• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISIS DATA EFEKTIFITAS KOMUNIKASI

5. Cara Pengendalian Emosi Cemburu pada Anak

Jenis gejolak emosi terakhir yang peneliti dapat yaitu Cemburu, misalnya cemburu memperebutkan guru yang mereka sayangi dengan teman main mereka jika sedang balajar atau istirahat. Cara penanganannya yaitu cukup dengan ungkapan humor seperti “lebih baik miss dibagi dua saja daripada miss diperebutkan seperti ini,

83

Ibid.,.

84

agar kalian mendapatkan pelukan dari miss”. Kemudian setelah mereka tertawa miss mengajak mereka untuk kembali belajar atau membiarkan mereka makan siang kembali. Dan untuk pengamatan penelitian di lapangan peneliti menemukan gejala yang sama dengan di atas dan dengan disertai penanganan yang sama pula. Adapun reaksi yang timbul dari proses komunikasi antarpribadi dalam mengendalikan emosi, adalah anak dapat menerima apa yang kita harapkan.

B. Respon Komunikasi Antarpribadi dalam Mengendalikan Emosi Anak Pra-sekolah di Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus

Telah dijelaskan pada bab II bahwasannya, efektivitas diambil dari kata “efek” yang berarti akibat atau pengaruh, sedangkan “efektif” berarti adanya pengaruh atau adanya akibat serta aksennya jadi sesuatu. Jadi “efektivitas” berarti keberpengaruhan atau keadaan berpengaruh (keberhasilan setelah melakukan sesuatu).85

Dari pengertian di atas peneliti akan menjabarkan temuan data yang peneliti peroleh, ditinjau dari pengaruh metode komunikasi antarpribadi dalam mengendalikan emosi murid-murid Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus.

Dapat kita lihat dalam temuan data, yang berupa respon dari murid-murid Playgroup Caterpillar Super Kids. Yaitu bahwa setiap anak memang masih labil untuk bisa mengendalikan emosinya, terlebih anak-anak usia pra-sekolah seperti para murid di sekolah ini. Nah disinilah peran seorang pendidik (baik guru dan orang tua) untuk bisa mengendalikan emosi mereka dengan baik dan bijak.

85

Tim Penyusun Kamus Pusat Pengembangan Bahasa (P3B) Departeman Pendidikan dan Kebudaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 250.

Dalam temuan data yang diperoleh, salah satu yang digunakan untuk bisa mengendalikan atau mengatasi luapan emosi anak adalah dengan menggunakan komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang berlangsung antara dua orang, di mana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Komunikasi ini biasanya berlangsung secara berhadapan muka, bisa juga melalui sebuah medium telepon86.

Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan.

Keefektifan komunikasi dalam hubungan antarpribadi ditentukan oleh kemampuan kita untuk mengkomunikasikan secara jelas apa yang ingin kita sampaikan, menciptakan kesan yang kita inginkan, atau mempengaruhi orang lain sesuai keinginan kita. Dengan cara berlatih mengungkapkan maksud keinginan kita, menerima umpan balik tentang tingkah laku kita, dan memodifikasi tingkah laku kita sampai orang lain mempersepsikannya sebagaimana kita maksudkan.

Dalam berbagai kasus mengenai bagaimana cara mengendalikan emosi anak pra-sekolah yang peneliti temukan di lapangan, adalah para guru (miss-miss) berusaha mendekati anak yang bermasalah, kemudian guru berusaha memasuki dunianya. Maksudnya menjadi teman yang dipercaya oleh anak tersebut, dan membiarkan si anak untuk meluapkan apa yang sebenarnya dia rasakan, kemudian setelah dia merasa lega untuk meluapkan emosinya, guru menasehatinya dan memberi masukkan yang positif untuk merubah tingkah lakunya atau mengendalikan emosinya. Dan apa yang dilakukan oleh para guru tersebut Alhamdulillah bisa diterima oleh anak-anak, dan mereka tidak merasa terkekang atau tertekan dengan apa yang kita sampaikan.

