BAB II LANDASAN TEORI
2.7 Mekanisme CVT
2.7.2 Cara Kerja CVT
Cara kerja CVT sepeda motor matik dimulai dari beberapa tahap yaitu : a). Putaran langsam (stationer)
b). Putaran saat mulai berjalan
27 c). Putaran menengah
d). Putaran tinggi a). Putaran Langsam
Pada saat putaran stationer kurang lebih 1400 rpm. putaran dari crank shaft diteruskan ke pulley primer, kemudian putaran diteruskan ke pulley sekunder yang dihubungkan oleh v-belt selanjutnya putaran dari pulley sekunder diteruskan ke kopling sentrifugal. Namun karena masih rendah, kopling sentrifugal belum bisa bekerja.Hal ini disebabkan gaya tarik per kopling masih lebih kuat dari pada gaya sentrifugal, sehingga sepatu kopling belum menyentuh rumah kopling dan roda belakang (rear wheel) tidak berputar.
b). Putaran Saat Mulai Berjalan
Pada saat putaran mesin bertambah kurang lebih 3.000 rpm, roda belakang mulai berputar.Ini terjadi karena adanya gaya sentrifugal yang semakin kuat dibandingkan dengan gaya tarik pegas kopling. Pada putaran tinggi, sepatu kopling akan terlempar keluar dan mengopel rumah kopling. Pada kondisi ini posisi v-belt pada bagian pulley primer berada pada diameter bagian dalam pulley (diameter kecil) dapat dilihat pada Gambar(2.31). Pada bagian pulley sekunder diameter v-belt berada pada bagian luar diamter besar, dapat dilihat pada Gambar 2.31 di bawah ini :
Gambar 2.31 Posisi v-belt saat mulai berjalan
a b
28 Keterangan Gambar 2.31 :
a. Posisi v-belt pada bagian pulley primer berada pada diameter bagian dalam pulley (diameter kecil)
b. Pada bagian pulley sekunder,diameter v-belt berada pada bagian luar (diameter besar)
c). Putaran Menengah
Pada putaran menengah perubahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.32. Diameter v-belt kedua pulley berda pada posisi sama besar. Ini terjadi akibat gaya sentrifugal pemberat (weight) pada pulley primer bekerja dan mendorong movable drive ke arah drive. Tekanan pada movable drive mengakibatkan bergesernya v-belt ke arah lingkaran luar,selanjutnya menarik v-belt pada pulley sekunder ke arah lingkaran dalam.Perubahan ini terjadi berkisar antara 5000-6000 rpm, dapat dilihat pada Gambar 2.32 di bawah ini :
Gambar 2.32 Posisi v-belt saat putaran menengah Keterangan gambar 2.32 :
(b) Diameter v-belt kedua pulley berada pada posisi sama besar d). Putaran Tinggi
Putaran mesin lebih tinggi lagi dibandingkan putaran menengah maka gaya keluar pusat dari pemberat semakin bertambah. Sehingga semakin menekan V-belt ke bagian sisi luar dari pulley primary (diameter membesar) dan diameter pulley secondary semakin mengecil. Selanjutnya akan menghasilkan
29 perbandingan putaran yang semakin tinggiJika pulley secondary semakin melebar, maka diameter V-belt pada pulley semakin kecil, sehingga menghasilkan perbandingan putaran yang semakin meningkat, dapat dilihat pada Gambar 2.33 di bawah ini :
Gambar 2.33 Posisis v-belt saat putaran tinggi Keterangan gambar 2.33 :
a. Posisi v-belt pada pulley primer lebih besar dari pada pulley sekunder b. Posisi v-belt pada pulley sekunder lebih kecil daripada pulley primer 2.7.3 Sistem Pendingin Ruang CVT
a). Pendingin
Suhu dalam rumah v-belt sangat panas, adapun panas yang ditimbulkan disebabkan oleh: panas v-belt itu sendiri (adanya koefisien gesek/sliping pada bagian pulley) koefisien gesek dari kopling centrifugal panas karena mesin lain-lain.Untuk itu pendinginan mutlak harus diberikan,sehingga diperlukan kipas pendingin dan sirkulasi udara yang baik untuk mengurangi panas yang timbul.
