BAB I PENDAHULUAN
1.4 Konsep konsep yang digunakan
1.4.6 Minat Belajar
1.4.6.5 Cara Membangkitkan Minat Belajar
Minat merupakan alat motivasi pertama yang dapat membangkitkan pemahaman anak didik terhadap pelajaran dalam kurun waktu tertentu. Winkel (2006) bahwa cara membangkitkan minat siswa belajar mata pelajaran tertentu termasuk seni budaya dan musik adalah:
(1) Menghubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa, minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran berguna untuk kehidupannya;
(2) Menyesuaikan pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuansiswa, materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa akan tidak diminati siswa, atau tidak dapat diikuti dengan baik;
(3) Menggunakan berbagai model dan strategi pembelajaran bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi dan sebagainya;
(4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan yang kreatif dan kondusif:
(5) Memperhatikan adanya kebutuhan siswa, sehingga siswa belajar tanpa paksaan.
1.5 Deskripsi Teori
Minat merupakan suatu kecenderungan individu untuk mengikuti suatu aktivitas karena faktor kebutuhan dalam diri seseorang dan ingin mendapatkan pengalaman yang lebih, dalam hal ini adalah pengalaman dalam pelajaran seni musik.
Minat siswa terhadap pembelajaran musik merupakan hal yang penting untuk diteliti, karena minat adalah salah satu faktor pendukung yang menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan diketahuinya minat siswa terhadap pembelajaran musik diharapkan guru dapat menyikapinya sebagai bahan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Dari timbulnya minat maka juga akan sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dalam kegiatan belajar siswa yang memepunyai minat paling tinggi akan memperoleh hasil belajar yang maksimal. Sebaliknya, siswa yang minatnya rendah tidak akan mencapai hasil belajar yang maksimal atau prestasinya kurang. Prestasi tersebut dapat diukur melalui tes hasil belajar yang diinginkan.
Pembelajaran musik jika disampaikan dengan metode yang kurang kreatif dan kurang sesuai dengan kemampuan siswa, maka akan menimbulkan kebosanan atau bahkan siswa tidak menyukai pelajaran tersebut. Namun apabila pembelajaran tersebut disampaikan menggunakan metode yang menarik dan sesuai dengan kemampuan siswa maka siswa akan mudah menerima materi yang diajarkan dan siswa akan lebih bersemangat serta akan selalu ingin mengetahui hal-hal baru yang berhubungan dengan pembelajaran seni musik, baik berupa teori maupun praktik.
Menurut Taufani dalam Ramli (2011) ada 3 (tiga) faktor yang mendasari timbulnya minat yaitu: faktor dorongan internal, yaitu dorongan dari individu itu sendiri, sehingga timbul minat untuk melakukan aktivitas atau tindakan tertentu untuk memenuhinya. Misalnya, dorongan untuk belajar dan menimbulkan minat untuk belajar. Selain itu, faktor motivasi sosial, yaitu faktor untuk melakukan
suatu aktivitas agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungannya. Minat ini merupakan semacam kompromi pihak individu dengan lingkungan sosialnya.
Misalnya, minat pada studi karena ingin mendapatkan penghargaan dari orangtuanya. Guru dan keluarga termasuk dalam faktor motivasi sosial. Yang terakhir, faktor emosional, yakni minat erat hubungannya dengan emosi karena faktor emosional selalu menyertai seseorang dalam berhubungan dengan objek minatnya. Kesuksesan pada suatu aktivitas karena aktivitas tersebut menimbulkan perasaan suka atau puas, sedangkan kegagalan menimbulkan perasaan tidak senang dan mengurangi minat terhadap kegiatan yang bersangkutan.