86

Sama halnya dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan, yakni para guru dalam mengendalikan emosi anak pra-sekolah itu dengan menggunakan komunikasi antarpribadi. Karena dengan bentuk komunikasi ini antara guru dan murid dapat berhubungan dengan baik, khususnya dalam mengendalikan emosi anak-anak, karena mereka merasa nyaman dan percaya dengan missnya. Dan seperti yang telah dijelaskan pada bab II, bahwa komunikasi terjadi bisa dilihat dari beberapa perspektif dan tingkatan analisis. Dan yang dilakukan para guru tersebut tentu mencakup semua itu.

Dari apa yang dilakukan oleh para miss dengan komunikasi antarpribadi dalam mengendalikan emosi anak, berindikasi bahwa anak-anak bisa menerima apa yang kita sampaikan dan mereka mau berubah menjadi apa yang kita harapkan, dan mungkin juga sebaliknya. Mereka mengaharapkan kita untuk seperti yang mereka inginkan. Dan juga para miss berharap bahwa dengan metode komunikasi antarpribadi ini bisa dilakukan oleh para orang tua di rumah. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan psikologis anak-anak mereka juga.

Dari hasil data lapangan dan wawancara yang peneliti dapatkan yaitu: kedua hasil data ini menunjukkan bahwa dalam mengendalikan emosi anak yaitu, sama-sama menghargai perasaan dan pikiran anak, mendengartkan emosi yang diungkapkan anak (mereka sedang menceritakan sesuatu kepada anda) menjadi pribadi yang baik untuk anak, mendorong anak untuk menjelajahi dunianya, meluangkan waktu hanya untuk anak ketika sedang bersama mereka, menunjukkan kasih sayang, sama-sama memberitahu anak tidak menyetujui agresi yang bermusuhan dan menghentikan dengan tegas, dan pendekatan yang bijaksana dan luwes terhadap tingkah laku anak yang bekerja dengan baik.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan mengenai pengendalikan emosi anak pra-sekolah melalui komunikasi antar pribadi di Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus, dan pada bab-bab sebelumnya. Maka peneliti menyimpulkan tentang cara pengendalian emosi anak melalui Komunikasi Antar Pribadi:

1. Cara pengendalian emosi (marah, sedih, gembira, takut, dan cemburu) berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan obsevasi di lapangan yaitu: menunjukkan kasih sayang pada anak disertai pelukan yang hangat, melalui pendekatan individual pada anak, membiarkan anak berjelajah ke dunianya, mengajarkan disiplin pada anak yang disesuaikan dengan situasi, dan terakhir yaitu mengajarkan pada anak untuk hidup rukun dan tidak saling bermusuhan. Kemudian ditambahkan memberikan bujukan pada anak agar mereka menurut pada kita, dan diupayakan memberikan bujukkan yang mendidik.

2. Berdasarkan analisis antara teori Sri Esti dengan hasil temuan data peneliti yaitu: terdapat beberapa persamaan dan perbedaan dalam mengendalikan emosi anak antara lain persamaannya, sama-sama menghargai perasaan dan pikiran anak, mendengarkan emosi yang diungkapkan anak (mereka sedang menceritakan sesuatu kepada anda), menjadi pribadi yang baik untuk anak, mendorong anak untuk menjelajahi dunianya, meluangkan waktu hanya untuk anak ketika sedang bersama mereka, menunjukkan kasih sayang, sama-sama memberitahu anak tidak menyetujui agresi yang bermusuhan dan

menghentikan dengan yang tegas, dan pendekatan yang bijaksana dan luwes terhadap tingkah laku anak yang bekerja dengan baik.

3. Perbedaan antara keduanya yaitu, mengendalikan emosi anak, dengan cara mengandalkan peran orang tua dalam memecahkan masalah ini, jadi orang tua disini memiliki pengaruh besar karena teori Sri Esti menganggap orang tua biasanya lebih didengarkan oleh anak dan pasti mereka akan patuh dan menurut dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan sedangkan pada temuan data yang didapat, mereka menggunakan jasa orang tua hanya sebagai pendamping saja; menurut Teori Si Esti menghindari hukuman fisik pada anak sedangkan berdasarkan hasil penelitian saya menggunakan sedikit hukuman fisik namun bertujuan agar anak menjadi disiplin; pada hasil penelitian memberi teguran secara halus pada anak jika terlihat si anak memang bersalah sedangkan pada Teori Sri Esti tidak; dan terakhir pada hasil penelitian saya ditemukan menggunakan intropeksi diri pada anak agar menyadari perbuatan mereka salah atau benar dan mengusahakan agar anak tidak merasa tervonis sedangkan pada Teori Sri Esti tidak.