Panas yang timbul secara berlebihan akan merusak v-belt dan mempengaruhi umur dari v-belt. Begitu juga kebersihan udara pendingin juga tidak kalah pentingnya, oleh karenanya dilengkapi dengan saringan udara untuk menyaring debu dan kotoran lain. Berikut dapat dilihat pada Gambar 2.34 di bawah ini :
b a
30 Gambar 2.34 Sistem Pendingin Kipas V-belt
b). Pelumasan
Sistem pelumasan sistem transmisi CVT dibagi dua yaitu tipe basah dan tipe kering, untuk bagian sliding penggerak system v-belt terdiri dari banyak bagian yang bergeser, untuk itu sangat penting dilindungi dari keausan dan juga agar dapat memberikan perbandingan ratio yang sesuai.Sehingga faktor pelumasan sangat penting. Untuk pelumasan basah pada bagian-bagian secondary, as, bearing dan untuk pelumasan kering pada bagian pemberat dan slidingbos.
2.8 Sistem Kontrol
Pada sistem CVT ini perubahan dari sliding sheave yang terdapat pada pully primary dikontrol oleh pemberat (weight) atau disebut juga dengan roller berfungsi sebagai pendorong sliding sheave. Pemberat bekerja akibat adanya putaran yang tinggi dan adanya gaya sentrifugal, sehingga slider memdorong pemberat dan menekan sliding sheave. Pemberat juga berpengaruh pada akselerasi.
Untuk prinsip kerja roller, semakin ringan rollernya maka semakin cepat bergerak mendorong sliding sheave pada pully primer sehingga bisa menekan belt ke posisi terkecil. Efek yang terasa, akselerasi makin responsif. Namun supaya v-belt dapat tertekan hingga maksimal butuh roller yang beratnya sesuai juga.
Artinya jika roller terlalu ringan maka tidak dapat menekan sabuk hingga maksimal. Efeknya tenaga tengah dan atas akan berkurang bahkan hilang.
Dikarenakan roller sangat berpengaruh terhadap perubahan variabel dari variator, tentu akan sangat berpengaruh terhadap performa motor matik.
31 Tabel 2.1 Perbedaan Dari Masing-masing Putaran Kerja CVT (Continuosly Variable Transmission)
Tahap Putaran Putaran Mesin Perubahan Roller Perubahan V-belt
Putaran langsam (stasioner) ± 1400 Rpm Belum terjadi perubahan Belum terjadi perubahan Putaran saat mulai berjalan ± 3000 Rpm
Putaran menengah ± 5000 Rpm
Putaran tinggi ± 9000 Rpm
32 BAB III
TINJAUAN UMUM PERAWATAN
3.1 Pengertian Perawatan
Perawatan adalah suatu kombinasi dari semua tindakan atau aktifitas yang dilakukan dalam rangka mempertahankan kondisi mesin dan peralatan sehingga dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan pengertian perbaikan adalah suatu usaha atau tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki kembali peralatan komponen mesin yang mengalami kerusakan.
Secara umum kita perhatikan bahwa hal-hal yang harus dilakukan dalam perawatan antara lain melakukan pemeriksaan atau pemeliharaan pada bagian-bagian yang kritis, memberikan pelumas, penyetelan, pembersihan dan lain-lain.
Adapun pengertian dari pemeliharaan adalah suatu kombinasi dari setiap tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu peralatan atau memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima.
Didalam kegiatan perbaikan kita harus meneliti terlebih dahulu jenis-jenis kerusakan yang terjadi. Setelah itu barulah dianalisa penyebab kerusakannya dan memutuskan apakah komponen yang rusak tersebut dapat diperbaiki kembali atau diganti dengan yang baru.