1.6 Kajian Pustaka
Penelitian ini merupakan perulangan dari beberapa penelitian yang telah pernah dilakukan meskipun barangkali dengan skala penelitian dan variabel penelitian yang berbeda seperti berikut ini
Nira Rusanti Universitas Negeri Malang, 2015 Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Seni Budaya Pada Sub Pokok Mata Pelajaran Seni Rupa dimana hasil penelitian membuktikan bahwa minat siswa di SMPN 2 Glagah tergolong sangat kurang, hal ini dapat dilihat dari hasil persentase minat siswa secara keseluruhan bahwa ada sebanyak (50%) kelas VIII yang memiliki kriteria minat kurang. Sedangkan kriteria minat tinggi hanya ada (4,76%). Indikator tentang kegiatan saat mata pelajaran berlangsung, terdapat (47,6%) siswa yang kurang minat dan (16,6%) siswa yang sangat berminat.
Elfi Yuliati, Program Studi Sendratasik FBS Universitas Negeri Padang, dengan judul Minat Siswa Terhadap Pembelajaran Seni Tari Kelas Viii Mtsn Pekan Selasa Kabupaten Solok Selatan dimana hasil penelitian membuktikan bahwa minat siswa pada pelajaran seni tari di MTs N Pekan Selasa Kabupaten Solok Selatan berada pada kategori sangat baik atau 91,7 % berdasarkan data angket (Indikator perhatian 87,23 %, indikator perasaan 83,14 % dan indikator disiplin 104,75 %).
Dewi Prisilla, Aloysius Mering, Henny Sanulita Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, FKIP Untan, Pontianak, 2014 Faktor-faktor Dominan Yang Memengaruhi Minat Peserta Didik Terhadap Lagu Anak dan hasil penelitian membuktikan bahwa 55% tidak berminat mempelajari lagu daerah, dan 45%
yang berminat mempelajari lagu daerah. Kemudian pada hasil analisis faktor yang memengaruhi siswa tidak berminat mempelajari lagu daerah adalah keluarga, sekolah, guru, dan diri sendiri.
Supriyadi dengan judul “Survei Minat Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Magelang” dimana hasil bahwa minat siswa terhadap pelajaran pendidikan jasmani terhitung tinggi yaitu 87,31%.
Heni Probo Retno Bastiyan dengan judul “Minat Siswa Negeri 1 Pekalongan Terhadap Tari Tradisional Dan Tari Kreasi Baru” dimana hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara minat siswa terhadap tari tradisional dan tari kreasi baru dengan hasil bahwa minat siswa
terhadap tari kreasi baru lebih tinggi dibanding minat siswa terhadap taritradisional.
1.7 Kerangka Penelitian
Berdasarkan kajian teori minat belajar tersebut di atas, maka variabel (peubah) bebas penelitian adalah variabel X1 (dorongan internal, diantaranya adalah faktor fisiologis dan psikologis), serta variabel X2 (motivasi sosial, yakni keluarga, sekolah, dan guru, dan non-sosial) sehingga kerangka penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Variabel Bebas (X) Variabel Terikat (Y)
Gambar 2.1. Kerangka Penelitian Dorongan internal (X1)
Faktor fisiologis Faktor psikologis
- Emosional diri
Motivasi Sosial dan Non Sosial (X2)
1. Keluarga
2. Sekolah dan guru 3. Masyarakat
4. Lingkungan alamiah
5. Faktor instrumental atau perangkat belajar
6. Faktor materi pelajaran 7. Faktor globalisasi
Minat
- Pelajaran seni budaya - Musik Tradisi Batak Toba
Faktor emosional (X3)
1.8 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep tersebut di atas, maka hipotesis penelitian diasumsikan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh dorongan internal secara parsial terhadap minat siswa-siswi belajar seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal;
2. Ada pengaruh motivasi sosial secara parsial terhadap minat siswa siswi belajar seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal.
3. Ada pengaruh emosional secara parsial terhadap minat siswa siswi belajar seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal.
4. Ada pengaruh dorongan internal dan motivasi emosional secara simultan terhadap minat siswa siswi belajar seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal.
1.9 Metode Penelitian 1.9.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan kombinasi penelitian deskriptif kuantitatif.
