• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Minat Baca

2.3.9. Cara Menumbuhkan Minat Baca

Minat baca sebaiknya ditanamkan sejak bayi dalam kandungan, Ibu berperan penting dalam menumbuhkan minat baca anak . Bahasa ibu kepada bayi di dalam kandungan sangat berpengaruh terhadap bayi dalam menerima pendidikan dari sang ibu . Misalnya ibu membacakan Alqur‟an kepada anak dalam kandungan maka anak akan menyimak di dalam rahim. Perintah membaca juga terdapat dalam Alqur‟an surah Albaqarah “ Iqra “ yang artinya “ Bacalah “.

Allah juga memerintahkan ummat manusia membaca agar tidak bodoh akan ilmu pengetahuan.

Menurut Undang Sudarsana ( 2008 : 4.14 ) Kebiasaan membaca tidaklah timbul semata-mata karena adanya kemauan dan kesenangan membaca sesuatu bahan bacaan tertentu secara langsung, akan tetapi harus diawali dengan :

1. Kebiasaan orang tua membaca

2. Memperkenalkan buku bacaan oleh orang tua kepada anaknya sedini mungkin atau pada awal kehidupannya

3. Penyediaan bahan bacan yang tepat dan baik pada anak 4. Lingkungan rumah untuk kegiatan membaca

5. Menanamkan rasa cinta terhadap buku, memupuk kesadaran membaca dan menanamkan reading habit ( kebiasaan membaca) oleh orang tua kepada anaknya

6. Menunjukkan buku sebagai sumber informasi yang diperlukan

7. Dukungan dari berbagai pihak, seperti dari guru, masyarakat, pemerintah, penerbit, toko buku, dan sebagainya yang terkait , untuk

secara sadar, dan terus – menerus, serta memperbanyak jumlah buku dan kemudian tenaga pustakawan yang profesional

8. Memberikan dasar-dasar arah studi yang mandiri

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa minat baca harus ditanamkan sejak dini, dimulai dari keluarga orang tua membiasakan membaca buku kepada anak, menyediakan bahan bacaan yang tepat kepada anak, lingkungan rumah untuk kegiatan membaca, dengan menanamkan cinta kepada buku sebagai sumber informasi yang diperlukan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan prosedur yang dapat digunakan secara sistematik disepakati oleh suatu komunitas ilmiah untuk mengungkapkan suatu gejala yang menjadikan objek penelitian dalam suatu bidang ilmu. Tujuan metode penelitian adalah untuk mengetahui kebenaran tentang suatu objek yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk sebuah teori

Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah menjelaskan atau menggambarkan masalah yang ada di lapangan tentang permasalahan yang telah dirumuskan untuk mengetahui dan mengungkapkan fakta yang ada dilapangan terkait “Strategi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan dalam mengembangkan minat baca masyarakat di Kabupaten Asahan”

Menurut Lexy J. Moleong (2005:6), metode penelitian kualitatif adalah suatu riset yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena dianggap relevan.

Penelitian ini menggunakan wawancara untuk mendeskripsikan data yang penulis peroleh dari informan, untuk memperoleh gambaran jelas dan terperinci tentang Strategi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan Dalam Meningkatkan minat Baca Masyarakat di Kabupaten Asahan. Penulis menggunakan metode pendekatan kepada pihak-pihak yang dianggap relevan dijadikan narasumber untuk memberikan keterangan terkait penelitian yang akan dilakukan.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan, beralamat di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, No 30 A Kisaran

3.3 Identifikasi Informan

Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Bidang Pelayanan di Dinas Perpistakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Wawancara dilakukan dengan melakukan pendekatan terelebih dahulu kepada informan yang telah menyediakan waktu luangnya untuk diberikan pertanyaan dalam bentuk wawancara

Karakteristik dari Informan adalah sebagai berikut :‟

Tabel 3.1Identifikasi Informan

Informan Jabatan

I.1 Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan

Kabupaten Asahan

I.2 Kepala Seksi Pelayanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan

1.3 Pustakawan

3.4 Sumber Data

Sumber data yang diperoleh peneliti untuk melengkapi data – data dalam kegiatan penelitian terdiri dari 2 sumber, yaitu :

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya melalui wawancara dan pengamatan penulis, hasil observasi dari subjek yang diteliti dan juga berupa dokumentasi , Sumber data primer pada penelitian ini dari informan pegawai perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan.

2. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung . Data Sekunder penelitian diperoleh dari buku, , majalah, artikel, dan artikel maupun literatur yang berkaitan dengan teori penelitian

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Sebelum melakukan penelitian diperlukan teknik pengumpulan data untuk memperoleh hasil yang relevan dari data yang diperoleh.. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data prnulis melakukan dengan tiga cara :

1. Pengamatan ( Observasi)

Menurut Supriyati ( 2011 : 46 ) Observasi merupakan suatu metode untuk mengumpulkan data penelitian dengan sifat dasar naturalistik yang berlangsung dalam konteks natural. Observasi yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan langsung Strategi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan dalam meningkatkan minat baca siswa di Asahan

2. Wawancara ( Indeph Interview)

Menurut Moh Nazir (2014 : 170-171) Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian engan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan yang ditanya atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview gide ( panduan wawancara). Tujuan melakukan wawancara untuk mengumpulkan data dan informasi yang lengkap, akurat dan adil.

Pedoman wawancara diperlukan agar tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Wawancara mendalam yaitu salah satu cara yang digunakan untuk memperoleh data dengan melakukan tanya jawab atau interview secara langsung dengan pihak-pihak tekait, dalam hali ini yaitu kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Dokumentasi Kabupaten Asahan dan

Kepala Bidang Layanan Dinas Perpusrtakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan.

3. Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2013:240) dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dalam hal ini peneliti mengambil dokumentasi berupa merekam suara informan pada saat berlangsungnya wawancara serta mencatat seluruh hasil pengamatan langsung yang dilakukan.

3.6 Teknik Analisis Data

Menurut Moleong (2004:280- 281), “Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan tempat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.

Teknik analisis yang digunakan dalam melakukan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif . Data yang ditemukan dapat memberikan gambaran masalah yang telah dikemukakan. Menurut Miles dan Huberman (2010) terdapat tiga macam kegiatan analisis data.

Tahapan – tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Reduksi Data

Reduksi data yang dilakukandengan cara menyeleksi data-data yang penting untuk penelitian, menyusun darta, selanjutnya mengelompokkan berdasarkan hal-hal yang terfokus dan penting.

2. Display Data

Display data diartikan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan penyajian data, peneliti akan dapoat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan pemahaman tentang penyajian data.

Pada penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dari informan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan . Setelah data dikumpulkan, peneliti mencoba memahami data yang telah diperoleh dari informan, kemudian peneliti menyajikan data yang telah diperoleh dari informan berupa Strategi Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabuaten Asahan dalam Meningkatkan Minat Baca masyarakat di Kabupaten Asahan

3. Mengambil Keputusan dan Verifikasi

Peneliti mencoba mengambil sebuah kesimpulan dari data yang dikumpulkan. Kesimpulan itu awalnya masih kabur dan diragukan, tetapi dengan semakin bertambahnya data, maka kesimpulan tersebut semakin berkembang serta harus diverifikasi selama penelitian berlangsung.

Pada penelitian ini peneliti menarik kesimpulan dari hasil observasi dan wawancara terhadap informan, kemudian untuk lebih menguji kebenaran dari data tersebut, maka data tersebut diverifikasi sehingga peneliti mendapatkan data yang relevan dan akurat.

3.7 Keabsahan Data

Dalam metode ini penulis menggunakan metode triangulasi dalam keabsahan data dalam penelitian. Metode triangulasi merupakan teknik yang dilakukan dengan meminta penjelasan lebih lanjut. Menurut Pawito (2007 : 99 – 100) jenis triangulasi yaitu :

1. Triangulasi Data

Menggunakan berbagai sumber data primer dan data sekunder. Data primer adalah hasil wawancara dan hasil observasi. Peneliti mewawancarai informan yaitu Kepala Bagian Pelayanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan untuk mendapatkan informasi yang lengkap disertai dengan observasi dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Data skunder adalah berbagai sumber tertulis yang digunakan dalam penelitian ini guna mendorong keberhasilan penelitian, diantaranya buku-buku, iteratur, jurnal, internet dan dokumen lainnya yang berhubungan dengan penelitian.

2. Triangulasi Teori

Penggunaan berbagai teori yang berlainan bertujuan untuk memastikan bahwa data yang dibutuhkan sudah memenuhi syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II agar digunakan dan menguji terkumpulnya data yang telah diperoleh serta diperkuat dengan artikel, jurnal, dan buku mengenai Strategi Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten Asahan dalam meningkatkan minat Baca Siswa di Kabupaten Asahan

3. Triangulasi Metode

Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara, observasi dan survey langsung di lapangan untuk mendapatkan kebenaran informasi yang relevan dan akurat.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

