HALAMAN BELAKANG
2.5 CARA PEMERIKSAAN DETEKSI DINI PADA KEHAMILAN
a. Pemantauan Janin Elektronik
Gelombang suara yang berfrekuensi tinggi dikirim melalui transmitter (disebut transduser atau probe) ke dalam rahim wanita melalui perut atau vagina. Gelombang suara ini akan memnatul kembali dari berbgai struktur janin, plasenta dan organ- organ internal wanita untuk membentuk sebuah gambaran. Ada dua jenis pemantauan elektronik.
1. Eksternal atau tidak langsung, jenis ini menggunakan transduser eksternal yang dipasang di dinding abdomen maternal untuk mengkaji denyut jantung janin dan aktifitas uterus.
Transduser ultrasound
Ultrasound, gelombang bunyi frekuensi tinggi, dipancarkan oleh sebuah transduser yang dipasang di atas abdomen maternal. Karena ultrasound membentuk bidang yang bergerak- gerak dalam hal ini jantung janin dan katup sinyal dipantulkan kembali ke transduser, yang mengaktifkan takometer.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 41 Denyut jantung janin dicetak di bagian atas grafik strip, dan lampu indicator di monitor diobservasi secara serempak pada setiap denyutan. Sinyal Doppler ini dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi transduser atau janin.
Transduser ultrasound dapat dipakai untuk memantau denyut jantung janin selama periode antepartum intrapartum.
Transduser EKG Abdomen
Transduser EKG Abdomen dapat mengukur DJJ melalui dinding abdomen maternal. Paling baik digunakan untuk pemantauan antepartum setelah kehamilan 34 minggu dan dapat digunakan untuk pemantauan intrapartum, tetapi secara umum hanya bekerja jika pasien relaks dan tetap berbaring.
Pembacaan hasil pencatatan akan sulit atau tidak dapat diinterpretasi sama sekali pada keadaan oligohidramnipon atau hidramnion, kehamilan multiple, usia kehamilan kurang dari 34 minggu, dan periode-periode aktifitas tekanan otot maternal, seperti pada fase aktif dari persalinan.
Tokotransduser (Tokodinamometer)
Memantau aktifitas uterus secara transabdominal dengan alat peka tekanan yang ditekan oleh kontraksi uterus dan gerakan janin. Panel aktifitas uterus dari kertas grafik menampilkan frekusensi dan durasi kontraksi selama periode antepartum dan intrapartum.
2. Internal atau langsung, jenis ini menggunakan elektroda spiral untuk mengkaji elektrokardiogram janin dan kateter intrauterine atau transervikal untuk mengkaji aktifitas uterus dan tekanan intrauterine.
Elektroda Spiral
Elektroda spiral memantau EKG janin dari bagian presentasi. Alat ini hanya dapat digunakan setelah membrane ruptur, bila dilatasi servik 2 sampai 3 cm atau lebih, dan bila bagian presentasi dapat dicapai dan diidentifikasi. Oleh karena itu, elektroda spiral hanya dapat digunakan selama periode intrapartum. Penggunaannya dalah kontraindikasi pada pasien yang diduga mempunyai herpes aktif atau stertokokus grup B atau bila terdapat perdarahan vagina yang tidak terdiagnosa. Kateter Intrauterin (Transervikal)
Kateter intrauterine memantau kontraksi, durasi, intensitas, dan tonus istirahat. Kateter kecil dimasukkan ke vagina (secara transervikal) menuju uterus setelah
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 42 servik dilatasi 2-3 cm dan membran janin telah ruptur. Kateter ditekan selama kontraksi uterus, memindahkan tekanan ke pengukur tegangan atau transduser tekanan. Tekanan ini kemiudian direfleksikan di atas kertas grafik dalam bentuk tekanan mm Hg.
Pemeriksaan Rutin dan Uji Skrining
1. Pemeriksaan panggul (Vaginal) 2. Pemeriksaan air kemih
3. Pemeriksaan darah
4. Pengecekan tekanan darah 5. Pengecekan berat maternal 6. Pemeriksaan perut
7. Mendengarkan denyut jantung janin(FHT) 8. Pemeriksaan Payudara
9. Pemeriksaan Gigi
10. Penapisan Marker Multipel
Sebuah uji yang mengukur kadar dua atau empat substansi berikut ini dalam darah ibu :
a. Alfa-fetoprotein (AFP) suatu substansi yang diproduksi oleh hati janin.
b. Human korionik gonadotropin (hcG) sebuah hormon yang diproduksi oleh plasenta.
c. Estriol (E3) produk samping dari metabolisme estrogen dipengaruhi oleh fungsi janin dan plasenta.