Peralatan mesin dan peralatan menjadi peranan yang sangat penting dalam menjaga kondisi mesin dan peralatan agar dapat beroprasi dengan baik saat diperlukan. Mesin-mesin dan peralatan yang digunakan dalam kualitas waktu yang cukup tinggi akan cepat mengalami kerusakan apabila selalu mengabaikan bentuk-bentuk perawatan pada mesin dan perawatan itu sendiri. Kerusakan kecil hingga kerusakan besar dapat menghambat aktifitas pabrik yang pada akhirnya akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk memperbaiki atau pergantian mesin dan peralatan.
3.2 Tujuan Perawatan
Adapun tujuan dari perawatan ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk memperpanjang usia kegunaan asset (yaitu setiap bagian dari suatu tempat kerja, bangunan dan isinya).
33 b. Menjaga agar mesin selalu dalam keadaan stabil, sehingga dapat
mempermudah kelancaran operasi.
c. Kemampuan produksi dapat dipenuhi sesuai dengan rencana target produksi yang diinginkan.
d. Membantu mengurangi pemakaian dan penyimpanan di luar batas menjaga modalyang diinvestasikan dalam perusahaan.
e. Menekan biaya yang serendah-rendahnya.
f. Dapat mengetahui kerusakan sedini mungkin, sehingga kerusakan yang fatal dapat segera diketahui.
g. Menciptakan kondisi kerja yang aman pada suatu mesin yang sedang beroprasi.
h. Menjamin keselamatan personil dalam menggunakan fasilitas, sehingga operator dapat bekerja secara optimal, aman dan nyaman.
Dari tujuan perawatan di atas, dapat disimpulkan bahwa perawatan merupakan kombinasi berbagai aktifitas dalam pencegahan kerusakan mesin dan peralatan agar umur mesin dan peralatan tersebut dapat bertahan lebih lama.
3.3 Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gangguan pada Kendaraan a. Pengendara
Kita lihat kenyataannya, seringkali manusialah yang menyebabkan sumber masalah dari timbulnya kerusakan pada kendaraan, sebagus dan sekualitas apapun kendaraan tersebut , jika pengendara dari kendaraan tersebut tidak bisa menggunakan dengan baik dan benar, maka secara tidak langsung kendaraan tersebut akan cepat mengalami kerusakan. Gangguan pada mesin juga ditimbulkan akibat pengendara tidak memiliki bekal pengetahuan teknis yang memadai tentang kendaraan suatu kewajiban yang harus dimiliki oleh pengendara untuk menjaga kendaraannya selalu dalam kondisi yang tetap stabil.
34 b. Mekanik
Kenaraan lebih sering mengalami kerusakan berulang kali sehingga terjadi ketidaknyamanan dalam berkendara, ini juga disebabkan oleh mekanik yang salah. Diantaranya sering kali terlihat adalah :
a) Jika terdapat suku cadang yang rusak atau tidak bisa digunakan lagi, terkadang mekanik cenderung mengganti dengan suku cadang yang tidak asli atau suku cadang yang telah usang, sehingga waktu pemakaian yang tidak berlangsung lama. Ini lebih sering terjadi di bengkel-bengkel tidak resmi. Maka dari itu, dianjurkan bagi pemilik kendaraan untuk melakukan servis kendaraannya di bengkel-bengkel resmi kendaraan bermotor agar keselamatan dan keamanaan kendaraan bisa lebih terjamin.
b) Mekanik juga memantau atau melakukan inspeksi terhadap kendaraan secara keseluruhan, yang ditangani hanya keluhan dari konsumen-konsumen saja. Tidak ada salahnya mekanik juga memeriksa keseluruhan komponen-komponen mesin, jika adanya kerusakan tersembunyi yang tidak dirasakan pleh konsumen.
c) Mekanik juga jarang membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada konsumen atau pengendara tentang cara perawatan kendaraan yang sederhana.
d) Sikap kelalaian dari mekanik yang mengakibatkan adanya kerusakan atau gangguan-gangguan, misalnya pada waktu selesai melakukan servis lupa memasang O-ring atau salah satu gasket dari komponen yang siap diservis hingga menyebabkan kebocoran.
