• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalan koko Cici Metta

CATATAN HARIAN ALMARHUM

Akhirnya kupahami melalui catatan catatan hariannya koko di facebook. Ungkapan hai, penyesalan, juga kekecewaannya

dan sampai pada keputusannya untuk meninggalkan kami semua selamanya.

Penuh air mata kulihat catatan hariannya. Kehidupan koko, yang bagiku sudah termasuk lumayan ternyata idak

berakhir bahagia. Penyakit gagal ginjal selama dua tahun ini,

menyiksanya secara lahir dan bain.

Aku terlahir prematur dan sering sakit-sakitan, mama menjaga dan merawatku dengan baik sejak kecil . Aku sangat menyesali

sikapku pada papa dan mama. Hanya karena keegoisan dan kebodohanku untuk melihat kasih sayang orang tuaku. Aku membenci sikap papa yang selalu mengutamakan saudara saudaranya daripada aku putra pertamanya.

Kokoku pernah kecewa, dikecewakan sekali oleh papa.

Merasakan pahitnya kehidupan, saat usaha papa mengalami

kebangkrutan. Aku baru paham sekarang, anak bisa kecewa dan begitu sakit hainya pada sikap atau kekeliruan orang tua.

Tapi orang tua berbeda, kasih sayang nya begitu dalam. Tidak

pernah orang tua mengeluhkan kekecewaan yang dirasakan

oleh sikap anak anak.

Kubaca seiap catatan terakhir hidupnya. Dan aku menghela

nafas berkali kali.

Jika kupikirkan kembali, apa yang dirasakan mama dan papaku jauh lebih sulit. Dengan ekonomi yang idak berkecukupan. Papa dan mama idak bisa mengobai dirinya. Aku mulai sadar, apa yang kulakukan keliru. Jika saja waktu dapat terulang , aku ingin memperbaikinya…

Aku menderita sakit ginjal, diusiaku yang keempat puluh. Mempunyai kekayaan duniawi, namun idak sanggup membeli kehidupan. Sejak aku sakit, istriku mulai menghitung berapa pengeluaranku. Mulai idak membutuhkan diriku. Aku bagaikan seekor rajawali yang siap terinjak-injak. Anak-anakku sudah mulai berani berkata idak pantas padaku. Aku merasa hidupku sudah iada ari. Keluargaku mengharapkan kemaianku. Agar idak menjadi miskin dan hidup susah. Bahkan biaya pengobatanku dijatah, dan aku harus bekerja untuk cuci darah.

Cia, koko idak ingin pulang kerumah,” iba iba saja koko

menjemput ku ke kantor.

“Kenapa ko, itu kan rumah koko,’ujarku.

“Rumahku bagai neraka, idak ada ketenangan didalamnya,” begitu kata koko memendam kekecewaan yang dalam. “Ya sudah, koko menginap saja disini dahulu. Tenangkan hai ya,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Ia begitu bersemangat bercanda dengan fefe anakku. Kerinduan kasih sayang disaat terakhir hidupnya, terobai sedikit.

Keputusanku

Aku idak akan pernah kembali kerumah, biarlah kucari jalan hidupku sendiri. Biarlah aku hidup dalam kedamaianku. Jika aku pergi selamanya. Aku akan meniipkan pesan pada saudaraku agar idak mengijinkan istri dan anak-anakku untuk berada disekitar mayatku. Biarlah kucari sendiri jalan hidupku mulai deik ini.

Keputusasaan yang sangat dalam, sedih sekali aku membaca catatan hariannya, aku tak kuasa untuk idak menangis.

Koko, mengapa ini terjadi pada koko. Koko memiliki

kekayaan duniawi, tapi idak berada dalam kedamaian dalam

kehidupannya. Bekerja dan menghasilkan uang adalah prinsip hidupnya. “Aku harus menjadi kaya,” begitulah kata koko. Masih beruntungnya teman temanku yang memiliki penyakit sama, tapi mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang. Istri dan anak anak teman temanku mendukung mereka sepenuh hai. Memberikan dorongan semangat untuk hidup,

memberikan perhaian yang begitu dalam.

Berbeda dengan kehidupanku, disaat aku sakit, anak anak dan istriku mencela dan selalu berharap aku pergi selamanya. Karena aku idak produkif lagi menghasilkan uang. Disaat aku harus melakukan cuci darah, dan dapat menguras tabungan. Aku diwajibkan bekerja. Mereka khawair akan jatuh miskin. Impian putriku agar bisa sekolah di luar negeri, membutakan mata hai keluargaku sendiri.

Hari minggu, saat aku sedang ke vihara, koko iba-iba pergi dari rumahku. Dan aku hanya diinggalkan pesan. Terima kasih Cia atas kebaikanmu, walau selama ini koko jarang dekat denganmu. Kamu adik yang baik… begitulah tulisan koko

yang terakhir. Air mataku pun mengalir jatuh saat membaca

dan mengingatnya.

Tidak kusangka itulah pesan terakhir koko, sebelum

ajal menjemput. Karena kesibukanku aku idak sempat

menjenguknya. Aku sempat menelponnya dan menanyakan keadaannya. Kabar yang kuterima, ia kembali ke rumah dan keluarganya sudah menerima kembali. Aku hanya berharap koko mendapatkan kasih sayang dari keluarganya disaat terakhir hidupnya.

Kondisi kesehatannya semakin parah dan Ia dirawat di rumah sakit. Ia berusaha tegar dan tabah menjalani kehidupannya. Di akhir hidupnya ia banyak merenung dan berdoa. Menyesali

seiap perbuatannya, namun tetap berusaha membawa

Catatan terakhir, sebelum ajal menjemputnya.

Jika aku berpikir dengan bijaksana, sejauh ini aku yang salah. Aku terlalu egois untuk menilai cinta keluargaku. Aku terkadang emosi terhadap keluargaku. Rasa marah dan kecewa, atas apa yang kualami menjadikanku buta. Buta dan lupa untuk memahami ari hidup sebenarnya. Berdoa hanya disaat kesulitan dan lupa apa itu ari kasih sayang yang sesungguhnya.

Akhirnya kupahami yang terjadi, iada yang patut ditangisi

ataupun disesali. Masih banyak yang harus dilakukan saat

nafas masih ada. Akhirnya kusadari ari hidup, bukan hanya mengejar kesenangan duniawi. Hai yang keras menggapai mimpi belaka. Takan berguna tanpa tahu ari hidup. Isilah hidup dengan penuh kebajikan dan dekatkanlah haimu pada

Ajaran Nya selalu, dimanapun dan kapanpun.

Selamat jalan koko ku tersayang. Damailah dalam idur

panjangmu.

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi idak bijaksana dan idak terkendali, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang bijaksana dan tekun bersamadhi. Dhammapada 111.

Hidup tidak pernah mudah untuk dijalankan. Kita tidak