B. Saran-saran

Selanjutnya peneliti akan mencoba untuk memberikan beberapa saran-saran yang diperlukan sebatas ilmu yang dimiliki, agar kiranya dapat berguna untuk membantu:

1. Playgroup Caterpillar Super Kids dalam mengendalikan emosi anak khususnya para guru harus lebih bersabar dalam menjalaninya dan usahakan untuk lebih memahami dan memasuki dunia mereka agar kita dapat merasakan apa keinginan mereka.

2. Sarana dan pra-sarana harus digunakan sebaik mungkin agar kenyamanan dan kegiatan menjadi tetap berlangsung.

3. Dalam menjalani suatu tugas haruslah dikerjakan secara benar dan semangat agar tidak tersendat-sendat dalam pengerjaannya.

4. Komunikasi antara orang tua murid dan guru sangat penting dalam membentuk pribadi seorang anak.

5. Sebaiknya guru dan orang tua membentuk tim yang saling bekejasama dengan baik dalam mendidik anak.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, M. Hardjana. Komunikasi Intrapersonal da Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius, Cet Ke-1, 2003.

Bahauddin, Muhammad Khalid. Membimbing Anak Hidup Terencana dan Teratur. Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Baradja, Abu Bakar. Psikologi Perkembangan (tahapan dan Aspek-aspeknya). Jakarta: Studia Press, 2005.

Buckley, Erick. The Oxford English Dictionary. Oxford: The Clarendon Press, 1978. Chaplin, JP. (Penerjemah Kartini Kartono). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta:

Rajawali Press, 2004.

Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996.

Daradjat, Zakiah, Dr,. Perawatan Jiwa Untuk Anak-anak. Jakarta: N.V. Bulan Bintang, 1982.

Dewanto, Nugroho. Kamus Bahasa Indonesia Pendidikan Dasar. Bandung: Yrama Widya, 2004.

Djiwandoyo, Sri Esti Wuryani. Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Jakarta: PT. Grasindo, 2005.

Davis, Keith. Human Behavior at work: Organizational Behavior,6th ed. New York, Mc Graww Hill, 1981.

Effendy, Onong Uchjana. Prof. Drs, MA. Dimensi-dimensi Komunikasi. Jakarta: Alumni.

---. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. ---. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 1998.

Fadhlullah, Husain. Dunia Anak (memahami perasaan dan pemikiran anak anda). Jakarta: Cahaya, 2004.

Fauzi, Ahmad. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Gunarsa, Ny. Singgih D., Dra. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004.

Gunarsa, Singgih D. Prof. Dr, dan Singgih, Yulia, Dra. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta: Erlangga, 2004.

Hafid, Muhammad Nur Abdul. Mendidik Anak Bidang Sosial, Budi Pekerti, dan Kejiwaan. Yogyakarta: Darussalam, 2004.

Hafied, Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet ke-4, 2003.

Jurjis, Malak, Dr. Cara Mengatasi Gejolak Emosi Anak. Bandung: PT. Mizan Publika, 2004.

L. Tubbs, Steward, Moss, Sylvia. Human Communication (prinsip-prinsip dasar pengantar. Dr. Dedi Mulyana M. A. ). Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001. Lathief, Rusydi, T. A. Dasar-dasar Rethorika Komunikasi dan Informasi. Medan, cet

ke-1, 1985.

Masyah, Syarif Hade. Kiat Menjadi Orang Tua Bijak. Jakarta: Hikmah, 2004.

Merriam Webster, G & C Merriam Company Webster’s. third new international dictionary: of the English language un a bridge: USA;,,editor in chief Phillip Babcock Gove, Ph. D & The Merriam- Webstereditor; all staff, 1992, A. B. Prinnodigdo, Hasan Shadily, Ensiklopedi Umum, Yogyakarta: Kanisius, 1990. Moleong, Lexy J, Prof, Dr, MA. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2004.