Dimana penelitian deskriptif kuantitatif merupakan penelitian untuk memberikan uraian mengenai gejala, fenomena, atau fakta yang diteliti dengan mendeskripsikan tentang nilai variabel mandiri, tanpa bermaksud menghubungkan atau membandingkan (Iskandar dalam Musfiqon, 2012).
Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari
pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya. Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012).
Secara kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan semua fakta yang terkait dengan indikator-indikator yang mempengaruhi minat siswa siswi SMAN 1 Balige terhadap mata pelajaran seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal.
1.9.2 Angket.
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, berdasarkan skala likert. Skala likert merupakan pernyataan yang menunjukkan tingkat kesetujuan dan ketidak setujuan responden. Responden diminta memberi pendapat/jawabannya dengan cara mengisi angket yang disediakan dan memilih salah satu jawaban yang disediakan sesuai dengan petunjuk pengisian angket.
Angket yang telah di isi, kemudian dikumpulkan dan diolah dimana angket ini berisi pertanyaan untuk mendapatkan data tentang indikator-indikator
dari faktor minat.
Angket yang telah di isi, kemudian dikumpulkan dan diolah dimana angket ini berisi pertanyaan untuk mendapatkan data tentang indikator indikator dari faktor minat. Pertanyaan dalam kuesioner diuji dengan menggunakan skala Likert 1-5. Hal ini untuk mendapatkan data yang bersifat internal yang dibutuhkan untuk penelitian ini. Untuk pertanyaan yang bersifat favorable (Positif), maka skala likert yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Skala 5 menunjukan respon sangat setuju b) Skala 4 menunjukan respon setuju c) Skala 3 menunjukan respon netral d) Skala 2 menunjukan respon tidak setuju e) Skala 1 menunjukan respon sangat tidak setuju
Untuk pertanyaan yang bersifat unfavorable (negatif), maka skala likert yang berlaku adalah sebagai berikut :
a) Skala 1 menunjukan respon sangat setuju b) Skala 2 menunjukan respon setuju c) Skala 3 menunjukan respon netral d) Skala 4 menunjukan respon tidak setuju e) Skala 5 menunjukan respon sangat tidak setuju
1.9.3 Populasi dan Sampel 1.9.3.1 Populasi
Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data dari responden. Data yang diambil adalah dari sampel yang mewakili seluruh populasi. Maka sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif atau mewakili. Dalam
penelitian ini populasi adalah sebagian siswa siswi kelas 10 ,11, dam 12 yang berjumlah 100 orang.
1.9.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012:116). Mengingat jumlah anggota populasi yang relatif besar (≥100), maka penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling dimana metode ini mengambil sampel sesuai yang dibutuhkan peneliti
dilapangan yakni mengambil sebagian dari seluruh anggota populasi menjadi sampel sehingga ada 100 sampel penelitian dari total seluruh responden.
1.9.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Defenisi operasional variabel adalah cara menemukan dan mengukur variabel-variabel dengan merumuskan secara singkat dan jelas, serta tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Peneliti menggunakan Skala Likert dalam kuesioner untuk masing-masing variabel penelitian. Skala Likert adalah suatu skala yang digunakan untuk mengatur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang, tentang fenomena sosial. Semua pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel-variabel dalam penelitian ini dapat dilihat dalam lampiran kuesioner.
1.9.4.1 Variabel Bebas atau Variabel Penyebab (X)
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau memengaruhi, yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati.
1. Dorongan internal
Yakni bakat atau niatan dari dalam diri sendiri untuk mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal. Pengukuran dengan Skala Likert 5 (lima) poin.
2. Motivasi Sosial
Yakni motif siswa dalam mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal, termasuk atas bantuan atau dorongan keluarga, sekolah dan guru. Pengukuran dengan Skala Likert 5 (lima) poin.
3. Emosional
Yakni dorongan emosional siswa dalam mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal Pengukuran dengan Skala Likert 5 (lima) poin.