Berikut beberapa saran yang dapat diikuti untuk menjaga hubungan baik antara bengkel dan pelanggan:
a) Hubungan dan suasana kerja yang harmonis dalam pengolahan bengkel.
b) Usahakan selalu ada pendidikan terus-menerus, mulai dari pusat latihan atau lewat diskusi yang dilakukan secara teratur sehingga mutu pekerjaan dapat memuaskan pelanggan.
35 c) Jujur terhadap pelanggan tentang kondisi kendaraannya yang sebenarnya. Jika rusak akibat kecerobohan mekanik, sehingga pelanggan merasa dirugikan mekanik harus berani menerima kerugian sebagai resiko bengkel.
d) Memeriksa kembali pekerjaan yang dilakukan, misalnya membuat semacam daftar periksa ulang dan harus ada petugasnya.
c. Kendaraan
Kerusakan yang terjadi pada kendaraan dapat pula disebabkan oleh kondisi kendaraan itu sendiri, diantaranya:
a) Kondisi mesin yang selalu kjotor dan menyebabkan polusi b) Komponen yang tidak asli sehingga cepat aus.
c) Menggunakan pelumas yang kotor, kualitasnya rendah atau pelumas hasil daur ulang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mutunya.
d) Mesin selalu panas, bising, bergetar atau gejala lainnya. Hal ini tidak lepas dari peran pemakai kendaraan tersebut.
3.4 Hal-hal Menjadi Dasar Pelaksanaan Perawatan
Ada 3 faktor yang menjadi dasar pelaksanaan perawatan diantaranya adalah:
3.4.1 Pembersihan
Merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membersihkan peralatan dari debu, semaran, kontiminasi yang tidak normal, kerusakan dan penurunan mutu kepresisian pada bagian yang bergerak. Dengan melaksanakan pembersihan kita dapat mencegah kerusakan, masalah-masalah kualitas dan percepatan gangguan yang dapat menurunkan kondisi mesin.
Pelaksanaan pembersihan tidak hanya sekedar membuat mesin kelihatan bersih setiap sudut, celah dari komponen-komponen mesin, tapijuga diperiksa dan dibersihkan. Kegiatan ini tidak hanya menghilangkan kotoran dan debu tetapi juga untuk memeriksa kemungkinan adanya kerusakan tersembunyi , seperti pengikisan, lecet, gores-goresan, kelebihan panas, suara yang tidak normal serta yang lain-lain.
36 3.4.2 Pelumasan
Mengabaikan pelumasan sangatlah tidak di anjurkan, karena akan menyebabkan dampak yang sangat bahaya pada komponen yang membutuhkan pelumasan dan dapat menyebabkan kerugian seperti pada mesin tiba-tiba berhenti, kerusakan yang tidak biasa.Gangguan pada peralatan juga disebabkan oleh pengikisan dan kelebihan panas dapat berpengaruh terhadap peralatan secara menyeluruh.
3.4.3 Pengencangan Baut (bolting)
Sambungan yang rusak sangat berpengaruh pada kerusakan peralatan, salah satunya adalah sambungan baut. Baut yang lepas akibat getaran mengakibatkan kerusakan . Lebih dari itu baut yang longgar dapat melonggarkan baut-bautyang lain, situasi seperti ini akan memperbesar getaran dan memberikan efek beruntun dan akan menghasilkan kerusakan yangparah sebelum kita menemukan permasalahannya. Kesalahan pemasangan baut merupakan gangguan tersembunyi. Pada sistem CVT ini perlu diperhatikan. Jika baut-baut tutup CVT tidak terpasang dengan baik, maka air hujan atau pencucian kendaraan air akan masuk kedalam CVT dan akan mengakibatkan bagian V-belt tersebut akan slip pada waktu mau berjalan.
3.5 Jenis dan Ruang Lingkup Kegiatan Perawatan
Ada dua jenis kegiatan perawatan yang kita lakukan, yaitu perawatan terencana (Planed Maintenance) dan perawatan tidak terencana (Unplaned Maintenance).