Mulyadi, Seto, Dr. M.Psi. Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya. Jakarta: Erlangga, 2004.

Mutmainah, Dra. Siti dan Fauzi, Drs. Ahmad. Modul UT “Psikologi Komunikasi”. Jakarta: Universitas Terbuka , 2005.

Pearce, Jhon, Dr,. Bagaimana Mengatasi Perkelahian, Olok-olok dan Gertakan. Jakarta: Binarupa Aksara, 1990.

Ridwan, M. Drs. Dkk. Kamus Ilmiah Populer. Jakarta: Pustaka Indonesia, 1999. Robbins, G., James. Komunikasi Yang Efektif. Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya,

1995.

Sarwono, Sarlito W, Prof. Dr. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2003.

Sendjaja, Sasa Djuarsa. Pengantar Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka, 1999. Shadily, Hasan dan Echols, M. Jhon. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 1990.

Surviani, Istanti. Menghias Jiwa Dan Perilaku Anak. Bandung: Pustaka Ulummudin, 2004.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar B. Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud, 1995.

Tim Redaksi Ayah Bunda. Anak Pra-Sekolah (Pegangan Orang Tua Untuk Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun). Jakarta: PT. Gaya Favorit Press, 1994. Ulama Besar Universitas Al-Azhar Mesir. Mengasuh Anak Menurut Ajaran Islam.

Jakarta: Pustaka Shadra, 2004.

Widjaja,A. W. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta, cet ke-2, 2000.

CATATAN LAPANGAN

Catatan lapangan No: 1

Waktu : Minggu Ke-1 bulan Oktober 2007, pukul 07.45- 10.45 WIB Tempat : Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus

Subjek Penelitian : Siswa-siswi Playgroup Caterpillar Super Kids

Objek Penelitian : Cara guru mengendalikan anak yang meluapkan emosinya. Peneliti : Dina Prahasty

LATAR

Cuaca cerah, bangunan sekolah Caterpillar Super Kids yang terlihat cukup luas dipenuhi alat-alat permainan. Loker-loker yang berwarna-warni untuk menyusun tempat sepatu dan tas para murid. Washtafel yang bersih dan rapi untuk para murid mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan berbagai kegiatan. Suasana di dalam kelas setelah selesai istirahat selama ½ jam. Murid-murid telah selesai makan siang dan berkumpul di kelas yang sangat penuh dengan hiasan di dinding kelas dan bermacam-macam alat permainan untuk para murid. AC (Air Conditioner) dinyalakan karena anak-anak berada di kelas, dan mereka duduk tertib bersama miss Ida dan miss Icha diatas ubin beralaskan karpet hijau.

CATATAN LANGSUNG/ DESKRIPTIF

Waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB acara makan siang telah selesai. Lalu miss Ida menyerukan muridnya yang sudah selesai makan untuk merapihkan tempat makannya kemudian mencuci tangan(ditemani miss Dyna (saya)). Setelah semuanya selesai dan telah berkumpul di kelas, miss Ida dan saya membentuk murid-murid dalam barisan seperti ular panjang untuk pindah ke ruang perpustakaan. Dan mereka pun berkumpul dan duduk dengan tertib di atas karpet pink, dengan mata yang penuh tanda tanya miss Ida menanyakan kepada beberapa muridnya yaitu Daffa, Win, dan Adrien. Karena sejak dimulainya masuk kelas, ke-3 anak ini terlihat suka berlari-lari kesana kemari, terlihat melamun dengan pandangan kosong hingga tidak mendengar jika miss Ida memanggil, terlihat suka mencolak-colek teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas hingga marah dan saling memukul. Pertama dengan mata yang tajam sambil menatap wajah Adrien, miss Ida bertanya pada Adrien, “Adrien, miss Ida sering