Dinas Perpustakaan Umum Kabupaten Asahan memiliki Kronologis perjalanan sejarah berdirinya hingga menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan.Berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Asahan Nomor 3 tahun 2003 tentang perubahan pertama atas peraturan daerah Kabupaten Asahan nomor 01 tahun 2001 tentang pembentukan dan susunan organisasi sekretariat Daerah Kabupaten Asahan, Sekretariat DPRD Kabupaten Asahan, Kecamatan dan Kelurahan, dibentuk bagian Arsip dan Perpustakaan Sekdakab Asahan, lokasinya berada di lingkungan Sekretariat Kantor Bupat Asahan. Dengan susunn organisasi sebagai berikut :

1. Kepala bagian Arsip dan Perpustakaan Setdakab Asahan membawahi a. Subbagian Pengelolaan Arsip

b. Subbagian Pembinaan Arsip c. Subbagian Perpustakaan

Selanjutnya tahun 2007 bagian Arsip dan Perpustakaan Setdakab Asahan ditingkatkan statusnya jadi Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan, berada di Jalan H.O.S Cokro Aminoto, nomor 30 A Kisaran bekas kantor Bupati Asahan. Terdiri dari

a. Kepala Kantor

c. Seksi-Seksi yang terdiri dari Seksi Pengelolaan Arsip, Seksi Pembinaan Perpustakaan dan Kearsipan, Seksi Pengelolaan Perpustakaan.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Asahan nomor 7 tahun 2008 tanggal 9 april 2008 tentang organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah Kabupaten Asahan, maka Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan menjadi Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Asahan.

Dengan susunan Organisasi sebagai berikut : a. Kepala Kantor;

b. Subbagian tata usaha,

c. Seksi-Seksi terdiri dari Seksi Perpustakaan, Seksi Arsip, Seksi Dokumentasi.

Kemudian berdasarkan peraturan Bupati Asahan Nomor 34 Tahun 2016 tentang kedudukan, tugas dan fungsi, susunan organisasi, tata kerja, uraian tugas dan fungsi jabatan pada Dinas dan Daerah di ligkungan Pemerintah Kabupaten Asahan,maka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ditetapkan dengan susunan organisasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terdiri dari :

a. Kepala, b. Sekretariat, c. Bidang, d. Sub Bagian, e. Seksi,

f. Unit Pelaksana Teknis dan Pejabat Fungsional

STRUKTUR ORGANISASI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN

Kasubbag Umum Kasubbag, Perencanaan, Evaluas dan Pelaporan ppppppppppepppppppppp

4.1.1 Visi dan Misi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan

Visi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan :

“ Terwujudnya Masyarakat Asahan yang Gemar Membaca dan Tertib Arsip dibarengi Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”

Misi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan :

1. Meningkatkan Pelayanan bagi Pemustaka dan Pengguna Arsip melalui semua kegiatan semua jenis Perpustakaan dan Arsip

2. Meningkatkan Jumlah Koleksi Karya Cetak, Karya rekam, karya tulis dan naskah sebagai hasil budaya bangsa

3. Melakukan pembinaan dan Pengembangan semua jenis Perpustakaan dan Kearsipan pada Instansi Pemerintah, Swasta dan Masyarakat

4. Meningkatkan Pengetahuan Teknis bagi Petugas Pengelola Perpustakaan dan Kearsipan

4.1.2 Tugas dan Fungsi Pokok

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mempunyai tugas pokok membantu Bupati melalui Sekretaris Daerah dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahanyang menjadi kewenangan Daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada Daerah dalam bidang Perpustakaan dan Kearsipan yang meliputi perencanaan, perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan serta pelayanan.

Untuk melaksanakan tugas tersebut Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan memiliki fungsi :

a. merumuskan kebijakan umum serta menyelenggarakan administrasi di bidang perpustakaan dan kearsipan;

b. menyediakan dukungan kerjasama antar Kabupaten/Kota;

c. melakukan pengendalian terhadap pelayanan umum dan rekomendasi;

d. membina bawahan dalam pencapaian program Dinas;

e. mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan;

f. melaksanakan pembinaan umum dan pembinaan teknis;

g. melaksanakan sistem pengendalian intern; dan

h. melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh atasan.

4.2 Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini terdiri dari 3 orang narasumber, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kepala Bidang Pelayanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan ,dan Pustakawan . Wawancara dilakukan melalui pendekatan dan meminta waktu informan untuk bersedia diwawancara .

