• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Ani - ani

Bentuk khas ani-ani adalah suatu pisau kecil yang terbuat dari logam tipis dengan panjang kurang lebih 10 cm dan lebar kurang lebih 1 c m

.

sebagai tangkainya. Pisau kecil tersebut digunakan untuk memotong batang padi yaitu sekitar 20 cm di bawah malai.

Cara menggunakan ani-ani, yaitu dengan cara menyelipkan bagian kayu yang pipih tersebut ke antara jari tengah dan jari telunjuk atau dengan jari manis, kemudian tangkainya digunakan sebagai penahan keseimbangan alat sewaktu menjepit batang padi.

Menurut De Datta (1981) di Filipina panen yang menggunakan ani-ani melakukan pemotongan sekitar 46 cm atau lebih kecil di bawah pangkal malai. Panen d e n g a n a n i - a n i di Indonesia d i l a k u k a n d e n g a n memotong tangkai (malai) sepanjang 5 - 6 cm atau dekat sekali dengan pangkal malai (Tjiptadi dan Na- sution, 1976).

Araullo et a l (1976) mengemukakan bahwa kapa- sitas pemanenan dengan ani-ani adalah sebesar 15 kg padi/orang/jam. Djojomartono (1984) mengemukakan bahwa kapasitas pemanenan dengan ani-ani untuk padi

jenis IR-38 adalah 0.002 ha/jam-orang.

b. Sabit

Bentuk khas dari sabit adalah pisau yang ce- kung dengan sisi tajam disebelah dalam. Sisi dalam ini ada yang bergerigi dan ada yang tidak (Djojo- martono, 1984).

Cara menggunakan sabit yaitu, satu tangan me- megang sabit sedang tangan lain memegang jerami se-

hingga kerontokan akan diperkecil sebagai akibat adanya tangan yang menahan getaran jerami. Apabila sabit dipegang dengan tangan kanan, maka pemotongan dimulai dari sisi lapangan sebelah kanan bergerak menuju ke kiri. Seandainya posisi tanaman agak re- bah, maka pemotongan dilakukan dari sisi lain yang berlawanan dengan arah rebahan.

Menurut Araulo et a 1 ( 1 9 7 6 ) panjang jerami yang dipotong bila pemanenan menggunakan sabit ter- gantung dari cara perontokan yang akan digunakan.

sehingga ada yang 3 - 15 cm di atas permukaan tanah dan ada yang 3 0 - 6 0 cm di atas permukaan tanah.

Menurut Rumiati dan Soemardi ( 1 9 8 2 ) bahwa pa- nen dengan sabit dilakukan dengan cara potong atas.

potong tengah dan potong bawah. Cara potong bawah merupakan cara yang paling umum dilakukan ( 7 4 . 1 % )

dan cara potong atas adalah cara yang paling jarang dilakukan ( 8 . 3 % ) . Kehilangan hasil untuk cara po- tong bawah adalah sebesar 9.0%. sedangkan untuk cara potong atas adalah 1 0 . 4 % .

Collier et a1 ( 1 9 7 3 ) menerangkan bahwa rata- rata kemampuan memotong padi berkisar antara 6 0

-

1 0 0 kg gabah bersih dengan waktu kerja 5 jam sampai

dengan 6 jam. Djojomartono et a 1 ( 1 9 7 9 ) mengemuka- kan bahwa rata-rata kapasitas pemanenan dengan sa- b i t untuk jenis IR-38 adalah 0 . 0 1 9 ha/jam-orang.

Hasil penelitian Wanders ( 1 9 8 1 ) di Jawa Barat menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu 132 jam-orang untuk panen dengan sabit potong bawah setiap hek- tarnya, 1 5 8 jam-orang untuk panen dengan sabit po- tong tengah setiap hektarnya, dan 5 8 8 jam-orang se- tiap hektarnya untuk panen dengan ani-ani.

2 . Cara Panen Mekanis a . R e a p e r

R e a p e r adalah mesin pemanen padi yang dapat

mengatur tinggi rendahnya pemotongan dan merebahkan hasil panennya secara teratur di atas tunggul jera- m i . R e a p e r mempunyai prinsip kerja memotong dan melempar ke samping.

Cara kerja r e a p e r adalah dengan mengait rumpun padi kemudian memotong dan selanjutnya secara oto- matis melempar ke sebelah kanan mesin di atas per- mukaan tanah. Operator mesin ini 1 orang dan di- bantu 2 atau 3 orang untuk mengumpulkan, mengikat dan mengangkut untuk proses selanjutnya. Tenaga penggeraknya 2 . 5 sampai 6 daya kuda. Kapasitas kerjanya 3 0 sampai 3 5 jam per hektar untuk satu ja- lur pemotongan dan antara 1 8 sampai 20 jam/ha untuk 3 jalur pemotongan.