37 Adapun klasifikasi perawatan dapat kita lihat dalam Gambar 3.1 diagram perawatan di bawah ini :
Gambar 3.1 Diagram perawatan 3.5.1 Perawatan Terencana (Planed Maintenance)
Perawatan terencana adalah suatu kegiatan pencegahan atau perbaikan bagian dari mesin peralatan yang diorganisasikan dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan dengan pengawasan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Pekerjaan tersebut biasanya dilakukan oleh bagian pemeliharaan (Maintenance Department).
Keuntungan dari Planned Maintenance ini adalah sebagai berikut : a) Kerja mesin dapat optimal
b) Pengurangan waktu terbuang
c) Meningkatkan ketersediaan waktu untuk produksi d) Pengurangan penggantian suku cadang
e) Memberikan informasi untuk mempertimbangkan penggantian peralatan
38 Jenis-jenis perawatan terencana (Planed Maintenance) yaitu :
a. Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenance)
Perawatan pencegahan adalah perawatan yang dilakukan berdasarkan interval waktu yang telah ditentukan sebelumnya, atau terhadap kriteria lainya yang diuraikan dengan tujuan untuk mengurangi atau mencegah timbulnya kerusakan yang dapat menghambat proses produksi atau penurunan kemampuan suatu barang. Preventive maintenance merupakan perawatan yang paling banyak dilakukan dan dititik beratkan untuk mencegah kerusakan yang paling besar.
Dengan menghindari kerusakan yang lebih besar akan menurunkan biaya produksi, baik perbaikan kecil maupun perbaikan besar atau pun overhaul dapat dikurangi. Perawatan pencegahan juga dimaksudkan untuk mengefektifkan pekerjaan inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetingan sehingga terhindar dari kerusakan.
Perawatan pencegahan meliputi pemeriksaan yabg berdasarkan pada
“liahat, rasakan dan dengarkan” dan penyetelan minor pada selang waktu yang ditentukan serta penggantian komponen minor ditemukan perlu diganti pada saat pemeriksaan. Perawatan pencegahan ini juga meliputi kegiatan perbaikan, pembersihan, inspeksi dan penyetelan, pemeriksaan kondisi, penggantian serta tes fungsi. Untuk itu diperlukan semacam daftar atau penjadwalan pemeliharaan tersusun dengan baik agar perawatan dapat dilakukan dengan sistematis.
Seberapa sederhanapun bentuk perawatan pada mesin, hal itu tidak dapat diabaikan begitu aja, karena kerusakan besar dari suatu mesin merupakan akumulasi dari kerusakan-kerusakan kecil.
Perawatan pencegahan meliputi beberapa aspek sebagai berikut : a). Pemeriksaan secara periodik atau berkala
b). Penyetalan dan perbaikan selagi kerusakan kecil
Perawatan pencegahan dapat dilakukan secara terjadwal, tidak terjadwal dan perawatan yang disesuaikan dengan kondisi. Menurut waktunya, perawatan terjadwal dapat dibagi atas :
a). Perawatan harian b). Perawatan mingguan c). Perawatan bulanan
39 d). Perawatan tiga bulanan
e). Perawatan tahunan
b. Perawatan Koreksi (Corrective Maintenance)
Perawatan koreksi adalah bentuk perawatan yang dilakukan untuk pengembalian kondisi peralatan atau mesin pada standar yang diperlukan.
Perawatan koreksi bisa juga diartikan sebagai suatu tindakan perawatan yang dilakukan untuk mengkoreksi agar keadaan peralatan menjadi lebih baik, misalnya dengan mengurangi frekuensi kerusakan suatu komponen. Cara-cara yang dilakukan adalah :
a) Merubah proses produksi, sehingga semua sistem produksi berubah b) Mengganti desain / kontruksi / material dan komponen yang mengalami
kerusakan
c) Mengganti komponen yang sudah rusak dengan komponen sejenis dengan desain konstruksi bahan yang lebih baik
d) Memperbaiki prosedur preventive maintenance (misalnya : jadwal pelumasan)
e) Mempertimbangkan atau mengganti prosedur operasi (misalnya : training operator)
f) Mengurangi beban pada unit yang bersangkutan
g) Memperbaiki lingkungan atau kebiasaan kerja peralatan h) Memperbaiki perancangan atau modifikasi
i) Mengganti secara keseluruhan dengan yang baru jika tidak menguntungkan untuk dipertahankan terus.