Tabel 4.2 .Karakteristik dari para Informan tersebut adalah

No Kode

Informan

Pendidikan Jabatan

1 11 S2 Magister Sains Universitas Negeri Medan

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahana

2 I2 S1 Budidaya Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Kepala seksi Pelayanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan

3 I3 D3Perpustakaan Universitas Sumatera Utara

Pustakawan

Wawancara yang dilakukan dengan Informan I1, I2, serta I3berlangsung secara injformal, pelaksanaan wawancara berdasarkan pedoman wawancara dan wawancara mendalam (depth interview). Pelaksanaan wawancara dilakukan secara subtatif artinya wawancara dilakukan tidak harus pada tempat tertentu. Saat melakukan wawancara dilakukan pada jam yang telah ditetapkan sesuai dengan janji bersama informan. Suasana wawancara berlangsung alamiah, tidak diatur sedemikan rupa buntuk mencapai tujuan tertentu, bahasa yang digunakan adalah bahasa informal, walau terkadang peneliti menggunakan istilah-istilah

perpustakaan. Isi wawancara berkembang sesuai dengan jawaban yang diberikan informan

4.3 Kategori

Berdasarkan pedoman wawancara dan hasil wawancara, penulis menyusun kerangka awal evaluasi sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding . Dengan pedoman ini, penulis kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, dengan cara melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan dan menunjukkan hubungan antar bagian-bagian yang diteliti sehingga dapat menghasilkan beberapa kategori. Penulis menetapkan lima kategori yang berkaitan. Adapun keenam kategori itu adalah sebagai berikut : 1. Menciptakan Suasana Membaca

a. Fisik : Ruang yang bersih, terasa lega dimana buku-buku disusun secara rapih dan teratur serta terawat bersih akan dengan sendirinya mengajar anak untuk mencintai dan menyukai memasuki suatu ruangan yang disebut sebagai perpustakaan

b. Mental : Pustakawan tidak hanya melayani pemustaka, tetapi juga memotivasi pemustaka menyukai membaca dan menjadi pembaca yang baik

c. Sarana : Anak harus dikelilingi dengan buku. Oleh karena itu, sebuah perpustakaan harus mempunyai banyak koleksi yang mudah didapat.

Selain buku, idealnya juga tersedia, video, film, VCD, DVD, internet dan koleksi elektronik lainnya yang isinya berhubungan dengan bacaaan

2.Menyelenggarakan Berbagai Program

a. Melalui acara yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan buku / sastra

b. Melalui program sastra, yaitu yang berkaitan dengan bacaan 3. Mengadakan Kerja Sama dengan Masyarakat

4. Membangun Jaringan Kerja 5. Mempromosikan Perpustakaan 6. Mencari Dana

4.3.1 Menciptakan Suasana Membaca

Kategori pertama yang diperoleh dari hasil wawancara dengan ketiga informan adalah menciptakan suasana membaca. Menciptakan suasana membaca merupakan kemampuan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan dalam menunjukkan eksitensinya kepada pihak eksternal. Menciptakan suasana membaca dapat berupa memperbaiki kondisi fisik, mental, sarana . Menciptakan suasana membaca berupa fisik terdiri dari ruang yang bersih. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan memiliki ruang yang bersih, terasa lega dimana buku-buku disusun secara rapih dan teratur serta terawat. Sesuai dengan pernyataan kedua Informan :

I1 : “ Ruangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan bersih dan rapi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan memiliki petugas kebersihan khusus untuk membersihkan ruangan”.

12 : “ Pembaca di ruangan baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan wajib menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan”.

I3 : Pustakawan selalu mengingatkan pengunjung perpustakaan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Dari kesimpulan pendapat diatas bahwa Dinas Perpustakaan memiliki ruangan yang bersih dan rapi

Buku yang ada di ruang baca disusun berdasarkan subjek sesuai dengan ilmu perpustakaan dengan tujuan memudahkan pemustaka menelusuri informasi yang dibutuhkan. Sesuai dengan pernyataan kedua Informan :

I2 : “ Bukuyang tersusun di lemari perpustakaan disusun rapi berdasarkan katalog untuk mempermudah pemustaka mencari buku yang dibutuhkan”

I3 : “ Buku yang disusun di rak buku disusun berdasarkan klasifikasi , dengan tujuan agar pemustaka mudah mencari buku yang diinginkan , setelah buku selesai dibaca pengunjung perpustakaan , maka pustakawan yang menyusun kembali ke rak” .

