• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI

B. KONFLIK

4. Cara Mengatasi Terjadinya Konflik

4. Cara Mengatasi Terjadinya Konflik

Wheten dan Kameron mengatakan bahwa mengatasi konflik merupakan salah satu dari sembilah keahlian yang harus dimiliki manajer. Hal ini sangat beralasan karena konflik merupakan hal yang bisa terjadi dalam suatu organisasi. Apabila manajer menghadapinya bukan menciptakannya maka cara-cara berikut ini dapat dilakukan.

a. Dengan melakukan kompromi atau negosiasi

Melalui cara ini manajer mencoba menyelesaikan konflik melalui pencarian jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Menurut Viethzal Rivai negoisasi adalah “tindakan yang menyangkut pandangan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan oleh orang-orang yang berkonflik secara bersama-sama tanpa melibatkan pihak ketiga”.24

Bentuk-bentuk kompromi meliputi pemisahan (separation), dimana pihak-pihak yang bertentangan dipisahkan sampai mereka

23

Adam Ibrahim Indrawijaya, “Perilaku Organisasi”, (Bandung: Sinar Baru Offset

Bandung, 1996), Cet. Ke- 3, h. 174

24

mencapai persetujuan. Arbitrasi (perwasitan), dimana pihak ketiga (biasanya manajer) diminta memberi pendapat. Kembali peraturan-peraturan yang berlaku, jika terjadi kemacetan maka dikembalikan pada ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku menyetujui bahwa peraturan-peraturan yang memutuskan penyelesaian konflik. Penyuapan (bribing), salah satu pihak menerima kompensasi dalam pertukaran untuk tercapainya penyelesaian konflik. Dari sekian banyak metode yang ditawarkan diatas (pemisahan, arbitrasi, kembali keperaturan yang berlaku, penyuapan) tidak satupun metode-metode tersebut dapat memuaskan sepenuhnya pihak-pihak yang bertentangan maupun menghasilkan penyelesaian yang kreatif.

Agar cara ini berhasil, beberapa teknik yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :

1) Satu pihak menyatakan akan menarik diri dari negosiasi tersebut apabila usulannya tidak dikabulkan.

2) Dengan menyatakan bahwa titik impasnya masih jauh dibawah yang diusulkan. Teknik ini disebut dengan istilah teknik bohong besar (big lie technique).

3) Mengutamakan positif frame, yaitu memfokuskan pada keuntungan potensial yang dapat dicapai dari perundingan tersebut dan hasil-hasil yang dapat dicapainya.

Berangkat dari apa yang dikemukakan di atas, dapat penulis ambil kesimpulan bahwa negoisasi merupakan bagian dari cara pemecahan sebuah konflik dengan menghadirkan kedua pihak yang berseteru untuk mencapai sebuah kesepakatan dan kesepahaman bersama. Dalam hal ini, seorang manajer dituntut untuk menggunakan kemampuannya melakukan keterampilannya dalam menyelesaikan sebuah konflik di dalam organisasi. Manajer dapat memposisikan dirinya sebagai seorang mediator terhadap kedua pihak yang berseteru dan manajer juga semestinya bersikap objektif dalam menyelesaikan konflik yang ada. Namun, tidak kesemuanya dari konflik yang dapat

teratasi dengan menggunakan cara ini. Akan tetapi, cara ini dapat berhasil jika komunikasi yang efektif benar-benar tercipta dalam proses tersebut.

b. Dengan melakukan konfrontasi diantara pihak-pihak yang

terlibat atau pemecahan masalah integratif.

Dengan metode ini, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah bersama yang dapat diselesaikan melalui teknik-teknik pemecahan masalah secara bersama, pihak-pihak yang bertentangan mencoba memecahkan masalah yang timbul diantara mereka. Di samping penekanan konflik atau pencarian kompromi, pihak-pihak secara terbuka mencoba menemukan penyelesaian yang dapat diterima semua pihak. Dalam hal ini manajer perlu mendorong bawahannya bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, melakukan pertukaran landasan secara bebas, dan menekankan usaha-usaha pencarian penyelesaian yang optimal, agar tercapainya penyelesaian yang integratif.

Pengendalian konflik memiliki karakteristik sendiri-sendiri, sehingga pemimpin diharapkan dapat menggunakan cara dan gaya yang digunakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi serta isu-isu yang ada di balik konflik tersebut.

Pendekatan berikut ini dapat digunakan sebagai kontribusi peran kepemimpinan dalam mengendalikan/menyelesaikan konflik:

1) sanggup menyampaikan pokok masalah penyebab timbulnya konflik

2) mau mengakui adanya kesalahan

3) bersedia melatih diri untuk mendengarkan dan mempelajari perbedaan

4) sanggup mengajukan usul dan nasihat 5) meminimalisasi ketidakcocokan25

25

Konflik tidak dapat terselesaikan jika permasalahan pokoknya terisolasi. Konflik sangat tergantung pada konteks dan setiap pihak terkait seharusnya memahami konteks tersebut. Permasalahan menjadi jelas jika tidak berdasarkan asumsi melainkan jika disampaikan dalam pernyataan pasti.

Pendekatan dengan konfrontasi dalam menyelesaikan konflik biasanya justru mengarahkan orang untuk membentuk kubu. Untuk itu, bicarakan pokok permasalahan, bukan siapa yang menjadi penyebabnya.