1.9.4.2 Variabel Terikat atau Variabel Tergantung (Y) yakni Minat Belajar Yakni minat siswa siswi mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba sebagai muatan lokal. Pengukuran dengan Skala Likert 5 (lima) poin dalam jawaban kuesioner, yaitu Sangat Tidak Setuju (skor 1), Tidak Setuju (skor 2), Netral (Skor 3), Setuju (Skor 4), Sangat Setuju (Skor 5).
1.9.5 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yakni daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung kepada responden. Responden pada penelitian ini adalah siswa siswi SMA Negeri 1 Balige.
1.9.5.1 Data Primer
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara), seperti dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan, survei, serta wawancara atau memberi daftar pertanyaan (kuesioner). Pada penelitian ini, pengumpulan data akan dilakukan dengan menggunakan kuesioner secara langsung.
1.9.5.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tdak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Dalam penelitian ini, data sekunder peneliti peroleh dari berbagai referensi buku yang ada serta media massa maupun elektronik.
1.9.5.3 Metode Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilakukan setelah pengumpulan data. Untuk kemudahan dalam pengolahan data digunakan bantuan program komputer. Langkah-langkah pengolahan data meliputi:
1. Editing adalah tahapan kegiatan memeriksa validitas data yang masuk seperti memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner, kejelasan jawaban dan keseragaman suatu pengukuran.
2. Coding adalah tahapan kegiatan mengklasifikasikan data dan jawaban menurut kategori masing-masing sehingga memudahkan dalam pengelompokan data.
3. Processing adalah tahapan kegiatan memproses data agar dapat di analisis.
Pemrosesan data memasukan data hasil pengisian kuesioner kedalam master tabel atau database komputer.
4. Cleaning kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entri (dimasukkan) dan dilakukan koreksi apabila terdapat kesalahan.
5. Tabulating merupakan tahapan kegiatan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.
1.9.5.4 Uji Validitas
Validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu butir pertanyaan, skala butir pertanyaan disebut valid jika melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan mengukur yang seharusnya diukur. Jika skala
pengukuran tidak valid maka tidak bermanfaat bagi peneliti, sebab tidak mengukur apa yang seharusnya dilakukan.
Pengukuran validitas dapat dilakukan berdasarkan output program SPSS kolom Total Statistic lihat kolom Corrected Item-Total Correlation merupakan nilai r hitung untuk masing-masing butir pertanyaan sebagai indikator variabel dan dibandingkan dengan nilai r tabel (Sunyoto dan Setiawan, 2013).
1.9.5.5 Uji Realibitas
Reliabilitas terkait dengan kehandalan alat ukur, seberapa jauh alat ukur dapat menghasilkan hasil yang kurang- lebih sama ketika diterapkan pada sampel yang sama. Untuk menguji reliabilitas alat ukur dengan berdasarkan output program SPSS dengan melihat angka koefisien Cronbach’s Alpha yang umumnya digunakan sebagai persyaratan sebuah alat ukur berkisar dari 0,6 sampai dengan 0,8 (Sufren dan Natanael, 2014).
1.9.5.6 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2013:110) menyatakan bahwa : “Uji normalitas bertujuan untuk memenuhi apakah masing-masing variabel berdistribusi normal atau tidak”. Uji normalitas diperlukan karena untuk melakukan pengujian-pengujian variabel lainnya dengan mengasumsikan bahwa nilai residual distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid dan statistik parametrik tidak dapat digunakan. Deteksi normalitas data digunakan dengan cara melihat penyebaran data atau titik pada diagonal dari diagram
penyebaran data (scatter diagram). Dasar pengambilan keputusan yaitu jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis itu, maka model regresi memenuhi asumsi-asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal, atau bahkan tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
1.9.5.7 Uji Hipotesis
Mengingat penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) variabel bebas yakni dorongan internal dan motivasi emosioinal, maka analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda yang terdiri dari uji F secara simultan dan Uji-t secara parsial dengan menggunakan SPSS 20, sebagai berikut :
Y= a + + + b3X3 + e
Keterangan:
Y : Minat belajar terhadap seni budaya dan musik Batak Toba a : Konstanta.
b1,b2 : Koefisien regresi : Dorongan internal : Motivasi sosial X3 : Emosional e : Error term.
