• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sadie pergi melakukan petualangan sampingan dengan seorang pemuda, membiarkanku melakukan tugas membosankan: mencari cara untuk menyelamatkan dunia. Mengapa terdengar tidak asing? Oh, benar. Sadie memang selalu begitu. Jika tiba waktunya untuk melangkah maju, kita bisa mengandalkannya untuk berbelok mengikuti sasarannya sendiri yang menyimpang dari fokus.

[Kenapa kau berterima kasih kepadaku, Sadie? Itu tadi bukan pujian.]

Setelah pesta dansa Brooklyn Academy, aku merasa jengkel. Sudah cukup buruk dipaksa berdansa dengan teman Sadie, Lacy. Namun, pingsan di lantai dansa, terbangun dan mendapati Lacy mendengkur di ketiakku, kemudian mengetahui bahwa aku melewatkan kunjungan dari dua dewa—itu benar-benar memalukan.

Setelah Sadie dan si orang Rusia pergi, aku membawa pulang kru kami ke Rumah Brooklyn. Walt bingung melihat kami pulang secepat itu. Kuseret dia dan Bast untuk mengadakan konferensi singkat di teras. Kujelaskan apa yang disampaikan Sadie kepadaku mengenai Shu, Anubis, dan si pemuda Rusia, Leonid.

“Akan kubawa Freak ke Memphis,” ujarku. “Langsung pulang lagi begitu selesai bicara dengan Thoth.”

“Aku ikut denganmu,” kata Walt.

Sadie memang menyuruhku mengajak Walt, tetapi saat melihat kondisinya sekarang, aku berpikir ulang. Kedua pipi Walt cekung. Kedua matanya berkaca-kaca. Aku sangat khawatir melihat betapa dia tampak lebih buruk sejak kemarin. Aku tahu ini tak pantas, tetapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan praktik penguburan Mesir—bagaimana mereka membaluri jasad orang mati dengan garam pembalsaman guna mengeringkan

jasad secara perlahan dari dalam. Walt terlihat seolah sudah memulai proses itu.

“Begini, Teman,” ujarku. “Sadie memintaku untuk menjaga keselamatanmu. Dia mencemaskanmu. Begitu pula aku.”

Rahang Walt mengeras. “Kalau kau berencana menggunakan bayangan untuk mantramu, kau harus menangkapnya dengan patung. Kau perlu sau, dan akulah yang terbaik yang kau punya.”

Sayangnya, Walt benar. Baik Sadie maupun aku tidak punya keterampilan untuk menangkap bayangan, bahkan jika itu mungkin dilakukan. Hanya Walt yang memiliki bakat membuat jimat seperti itu.

“Baiklah,” gumamku. “Hanya saja ..., berhati-hatilah. Aku tidak ingin diamuk adikku.”

Bast menyodok lengan Walt, seperti seekor kucing menyentuh seekor serangga untuk memastikan apakah hewan itu masih hidup. Dia mengendus-endus rambut Walt.

“Auramu lemah,” kata Bast, “tapi seharusnya tidak apa-apa bagimu untuk menempuh perjalanan. Cobalah untuk tidak memaksakan diri. Tak usah menggunakan sihir kecuali sangat perlu.”

Walt memutar bola mata. “Ya, Bu.”

Bast tampaknya menyukai itu.

“Akan kuawasi anak-anak kucing yang lain,” Bast berjanji. “Eh, maksudku, anak-anak yang lain. Kalian berdua berhati-hatilah. Aku tidak terlalu menyukai Thoth, aku tidak ingin kalian terjebak dalam masalahnya.”

“Masalah apa?” tanyaku.

“Kalian akan tahu. Pokoknya, kembalilah kepadaku. Semua tugas penjagaan ini mengganggu jadwal tidur siangku.”

Dia menghalau kami ke arah kandang Freak, lalu kembali menuruni tangga, sambil menggumamkan sesuatu mengenai tanaman catnip.

Kami menaiki kapal. Freak menguak dan mendesingkan sayapnya, bersemangat untuk pergi. Dia sepertinya telah beristirahat dengan baik. Lagi pula, dia tahu bahwa bepergian berarti lebih banyak kalkun beku untuknya.

Tak lama kemudian, kami pun terbang di atas East River.

Perjalanan kami menembus Duat tampaknya tidak semulus biasa, seperti mengalami turbulensi pesawat, hanya saja diiringi raungan hantu dan kabut tebal. Aku senang karena tidak makan malam banyak-banyak. Perutku seperti teraduk-aduk.