Gambar 4.3.1

Ruangan Membaca Umum Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten

Sebagai pustakawan harus memiliki pengetahuan tentang perpustakaan, kesopansantunan kemampuan untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung perpustakaan. Sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya pemustaka terhadap petugas perpustakaan / pustakawan. Sesuai dengan pernyataan I1 :

I3 : “ Saya sebagai pustakawan menambah ilmu pengetahuan saya dibidang

perpustakaan dengan mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis pustakawan dalam meningkatkan minat baca”

Petugas perpustakaan atau pustakawan harus bersikap ramah dan sopan dalam melayani pengunjung perpustakaan. Kendala yang dihadapi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabuaten Asahan Pegawai yang berprofesi sebagai pustakawan hanya berjumlah 2 orang. Kurangnya sumber daya manusia juga menyebabkan pelayanan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan kurang maksimal. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan I1 dan I2

I1 : “ Salah satu yang menjadi kendala dalam meningkatkan minat baca masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten Asahan adalah kurangnya sumber daya manusia. Pegawai perpustakaan yang berlatar belakang ilmu perpustakaan masih terbatas berjumlah dua orang , sehingga kurang maksimal melayani pengunjung perpustakaan, seperti kurangnya pegawai perpustakaan yang memahami phisikologi pengunjung. kurangnya memenuhi kebutuhan pengunjung “

I2 :„‟Kendala dalam meningkatkan minat baca di Perpustakaan umum adalah kurangnya sumber Daya Manusia pegawai yang berlatar belakang ilmu perpustakaan. Perlunya penambahan tenaga pustakawan, karena semakin banyak

Sarana dan prasarana yang mendukung untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Sesuai dengan pernyataan ketiga informan :

I1 : “ Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan merupakan gedung bekas kantor walikota Asahan, dan sekarang sudah menjadi milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Sarana dan prasarana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan seperti meja baca, lemari buku, kursi, AC, Kipas angin ,WiFi gratis yang dapat diakses langsung oleh pengunjung, Komputer. Pelayanan sirkulasi masih bersifat manual”.

12 : „‟Keadaan sarana dan prasarana di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

Kabupaten Asahan ada rak buku, komputer 2 buah dibagian pelayanan, meja baca dan diskusi, AC, WIFI gratis buat pengunjung perpustakaan, pelayanan sirkulasi masih bersifat manual”.

I3 :“Sarana dan prasarana di Dinas Perpustakaan dan kearsipan Kabupaten Asahan untuk pelayanan kepada pengguna masih bersifat manual belum menggunaklan OPAC, dan belum terautomasi”

Keluhan pengunjung dalam meningkatkan minat baca masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan salah satunya adalah koleksi yang harus ditambah setiap tahunnya dengan koleksi baru, agar pembaca tidak bosan dengan koleksi yang itu-itu saja. Untuk mengatasi keluhan pengunjung tentang koleksi buku yang masih kurang, serta meninginkan koleksi terbaru dan bermutu, maka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan memberikan solusi sesuai dengan pernyataan I1 :

I1 : “ Penambahan koleksi baru dengan mengadakan program penyedian bahan pustaka perpustakaan dan Kearsipan kabupaten Asahan”

Berdasarkan pernyataan informan diatas , bahwa pustakawan dituntut untuk peka rasa dan ringan tangan membantu pengunjung perpustakaan, serta harus mampu memberi solusi dari keperluan pengunjung untuk mendapatkan informasi

Gambar 4.3.1

Tampilan Dinas Perpustakaan yang sudah direnovasi

4.3.2 Menyelenggarakan Berbagai Program

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan juga melakukan progam pengembangan minat baca masyarakat dan pembinaan perpustakaan sesuai dengan pernyataan I1 ;

I1 : “ Iya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan dalam

meningkatkan minat baca masyarakat mengadakan program pengembangan minat baca dan pembinaan perpustakaan dengan melakukan kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, Wisata Baca, Story Telling, Lomba Pengembangan Minat dan Budaya Baca, Perustakaan seru, Pembinaan perpustakaan desa serta Penyebarluasan informasi melalui gemar membaca, Pengadaan sarana dan prasarana Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Kabuaten Asahan, Memberi bantuan mobiler dan sarana untuk kelengkapan perpustakaan desa/kelurahan/kantor/camat/rumah ibadah, Sosialisasi minat baca masyarakat, Penyuluhan minat baca kaum ibu, Penambahan Koleksi buku perpustakaan

Gambar 4.3.2

Menyelenggarakan Program Perpustakaan seru

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan melakukan strategi dengan maksimal untuk meningkatkan minat baca masyarakat dengan cara menjemput masyarakat ke perpustakaan seperti mengaktifkan pelayanan mobil pintar, mobil perpustakaan keliling, mobil wisata baca, sesuai pernyataan I1 dan I2

:I1 : “ Program kerja perpustakaan keliling dalam meningkatkan minat baca masyarakat dengan mengadakan mobil pintar, mobil perpustakaan keliling, mobil

:I1 : “ Program kerja perpustakaan keliling dalam meningkatkan minat baca masyarakat dengan mengadakan mobil pintar, mobil perpustakaan keliling, mobil

Dokumen terkait