d. Dimerik inhibin A, substansi yang diproduksi dalam indung telur. Hasil pemeriksaan biasanya diperoleh dalam waktu satu minggu. Pada usia gestasional 15-20 minggu :
Untuk menapis kadar AFP dan estriol yang rendah dikombinasikan dngan kadar hCG dan dimerik inhibin A yang tinggi, yang mengindikasikan adanya sindrom down atau faktor lain yang dapat membahayakan kehamilan
Untuk menapis kadar AFP yang tinggi, mengindikasikan adanya cacat tuba saraf yang terbuka (spina bifida anensefali) atau meningkatnya resiko keabnormalan janin atau kematian janin.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 43 11. Penapisan Glukosa
Sampel darah diambil dari ibu satu jam sesudah dia minum minuman bergula (glukosa) atau makan makanan atau kudapan karbohidrat khusus.
Pada usia gestasional 24-28 minggu untuk menapis adanya diabetes
gestasional, yang jika tidak dirawat dapat menimbulkan masalah bagi inbu dan janin.
12. Penapisan Streptokokus B (GBS)
Cairan vagina dan anus dibiakan di laboratorium untuk menentukan derajat kolonisasi. Pada usia gestasional 35-37 minggu untuk menapis adanya GBS dan mengidentifikasi wanita yang merupakan pembawa GBS.
Uji Diagnostik
Uji berikut ini akan dilakukan jika penapisan menunjukkan kemungkinan timbulnya masalah. Uji diurutkan berdasarkan abjad, bukan frekuensi penggunaan atau kapan dilakukan selama kehamilan.
1. Amniosentesis
Menggunakan ultrasonografi untuk penuntun, dokter akan melewatkan sebuah jarum melalui perut dan rahim ke kantung ketuban, menarik cairan dan mengirimkannya ke laboratorium guna dilakukan pemeriksaan. Amniosentesis dapat dilakukan jika ada volume cairan yang memadai. Dapat dilakukan sejak usia gestasional 13 minggu.
Cairan ketuban diproses atau diperlakukan dengan cara berbeda, tergantung pada uji yang dilakukan. Untuk mengidentifikasi keabnormalan kromosom, sel-sel janin dipisahkan dari cairan ketuban dan dibiarkan (kira-kira dua minggu) agar berkembang biak sehingga diperoleh cukup banyak sel untuk dianalisa.
Pada awal sampai pertengahan kehamilan :
Memberiakn informasi tentang cacat lahir tertentu, kelainan metabolisme dan penyakit kromosom atau genetik.
Mendeteksi sindrom down, anemia sel sabit, cacat tuba saraf, dan berbagai kelainan.
Mengevalusi janin jika hasil dari uji penapisan tertentu menunjukkan adanya masalah.
Membantu mengambil keputusan tentang melanjutkan atau menghentikan kehamilan.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 44 Pada kehamilan lanjut :
Memberikan informasi tentang kematangan paru-paru janin jika dipertimbangkan untuk melakukan persalinan awal karena alasan kesehatan ibu maupun bayi.
Menunjukan keparahan penyakit Rh atau kelainan darah lainnya padfa janin sehingga dapat memutuskan tindakan yang harus dilakukan pada janin.
2. Profil Biofisik
Uji ini mengevaluasi fungsi biofisik janin dan mempunyai lima komponen. Uji non stress (NST) mengecek :
a. Respon denyut jantung janin terhadap gerakan. Sken ultrasonografi membantu menilai :
b. Gerakan dan aktifitas janin c. Tonus otot janin
d. Gerakan pernafasan janin e. Volume cairan ketuban (AFV)
Setiap komponen diberi skor 0,1, atau 2. Jadi nilai total tertinggi adalah 10. Profil biofisik janin memakan waktu kurang lebih satu jam.
Hal ini bertujuan :
Menentukan kesejahteraan janin pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Digunakan untuk menetukan apakah kehamilan beresiko tinggi atau kehamilan
lewat bulan dapat dilanjutkan dengan aman atau apakah harus dilakukan induksi persalinan.
3. Sampel Vilus korionik (CVS)
Dengan menggunakan ultrasonografi untuk penuntun, dokter akan melewatkan sebuah kateter yang ramping melalui lubang leher rahim (CVS transervical) atau sebuah jarum melalui perut dan rahim (CVS transabdominal) menempatkannnya pada selaput korionik, yang menutupi janin. Sepotong kecil korionik disedot kedalam semprit dan dikirim ke laborat untuk dianalisis. Prosedur ini memakan waktu 15-20 menit.