Kapal itu bergetar saat Freak membawa kami keluar dari Duat. Di bawah kami, terbentang hamparan pemandangan malam yang berbeda—lampu-lampu Memphis, Tennessee, berkelok-kelok sepanjang tepian Sungai Mississipi.

Di pinggir sungai, menjulanglah sebuah piramida kaca hitam—arena olahraga telantar yang diambil alih Thoth menjadi rumahnya. Berkas-berkas cahaya aneka warna menghiasi udara, pantulan pada kaca beriak di sekujur piramida itu. Mulanya, kukira Thoth sedang mengadakan pertunjukan kembang api. Kemudian, kusadari bahwa piramidanya sedang diserang.

Bermacam-macam demon merayapi sisi-sisi piramida—sosok-sosok seperti manusia yang berkaki ayam, bercakar, atau berkaki serangga.

Sebagian memiliki bulu. Sebagian memiliki sisik atau tempurung seperti kura-kura. Sebagian besar di antara mereka memiliki kepala berupa senjata atau perkakas—palu, pedang, kapak, gergaji, bahkan beberapa obeng.

Paling sedikit, seratus demon tengah memanjat ke bagian puncak, menancapkan cakar-cakar mereka ke sambungan kaca. Beberapa mencoba masuk dengan memecahkan kaca, tetapi di mana pun mereka menyerang, piramida itu mengerjapkan cahaya berwarna biru, menangkis serangan mereka. Demon-demon bersayap berputar-putar di udara, menjerit-jerit dan menyerbu sekelompok kecil pihak yang bertahan.

Thoth berdiri di puncak piramida. Dia terlihat seperti asisten lab perguruan tinggi yang lusuh dengan kostum jas medis putih, jins, dan kaus, janggut berusia sehari, dan rambut liar Einstein—tidak terkesan sangat menggentarkan, tetapi kau harus melihat Thoth bertarung. Dia melemparkan hieroglif-hieroglif bercahaya seperti granat, menimbulkan ledakan warna-warni di sekelilingnya. Sementara para asistennya, sepasukan babun dan

burung berparuh panjang yang disebut ibis, menghadapi musuh. Para babun menghantamkan bola basket ke arah para demon, membuat mereka jatuh terguling-guling menuruni piramida. Para ibis lari ke sela-sela kaki monster-monster tersebut, lalu menusukkan paruh di tempat paling sensitif yang dapat mereka temukan.

Saat kami terbang semakin dekat, kuarahkan penglihatanku ke Duat.

Adegan di sana lebih mengerikan. Para demon terhubung dengan kumparan-kumparan energi merah yang membentuk seekor ular raksasa transparan.

Monster itu melingkari seluruh piramida. Di bagian puncak, Thoth bersinar dalam bentuk kunonya—seorang pria raksasa berkepala ibis yang mengenakan kilt putih, tengah melontarkan panah-panah energi ke arah musuh-musuhnya.

Walt bersiul. “Bagaimana mungkin para manusia tidak menyadari pertempuran seperti ini?”

Aku tidak yakin, tetapi aku teringat beberapa berita tentang bencana baru-baru ini. Badai besar menyebabkan banjir di sepanjang Sungai Mississipi, termasuk di Memphis sini. Ratusan orang terpaksa mengungsi. Para penyihir mungkin bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi manusia biasa yang masih ada di kota itu mungkin mengira ini hanya sebuah badai hujan yang hebat.

“Aku akan membantu Thoth,” ujarku. “Kau tinggallah di kapal.”

“Tidak,” tolak Walt. “Bast bilang aku hanya boleh menggunakan sihir dalam keadaan darurat. Ini memenuhi syarat.”

Aku tahu Sadie akan membunuhku jika aku membiarkan Walt terluka. Di lain pihak, nada bicara Walt mengatakan kepadaku bahwa dia tidak mau mundur. Dia bisa bersikap hampir sama keras kepalanya dengan adikku jika dia mau.

“Baiklah,” ujarku. “Pegangan.”

Setahun lalu, jika menghadapi pertempuran seperti ini, aku pasti meringkuk seperti bola dan berusaha bersembunyi. Bahkan pertempuran kami di Piramida Merah Natal lalu rasanya tidak ada apa-apanya

dibandingkan dengan menyerang pasukan demon hanya dengan dibantu seorang pemuda yang sedang sakit dan griffin yang agak sinting.

