• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ingin dapat THR di hari lebaran tapi susah karena udah jadi mahasiswa?

Ternyata ada lho, cara yang bisa ditempuh biar tetap dapat THR meski udah besar (red: tua). Penasaran? Simak penjelasan di bawah ini!

1. Pake baju anak kecil

Yah, emang kedengarannya aneh dan ekstrem, tapi gak salah juga untuk dicoba! Dengan memakai pa-kaian anak kecil, kamu pasti akan menarik perhatian dan dikira masih kecil! Dan tau kan keuntungan dari terlihat masih kecil? Dapat THR ban-yak!

2. Bersikap sok imut

Oke, kalau kamu terlalu takut mer-ubah penampilanmu, kamu bisa sedikit merubah sikapmu. Yups, apalagi kalau bukan bersikap imut?

Cara ini paling ampuh untuk kalan-gan orang tua, seperti nenek-kakek, bude-pakde, dan lain-lain—yah, la-gian kan emang kalangan orang tua yang ngasih THR hehehe.

BERAKSI

3. Pasang muka melas

Cara ini paling mudah dihayati sama mahasiswa, terutama buat anak kos, apalagi perantauan dari luar pulau. Terbiasa hidup serba minim akan memunculkan bakat alamiah muka melasmu. Bakat ini jangan di-sia-siakan lhoo, karena akan mem-bantu kelancaran THR-mu di hari lebaran!

4. Datangi rumah saudara yang tajir

Sebenarnya, ini cuma berlaku untuk saudara tajir dan loyal, karena per-cuma menyambangi rumah orang kaya tapi pelit kayak Tuan Krab!

Kalau kamu bingung siapa target-mu, kamu bisa survei dan tanya-tan-ya sama orang tuamu.

5. Jual kisah

Ini adalah kemampuan yang harus dimiliki anak Komunikasi. Gimana enggak? Terbiasa dapat tugas Hu-mas dan Manajemen HuHu-mas selama di perkuliahan harusnya melatihmu untuk pandai jual kisah. Ceritakan ke target-targetmu kalau kamu lagi sibuk kuliah yang banyak mengelu-arkan uang!

Commers, itu dia cara yang dapat ditempuh biar THR-mu banyak! Jan-gan ragu buat dicoba yaa.

Petang itu langit ikut bersedih, me-nitikan butiran-butiran air seperti mata yang menangis. Angin yang berhembus ke tubuh yang ringk-ih, membuatnya menggigil. Juta-an butirJuta-an air dJuta-an tiupJuta-an Juta-angin gunung menjadi komposisi yang pas untuk membuat suara gemerisik yang akan menemani Amura yang malang, bersama ladang ilalang di depan rumah, bersama si Loreng yang ikut bersedih, berdua meny-alahi nasib.

Amura yang malang duduk di beranda rumah, bersandar di pi-lar kayu yang sudah lapuk. Mata sayunya berusaha menantang lan-git, menghitung titik-titik air dari atas sana, tak terhitung, sama de-gan nasibnya yang tak pernah mu-jur, tak pernah ada habisnya.

Gurat senyum lama tak terlukis di-wajah Amura. Bocah itu tak pernah sekolah tapi banyak pertanyaan yang harus dia jawab, seperti siapa bapak dan mamaknya? Di mana mereka? Kenapa waktu bayi ia ditemukan di bawah pohon waru?

Ia tak bisa menjawab apa-apa, tak ada yang mengajarinya dan mem-beritahuanya.

Si Loreng, kucing kampungnya itu meringkuk di ujung kaki Amura dan tertidur di sana. Kucing yang satu tahun ia temukan di selokan dan nyaris mati, dengan tubuh penuh luka, kaki pincang, mata kanan buta yang sepertinya ditusuk benda tajam, dan daun telinga kaanannya yang sobek. Akhirnya Amura yang kasihan membawanya pulang. den-gan telaten merawat dan

mengole-AMURA

Sastra

skan betadine diluka si Loreng. Lu-kanya lama-lama sembuh meski kulitnya yang luka tak lagi ditum-buhi bulu, membuat kulitnya bo-rat-baret. Itulah mengapa Amura memberinya kucing kampung itu bernama Loreng. Dari awal bertemu dengan Amura pun, si Loreng sena-sib dengan majikannya, yatim piatu, tak punya siapa-siapa. Dua makh-luk sebatang kara hidup bersama.

Si Loreng menggeliat bangun, mendapati majikannya menat-ap kosong kearah langit. Mata itu menerawang mencari-cari, Amura tak tahu kemana ia harus men-cari jawabannya. Barang kali ke pasar nelayan tempatnya bekerja.

Pria tambun berkulit gelap yang biasanya menyelipkan sebatang rokok di mulutnya dengan sebe-lah mata memperkerjakan Amura sebagai tukang angkat es untuk mendinginkan ikan-ikan para ped-agang. Sebelah mata, ia tak ingin memperkerjakan Amura yang ber-tubuh kurus kering karena kurang gizi. Sebelah matanya lagi, tertutup nurani, ia kasihan pada bocah se-batang kara itu karena bocah itu butuh uang untuk makan.