Kapasitas r e a p e r amat bergantung pada ketram- pilan operator dan pengendaliannya. Karena opera- tor dapat mengendalikan lebar pemotongan dan kece- p a t a n m a j u . L e b a r p e m o t o n g a n m a k s i m u m r e a p e r adalah 7 5 cm. Djojomartono e t a 1 ( 1 9 7 9 ) mengemuka-

kan bahwa kapasitas reaper tipe rotary untuk jenis padi IR-38 pada tingkat kematangan optimum dan per- mukaan tanah kering adalah 0 . 0 4 6 ha/jam-orang.

Bagian-bagian utama mesin ini, yaitu motor ba- kar (motor penggerak), tangkai pengait atau penarik tanaman padi, pisau pemotong, pelempar otomatis dan roda.

Fungsi tangkai pengait adalah untuk rnengait atau menarik batang padi ke arah pisau pemotong.

Pisau pemotong pada mesin ini berupa pisau berputar dan berbentuk lingkaran dengan tepinya bergerigi tajam.

Pelempar otomatis tugasnya melempar sejumlah padi yang terpotong dari tempat pengumpul. Proses pelemparan bekerja secara otomatis setelah padi yang terpotong terkumpul sampai jumlah tertentu.

Biasanya antara 9 sampai 16 rumpun padi.

Keunggulan alat panen reaper adalah:

1. Kapasitas dan kecepatan pemanenan yang tinggi 2. Susut panen tercecer dapat ditekan jurnlahnya 3. Tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak

4 . Dapat digunakan baik di areal lahan yang sempit maupun yang luas

5. Dapat dioperasikan pada padi yang rebah.

Kelemahan alat panen reaper adalah:

1 . Padi setelah dipanen jatuh di atas tanah sehingga harus dikumpulkan dan dibawa ke tempat perontokan

2. Membutuhkan tenaga pengumpul dan pengangkut hasil panen

3. Tidak dapat digunakan pada lahan yang basah.

b . Binder

Binder mempunyai prinsip kerja selain memotong juga mengikat rumpun yang telah dipotong dan kemu- dian dilemparkan ke samping. Keistimewaan binder dibanding reaper yaitu setelah memotong batang padi pada barisannya, binder mengikat langsung kumpulan batang padi yang telah dipotong.

Kapasi tas mesin ini untuk pemotongan satu ja- lur dengan menggunakan motor 3.5 daya kuda adalah 10 sampai 20 jam per hektar. Binder dengan lebar pemotongan dua jalur dan menggunakan motor 5 daya kuda mempunyai kapasitas 5 sampai 10 jam per hek- tar. Binder dengan lebar pemotongan 1.27 meter dan menggunakan motor 12 daya kuda mempunyai kapasitas

8 jam per hektar. Djojomartono e t a 1 (1979) menge- mukakan bahwa kapasitas pemanenan binder untuk je- nis padi IR-38 pada t ingkat kematangan optimum dan permukaan tanah kering adalah 0.046 ha/jam untuk tiga jalur pemotongan, termasuk waktu yang dibutuh- kan untuk persiapan dan pemotongan pendahuluan.

Bagian-bagian utama mesin ini adalah motor ba- kar (motor penggerak), pisau pemotong, jari penarik atau pengait batang padi, tempat pengumpul, tali pengikat, tangan penolak dan roda.

c

.

Combine harvester

Combine harvester mempunyai fungsi yang lebi h t inggi dibanding reaper dan binder, yai tu memotong rumpun, merontokkan dan membersihkan bulir-bulir padi dari kotoran, sehingga setelah pemanenan dapat

langsung menghasilkan gabah bersih.

Combine terdiri dari komponen-komponen, yaitu unit pengumpul dan penggulung malai (reel), pisau p e m o t o n g , unit pemasukan m a l a i , unit perontok (thresher unit), pemisah biji dan malai, pembersih dan tempat penyimpan gabah bersih.

Mesin ini dapat dibedakan menjadi combine berukuran besar dan combine berukuran kecil. Com- bine berukuran besar mempunyai tipe perontok yang berbeda dengan combine kecil, bila pada combine be- sar seluruh malai dan tangkai padi masuk ke dalam unit perontok, maka pada combine kecil hanya tang- kai padi yang masuk.