Freak menukik dari langit malam sambil menjerit dan membelok tajam ke kanan, memelesat melintasi bagian samping piramida. Dia menelan demon-demon yang lebih kecil dan mencabik-cabik yang lebih besar dengan sayapnya yang seperti gergaji mesin. Beberapa demon yang selamat terlindas oleh kapal kami.

Saat Freak mulai naik lagi, Walt dan aku melompat keluar, berjuang mempertahankan keseimbangan di kaca yang miring itu. Walt melempar sebuah jimat. Secepat kilat, seekor sphinx emas muncul, dengan tubuh singa dan kepala seorang wanita. Setelah pengalaman kami di Dallas Museum, aku tidak terlalu menyukai sphinx, tetapi untunglah yang satu ini berada di pihak kami.

Walt melompat ke atas punggung sphinx dan berderap memasuki pertempuran. Sphinx itu menggeram dan menerkam sesosok demon reptil, mencabik-cabiknya hingga kecil. Monster-monster yang lain lari kocar-kacir.

Aku tidak menyalahkan mereka. Seekor singa raksasa sudah cukup menakutkan, tetapi kepala wanita yang menggeram-geram membuatnya lebih menakutkan lagi, dengan mata zamrud yang kejam, mahkota Mesir yang gemerlapan, dan mulut bertaring dengan pulasan lipstik yang terlalu tebal.

Aku memanggil khopesh-ku dari Duat. Kupanggil kekuatan Horus, dan avatar biru bercahaya si Dewa Perang terbentuk di sekitarku. Segera saja aku diselubungi sosok berkepala rajawali setinggi enam meter.

Aku melangkah maju. Avatar menirukan gerakanku. Kuayunkan pedangku ke arah demon terdekat, dan pedang raksasa si avatar yang bersinar-sinar melibas mereka seperti pin permainan boling. Sebenarnya, dua demon memang berkepala pin boling. Jadi, kurasa itu pantas.

Para babun dan ibis pelan-pelan berhasil maju melawan serbuan demon-demon itu. Freak terbang mengitari piramida, menggigiti demon-demon-demon-demon bersayap atau menghantam mereka hingga jatuh dengan kapalnya.

Thoth terus melemparkan granat-granat hieroglif.

“Menggembung!” teriaknya. Hieroglif yang sesuai melayang di udara,

meledak di dada sesosok demon diiringi semburan cahaya. Seketika itu juga, demon tersebut menggembung seperti balon air dan jatuh terguling-guling dari piramida sambil menjerit-jerit.

“Rata!” Thoth meledakkan demon lain, yang kemudian roboh dan memipih menjadi sehelai keset berbentuk demon.

“Masalah pencernaan!” teriak Thoth. Demon malang yang diserang dengan mantra itu berubah menjadi hijau dan menekuk tubuhnya.

Aku berjalan menyeruak kerumunan monster, melempar mereka ke samping dan mengiris mereka hingga menjadi debu. Segala sesuatu berjalan dengan sangat baik sampai sesosok demon bersayap melakukan serangan kamikaze ke dadaku. Aku roboh ke belakang, menghantam piramida dengan kekuatan begitu besar sampai-sampai aku kehilangan konsentrasi. Perisai sihirku buyar. Aku pasti meluncur jatuh dari piramida jika demon itu tidak mencengkeram leherku dan menahanku di tempat.

“Carter Kane.” Dia mendesis. “Kau ini gigih, tapi bodoh.”

Aku mengenali wajah itu—seperti mayat dalam pelajaran anatomi yang memiliki otot dan daging, tetapi tidak berkulit. Matanya yang tidak berpelupuk menyala merah. Kedua taringnya dipamerkan dalam satu seringai keji.

“Kau,” gerutuku.

“Ya.” Demon itu terkekeh, cakarnya semakin erat mencengkeram leherku.

“Aku.”

Wajah Horor—letnan Set di Piramida Merah, dan mikrofon rahasia Apophis. Kami telah membunuhnya dalam bayang-bayang Monumen Washington, tetapi kurasa itu tidak berarti apa-apa. Dia telah kembali, dan menilai dari suaranya yang parau serta mata merahnya yang berkilat-kilat, dia masih dirasuki oleh ular yang paling tidak kusukai.

Aku tidak ingat dia bisa terbang, tetapi kini sayap kelelawar yang kasar mencuat dari kedua bahunya. Dia mengangkangiku dengan kaki ayamnya, kedua tangannya mencengkeram leherku. Napasnya berbau seperti jus fermentasi dan semprotan sigung.