Si Loreng lebih beruntung, setiap kali Amura pergi ke pasar, ia membawa serta si Loreng. Cukup menaruhnya di dekat kotak sampah, si Loreng bisa langsung kenyang karena ban-yak kepala, tulang dari ikan-ikan

yang nyaris busuk dengan mudah si Loreng dapatkan

Pria tambun itu, sang mandor pasar nelayan adalah satu-satunya manu-sia yang mau menerima keberadaan Amura, setelah kakek tua miskin yang memungutnya dua belas ta-hun lalu di bawah pohon waru. Dua belas tahun lalu, si kakek menemu-kan bayi yang masih tampak merah di bawah pohon waru. Para tetang-ga tak ada yang mau merawatnya, karena tak tahu asal-usulnya, bisa jadi anak haram, bisa bawa sial, be-gitu kata mereka.

Jikalau sang kakek masih hidup dan tahu Amura sudah bisa beker-ja, meski jadi kuli, pastilah si kakek bangga. Amura sangat berterima kasih pada sang kakek yang mau membesarkannya. Hanya dengan air tajin, si bayi yang diberi nama Amura bisa bertahan hidup.

Semoga sang kakek miskin itu tersenyum di alam sana, alam yang entah disebutnya sebagai alam para roh berkumpul, alam limbo, akhi-rat, irwana, samsara, entah apalagi namanya. Tak ada yang mengajari Amura tentang ke-Tuhanan, ia ha-nya mendengarha-nya dari sang kakek saat masi hidup dan sang kakek pun tidak paham agama.

Dibesarkan si bayi di rumah paggu-ng reyot itu. Rumah itu adalah

seja-rah mulai dari ia belajar meragkak, tengkurap, berdiri, hingga berlari, semuanya terekam di dalam rumah itu.

Gerimis mulai mereda. Tinggalah titik-titik air yang menetes dari atap gentengyang bocor kedalam ember.

Tik…tik…tik…

Oh hujan. Kenapa cepat sekali kau berhenti, Amura membatin. Kini gerimis dan angin telah lenyap, tak ada yang menemani Amura, kecuali si Lorengyang tertidur diujung kak-inya. Amura pun terasa sangat lelah, ingin rasanya ia beristirahat. Pung-gungnya yang bungkuk karena menanggung beban hidup meminta segera dibaringkan. Mata Amura pun terejam tidur. Amura merasa kehilangan.

Si Loreng tambah menderita, tak ada lagi bocah kuli es dipasar ne-layan, tak ada lagi bocah sebatang-kara, tak ada lagi bocah yang dulu ditemukan dibawah pohon waru saat bayi, tak ada lagi Amura. Kare-na matanya terpejam untuk sela-ma-lamanya.

(Rosi)

Pertanyaan:

Mendatar:

1. Ibukota Jawa Tengah 8. Jeruk (Ingg)

9. Mainan tradisional yang berpu-tar

10. Bagian tumbuhan

14. Gabungan suku kata/huruf 15. Anak Nabi Ibrahim

16. Air susu ibu (Singk) 18. Bumbu warna hitam 19. Park (Ind)

20. Dasi (Ingg)

21. Termasuk hewan amfibi 23. Sebelum April

26. Perpindahan dari desa ke kota 28. Tergabung dalam subkelas Hirudinea

29. Tahunnya Orang Islam

Menurun:

1. Pengganti beras 2. Penunjuk arah 3. Langka, unik

4. Gamelan yang besar

5. Mensucikan harta benda yang dimiliki

6. Selain surga 7. Batangnya wangi 11. Alat bernafas jangkrik 12. Termasuk spesies komodo 14. Penumbuk padi

16. Pemain film wanita 17. Sesuai keinginan 22. Boleh diwakafkan 24. Hujan (Ingg) 25. Thunnini

27. Ilmu Pengetahuan Alam (Singk)

Sebagai mahasiswa, kita enggak mun-gkin enggak mengenal apa itu dead-line. Mulai dari tugas bahkan ujian—

terutama yang take-home—pun ada deadline-nya. Mahasiswa malesan kayak kita kebanyakan emang enggak pandai mengatur waktu jadi sering panik kalau udah mendekati dead-line, betul apa betul? Enggak jarang pula yang menyelesaikannya pas-ca-deadline (udah jadi zombie belum tuh? hehe). Yah, mungkin ada beber-apa dari kita yang termasuk kalangan mahasiswa rajin a.k.a yang sudah pandai mengatur waktunya. Orang-orang yang pandai mengatur waktu ini perlu kita acungi jempol, karena bisa dibilang jarang, langka banget!

Ininih, menjadi berbeda yang harus dicontoh!1!11!

Dokumen terkait