POTENSI BUDIDAYA TANAMAN MARKISA SEBAGAI OBJEK AGROWISATA DI BERASTAGI KABUPATEN KARO
4.3 Cara Budidaya Tanaman Markisa 1. Perbanyakan dengan Biji
Tanaman markisa biasanya tumbuh dari biji. Untuk memperoleh bibit yang baik dari biji, diperlukan buah yang matang dipohon dengan cirri-ciri kulit buah berwarna keungu-unguan atau kira-kira 75 % ungu (jenis passiflora edulis Sims), berwarna kekuning-kuningan atau kira-kira 60 % kuning untuk jenis P. Flavicarva. Buah tersebut dipetik langsung dari pohon kemudian disimpan selama satu atau dua minggu sampai buak berkerikut dan matang sempurna sebelum bijinya dikeluarkan. Bila biji segera disemaikan, maka akan berkecambah Selma 2-3 minggu. Bila lendir yang meletak pada biji dibersihkan dan disimpan akan menurunkan daya kecambah.
Persemaian dapat dilakukan pada bak-bak pesemian atau bedengan, tergantung kebutuhan. Bak semai dapat terbuat dari kayu atau bak plastik. Bedengan dengan lebar 1 m, panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Media pesemaian dapat berupa campuran pasir/sekam + pupuk kandang + tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pada media pesemaian dibuat larikan-larikan kecil berjarak + 7-10 cm. Jarak semai di dalam larikan diusahakan tidak terlalu rapat (3-4 cm). Tempat pesemaian diberi naungan untuk melindungi bibit dari sinar matahari dan hujan yng berlebihan. Pada umur 4 minggu setelah semai, bibit disapih atau dipindahkan kekantong plastik hitam polibag berukuran 10 x 15 cm yang berisi media pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 2 : 1. Pada tiap polibag ditanam 1 bibit. Bibit tersebut ditempatkan ditempat teduh dan disiram setiap hari.
2. Perbanyakan dengan Grafting
Selain dengan biji, markisa juga dapat diperbanyak dengan cara, grafting atau stek. Bagian tanaman yang akan dijadikan stek baiknya diambil dari tanaman yang
cukup tua dan berkayu, ruasnya 3-4. Bibit dari stek yang berakar siap ditanam pada umur 90 hari. Pengakaran stek dapat dipercepat dengan perlakuan hormon. Penyambungan memegang peranan penting terutama dalam melestarikan spesies-spesies hibrida dan mengurangi kerusakan karena serangan nematode dan penyakit. Mata tunas (entries) diambil dari cabang yang sehat, sebaiknya dari tanaman yang sudah tua. Diameter entries disesuaikan dengan diameter batang bawah. Cara penyambungannya dapat dengan sambungan celah atau sambungan samping.
3. Pemilihan Kebun
Kebun yang akan ditanami markisa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan agroekologi varietas yang akan ditanam. Letaknya dipilih yang strategis, mudah dijangkau, pengangkutan sarana produksi dapat dilakukan dengan mudah, dekat dengan pasar, tenaga kerja didaerah tersebut cukup tersedia, dan dekat dengan sumber air. Kalau kondisi ini terpenuhi, maka biaya produksi dapat ditekan.
4. Penyiapan Lahan
Lahan yang akan ditanami markisa, terlebih dahulu dibersihkan dari tanaman pengganggu atau gulam. Pada lahan yang kelerengannya >15 %, pembersihan gulam perlu dilakukan secara hati- hati karena peluang terjadinya erosi cukup tinggi. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan mengikuti garis contour dan dilakukan seminimal mungkin. Pada tempat- tempat tertentu dibuat teras dan sebaiknya diatasnya dapat ditanami tanaman penguat teras atau pecan ternak seperti rumput gajah, rumput raja , gamal, yang sekaligus dapat mencegah erosi.
5. Jarak Tanam
Setelah tanaman pengganggu dibersihkan, selanjutnya dibuat lubang tanam dengan jarak 3 x 3m atau 2 x 4m , atau 3 x 5m tergantung pola tanam nya. Bila akan dilakukan penanaman tanaman sela diantara tanaman markisa maka sebaiknnya dipakai jarak tanam renggang, misalnya 3 x 4m, 3 x 5m. Bila markisa ditanam secara monokultur, maka dipakai jarak tanam rapat, misalnya 2 x 3m. lubang tanam dibuat mengikuti garis contour (tanah berlereng). Jarak tanam yang digunakan adalah 2 x 5m, yaitu 2 m jarak antara baris tanaman dan 5 m jarak antar tanaman. Dengan demikian jumlah tanamannya adalah 1.000 pohon per ha. Tanah digali dengan ukuran 50 x 40 x 40 cm tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang ± 20kg, kemudian dimasukkan kedalam lubang kembali dan dibiarkan selama beberapa hari.