1.9.5.8 Uji F ( Uji Signifikan Simultan )
Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikan koefisien regresi variabel secara serempak terhadap variabel dependen.
1.9.5.9 Uji t (Uji Signifikan Parsial)
Uji t digunakan untuk menemukan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
: b1 = 0
Artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
: b1 0
Artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Kriteria pengambilan keputusan :
diterima, jika > pada = 5%
Ha diterima, jika > pada = 5 %
1.9.5.10 Koefisien Determinasi ( )
Pengujian Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur proporsi atau persentase sumbangan variabel independen yang diteliti terhadap variasi naik turunnya variabel dependen. Koefisien determinan berkisar antara nol sampai dengan satu (0 1). Hal ini berarti bila =0 menunjukkan tidak adanya
pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, bila semakin besar mendekati 1 menunjukkan semakin kuatnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dan bila semakin kecil mendekati nol dapat dikatakan semakin kecilnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
1.10 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada SMAN 1 Balige. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan mulai Maret s/d April 2018
BAB II
EKSISTENSI SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 1 BALIGE DALAM KEBUDAYAAN BATAK TOBA
2.1 Gambaran Umum Kecamatan Balige Sebagai Latar Belakang SMA Negeri 1 Balige
Balige merupakan sebuah Kecamatan yang berada di daerah tepi Danau Toba adalah ibukota Kabupaten Toba Samosir, dimana kecamatan ini merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian di Kabupaten Toba Samosir.
Kecamatan Balige yang saat ini dipimpin oleh Bpk.Pantun Josua Pardede memiliki luas 91.05 km2, dan juga terdapat 29 desa serta 6 kelurahan didalamnya.
Berdasarkan data BPS tahun 2015, jumlah peduduk Balige berada diangka 38.880 ribu jiwa dengan tingkat kepadatan sebesar 418,32 jiwa/km2. Mayoritas penduduk di kecamatan Balige beragama Kristen dan merupakan suku Batak Toba, hali ini tampak dari jumlah bangunan gereja sejumlah 48 bangunan yang sebagian besarnya didominasi oleh gereja kesukuan seperti HKBP dan terdapat juga 4 bangunan masjid di kecamatan ini. Mata pencaharian penduduk di kecamatan Balige pada umumnya adalah petani, peternak, dan pedagang dimana produk unggulan dari kecamatan ini adalah padi dan jagung. Sedangkan dari sektor peternakan umumnya didominasi oleh peternak babi. Sistem perdagangan di kecamatan Balige berpusat di Pasar Balige atau sering disebut dengan Balerong Onan Balige yang setiap hari jumat terdapat pekan mingguan dimana pedagang
berkumpul dari berbagai daerah disekitar Kecamatan Balige untuk berdagan berbagai kebutuhan pokok.
Gambar 2.1 Pasar Balige atau sering disebut Balerong Onan Balige
Dilihat dari sektor pendidikan, di Kecamatan Balige terdapat 52 bangunan sekolah yang terdiri dari 31 sekolah SD, 8 sekolah SMP, 4 sekolah SMA, 7 sekolah SMK dan 2 perguruan tinggi. Sektor pendidikan dikecamatan Balige cukup menonjol,hal ini dapat terlihat dari adanya kawasan pendidikan formal di Soposurung dimana kawasan ini terkenal menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas, salah satunya adalah SMA Negeri 1 Balige.
