• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEOR

B. Kajian tentang Penguasaan Konsep dan Praksis Asesmen Bimbingan dan

7. Cara Mengungkap Konsep dan Praksis Asesmen dalam Bimbingan dan

Konsep dan praksis asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian terpenting dalam kompetensi profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor. Menurut Mamat Supriatna (2011: 202) kompetensi menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan dan masalah konseli dikembangkan ke dalam lima subkompetensi yaitu (1) menguasai hakikat asesmen; (2) memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling; (3) menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling; (4) mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli; dan (5) memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.

Kompetensi profesional konselor dalam asesmen juga dirumuskan

oleh ASCA dan AAC dalam Erford, 2004: 402 – 405 (yang dikutip dalam

Gantina Komalasari, dkk. 2011: 7-11) terdiri dari sembilan subkompetensi yaitu (1) memiliki keterampilan dalam memilih strategi asesmen, (2) dapat mengidentifikasi, mengakses, dan mengevaluasi alat asesmen yang secara umum biasa digunakan, (3) memiliki keterampilan secara teknis dalam mengadministrasikan dan menggunakan metode scoring terhadap alat

asesmen yang digunakan, (4) memiliki keterampilan dalam

38

hasil untuk membuat keputusan dalam layanan bimbingan dan konseling,

(6) terampil dalam menghasilkan, menginterpretasi, dan

mempresentasikan informasi statistik tentang hasil tes, (7) terampil dalam menyelenggarakan dan menginterpretasi evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah, (8) terampil mengadaptasi dan menggunakan kuesioner, survey, dan instrumen lainnya untuk mengetahui kebutuhan lingkungan, (9) mengetahui bagaimana tanggung jawab profesional dalam melakukan asesmen dan mengevaluasi.

Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan penguasaan konsep dan praksis asesmen dalam guru bimbingan dan konseling yang telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yaitu (1) menguasai hakikat asesmen; (2) memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling; (3) menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling; (4) mengadministrasikan asesmen untuk

mengungkapkan masalah-masalah konseli; (5) memilih dan

mengadministrasikan teknk asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli; (6) memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan; (7) mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling; (8) menggunakan hasil asesmen

39

dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat; (9) menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, peneliti merujuk pada pendapat yang dipaparkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yang mana dijadikan peneliti sebagai cara mengungkap penguasaan konsep dan praksis asesmen dalam bimbingan dan konseling yaitu sebagai berikut :

a. Menguasai hakikat asesmen

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami pengertian, manfaat, tujuan, prinsip, langkah-langkah dan fungsi asesmen yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

b. Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan

bimbingan dan konseling

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memilih teknik tes dan non tes sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

c. Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan

bimbingan dan konseling

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami

40

variabel dalam instrumen, kajian teori, definisi operasional dalam instrumen, kisi-kisi, item dalam instrumen, uji validitas, uji reliabilitas, perbaikan instrumen berdasarkan uji validitas dan tersusunnya instrumen standar untuk keperluan bimbingan dan konseling yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

d. Mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-

masalah konseli

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami pengertian administrasi, manfaat dan tujuan mengadministrasikan hasil asesmen untuk mengungkap masalah konseli yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

e. Memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan

kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami hal-hal yang menjadi pertimbangan, kriteria, alasan, tujuan, manfaat dan jenis teknik asesmen dalam memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

f. Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan

41

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami pengertian instrumen, hal-hal yang menjadi pertimbangan, kriteria, alasan, tujuan, manfaat dan jenis teknik asesmen dalam memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

g. Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan

bimbingan dan konseling

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu manfaat, tujuan, pentingnya mengakses data dokumentasi, dan hal-hal yang diakses tentang kondisi dalam pelayanan bimbingan dan konseling yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

h. Menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan

konseling dengan tepat

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami manfaat, tujuan, dan dasar pertimbangan penggunaan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

42

Cara mengungkap indikator ini peneliti menyusun beberapa sub indikator yang akan dianggap dapat mewakili yaitu memahami pengertian tanggung jawab profesiona, manfaat dan ciri-ciri tanggung jawab profesional dalam layanan bimbingan dan konseling khususnya pada praktik asesmen yang akan dituangkan ke dalam beberapa pernyataan.

C. Kajian tentang Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor)

Dokumen terkait