Pada umumnya kemauan mendengarkan sesuatu dibarengi dengan keinginan untuk memberi tanggapan. Seharusnya kedua belah pihak dapat saling mendengarkan sehingga permasalahan yang dihadapi menjadi jelas.

Ajukan usul baru yang didasari tujuan kedua belah pihak dan dapat mengakomodasi keduanya. Tawarkan juga kesediaan untuk selalu dapat membantu perwujudan rencana-rencana tersebut.

Mencari jalan tengah di antara kedua belah pihak yang sering berbeda pendangan dan pendapat. Fokuslah pada persamaan dengan mempertimbangkan perbedaan yang sifatnya tidak mendasar.

c. Dengan menggunakan jasa pihak ketiga

Meskipun pihak-pihak yang bertikai berupaya menyelesaikan konflik yang timbul, kadang-kadang mereka menemui jalan yang buntu. Dalam kondisi yang seperti ini, bantuan pihak ketiga sering digunakan, baik sebagai penengah, wasit, mediator atau bahkan tingkatan manajemen yang lebih tinggi. Dua hal yang lebih sering digunakan adalah dengan mediator atau arbitrase. Mediator akan bertidak untuk mengarahkan agar kedua belah pihak secara sukarela melakukan persetujuan, dan ia tidak memiliki kekuasaan formal yang dapat dipaksakan kepada piahak-pihak yang bertikai karena peran utamanya adalah sebagai fasilitator. Sementara itu dalam arbitrase

wasitnya diberi wewenang untuk memaksakan atau setidak-tidaknya merekomendasikan hal-hal tertentu dalam perjanjian. “Pihak ketiga ini bisa dipilih oleh pihak-pihak yang berkonflik atau perwakilan dari luar”.26

Seorang mediator senantiasa harus dapat mengarahkan pada penyelesaian konflik yang disepakati bersama oleh kedua pihak yang bertentangan. Mediator juga dituntut untuk objektif dan netral, tidak pada posisi hakim yang memvonis siapa yang benar dan siapa yang salah. Hal yang lebih penting adalah seorang mediator harus memiliki keyakinan bahwa solusi yang dihasilkan dapat disepakati dan dilaksanakan oleh kedua pihak yang berseteru.

d. Menetapkan atau menciptakan tujuan bersama

Apabila konflik terjadi antara unit, departemen, divisi atau kelompok kerja, maka salah satu cara menurut hasil penelitian dianggap berhasil adalah dengan cara menetapkan atau menciptakan tujuan bersama, yaitu tujuan yang sama-sama ingin dicapai oleh pihak-pihak yang bertikai atau tujuan organisasi secara menyeluruh.

Dasar pemikirannya adalah dengan menekankan tujuan yang sama-sama hendak dicapai, maka hambatan-hambatan yang ada dimereka dapat diperlemah dan kemungkinan untuk kerja sama, bukannya konflik, lebih dapat dilaksanakan.

e. Dengan memfokuskan pada dua dimensi, yaitu kerja sama dan

dominasi

Cara mengatasi sebuah konflik dengan memfokuskan pada dua dimensi yang berupa kerja sama atau dominasi terhadap pihak lain menurut Anies S. M. Basalamah ada beberapa ancang-ancang yaitu: pemaksaan, menghindar, kompromi dan mengalah.

26

Pemaksaan (forcing) atau kompetisi (competing). Cara ini digunakan apabila salah satu pihak berusaha untuk memuaskan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain. Bagi yang menggunakannya maka akan terasa bebas tanpa terbebani, akan tetapi pihak lain mungkin akan terasa dikalahkan atau bahkan dipermalukan.

Kolaborasi (collaboration) atau pemecahan masalah

(problem solving), dengan cara ini pihak-pihak yang bertikai

menyelesaikan persoalan yang timbul secara bersama dan melakukan kerja sama dalam mencari cara-cara yang akan menguntungkan masing-masing pihak atau sama-sama menang (win-win solution).

Menghindar (avoiding), dengan cara ini salah satu pihak menyadari adanya konflik tetapi menarik diri atau menganggap tidak terjadi apa-apa, yang mungkin dilakukan agar tidak menimbulkan permusuhan. Melakukan (compromising), apabila pihak-pihak yang bertikai mengurangi tuntutan guna mencapai persetujuan bersama, maka mereka telah melakukan kompromi, dengan cara ini tidak ada pihak yang merasa menang atau kalah karena masing-masing pihak mengalah dengan mengurangi tuntutan masing-masing.

Mengalah (accommodating), cara ini kebalikan dari cara pertama, yaitu salah satu pihak berusaha memuaskan kepentingan pihak lainnya melebihi kepentingan sendiri, cara ini biasanya dilakukan agar hubungan tetap terpelihara sehingga salah satu berkorban untuk menyenangkan pihak lain.

f. Menggunakan ancang-ancang yang lebih kontekstual.

Dalam hal ini seperti meningkatkan sumber daya, menjelaskan mengenai peran yang harus diperankan oleh individu, merancang kembali pekerjaan yang ada (job redesign), menyusun kembali alur kerja dan alur komunikasi dan sebagainya.

g. Menggunakan ancang-ancang psko-sosial

Dalam hal ini seperti mengembangkan keahlian pengolahan untuk kelompok (interpersonal/group process skill), menggunakan gaya kepemimpinan yang partisipatif, dukungan manajemen terhadap proses-proses antar individu atau kelompok, dan sebagainya.

C. KOMUNIKASI  

Dokumen terkait