“Aku bisa saja membunuhmu berkali-kali,” kata demon itu, “tapi kau

membuatku tertarik, Carter.”

Aku berusaha melepaskan diri darinya. Kedua lenganku bagaikan berubah menjadi timah. Aku nyaris tak mampu memegang pedang.

Di sekeliling kami, suara pertempuran menjadi hening. Freak terbang di atasku, tetapi sayapnya mengepak sedemikian lambat sampai-sampai aku bisa melihatnya. Sebuah hieroglif meledak dalam gerak lambat seperti pewarna di dalam air. Apophis tengah menarikku lebih jauh ke dalam Duat.

“Aku dapat merasakan kegelisahanmu,” kata demon itu. “Kenapa kau terus bertarung dalam pertempuran yang sia-sia ini? Tidakkah kau sadar apa yang akan terjadi?”

Gambar-gambar berkilasan dalam benakku.

Aku melihat hamparan perbukitan yang bergeser dan semburan api.

Demon-demon bersayap berputar di angkasa bersulfur. Arwah-arwah orang mati berlarian ke sana kemari di perbukitan, meratap putus asa dan menggapai-gapai mencari pegangan. Mereka semua tertarik ke arah yang sama—menuju setitik kegelapan di cakrawala. Apa pun itu, daya tariknya sekuat lubang hitam. Ia mengisap arwah-arwah, membengkokkan bukit-bukit dan gumpalan api ke arahnya. Bahkan, para demon di udara pun menggeliang-geliut.

Membungkuk di dalam naungan sebuah tebing, sosok putih berkilauan seorang wanita berusaha menambatkan diri melawan arus gelap itu. Aku ingin menjerit. Wanita itu adalah ibuku. Hantu-hantu lain melayang melewatinya, seraya meraung tanpa daya. Ibuku mencoba menggapai, tetapi dia tidak dapat menyelamatkan mereka.

Adegan berganti. Aku melihat padang pasir Mesir di tepian Kairo dalam terik matahari. Tiba-tiba saja, pasir menyembur. Seekor ular merah muncul dari Dunia Bawah. Dia menerjang langit dan, entah bagaimana, dengan sungguh tak masuk akal menelan matahari dalam sekali lahap. Dunia menjadi gelap. Es menyebar ke sekujur bukit-bukit pasir, retakan muncul di tanah.

Lanskap itu hancur. Seluruh permukiman Kairo melesak ke dalam retakan.

Lautan Merah Kekacauan meluap dari Sungai Nil, melebur kota dan gurun pasir, menghanyutkan piramida-piramida yang telah berdiri selama ribuan

tahun. Tak lama kemudian, tak ada lagi yang tersisa selain lautan yang menggelegak di bawah langit hitam tak berbintang.

“Tidak ada dewa yang dapat menyelamatkanmu, Carter.” Apophis terdengar hampir bersimpati. “Takdir ini telah ditetapkan sejak permulaan masa. Menyerahlah kepadaku, dan aku akan mengampunimu serta orang-orang yang kau cintai. Kau akan menunggangi Samudra Kekacauan. Kau akan menjadi penguasa takdirmu sendiri.”

Aku melihat sebuah pulau mengambang di atas lautan yang menggelegak

—sebidang tanah hijau bagai oasis. Keluargaku dan aku bisa bersama di pulau itu. Kami bisa selamat. Kami bisa mendapatkan apa pun yang kami inginkan hanya dengan membayangkannnya. Kematian tidak akan berarti apa-apa.

“Yang kuminta hanyalah pertanda niat baik,” bujuk Apophis. “Serahkan Ra kepadaku. Aku tahu kau membencinya. Dia melambangkan semua masalah pada dunia fanamu. Dia telah menjadi pikun, lemah, tak berdaya, dan tak berguna. Serahkan dia kepadaku. Aku akan mengampunimu. Pikirkan ini, Carter Kane. Apakah para dewa menjanjikan hal seadil ini kepadamu?”

Gambar-gambar itu memudar. Wajah Horor menyeringai ke arahku, tetapi tiba-tiba wajahnya mengernyit kesakitan. Sebuah hieroglif api menyala di dahinya—simbol untuk mengering—dan demon itu pun remuk menjadi debu.

Aku megap-megap. Rasanya tenggorokanku seperti dipenuhi batu bara panas.