c. Perawatan Prediksi (Predictive Maintenance)
Merupakan strategi perawatan yang didasarkan atas kondisi aktual mesin jika pemantauan menunjukkan gejala kerusakan seperti pada waktu pemantauan terlihat kenaikan suhu yang melebihi batas maksimal, maupun terjadinya bunyi atau getaran lain. Tindakan perawatan dan perbaikan ini (ringan) bersifat harus segera dilakukan secara bersamaan dengan perawatan berkala serta memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil yang dijumpai selama pemeriksaan.
40 d. Perawatan waktu jalan (Running Maintenance Time)
Perawatan waktu jalan merupakan sistem perawatan yang dilakukan pada saat mesin atau peralatan sedang beroperasi, cara perawatan ini termasuk sistem perawatan yang direncanakan, untuk ditetapkan pada peralatan dalam keadaan beroperasi.
Cara perawatan ini ditetapkan pada mesin-mesin yang beroperasi secara kontinue dalam proses produksi, kegiatan perawatan dilakukan dengan menjamin kondisi peralatan yang sedang beroperasi tanpa adanya gangguan yang menyebabkan kerusakan, dengan kata lain :
a) Perawatan yang dilakukan sementara mesin masih dalam kondisi digunakan
b) Periode waktu selama pemeliharaan dilaksanakan dan mesin bekerja c) Suatu pekerjaan preventive maintenance dilakukan selama fasilitas atau
alat yang bersangkutan masih tetap dalam keadaan bekerja.
e. Inspeksi (Inspection)
Inspeksi adalah proses pengujian, pemeriksaan atau cara lain untuk membandingkan suatu dengan kebutuhan yang dapat diaplikasikan. Inspeksi juga dapat didefenisikan sebagai perlengkapan untuk :
a) Memastikan perlengkapan bekerja sesuai dengan rencana b) Menafsirkan kapan kira-kira terjadi kerusakan
c) Mengidentifikasi komponen-komponen atau fungsi yang dapat mempercepat kerusakan
d) Membuat jadwal perbaikan atau perawatan pada waktu yang cocok untuk mencegah timbulnya kerusakan pada mesin atau alat.
f. Penyetelan (Adjustment)
Merupakan tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan berat. Pada kerusakan ringan suatu elemen pada dasarnya masih ada kesempatan untuk melakukan penyetelan.
g. Perawatan Berhenti (Shutdown Maintenance)
Perawatan berhenti adalah perawatan terhadap peralatan pada waktu yang telah direncanakan, pada saat pelaksaan perawatan, keadaan peralatan adalah tidak beroperasi atau berhenti. Dengan kata lain:
41 a) Perawatan yang dilakukan bila mesin tersebut sengaja dilakukan
b) Periode selama waktu perawatan dilakukan pada saat bersamaan peralatan berhenti atau tidak bekerja
h. Perawatan Halangan Kerja/Setelah Kerusakan (Breakdown Maintenance)
Perawatan halangan kerja adalah perawatan yang diakibatkan karena kerusakan yang merupakan ketidaktersediaan suatu suku cadang atau suatu strategi dengan cara mengoperasikan peralatan sampai rusak, kemudian diperbaiki. Istilah lainya dikenal dengan Failed Maintenace.