Sampel vilus korionik biasanya dilakukan antara usia gestasional 10-12 minggu dan hasilnya dapat diperoleh 1-2 minggu.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 45 Uji ini bertujuan untuk :
Menyajikan informasi tentang abnormalitas kromosom
Menyajikan informasi pada usia gestasional yang lebih awal daripada amniosentesis, memungkinkan diambilnya keputusan yang lebih awal mengenai diakhirinya kehamilan.
Memberikan sampel yang cukup besar untuk memanfaatkan tegnologi genetik molekular seperti analisa DNA.
4. Uji stress kontraksi (CST) atau opxytosin challenge test (OCT)
Uji ini menunjukan bagaimana denyut jantung janin (FHR) berespon terhadap kontraksi rahim. Kontraksi diinduksi sampai si ibu mengalami tiga kontraksi dalam 10 menit. Kemudian, sementara rahim tetap berkontraksi pada kecepatan tersebut, sebuah monitor janin elektronik eksternal digunakan untuk mengukur FHR.
Hasil uji menenangkan jika FHR tetap normal selama kontraksi. Uji ini tidak menenangkan atau tidak menyenangkan jika FHR menunjukan adanya distress janin. Kadang-kadang perlu waktu beberapa jam untuk menyelesaikan uji ini.
5. Sampel darah umbilical perkutaneus (PUBS) atau kordosentesis
Selama kordosentesis, dokter yang dituntun dengan ultrasonografi,
melewatkan sebuah jarum melalui perut ibu dan rahim kedalam korda umbilikalis, memungkinkan darah janin diambil untuk pengujian. Kordosentesis dapat dilakukan sesudah usia gestasional 16-18 minggu. Prosedur ini membutuhkan waktu 10 menit. Hal ini bertujuan
Menilai karakteristik darah janin seperti hitung sel darah merah, untuk mendeteksi anemia dan kadar oksigen.
Dapat digunakan untuk memberikan tranfusi darah, obat atau memonitor keefektifan perawatan dengan obat pada janin.
Dapat mendiagnosis ketidakcocokan Rh, penyakit sel sabit, infeksi janin, hemophilia, dan kondisi lain.
6. Penelitian aliran darah Doppler
Sebuah unit ultrasonografi Doppler dipasangpada perut wanita hamil untuk mendapatkan informasi tentang kecepatan aliran darah (velositas) pada arteri umbilikalis, pembuluh darah janin, dan atau arteri rahim dari ibu. Informasi ini dicatat
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 46 sebagai kecepatan berbentuk ngelombang yang menunjukan perbedaan pada aliran darah selama dan antara denyut berikutnya disebut sebagai rasio “sistolik atau diastolik.
Hal ini bertujuan menyajiakn informasi tentang kondisi rahim-plasenta dan atau sirkulasi janin. Untuk mengidentifikasi janin yang beresiko karena mempunyai masalah aliran darah janin-plasenta (keterlambatan pertumbuhan intrauterin, hipertensi akibat kehamilan).
7. Menghitung gerakan janin
Selama kehamilan lanjut, si ibu diminta menghitung dan mencatat gerakan bayinya sepanjang satu periode yang singkat setiap hari. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan janin dan membantu ibu mengenal janinya.
8. Tes toleransi glukosa
Tes toleransi glukosa adalah tes yang mengevaluasi kemampuan tubuh untuk mengangani dosis gula atau glukosa yang besar. Klinisi akan mengambil sampel darah sebelum ibu minum minuman bergula dan sesudah satu jam, dua jam, dan tiga jam kemudian. Normalnya kadar glukosa darah tetap stabil meskipun demikian pada keadaan diabetes akan terjadi peningkatan pada dua atau tiga hasil pengukuran.
Tes ini digunakan untuk mendiagnosis diabetes gestasional jika uji penapisan mengindikasikan kemungkinan ini.
9. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pencitraaan didapat dengan magnet super-konduktif yang digerakkkan di atas kulit ibu di daerah yang akan divisualisasi. Sejumlah gambar multi-potong akan diproyeksikan pada layar video untuki menunjukan berbagai tingkatan (atau bidang) dari organ-organ ibu atau janin atau pembuluh darah yang dievaluasi.
Tujuannya adalah :
Memungkinkan diperolehnya gambaran yang rinci dari berbagai lapisan (multiplanar) organ-organ internal dari bayi yang belum lahir.
Menentukan ukuran dan volume dari struktur anatomi dan kematangan organ-organ janin (misalnya kematangan paru).