Thoth berdiri di atasku, tampak muram dan lelah. Aneka warna berpilin di matanya, seperti portal menuju dunia lain.

“Carter Kane.” Dia mengulurkan tangan dan membantuku berdiri.

Semua demon lain telah lenyap. Walt berdiri di puncak piramida bersama para babun dan ibis, yang tengah memanjati si wanita sphinx emas seolah itu hewan komidi putar. Freak melayang-layang di dekat situ, tampak kenyang dan senang karena telah makan begitu banyak demon.

“Seharusnya kau tidak datang,” omel Thoth. Dia menyapu debu sisa demon dari kausnya, yang memuat logo hati menyala dan tulisan House of Blues. “Ini terlalu berbahaya, terutama untuk Walt.”

“Terima kasih kembali,” sahutku dengan suara parau. “Tadi kau terlihat seperti membutuhkan bantuan.”

“Demon-demon itu?” Thoth melambaikan tangan menyepelekan. “Mereka akan kembali persis sebelum matahari terbit. Mereka menyerang setiap enam jam sekali selama seminggu terakhir. Sangat mengganggu.”

“Setiap enam jam sekali?” Aku mencoba membayangkan itu. Jika Thoth melawan pasukan seperti itu beberapa kali sehari selama seminggu ..., aku tidak mengerti bagaimana sesosok dewa sekalipun bisa memiliki kekuatan sebesar itu.

“Di mana dewa-dewi lain?” tanyaku. “Bukankah seharusnya mereka membantumu?”

Thoth mengerutkan hidung seolah mencium bau demon yang mengalami masalah pencernaan. “Mungkin sebaiknya kau dan Walt masuk. Karena kau sudah di sini, banyak yang harus kita bicarakan.”

Akan kukatakan ini mengenai Thoth. Dia tahu cara menghias piramida.

Bekas lapangan basket di arena itu masih dipertahankan, sudah jelas agar babun-babunnya bisa bermain. (Babun sangat suka bola basket.) Televisi layar lebar masih tergantung di langit-langit, menampilkan serangkaian hieroglif yang mengumumkan berbagai hal seperti: AYO TIM! BERTAHAN dan THOTH 25—DEMON 0 dalam bahasa Mesir Kuno.

Tempat duduk stadion itu telah diganti dengan serangkaian balkon bertingkat. Beberapa tempat duduk dihiasi deretan komputer, seperti kendali misi untuk peluncuran roket. Tempat duduk lain dilengkapi meja yang diseraki tabung kimia, lampu Bunsen, botol-botol silinder berisi cairan pekat berasap, botol-botol berisi organ-organ yang diawetkan, dan benda-benda aneh. Tempat duduk paling tinggi digunakan sebagai ruang penyimpanan gulungan naskah—perpustakaan yang sepertinya sama besar dengan yang ada di Nome Pertama. Di belakang tiang basket sebelah kiri, berdirilah papan tulis setinggi tiga lantai yang dipenuhi perhitungan dan hieroglif.

Pada balok penopang, sebagai ganti spanduk kemenangan dan nomor-nomor yang tak dipakai lagi, tergantunglah permadani hias berwarna hitam dan bersulam mantra-mantra emas.

Bagian tepi lapangan adalah area tempat tinggal Thoth—dapur standar yang terpisah, sekumpulan sofa dan kursi malas mewah, tumpukan buku, berember-ember Lego dan Tinker Toys, selusin televisi layar datar yang menampilkan acara berita dan dokumenter yang berbeda, serta sekumpulan gitar listrik dan pengeras suara—segala sesuatu yang diperlukan sesosok dewa yang gampang terpecah perhatiannya agar dapat mengerjakan dua puluh hal sekaligus.

Babun Thoth membawa Freak ke ruang loker untuk merawat dan mengistirahatkannya. Kurasa, mereka khawatir Freak mungkin akan memangsa para ibis karena hewan itu memang agak mirip kalkun.

Thoth menoleh ke arah Walt dan aku, memandangi kami dengan penuh penilaian. “Kalian butuh istirahat. Setelah itu, aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian.”

“Kami tak punya waktu,” sahutku. “Kami harus—”

“Carter Kane!” hardik Thoth. “Kau baru saja bertempur melawan Apophis, dipaksa melepaskan Horus dari dirimu, diseret ke Duat dan setengah dicekik.

Kau tidak berguna bagi siapa pun kecuali kau sempat tidur.”