Contoh combine besar adalah Combine Massey Ferguson 5 2 5 . Hasil penelitian di Perum Sang Hyang Seri Sukamandi, Jawa Barat, untuk memanen padi je- nis IR-38 kapasitasnya 1 . 0 6 7 ha/jam dengan efisien- si lapang 6 4 . 1 0 %

,

lebar pemotongan 3.9 meter dan kecepatan maju 0 . 7 6 m/det. Lebar pisau mesin ini

4 . 2 meter. Contoh combine kecil adalah Japan Corn-

bine. Panjang pisau pemotongnya 50 cm dengan kapa- sitas lapang 0 . 0 4 ha/jam. Kecepatan maju 0 . 3 5 m/dt dengan kapasitas pengisian gabah 350 kg/jam.

3. Sistem Panen

Menurut Setiawati et a 1 (1990) ada beberapa sis- tem pemanenan yang sudah berkembang, yaitu sistem be- bas (keroyokan), sistem ceblokan dan sistem tenaga borongan (beregu).

Pemanenan dengan sistem bebas (keroyokan) adalah pemanenan padi yang dilakukan oleh para penderep dalam jumlah yang tidak terbatas, yakni bisa mencapai 100- 200 orang per hektar. Pemanen bersifat tidak saling terikat atau bersifat individualis. Pada sistem ini, penderep tidak memanen dengan hati-hati, karena pen- derep saling bersaing untuk mendapatkan jumlah padi sebanyak-banyaknya.

Menurut Suparyono et a 1 (1993) cara panen bebas memiliki kelebihan yaitu dslam ha1 kecepatan dan ke- mandirian pemanen. Namun kelemahannya adalah sistem pengawasannya sulit dilakukan secara intensif. Aki- batnya pemanen hanya memperhitungkan kecepatan dan mengabaikan ketelitian sehingga kehilangan hasil panen cukup besar.

Pemanenan dengan sistem ceblokan adalah pemanenan padi yang dilakukan oleh tenaga pemanen dalam jumlah terbatas yang sebelumnya para tenaga pemanen tersebut ikut merawat tanaman padi termasuk menyiangi atau ikut menanam padi tanpa mendapat bayaran dari pemilik sa- wah. Tenaga penderep diluar keiompok penceblok tidak dibolehkan ikut memanen padi pada sawah tersebut.

Menurut Suparyono et a1 (1993) cara panen ce- blokan memiliki kelebihan yaitu dalam ha1 pengawasan, sehingga kehilangan hasil saat panen akibat tercecer atau tidak terpanen dapat dikendalikan. Namun kele- mahannya yaitu pada keterikatannya. Oleh karena tena- ga pemanen telah terikat kontrak dengan pemi 1 ik sawah maka panen berjalan sangat lamban. Hal ini terutama terjadi bila tenaga pemanen yang membuat ikatan itu juga terikat di tempat lain.

Setiawati et a1 ( 1 9 9 0 ) mengemukakan bahwa pada percobaan pemanenan dengan varietas Cisadane, kehi- langan panen berkisar antara 4.05%-4.60% dan 8.3%-8.9%

masing-masing untuk pemanen sistem ceblokan dan sistem keroyokan.

Panen dengan sistem beregu adalah panen yang di- lakukan oleh sejumlah pemanen yang terikat dalam ke- lompok atau regu. Jumlah anggota dalam satu regu pe- manen biasanya berkisar antara 20 - 30 orang.

Kelebihan panen sistem beregu dibanding sistem ceblokan dan keroyokan adalah kemudahan pengawasan, karena jumlah pemanen yang terbatas. Selain itu sis- tem beregu juga dapat menekan tingkat kehilangan hasil saat panen. Namun kelemahannya adalah pada ongkos pa- nen per hektar yang relatif mahal.

Berikut pada Tabel 4 menyatakan perbandingan tingkat kehilangan hasil panen antara sistem ceblokan, keroyokan dan beregu.

T a b e l 4 . Tingkat kehilangan hasil panen padi pada berbagai sistem pemanenan (Setyono et a l , 1 9 9 3 )

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu lajur menunjukkan psrbcdaan tidak nyata

Kemampuan pemanen dihitung berdasarkan lama waktu yang diperlukan untuk memanen padi per hektar per orang. Pada Tabel 5 ditunjukkan bahwa pada sistem ce- blokan. kemampuan pemanen lebih rendah dibandingkan sistem keroyokan dan beregu.

Tabel 5 . Kemampuan pemanenan padi dan s ampa i perontokannya pada berbagai sistem pemanenan

(Setyono et al, 1 9 9 3 )

Tingkat kehilangan hasil panen, %

Penanenan sampai Perontokan

18.9 13.1 5.9

Keterangan : Angka yang diikuti olch huruf yang s- psda satu lajur menunjukbn pcrbedaan tidak nyata

Dokumen terkait