteria baik sekali. Aktivitas bertanya rata-rata 22 (62%) dengan kriteria baik. Aktivitas menanggapi rata-rata 17 (50%) dengan kriteria cukup. Aspek membaca rata-rata 28 (80%) dengan kriteria baik. Seluruh aspek aktivitas mendengar, membaca, mencatat, bertanya dan menanggapi sudah mencapai kriteria yang diharapkan.
1550 d. Refleksi
Bila dibandingkan dengan siklus I dan siklus II telah terjadi peningkatan aktivitas siswa belajar dalam proses pembelajaran, hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4: Perbandingan Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
N
Sumber: Data Primer Tahun 2014
Pada tabel diatas Perbandingan siklus I dan siklus II meningkat. Aktivitas mendengar pada siklus I 27 (76)% pada siklus II 29 (83)%. Aktivitas mencatat pada siklus I 24 (69)%
pada siklus II 31 (87)%. Aktivitas bertanyat17 (47)% pada siklus I dan pada siklus II 23 (64)%. Aktivitas menanggapi 14 (40)% pada siklus I dan pada siklus II 20 (57)% . Aktivitas membaca 26 (73)% pada siklus I dan pada siklus II 28 (80) %. Bila dibandingkan sillus I dan siklus II telah terjadinya peningkatan pada semua aktivitas.
Penelitian ini bertujuan untuk meninggkatkan aktivitas siswa, karena dalam belajar guru sudah seharusnya mampu melibat-aktifkan peserta didik dengan kemerdekaan, dengan artian peserta didik diberi kebebasan untuk mengerluarkan pendapatnya, memberi sanggahan dan pertanyaan balik terhadap pendapat peserta didik lainnya yang ia rasa berbeda atau sama dengan pendapatnya. Peserta didik harus merasa senang dalam belajar, dalam mencari ilmu pengetahuan dan teknologi. Aktivitas mencatat dalam proses pembelajaran adalah hal yang sangat penting, sebab kemampuan mengingat seseorang memiliki keterbatasan. Di dalam pembelajaran groupinvestigation, siswa mencatat informasi yang diberikan kepadanya dalam bentuk simpulan dengan bahasa sederhana atau dengan peta konsep. Peta konsep dan proposisi suatu bidang studi serta mempelajari bidang studi itu lebih jelas dan bermakna (Dahar, 1991:125).Aktivitas mengemukakan pendapat dan bertanya meningkat. Siswa aktif selama proses pembelajaran agar apa yang di dapat saat teori bisa dikembangkan melalui pengamatan sehingga pembelajaran dirasa lebih berarti dan bermakna. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan (Suryosubroto, 1997:
73) sebagai berikut :
Proses pembelajaran hendaknya mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan siswa antara lain kemampuan mengamati, menginterprestasikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian serta mengkomunikasikan hasil penemuannya.
Aktivitas mendengarkan dan membaca dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting sebab kalau siswa tidak mendengarkan dan membaca maka proses belajar tidak akan terjadi. Dalam proses pembelajaran group Investigation mendengarkan penjelasan dan diskusi kelompok serta membaca merupakan aktivitas yang diamati. Aktivitas mendengarkan dan membaca ini juga termasuk kedalam jenis-jenis aktivitas menurut Paul
1551 D. Dierich. Jenis-jenis aktivitas menurut Paul D. Dierich dalam Hamalik, (2001:172) adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan-kegitan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati, eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain berkerja atau bermain.
b. Kegiatan-kegiatan mendengar: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok.