Membantu menilai organ-organ internal ibu dan pembuluh darah misalnya untuk mendeteksi thrombosis vena bagian dalam.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 47 10. Uji non-stres (NST)
Uji non-stres (NST) ini menunjukan bagaimana kecepatan jantung janin (FHR) berespon terhadap gerakan janin. FHR dicatat selama 20-30 menit dengan monitor janin elektrik yang diletakkan eksternal dan si ibu diminta memberitahu setiap kali dia merasakan gerakan bayinya. Jika tidak ada gerakan janin yang spontan, bayi barangkali sedang tidur. Pemeriksa akan menekan perut si ibu atau memperdengarkan suara yang keras di dekat perut ibu untuk merangsang bayi bangun.
Kenaikan 15 denyut jantung di atas kecepatan jantung yang menjadi patokan selama 15 detik (sementara janin bergerak) dianggap normal dan merupkan tanda dari kesejahteraan janin serta disebut sebagai “uji reaktif”.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperkirakan kesejahteraan janin dan menentukan apakah kehamilan kehamilan beresiko tinggi dapat dilanjutkan dengan aman atau apakah diperlukan pengujian lebih lanjut.
11. Ultrasonografi atau sonografi
Gelombang suara yang berfrekuensi tinggi dikirim melalui transmitter (disebut transduser atau probe) ke dalam rahim wanita melalui perut atau vagina. Gelombang suara ini akan memnatul kembali dari berbgai struktur janin, plasenta dan organ- organ internal wanita untuk membentuk sebuah gambaran pada layar video.
Sken ultrasonografi dapat diselesaikan dalam waktu 10-30 menit untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dari janin dan struktur lain selama kehamilan. Tujuannnya adalah diantaranya:
Membuktikan adanya kehamilan dan kehamilan kembar
Membantu menetukan usia janin dengan mengukur berbagai landmark seperti tengkorak, femur, atau panjang ubun-ubun –bokong.
Membantu menetukan pertumbuhan janin dan beratnya.
Membantu menentukan lokasi organ-organ janin dan struktur untuk pemeriksaan dan pengukuran, diagnosis atau perawatan.
Membantu menilai posisi, dan kondisi plasenta serta tali pusat.
Mendeteksi bagaimana janin berbaring di dalam rahim, menunjukkan posisi dan kedudukan.
Membantu menentukan volume cairan ketuban untuk mendeteksi polihidramnion atau oligohidramnion.
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 48 Membantu menunjukan jenis kelamin bayi (kekuatannya tergantung pada usia
janin, posisi janin, dan kualitas pengujian.)
12. Apusan vagina atau leher rahim
Kapan pun selam kehamilan cairan dari vagina atau daerah leher rahim dapat diambil dan diperiksa dengan mikroskop atau dibiakan di laboratorium untuk melakukan pemerikasaan. Tujuannya adalah diantaranya :
Mendeteksi organism yang menyebabkan infeksi (bakteri, virus, jamur atau protozoa)
Mengevaluasi kandungan lipid dari cairan ketuban dengan robeknya selaput yang premature guna menetukan kematangan paru-paru janin.
Mengukur kadar fibronektin janin yang membantu mengidentifikasi persalinan premature.
13. Foto rongten
Radiasi ionisasi digunakan untuk mengambil gambaran internal dari ibu dan janin yang dilakukan setelah melampaui trimester pertama. Tujuannnya adalah
membantu menentukan ukuran dan bentuk panggul ibu (pelvimetri) membantu melihat posisi janin dan presentasi serta jumlah bayi
Deteksi Dini Terhadap Komplikasi Kehamilan Page 49
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Deteksi dini terhadap komplikasi kehamilan adalah upaya penjaringan yang dilakukan untuk menemukan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama kehamilan ibu secara dini. Hal ini bertujuan untuk menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada kehamilan ibu secara dini antara lain untuk memantau kemauan kehamilan; pemantauan terhadap tumbuh kembang janin; mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial; deteksi dini adanya ketidaknormalan; mempersiapkan persalinan cukup bulan dan selamat agar masa nifas normal dan dapat menggunakan ASI eksklusif sehingga mampu mempersiapkan ibu dan keluarga dengan kehadiran bayi baru lahir.
Alat yang digunakan untuk mendeteksi komplikasi kehamilan ada dua, yaitu: A. KSPR (Kartu Skor Poedji Rochjati) merupakan kartu skor yang digunakan sebagai
alat rekam kesehatan dari ibu hamil berbasis keluarga.
B. KPPS (Kartu Perkiraan Persalinan Soedarto) untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifitas sistim scoring mengenai cara persalinan yang dibutuhkan, harus ditambahkan satu alat yang mudah digunakan dan dapat memperkirakan terjadinya distosia (perasalinan sulit atau disfungsional) sebelum persalinan dimulai sehingga rujukan terlambat dapat dicegah.