Sistem perawatan setelah terjadi kerusakan dapat ditetapkan pada kriteria perawatan terencana adalah :
a) Kebijaksaan perawatan telah dipertimbangkan baik-baik b) Penerapan kebijaksanaan telah direncanakan sebelumnya
c) Pelaksanaan perawatan telah terkontrol dan diarahkan untuk menunjang rencana yang telah ditetapkan
d) Adanya catatan sejarah dan statistik untuk evaluasi hasil kebijaksanaan yang ditetapkan untuk menetapkan kebijaksanaan yang lebih sempurna.
i. Minor Overhaul
Merupakan pemeriksaan atau perbaikan kecil secara menyeluruh terhadap sebagian atau eluruh fasilitas sehingga mencapai standar yang dapat diterima.
j. Mayor Overhaul
Merupakan pemeriksaan dan perbaikan besar secara menyeluruh dengan mengembalikan satu suku barang atau bagian utama dari suku barang tersebut kepada kondisi yang dapat diterima.
3.5.2 Perawatan Tak Terencana (Unpanned Maintenance)
Perawatan tak terencana adalah perawatan darurat atau dalam keadaan mendesak yang dilaksanakan untuk mecegah akibat yang serius, misalkan hilangnya atau berhentinya proses produksi, kerusakan yang lebih besar pada mesin serta peralatan dan untuk keselamaan kerja yakni dengan mencegah timbulnya kecelakaan kerja yang berakibat fatal dan hal-hal yang tidak diinginkan.
42 Jenis perawatan yang termasuk dalam perawatan yang tak terencana adalah emergency maintenance yang merupakan perawatan yang dilakukan dengan tindakan yaitu dengan penggantian komponen yang telah rusak. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan yang total atau keseluruhan.
Aktifitas-aktifitas utama dalam hubungan perawatan perbaikan adalah sebagai berikut :
f. Manajemen suku cadang g. Supervisi
h. Training staf i. Control
3.6 Hal-hal Yang Berhubungan Dengan Perawatan a. Penggantian komponen perawatan
Merupakan suatu usaha perawatan yang dilakukan dengan mengganti peralatan yang rusak atau efesiensi dan kapasitasnya sangat menurun dengan peralatan yang lebih murah dari pada harga peralatan yang baru.
b. Penggantian yang direncanakan
Merupakan suatu perawatan dengan cara mengganti peralatan yang masih beroperasi secara efesiensi pada waktu yang telah direncanakan.
Kriteria perawatan yaitu peralatan yang beroperasi secara individu, biaya overhaul tinggi, tidak menginginkan adanya usaha perawatan yang berat, tapi hanya melakukan perawatan dasar.
c. Aktivitas Perawatan
Terdiri dari empat bagian yaitu : a) Check Up
43 Yaitu aktivitas peralatan dengan cara melakukan pengontrolan terhadap suatu peralatan, menciptakan mesin selalu beroperasi, penjagaan bagian-bagian mesin yang perlu diganti atu tidak, atau di overhaul, serta mengontrol mutu dari pekerja perawatan.
b) Perawatan Preventive
Suatu perawatan terhadap suatu peralatan dengan melakukan pelumasan serta penggantian rutin.
c) Reparasi
Yaitu perawatan dengan melakukan penggantian pada bagian-bagian yang tidak layak pakai.
d) Overhaul
Adalah suatu kegiatan bongkar pasang terhadap suatu peralatan didalam melakukan semua aktifitas perawatan dan perbaikan. Pada overhaul biasanya dilakukan pembongkaran dan pemasangan secara keseluruhan dari komponen.
3.7 Faktor Penentu Keberhasilan Perawatan
Adapun faktor penentu keberhasilan perawatan adalah sebagai berikut : a. Kemampuan personil untuk merawat
Maksudnya adalah semua anggota yang terlibat dalam kegiatan perawatan harus benar-benar mempunyai suatu keterampilan dan pengetahuan yang benar mengenai perawatan tersebut, baik secara teori maupun praktek, jadi bukan hanya sekedar keterampilan untuk memperbaiki mesin saja yang harus dimiliki personil perawatan tersebut akan tetapi juga kepahamannya tentang seluk beluk kegiatan perawatan itu sendiri.
b. Kemampuan dan kemauan membuat rencana perawatan
Dengan kemampuan untuk membuatsuatu rencana perawatan maka akan banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh diantaranya adalah
Dengan kemampuan untuk membuatsuatu rencana perawatan maka akan banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh diantaranya adalah