Aku ingin memprotes, tetapi Thoth menempelkan tangan ke dahiku. Rasa letih tiba-tiba menguasaiku.

“Beristirahatlah,” desak Thoth.

Aku ambruk ke atas sofa terdekat.

Aku tidak tahu pasti berapa lama aku tertidur, tetapi Walt bangun lebih dulu. Ketika aku bangun, dia dan Thoth sedang sibuk berbincang-bincang.

“Tidak,” kata Thoth, “itu tidak pernah dilakukan. Lagi pula, aku khawatir kalian tidak punya waktu ....” Kata-katanya terhenti ketika dia melihatku duduk. “Ah. Bagus, Carter. Kau sudah bangun.”

“Apa yang kulewatkan?”

“Tidak ada,” jawabnya, sedikit terlalu ceria. “Mari makan.”

Meja dapurnya disarati daging yang baru dipotong, sosis, iga, dan roti

jagung, plus sedispenser besar es teh. Thoth pernah mengatakan kepadaku bahwa memanggang adalah sebentuk sihir, dan kurasa dia benar. Aroma makanan membuatku melupakan semua kesulitanku untuk sementara.

Aku melahap seporsi roti lapis daging dan meminum dua gelas es teh. Walt menggigiti sebatang iga, tetapi tampaknya dia tidak terlalu berselera makan.

Sementara itu, Thoth mengambil sebuah gitar Gibson. Dia memainkan nada kuat yang menggetarkan lantai. Dia sudah lebih baik daripada terakhir kali aku mendengarnya. Rangkaian nada yang dimainkan benar-benar terdengar seperti rangkaian nada, bukan suara seekor kambing gunung yang tengah disiksa.

Aku memberi isyarat dengan sepotong roti jagung. “Tempat ini terlihat bagus.”

Thoth terkekeh. “Lebih baik daripada markasku yang terakhir, ya?”

Pertama kali aku dan Sadie bertemu dengan Dewa Pengetahuan, dia menyembunyikan diri di sebuah kampus universitas lokal. Dia menguji kami dengan mengirim kami melakukan perburuan untuk menghancurkan rumah Elvis Presley (ceritanya panjang), tetapi kuharap kami sekarang sudah melewati fase pengujian. Aku lebih senang duduk-duduk di tepi lapangan sambil menyantap hidangan panggang.

Kemudian, aku teringat gambaran yang ditunjukkan oleh Wajah Horor kepadaku—ibuku berada dalam bahaya, kegelapan menelan jiwa-jiwa orang mati, dunia lebur dalam lautan Kekacauan—kecuali satu pulau kecil yang mengapung di atas ombak. Ingatan itu agak merusak selera makanku.

“Jadi ...,” aku mendorong piringku menjauh, “ceritakan kepadaku tentang serangan para demon. Dan, apa yang tadi kau katakan kepada Walt?”

Walt menatap hampa pada iga babinya yang baru separuh dimakan.

Thoth memainkan nada minor. “Mulai dari mana ...? Serangan itu dimulai tujuh hari lalu. Aku terpisah dari dewa-dewi lain. Kurasa, mereka tidak datang membantuku karena mereka punya masalah yang sama. Pecah belah dan taklukkan—Apophis memahami prinsip militer dasar itu. Bahkan, kalaupun saudara-saudariku dapat membantuku ..., yah, mereka punya

prioritas lain. Seperti yang mungkin kau ingat, baru-baru ini Ra dibawa pulang.”

Thoth menatapku tajam, seakan aku adalah persamaan yang tidak dapat dipecahkannya. “Dewa Matahari itu harus dikawal pada perjalanan malamnya. Itu membutuhkan banyak kekuatan dewa.”

Pundakku melorot. Aku tidak perlu alasan lain untuk merasa bersalah. Aku juga merasa tidak adil bila Thoth mengkritikku sedemikian rupa. Thoth dulu berada di pihak kami, kurang lebih begitu, dalam hal membawa kembali Dewa Matahari. Mungkin tujuh hari serangan demon mulai membuatnya

Pundakku melorot. Aku tidak perlu alasan lain untuk merasa bersalah. Aku juga merasa tidak adil bila Thoth mengkritikku sedemikian rupa. Thoth dulu berada di pihak kami, kurang lebih begitu, dalam hal membawa kembali Dewa Matahari. Mungkin tujuh hari serangan demon mulai membuatnya

Dokumen terkait