Penanaman sebaiknnya dilakukan pada musim hujan untuk menghindari terjadinya stress karena kekurangan air. Selama tanaman masih muda (0-7) bulan, pada setiap pohon diberi kayu dan diikat dengan tali rafiah pada kayu terebut. Penyiraman disesuaikan dengan keadaan cuaca.
6. Pengairan
Pada musim kemarau, tanaman perlu diairi sehingga tanaman tetap dapat berbuah. Pada lahan dengan pengairan teknis pengairan dapat dilakukan dengan penggenangan sampai kira- kira mencapai kapasitas lapang, dilakukan sekali seminggu. Sedang pada lahan yang tidak tersedia pengairan teknis, pengairan dapat dilakukan dengan membuat tempa- tempat penampungan air, seperti kolam, drum, kemudian diambil dengan ember dengan volume penyiraman 5-7 liter per pohon, dilakukan dua kali seminggu.
7. Pemupukan
Agar produktivitas tanaman markisa dapat dipertahankan (jumlah dan kualitas), diperlukan hara tambahan, baik melalui tanah maupun lewat daun. Karena dalam 2 sampai 3 tahun, produktivitas tanaman akan menurun bila tidak dilakukan suplai hara. Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam memupuk tanaman markisa adalah :
• Umur dan fase pertumbuhan tanaman
• Kesuburan tanah yang akan dipupuk dalam hal ini diperlukan data hasil analisis tanah pada lokasi penanaman. Kedua faktor tersebut akan menentukan tingkat efektifitas pemupukan, karena terkait dengan jenis, jumlah, cara dan waktu pemberian pupuk. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman markisa memerlukan pupuk organik dan anorganik (buatan). Pupuk Kandang 10 kg / pohon 2 minggu sebelum tanam dicampur dengan tanah saat menggali lubang tanam. NPK (15:15:15) 1.000 g/ pohon 3 kali setahun (selang 4 bulan) diberikan melingkari lubang tanaman ± 20 cm dari pohon. Urea 500 g /pohon 2 kali setahun (awal dan akhir musim hujan) diberikan dalam larikan ± 15 cm dari pohon. TSP 400 g / pohon 2 kali setahun (awal dan akhir musim hujan) diberikan dalam larikan ± 15 cm dari pohon. KCL 300 g/ pohon 2 kali setahun (awal dan akhir musim hujan) diberikan dalam larikan ± 15 cm dari pohon. Pupuk Kandang 50-75 kg / pohon awal musim hujan disebarkan dekat pohon.
8. Pembuatan Para-Para
Tanaman markisa merupakan tanaman merambat. Oleh karena itu untuk memperoleh produksi yang optimal, diperlukan rambatan (para- para) yang sesuai. Para- para ini dapat dibuat dari bambu atau kawat dengan menggunakan sistem T. Pada pertanam dipekarangan, sebaiknya ramabatan dibuat dengan sistem para- para. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk pertanaman skala luas, tiang rambatan sebaiknya dipakai tiang- tiang dari kayu yang tahan terhadap hujan dan tidak disukai rayap atau dapat pula dipakai kayu hidup seperti gamal/glirisida. Tinggi tiang ± 2,5 m dan ditanam di dalam tanah sedalam 50 cm.jarak antara satu tiang dengan tiang berikutnya 3-5 m.
9. Pemangkasan
Pemangkasan pada tanaman markisa memegang peranan penting karena dengan pemangkasan produktivitas tanaman dapat ditingkatkan. Pemangkasan hendaknya dipilih pada waktu pertumbuhan baru terlihat atau keluar tunas pada pucuk baru. Selanjutnya setelah buah dipungut, pemangkasan dilakukan pula untuk membuang cabang- cabang yang mati dan daun- daun yang kering. Pemotongan cabang yang panjang perlu pula dilakukan, terutama untuk meransang keluarnya cabang buah lebih banyak. Cabang yang dibiarkan tumbuh adalah 4 cabang utama. Pemangkasan ini dimaksudkan agar tanaman markisa dapat berbunga dan berbuah secara terus- menerus.
10. Pola Tanam
Meskipun dapat ditanam secara monokultur, akan tetapi lebih menguntungkan dilakukan penanaman dengan cara tumpang sari antara markisa dengan tanaman
sayuran. Beberapa jenis tanaman sayuran yang cocok diusahakan diantara tanaman markisa adalah tomat, kentang, kubis, buncis, brokoli, dengan R/C ratio masing- masing secara berturut- turut 1,26 : 1,21 : 1,44 : 1,47 : dan 1,44.
11. Panen
Panen dilakukan setelah buah berumur 120-140 hari sejak bunga muncul atau 85-95 setelah bunga mekar (p. edulis sims). Indikator yang dapat dipakai untuk menentukan tingkat ketuaan buah adalah warna kulit buah telah berubah dari hijau ungu menjadi kuning (passiflora vlaficarva). Buah muda yang berwarna hijau muda berubah menjadi hijau kekuning-kuningan. Selain dengan warna kulit buah, saat panen yang tepat dapat ditandai dengan mengerutnya tangkai buah dan keluarnya warna yang khas.