berbicara dengan Adrien, tetapi kenapa sih Adrien tidak mau mendengarkan sehingga miss harus bicara lagi dengan Adrien?” Ini membuat miss Ida mengerutkan wajah dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena harus berbicara berkali-kali baru didengar oleh Adrien. Namun Adrien tidak memberikan jawaban apa-apa hanya menundukkan kepala saja sambil memainkan jari tangannya. Karena Adrien tidak berkata apa-apa, miss Ida meneyerukan Adrien agar lain kali mendengarkan apa yang miss Ida katakan, cukup dengan sekali tanpa harus diulang-ulang. Dengan wajah yang memerah Adrien menganggukkan kepala saja. Kemudian pertanyaan yang kedua miss Ida bertanya kepada Win, “Win kenapa sih melamun terus, apa yang dilamunin Win?” Dengan wajah yang memerah Win menjawab, “aku inget di rumah, waktu main sama mas Bimo (kakaknya)”. Sambil mengerutkan dahi miss Ida bertanya lagi, “kenapa ingat di rumah dan main sama mas Bimo?”, Win menjawab lagi “di rumah aku bisa main PS (Playstation) sama kakak, jadi pengen main deh.” Lalu sambil tersenyum miss Ida bilang “ya sudah nanti kalau liburan kan Win bisa main, sekarang di sekolah jangan memikirkan main PS lagi ya, dan ingat di kelas jangan suka melamun lagi, karena di sini kan Win mau belajar, jadi kita bisa main sambil belajar dan belajar sambil bermain.” Dan Win berkata “ya miss” sambil menganggukkan kepalanya. Lalu pertanyaan yang ketiga diberikan kepada Daffa, “Daffa kenapa sih suka sekali berlari kesana kemari, padahal bukan pelajaran olah raga?” Lalu dengan pandangan mata yang melihat kesana-kemari Daffa menjawab “gak tahu”. Sambil tersenyum karena miss Ida sudah sering menasehati Daffa, miss Ida kemudian berkata “ya udah, besok-besok dikurangi ya berlari-lari di sekolah kecuali pada saat pelajaran olahraga. Miss Ida pasti senang deh sama Daffa”. Dan Daffa menjawab “iya miss” sambil menganggukkan kepala. Demikian miss Ida memberi beberapa jawaban atas beberapa pertanyaan yang diberikan kepada ke-3 muridnya tersebut. Waktu pun menunjukkan pukul 10.00 WIB pelajaran Math pun segera dimulai.

CATATAN REFLEKTIF

Waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB istirahat telah selesai, lalu miss Ida mengajak muridnya untuk berkumpul dikelas dan membaca doa selesai makan. Setelah membaca do’a, miss Ida mengajak murid-muridnya untuk pindah ke ruang perpustakaan. Lalu mereka pun berkumpul dan duduk di atas karpet pink, tiba-tiba

miss Ida menanyakan beberapa pertanyaan kepada beberapa muridnya yaitu Adrien, Daffa dan Brandon. Karena sejak dimulainya masuk kelas, ke-3 anak ini sangat susah diatur oleh miss Ida. Pertama miss Ida bertanya pada Adrien masalah pendengaran Adrien, karena Adrien harus disuruh berulang kali baru mendengar perintah miss Ida. Namun Adrien tidak menjawab apa-apa, Karen Adrien hanya diam saja maka miss Ida menasehati Adrien agar mendengarkan apa yang miss Ida perintahkan cukup dengan sekali perintah saja, tanpa harus diulang-ulang. Kemudian miss Ida bertanya kepada Win mengenai alaskan Win yang suka melamun pada saat belajar, jawaban Win yaitu ia ingin main sama kakaknya. Lalu miss Ida memberi saran untuk lupakan keinginannya jika Win sedang belajar, dan hal itu bisa Win lakukan pada saat liburan. Yang ketiga miss Ida bertanya kepada Daffa mengenai kebiasaan Daffa yang suka lari-larian disaat pelajaran dimulai dan setiap berjalan. Namun Daffa sendiri menjawab ia tidak tahu mengapa ia suka berlari-lari. Kesekian kali miss Ida menasehati Daffa untuk mengurangi kebiasaannya itu dan menggantinya jika sedang pelajaran olah raga saja. Dan akhirnya ketiga anak tersebut mang-iya kan nasihat miss Ida dan pelajaran pun berganti menjadi pelajaran Math.