SMA Negeri 1 Balige adalah Sekolah Menengah Atas pertama yang didirikan di kecamatan Balige, SMA Negeri 1 Balige pertama sekali didirikan pada tanggal 27 juli 1950 oleh Bapak Guru Albinus Simanjuntak. Saat ini SMA Negeri 1 Balige dipimpin oleh Bapak Makmur Siahaan, S. Pd sejak tahun 2011
banyak perkembangan positif yang dialami sekolah ini. Baik secara infrastruktur maupun secara kualitas pendidikan, hal ini dapat dilihat dari akreditasi sekolah ini yang mendapat predikat A.
2.2 Analisis Deskriptif
2.2.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur dan jenis kelamin siswa di SMA Negeri 1 Balige
2.2.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur dalam penelitian ini dikelompokkan kedalam 4 kategori yakni 15,16,17, dan 18 tahun dengan distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 2.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
No U m ur Jumlah (orang) Persentase (%)
1. 15 tahun 21 21.0
2. 16 tahun 25 25.0
3. 17 tahun 32 32.0
4. 18 tahun 22 22.0
Total 100 100.0
Sumber : Hasil penelitian 2018 (data diolah)
Tabel 2.1 memperlihatkan bahwa dari 100 responden penelitian, 21 orang (21.0%) berumur dibawah 15 tahun, 25 orang (25.0%) berumur antara 16 tahun , 32 orang (32.0%) berumur 17 tahun dan 22 orang (22/0%) berumur18 tahun..
Dengan demikian, mayoritas responden berumur 17 tahun yakni seanyak 32 orang 432.0%).
2.2.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Laki-laki 36 36.0
2. Perempuan 64 64.0
Total 100 100.0
Sumber : Hasil penelitian 2018 (data diolah)
Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa dari 100 responden penelitian, 36 orang (36.0%) adalah laki-laki dan 64 orang (64.0%) adalah perempuan. Dengan demikian, mayoritas responden adalah perempuan yakni sebanyak 64 orang (64.0%).
BAB III ANALISIS DATA
3.1 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian 3.1.1 Dorongan Internal
Dorongan internal diukur dengan 6 item pernyataan dengan distribusi jawaban sebagai berikut ;
Tabel 3.1
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Dorongan Internal
N0 Pernyataan Jawaban
SS S KS TS STS
1 Tidak hanya melalui sekolah, saya juga mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba melalui media elektronik dan 2 Saya selalu ingin menampilkan
kemampuan saya dalam seni 3 Saya selalu tertarik untuk belajar
seni budaya dan musik Batak Toba baik disekolah maupun dirumah
4 Saya sangat mengapresiasi seni budaya dan musik Batak Toba baik disekolah maupun diluar 5 Saya tidak memprioritaskan
belajar seni budaya dan musik Batak Toba dibandingkan mata pelajaran lainnya 6 Saya belajar seni budaya dan
musik Batak Toba agar budaya leluhur tidak punah Sumber : Hasil penelitian 2018 (data diolah)
Tabel 3.1 memperlihatkan jawaban responden tentang dorongan internal dimana mayoritas responden (84.0%) menjawab setuju pernyataan ke-1 (Tidak
hanya melalui sekolah, saya juga mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba melalui media elektronik dan juga media cetak). Mayoritas responden (75.0%) menjawab setuju pernyataan ke-2 (Saya selalu ingin menampilkan kemampuan saya dalam seni budaya dan musik Batak Toba). Mayoritas responden (67.0%) menjawab setuju pernyataan ke-3 (Saya selalu tertarik untuk belajar seni budaya
hanya melalui sekolah, saya juga mempelajari seni budaya dan musik Batak Toba melalui media elektronik dan juga media cetak). Mayoritas responden (75.0%) menjawab setuju pernyataan ke-2 (Saya selalu ingin menampilkan kemampuan saya dalam seni budaya dan musik Batak Toba). Mayoritas responden (67.0%) menjawab setuju pernyataan ke-3 (Saya selalu tertarik untuk belajar seni budaya