Aktivitas mencatat materi pelajaran meningkat. Dalam pembelajaran Group Investigation yang dituntut untuk aktif adalah siswa. Siswa harus memiliki catatan-catatan sendiri atas materi yang telah dibahas karena guru tidak akan mencatatkan kembali materi yang dibahas.Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan pengelompokan siswa secara heterogenitas. Dengan kelompok heterogen, siswa bisa saling memberi dan menerima pendapat. Dalam kelompok heterogen ada siswa yang memiliki kemampuan akademis tinggi, sedang dan bisa dikatakan kurang. Sehingga siswa yang dianggap sebagai siswa memiliki kemampuan akademis tinggi bisa mengarahkan teman-temannya dalam kelompok.Apabila seorang guru telah mampu menciptakan suasana belajar yang dapat menuntun siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar melalui metode pembelajaran yang diterapkan maka penguasaan suasana terhadap materi pembelajaran akan lebih mantap. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (1994:152) sebagai berikut:
Adapun tujuan pada pembelajaran dan pengajaran kelompok kecil adalah 1.
Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, 2. Mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong royong dalam kehidupan, 3. Mendinamiskan kegitan kelompok dalam belajar sehingga tiap kelompok merasa dirinya sebagai bagian kelompok yang bertanggung jawab, 4. Mengembangakan kemampuan kepemimpinan pada tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah.
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran guru perlu menggunakan sitimulus dan respon pada pemahaman teori perilaku (behavior). Artinya pelaksanaan metode pembelajaran tipe Group investigation guru memberikan respon yang positif kepada siswa. Misalnya dalam bentuk penghargaan seperti memberikan nilai, memberikan hadiah kepada siswa berprestasi dan sebagainnya.
5.KESIMPULAN
Berdasarkan data dan informasi, maka dapat ditarik kesimpulan tentang pelaksanaan metode pembelajaran tipe Group investigation. (1). Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dapat meningkatkan aktivitas belajar Sosiologi. Aktivitas yang meningkat meliputi aktivitas: mendengar, mencatat, bertanya, menanggapi, dan membaca. (2). Pada siklus I rata-rata aspek dari aktivitas mendengar, membaca, mencatat, bertanya, menanggapi telah meningkat. Untuk aktivitas mendengar rata rata 27 (76%) , kriteria baik. Aktivitas mencatat rata 24 (69%), kriteria baik. Aktivitas bertanya rata-rata 17 (47%), kriteria cukup. Aktivitas menanggapi rata-rata 14 (40%), kriteria kurang. Aspek membaca rata-rata 26 (73%), kriteria baik. Aspek aktivitas mendengar, mencatat dan membaca telah mencapai kriteria namun untuk bertanya dan menanggapi belum mencapai kriteria yang diharapkan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan perbaikan sebagai berikut: mengurangi jumlah kelompok , memperjelas masalah yang diberikan pada siswa, membimbing siswa dalam diskusi. Meminta siswa hanya membuat peta konsep atau simpulan sederhana. (3). Siklus II rata-rata aspek dari aktivitas mendengar, mencatat, bertanya, menanggapi, membaca telah meningkat. Untuk aktivitas mendengar rata rata 29 (83%), kriteria baik sekali. Aktivitas mencatat rata 31 (87%), kriteria baik sekali. Aktivitas bertanya rata-rata 23 64%), kriteria baik. Aktivitas
1552 menanggapi rata-rata 20 (57%) kriteria cukup. Aspek membaca rata-rata 28 (80%), kriteria baik. Seluruh aspek aktivitas mendengar, membaca, mencatat, bertanya dan menanggapi sudah mencapai kriteria yang diharapkan.
6.DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. 1992.Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Pengajaran. Jakarta: Rineke Cipta.
Dahar. 1991. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ibrahim, Muslim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Surabaya.
Gusniati. 2005. Perbedaan Hasil Belajar Fisika Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Group Investigation dengan Pembelajaran Konvensional Di SMA Negeri 4 Padang. Padang: Skripsi UNP.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Nasution. 1995. Didaktif Azas-Azas Mengajar Jakarta: Bumi Aksara.
Permendiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.
Sardiman, AM. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Siregar, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Gahalia Indonesia.
Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah.Jakarta: PT. Rineksa Cipta.
Syaiful, Sagala. 2001. Konstribusi Strategi Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Tim Mata Kuliah Pengantar pendidikan UNP. 2006. Pengantar Pendidikan. Padang: UNP PRESS
Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah (cetakan. VII). Jakarta : Grasindo.