CATATAN LAPANGAN

Catatan Lapangan No: 2

Waktu : Minggu ke-2 bulan November 2007, pukul 08.00- 10.00 WIB Tempat : Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus

Subjek Penelitian : Siswa-siswi Playgroup Caterpillar Super Kids

Objek Penelitian : Cara guru mengendalikan anak yang meluapkan emosinya. Peneliti : Dina Prahasty

LATAR

Ruang kelas Jumper yang dipenuhi oleh berbagai macam hiasan dinding, terdapat juga loker-loker berwarna-warni tempat untuk murid menaruh sepatu & tasnya. Jadi para murid tidak memakai sepatu saat berada di dalam ruangan sekolah, kecuali di Playground. Cuaca tampak cerah di luar gedung sekolah, karena di dalam gedung sekolah setiap ruangan memakai AC.

CATATAN LANGSUNG/ DESKRIPTIF

Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB dimana saatnya murid-murid masuk kelas untuk memulai pelajaran. Lalu kemudian terdengar pintu kelas terketuk, dan ternyata Kirani yang datang terlambat. Pada saat mau masuk ke kelas wajah Kirani terlihat sedih dan tak lama kemudian dia menangis. Dan pada hari itu juga kebetulan merupakan hari pertamanya dia masuk kelas jumper, karena sebelumnya dia masih duduk di kelas toodler. Lalu miss Ida meminta tolong saya untuk mengajak Kirani keluar kelas dahulu untuk menenangkannya. Tetapi dia tetap sedih dan menangis, saya lalu bilang seraya memangkunya “Kirani kenapa sayang?”. Kirani menjawab “pengen sama mama!”, sambil terbata-bata karena sambil menangis. Saya berkata lagi “kan nanti pulang sekolah ketemu sama mama, sekarang Kirani main dulu yuk sama teman-teman”. Kirani masih saja menangis, saya bilang “teman-teman di kelas jumper senang lho Kirani sekarang bisa belajar bareng sama mereka”. Namun dia masih sedih, dan saya menggendong dia ke ruang gross motor dan mengalihkan kesedihannya dengan bermain, hingga akhirnya dia berhenti menangisnya dan mau masuk kelas.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB pelajaran dimulai, murid-murid masuk kelas. Lalu miss Ida menyerukan murid-muridnya untuk mengecat bahan-bahan pelajaran hari itu, sebelum dimulai terdengar pintu diketuk dan ternyata Kirani terlambat. Kemudian saya menggendongnya untuk menenangkannya, yaitu dengan memeluknya dan mengalihkan kesedihannya dengan bermain di gross motor. Sampai akhirnya dia lupa dan merasa sudah nyaman sehingga mau masuk kelas. Sedangkan murid- murid lainnya belajar di kelas dengan miss Ida.

CATATAN LAPANGAN

Catatan Lapangan No: 3

Waktu : Minggu ke-4 bulan Desember 2007, pukul 08.00- 10.00 WIB Tempat : Playgroup Caterpillar Super Kids Lebak Bulus

Subjek Penelitian : Siswa-siswi Playgroup Caterpillar Super Kids

Objek Penelitian : Cara guru mengendalikan anak yang meluapkan emosinya. Peneliti : Dina Prahasty

LATAR

Hari yang indah untuk memulai pelajaran hari ini, pelajaran dimulai di library yang tersedia buku-buku cerita dan boneka bear yang besar. Dengan materi story telling, dimana murid-murid menceritakan sesuatu yang paling ia sukai di depan teman-temannya. Yang sebelumnya miss Ida menceritakan terlebih dahulu, dan anak-anak mendengarkannya. Kemudian murid-murid duduk di atas bantal boneka yang beralaskan karpet berwarna pink, dan menunggu giliran mereka untuk bercerita.

CATATAN LANGSUNG/ DESKRIPTIF

Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB setelah murid-murid masuk kelas dan meletakkan tas dan sepatunya, lalu miss Ida menyerukan murid-murid untuk membentuk barisan kemudian menuju library. Di perpustakaan murid-murid segera menduduki bantal boneka untuk duduk mereka. Pada saat miss Ida bercerita, terlihat Win dan Nayla berebut salah satu bantal boneka tersebut, hingga akhirnya Win dan Nayla bertengkar dan Win marah sekali pada Nayla, sampai membuyarkan perhatian murid-murid yang lain mendengarkan miss Ida. Akhirnya miss Ida meminta tolong

Dokumen terkait